Jika sedang berkendara di jalan raya dan hendak belok ke kiri, kita harus menghidupkan lampu sign ke kiri sebelum memutar kemudi ke kiri. “Keharusan” semacam itu, jika boleh saya sebut demikian, tampaknya berlaku juga saat kita hendak menyoal “kiri” di Indonesia.

Apakah betul demikian? Apakah “penanda” itu? Saya akan mencoba menjawabnya melalui tulisan ini. Untuk itu saya akan memulai dengan mengemukakan catatan kecil dari diskusi Belok Kiri Fest pada 12-13 Maret 2016 bertema “Buruh, Kaum Miskin Kota, Perempuan, dan Bantuan Hukum”, serta “Marxisme Untuk Pemula.” Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari sana yang dapat membantu saya menjawab pertanyaan tadi.

Buruh, Kaum Miskin Kota, Perempuan, dan Bantuan Hukum

Dari diskusi bertema “Buruh, Kaum Miskin Kota, Perempuan, dan Bantuan Hukum”, ada beberapa hal yang bisa dicatat.

Pertama, gerakan buruh saat ini, meski masih sering mendapat hambatan dan tekanan, mulai dari soal berbagai peraturan yang membatasi ruang gerak buruh, pelarangan hingga pengerahan lumpenproletar untuk menumpas setiap gerak-gerik organisasi buruh, mereka mampu bertahan dan bahkan semakin mandiri. Kesadaran anggota untuk membiayai sendiri organisasi kian tumbuh.

Kedua, gerakan kaum miskin kota harus terus diperluas dan lebih terbuka, karena kota memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah keragaman komposisi penduduknya.

Ketiga, menyoal perempuan dan gerakan kiri, ada dugaan bahwa gerakan perempuan kini mulai kehilangan arahnya. Pasalnya, gerakan perempuan tidak berjuang dalam koridor perjuangan kelas. Sehingga arah perjuangannya lebih menekankan pada perjuangan pengakuan identitas. Dari gerakan perempuan, diskusi berlanjut ke arah LGBT. Persoalan ini dianggap menjadi bagian dari arus kiri karena menuntut kesetaraan.

Keempat, menyangkut peranan hukum dalam perjuangan gerakan kiri, lembaga bantuan hukum tetap akan melakukan pembelaan, terlepas dari apakah lembaga tersebut berhaluan kiri atau tidak.

Lanjut ke dalam diskusi bertema “Marxisme Untuk Pemula”, setidaknya ada tiga hal yang bisa dicatat.

Pertama, bahwa Materialisme Dialektis dan Historis (MDH) tidaklah deterministik dan menuhankan pengetahuan ilmiah seperti yang selama ini dituduhkan. Nyatanya, MDH bersifat luwes dan tidak mekanis. Tidak ketinggalan zaman dan masih relevan digunakan dalam era kekinian.

Kedua, menyangkut hubungan antara Marxisme dan seni, seni seharusnya mampu menangkap realitas sekaligus mengubah realitas.

Ketiga, ketertarikan kalangan muda sekarang pada Marxisme dianggap berangkat dari rasa bosan terhadap kehidupan perkotaan. Mendekati Marxisme diangap sebagai satu alternatif kehidupan. Ketidakpuasan dan keresahan dalam diri anak muda inilah yang menumbuhkan rasa ingin tahu mereka terhadap Marxisme. Faktor lainnya adalah karena ketiadaan wadah politik untuk menyuarakan pendapat dan mengambil peran dalam perubahan sosial yang sesungguhnya.

Hikmah dan Masukan yang Bisa Dipetik

Dari dua diskusi tersebut saya dapat memetik beberapa hikmah sekaligus menyampaikan masukan.

Pertama, bahwa Marxisme berangkat dari kenyataan yang ada atau realitas. Itu artinya, pembahasan marxisme senantiasa berangkat dari tatanan masyarakat yang eksis saat ini, kapitalisme. Suatu tatanan masyarakat yang ditopang oleh kepemilikan pribadi atas sarana produksi dan penghisapan nilai-lebih. Kontradiksi dalam sistem kapitalisme ini menampak ke permukaan pada pertentangan kelas dalam masyarakat itu sendiri.

