Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan Cinta?” baik seri I maupun II, membuat saya tertegun. Rasa cinta dari seorang Cinta kepada Rangga adalah rasa cinta yang sungguh dialektis. Dimulai dengan kegelisahan Cinta kepada Rangga yang kalah lomba puisi ketika SMA, membuat Cinta kian penasaran akan sosok Rangga yang sering menyendiri di belakang sekolah, di perpustakaan, dan di kamar tidur Pak Wardiman. Cinta kala itu sangat membenci Rangga tatkala ia ketahui sifat Rangga yang secara empirik terkesan angkuh. Situasi ini mirip dengan kerisauan Marx terhadap Adam Smith sang penyohor ekonom kapitalisme liberal dan pengagas buku Wealth of Nations itu. Namun justru berawal dari kegelisahan itulah kita sekarang bisa mengkaji pemikiran kritis Marx dalam buku bertajuk Kapital. Serupa dengan itu, demikian pula yang terjadi antara Cinta dan Rangga. Cinta yang begitu kesal karena kalah lomba puisi mencari kertas yang bertuliskan puisi tersebut, bukan untuk dirobek dan lalu dibuang ke tempat sampah, tetapi Cinta malah membaca dan meresapi puisi juara milik Rangga. Akhirnya puisi Rangga yang mendalam itu pun diimprovisasi oleh Cinta menjadi sebuah musikalisasi yang diperhelatkan di Blues Café.

Satu purnama menjadi janji Rangga untuk kembali kepada Cinta. Namun, dalam rasa  cinta yang dialektis, tak ada hal yang ceteris paribus. Artinya, setiap kemungkinan tidak diandaikan statis atau konstan.  Jadi, logika jika-maka, kurang relevan bila kita operasikan dalam kasus Rangga dan Cinta ini. Jika Rangga sayang Cinta dan juga sebaliknya, maka adalah mungkin untuk mereka bisa terus bersama-sama. Proposisi tersebut amatlah tidak berkaca pada realitas materil yang terjadi pada kenyataan sosial. Rasa cinta yang dialektis itu mesti diperjuangkan, meskipun harus dibalut dengan rasa kecewa, sedih, dan penderitaan. Rangga harus menerima kenyataan sebagai seorang mahasiswa  yang kekurangan biaya sehingga memaksa dirinya untuk membuka sebuah warung kopi sederhana. Kepergian sang ayah untuk selamanya membuat kunjungan Cinta dan keluarga saat berlibur ke New York menjadi  tidak berarti. Ditambah dengan sambaran petir dari ayah Cinta berupa kalimat  “Rangga, jika sudah selesai kuliah, cepat kembali ke Jakarta. Jangan biarkan Cinta menunggu terlalu lama”.  Percayalah, kalimat itu merupakan sebuah kiamat kecil jika didengar oleh seorang (pasangan) pria yang belum mapan seperti Rangga.

Akibatnya, Rangga menjadi tidak dialektis. Dia lebih mirip dengan pengikut Nietzsche atau Sartre yang merenungi segala hal yang hanya dalam pikirannya sendiri. Dia (Rangga) pun menjadi kurang Marxis. Rangga menghakimi dirinya sendiri dengan semangat idealisme, bahwa ia kurang pantas untuk Cinta karena belum mumpuni secara finansial dan menyakinkan diri (dengan pikirannya sendiri) jika ada lelaki yang lebih pantas untuk Cinta. Inilah cinta yang idealisme, cinta yang narsis, rasa cinta yang sama sekali tidak dialektis khas Marxisme.  Ketaksaan idealisme Rangga berujung terjadinya “patahan” dengan Cinta. Satu purnama menjadi seribu purnama, Rangga pun menolak untuk kembali pada Cinta yang masih gamang akan apa sebab dari semua kekacauan ini. Rangga memilih untuk kabur ke hutan dan lalu nyungsep ke pantai tanpa adanya pengungkapan (objektivikasi) perasaan gentar yang ia rasakan kepada Cinta.

Rasa cinta kita terhadap Ibu kandung adalah suatu hal yang elok. Kasih ibu sepanjang masa, begitu juga dengan Rangga yang telah berdamai dengan rasa benci terhadap ibu yang dulu meninggalkannya seorang diri bersama sang ayah. Rasa damai itu membawa Rangga ke kota Yogyakarta. Selain untuk menuntaskan cintanya kepada ibu, tetapi pada titik ini pulalah Rangga menyadari akan buah keberuntungan dari seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Rangga secara “kebetulan” dipertemukan lagi dengan Cinta. Orang yang menganggap jalan cerita ini sebagai alur yang norak dan mirip dengan FTV, sungguhlah tidak mengerti betul akan arti “kebetulan” dalam rentang sejarah perkembangan masyarakat manusia. Lenin pun tidak menyangka revolusi akan meletus di Rusia pada tanggal 7 November 1917 sehingga itu membuatnya harus berputar balik saat ingin bertolak ke Inggris. Hampir seluruh loncatan tingkat peradaban manusia dari zaman ke zaman itu terjadi karena kebetulan, sejauh jika dan hanya jika kebetulan itu diiringi dengan sejuta kali uji coba. Sama seperti Rangga yang mencoba untuk bertemu Cinta kembali di Jogja dan akhirnya mereka pun benar bertemu di sebuah warung makan. “Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu kurang Marxis! [jahat]”, bentak Cinta. Rangga hanya terdiam sembari menyadari kedunguannya yang beberapa purnama silam terjun ke jurang idealisme.