Dari diskusi tersebut kita mulai mengenali bagaimana sistem kapitalisme bekerja. Semua muncul dalam kehidupan masyarakat perkotaan, gerakan perempuan, lingkungan, LGBT, masyarakat perdesaan, nelayan hingga gerakan buruh itu sendiri. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat kita sedang tidak baik-baik saja. Negara beserta tokoh-tokoh popular dan janji-janjinya tidak mampu menyelamatkan mereka yang dianggap rakyatnya. Inilah salah satu titik pijak kita dalam mempelajari Marxisme. Karena materialisme dialektika tidak mempostulatkan relasi internal sejak semula seperti dialektika Hegel yang dianggap universal, tapi harus dicari lalu ditemukan dengan susah payah lewat analisis saintifik (Suryajaya 2012: 65-66).

Catatan dari saya, beberapa persoalan yang dikemukakan dalam diskusi adalah beberapa pintu masuk untuk memahami mekanisme masyarakat kapitalisme. Namun, tidak semestinya kita terjebak hanya dalam kajian-kajian tersebut. Ambil contoh untuk kerusakan lingkungan, kita tidak dapat hanya membicarakannya dari ranah ekologi saja, namun ada aspek ekonomi-politik yang senantiasa menopang gejala tersebut. Begitupun saat membicarakan gerakan perempuan. Suka atau tidak, emansipasi perempuan bukan semata-mata soal identitas, mengingat penindasan terhadap perempuan adalah buah dari konstruksi sosial. Karena itu, tanpa menyentuh ranah ekonomi-politik tak mungkin perubahan signifikan bisa diwujudkan.

Kedua, bahwa Marxisme tak bisa dilepaskan dari ranah teoretis. Teori dan kajian Marxisme merupakan hal penting. Inilah yang menjadi pelumas gerakan kiri. Masih terngiang kata-kata Lenin hampir seabad lalu bahwa tak akan ada gerakan revolusioner tanpa teori-teori revolusioner. Karena itu, penting kiranya kita kembali lagi mempelajari dasar dari pemikiran Marxisme ini yaitu Materialisme Dialektis dan Historis. Bahwa kenyataan terhubung satu dengan yang lainnya, dan kenyataan tersebut bertopang pada yang material. Selain itu bahwa perkembangan masyarakat disyaratkan oleh aspek ekonomi dan politik yang menjadi basis. Dari MDH itulah kita bisa membedah berbagai aspek dalam realitas masyarakat kapitalisme, mulai dari ekonomi-politik, biologi, ekologi, hukum hingga soal fashion dan gaya hidup. Dari sana kita pun bisa memahami jika sesungguhnya Marxisme tidak termakan zaman dan masih jitu dalam membedah kondisi kehidupan masyarakat dalam corak produksi kapitalisme seperti sekarang ini.

Pertanyaannya kemudian, jika ingin belajar Marxisme, kita harus mulai dari mana? Menurut saya, kita bisa memulainya dengan membuka kembali buku Das Kapital sebagai kunci untuk memahami cara berpikir MDH. Dalam buku tersebut terkandung cara berpikir MDH yang selama ini sering kita kesampingkan. Beberapa dari kita lebih sering mengutip kata-kata Marx-Engels saja tanpa memahami betul bahwa cara berpikirnyalah yang justru harus kita terapkan, bukan malah membaca mentah-mentah kata-kata mereka bagaikan jimat pengusir setan kapitalisme. Jargon memang perlu untuk semangat, tapi jika melawan kapitalisme hanya dengan jargon, maka kita yang tamat.

Ketiga, Marxisme tidak bisa dilepaskan dari hal-hal praktis. Jika kita sudah memahami MDH, lantas apa gunanya ilmu tersebut bila hanya untuk diri kita sendiri? Sama seperti orang yang minum terlalu banyak sehingga kembung dan jackpot, apa yang ia makan sebelumnya menjadi sia-sia karena dimuntahkan lagi. Alangkah baiknya bila berteori diimbangi dengan praktik. Praktik seperti apa? Praktik dapat diwujudkan dalam banyak hal. Antara lain adalah mengorganisir gerakan atau organisasi kelas; menyebarkan kabar gembira Marxisme melalui berbagai cara selain gerakan atau organisasi berbasis kelas sebagai jalan keluar dari kebuntuan kapitalisme.