Bagi Cinta, rasa cinta yang dialektis itu tidak selalu dilewati dengan kesenangan sepanjang waktu. Cinta yang dialektis itu harus mampu untuk berjuang bersama-sama walaupun di tengah kesusahan sekalipun. Sama seperti perkembangan sejarah masyarakat manusia yang terkadang hancur lebur tertimpa badai perubahan iklim atau revolusi sosial yang meluluh-lantakkan bangunan struktur sosial masyarakat sebelumnya. Rangga pun sadar, ia mencoba kembali membanguan relasi yang kontradiktif kepada Cinta. Karena dari situlah ia dimungkinkan untuk menegasikan semua kesalahan yang telah dilakukannya terhadap Cinta. Berbeda dari Rangga yang baru ingin memulai kembali, Cinta justru sudah berada dalam kondisi yang kontradiktif. Cinta berada dalam terma yang disebut benar sekaligus salah. Benar bahwa ia masih mencintai yang Rangga, sejauh Rangga mencintai dirinya secara dialektis. Namun, salah, karena Cinta kadung terikat relasi semi permanen dengan tunangannya Trian.  Semakin Cinta membatasi untuk bersama bersama Rangga, perasaan cintanya yang telah lama terpendam justru malah kian membuncah. Pada titik inilah Revolusi Cinta dimulai. Beruntungnya Rangga sudah kembali menjadi seorang Marxis yang konsisten untuk memanfaatkan celah sekecil apapun. Dia menjadi berani untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Cinta dengan mengajaknya melancong ke beberapa tempat romantis yang ada di Yogyakarta hingga hari berganti. Benarnya saja, gerakan stratak Rangga yang militan itu berujung pada situasi ciuman bibir yang cepat nan mendadak yang diberikan Cinta kepada Rangga di depan pintu penginapan.

Namun, kali ini Cinta yang berubah untuk tidak dialektis. Sepulang dari Yogyakarta, dia memilih untuk mengesampingkan perasaan cinta yang dialektisnya kepada Rangga, dan membohongi dirinya untuk terus bersama Trian. Singkatnya, Cinta yang sangat revolusioner di Yogyakarta itu hilang dan  berpura-pura menjadi seorang fungsionalis yang menjaga ketentraman khalayak meskipun harus mengorbankan diri sendiri. Rangga yang masih menggebu akan persingguan perasaan cinta dengan Cinta, masih menyipan sejuta pertanyaan. Akhirnya, tidak seperti PKI yang memilih untuk berjuang lewat jalur palermen untuk masuk dalam pemerintahan dan meninggalkan revolusi bersenjata, Rangga justru memilih cara yang terbilang cukup konfrontatif. Rangga menyambangi langsung galeri buku sastra Cinta di Jakarta sebelum ia kembali ke New York. Jika kau ingin tenang maka percayalah, tetapi jika kau ingin kebenaran maka carilah. Rangga memilih untuk mencari kebenaran akan rasa cinta yang seharusnya  dialektis bersama Cinta. Namun, jawaban negatif yang diterima oleh Rangga. Cintanya seakan kahabisan bahan bakar oleh tatkala Cinta mengatakan “Saya dan kamu itu sudah selesai, Rangga”. Dengan rasa penuh kekecewaan Rangga pulang ke New York, sementara Cinta terus dalam fase kegamangan idealisme. Cinta menggalau antara berontak dan merevolusi perasaannya, atau hanya diam serta menikmati persaannya yang tercabik-cabik.

Namun kenyataan berkata lain, serangkaian uji coba yang dilakukan Rangga akhirnya berhasil. Mengapa? Tidak seperti anggapan beberapa orang yang menyindir bahwa seorang Cinta adalah manusia yang susah beranjak /“move on”, jalinan kisah asmara antara Rangga dan Cinta sungguhlah beraroma filsafat  Marxisme (Materialisme Historis/dialektis). Mereka berdua (Rangga dan Cinta) saling menegasikan perasaan masing-masing hingga berujung  pada  ciuman bibir yang manis nan eksotis pada sebuah taman bersalju di New York. Hal yang terpenting ialah pengungkapan bahwa keduanya saling mencintai. Begitulah seharusnya rasa cinta yang dialektis.

Dari drama cinta antara Cinta dan Rangga di atas kita bisa ketahui bahwa rasa cinta adalah kualitas yang tidak terlihat. Maka untuk menangkap keberadaanya, nilai cinta yang tak kasat mata itu harus diungkapkan (objektivitasikan) lewat kata dan gerak. Sama halnya dengan nilai komoditi. Nilai komodoti baru muncul setelah dia masuk dalam situasi pertukaran. Maka kita bisa tahu bahwa harga untuk sebungkus rokok itu adalah 17 ribu. Tetapi, setelah dipertukarkan, komoditi tersebut haruslah segera dikonsumsi, agar nilai gunanya bisa terasa oleh sang penikmat. Maka sama seperti cinta, cinta yang dialektis itu adalah cinta yang diungkapkan, diluapkan atau dimaterialisasikan. Namun perlu diingat, bahwa sebagai penganut materialisme historis/dialektis kita tidak boleh terjebak pada hal-hal yang materil saja. Cinta yang telah diungkapkan dan disambut dengan dialektis harus kembali lagi ke kualitas yang lebih sempurna seperti dalam bentuk rasa saling pengertian, saling menerima, saling mendukung untuk berjuang, dan saling mencintai. Maka bagi Anda yang mengaku Marxis tetapi masih memendam cinta kepada orang lain, itu artinya Anda tidak dialektis dan karenanya bukan Marxis serupa Rangga.

Foto: Book My Show

About the Author

Related Posts

Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah...

Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang...

Tulisan ini melawan pemaknaan yang diterima begitu saja oleh masyarakat tentang definisi anarkisme....

Leave a Reply