Mungkin di antara kita ada yang hanya berada di salah satu jalur di antara dua jalur utama di atas. Itu kenyataan, tapi bukan hambatan yang menghalangi gerakan kiri di Indonesia untuk berkembang. Masing-masing pihak dapat memfokuskan diri pada bidangnya, toh keduanya juga berpraktik meski berbeda cara. Untuk itu yang dibutuhkan adalah koordinasi dari keduanya. Agar setiap opsi yang dipilih dapat senantiasa berkesinambungan dan saling mendukung dalam perjuangan melawan kapitalisme. Jika kesinambungan arah dan tujuan sudah tercipta, maka wadah lebih besar yang mampu menampung keduanya haruslah tampil. Di sini partai politik harus tampil sebagai kendaraan yang mampu mengubah jalannya sejarah. Di sinilah materialisme historis yang sesungguhnya. Memang betul basis mengkondisikan ranah suprastruktur, namun suprastruktur pun mampu melakukan pengkondisian terhadap basis. Meski hanya dalam batas-batas yang dimungkinkan. Untuk mendamaikan hal objektif (basis) dan subjektif (suprastruktur) ini, suatu mediasi dibutuhkan, mediator tersebut tak lain tak bukan yaitu partai revolusioner (Blackledge 2002: 29-30). Persis seperti kata Lenin dan Trotsky hampir seabad yang lalu.

Arah Kita Hari Ini

Dalam setiap perjalanan selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Begitupun dalam perjalanan saya mengikuti Belok Kiri Fest. Orang-orang yang selama ini aktif berkontribusi dalam perjuangan melawan kapitalisme dapat bersua dan bertukar pikiran. Alangkah lebih baik jika Belok Kiri Fest bisa menetapkan pakemnya jauh ke depan, yang tidak hanya membahas perihal Orde Baru dan pelurusan sejarah saja. Sehingga momen ini bisa memberi arah baru untuk gerakan kiri ke depan. Menyebarkan kabar gembira Marxisme abad ke-21 ini tak hanya pada penduduk pesisir pantai, para buruh tani atau kelas proletariat di pabrik-pabrik saja. Para boss pemilik kapal nelayan, para pemilik lahan, kelas proletar di jalan Sudirman hingga anak-anak muda voluntir Java Jazz atau peserta Color Run juga berhak mengetahui bahwa dunia sedang tak baik-baik saja, dan kapitalisme harus berhenti sampai di sini.

Masih mau belok kiri? Kalau masih mau tentu kita mesti memberi tanda sein belok kiri. Tanda sein belok kiri kita bukanlah sekedar sebuah identitas atau simbol-simbol yang kita pakai-pakai atau menunjukan diri bahwa kita kiri, namun melalui pemahaman cara berpikir MDH dan bertindak dengan pertimbangan MDH. Menjadi kiri tidak bisa secara arbriter menyamakan hanya karena sama-sama tertindas atau atas nama rakyat saja. Sebab kapitalis tidak jarang merasa tertindas dan ARB pun juga sama-sama rakyat. Hikmah di atas adalah argumentasi pribadi saya, barangkali ada hikmah lainnya yang bisa dipetik dari diskusi di Belok Kiri Fest. silahkan dituliskan kembali atau barangkali bisa untuk menanggapi tulisan ini. Para penulis RumaKiri.org hingga hari ini hanya bisa menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun justru yang terpenting ialah mengubahnya.

Daftar Pustaka

Blackledge, Paul, and Graeme Kirkpatrick. Historical Materialism and Social Evolution. Hampshire: Palgrave Macmillan, 2002.

Suryajaya, Martin. Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. Yogyakarta: Resist Book, 2012.

Foto: Wikimedia

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply