Antonio Negri lahir dari keluarga borjuis kelas teri di kota Padua, Italia, pada 1 Agustus 1933. Konon, karir akademisnya di Universitas Padua begitu cepat dan sudah ditawari menjabat profesor penuh dalam bidang Teori Negara dalam usia masih muda. Bidang keahlian khususnya adalah teori hukum dan perundangan-undangan. Menurut beberapa orang, cepatnya karir akademis Negeri adalah karena keaktifannya dalam partai sosialis dan hubungannya dengan politikus ternama semacam Raniero Panzieri atau Norberto Bobbio yang terkait dengan partai sosialis.

Dia mulai karirnya sebagai seorang militan di dasawarsa 1950-an sebagai pegiat dalam organisasi kepemudaan Katolik yaitu Gioventú Italiana di Azione Cattolica (GIAC). Dia bergabung dengan Partai Sosialis Internasional pada 1956 dan tetap menjadi anggotanya hingga 1963. Pada saat itulah, kian lama dia kian dekat dengan pergerakan Marxis.

Di awal 1960-an Negeri menjadi anggota editor Quademi Rossi (Catatan-catatan Merah), sebuah jurnal yang mewakili kelahiran kembali intelektual Marxis di Italia di luar lingkungan Partai Komunis. Diikuti oleh jurnal Classe Operaia (Kelas Pekerja) yang hidup antara 1963 and 1966. Kedua jurnal ini merupakan tonggak pokok kemunculan pergerakan marxis otonomis Italia.

Pada 1969, bersama-dama dengan Oreste Scalzone dan Franco Piperno, Negri menjadi salah seorang pendiri kelompok Potere Operaio (Kuasa Pekerja) dan gerakan komunis operaismo. Potere Operaio bubar pada 1973 dan menjadi lahan lahirnya kelompok yang kemudian dikenal dengan Autonomia.

Dia menulis dengan beberapa penulis yang terkait dengan para aktivis gerakan Marxis otonomis pekerja, mahasiswa, dan feminis Italia pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an, termasuk Raniero Panzieri, Mario Tronti, Srgio Bologna, Romano Alquati, Mariarosa Dalla Costa dan Franco Berardi.

Pada 7 April 1979, ketika berusia 46, Antonio Negri ditahan bersama-sama pemimpin gerakan Autonomia lainnya. Jaksa Penuntut Pietro Calogero yang dekat dengan Partai Komunis Italia (PCI) menuduh kelompok Autonomia sebagai otak intelektual di belakang terorisme sayap kiri di Italia. Negri dituduh punya kaitan dengan beberapa tindakan penyerangan termasuk yang dilakukan Brigade Merah, tokoh penculikan dan pembunuhan Perdana Mentri Aldo Moro yang merencanakan makar. Pada saat itu, Negri adalah profesor ilmu politik di Universitas Padua, pengajar tamu di Ecole Normale Superieur dan pernah menyatakan bahwa dirinya adalah Marxis revolusioner yang mendukung perjuangan bersenjata.

Setahun kemudian, Negri tebukti tak bersalah dalam kasus penculikan Aldo Moro. Tak ada benang yang menghubungkannya dengan Brigade Merah dan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya (termasuk 17 pembunuhan), dibatalkan dalam beberapa bulan karena kurang bukti. Mereka yang mendukung hipotesis organisasi Gladio berada di belakang kematian Aldo Moro, melihat penangkapannya sebagai sebuah upaya menutupi tanggung jawab tersembunyi organisasi tersebut. Negri dijatuhi hukuman atas tindak kejahatan yang dikaitkan dengan tindakan melawan negara (tuduhan yang kemudian dibatalkan) dan, di tahun 1984, dihukum 30 tahun di penjara. Dua tahun kemudian dipenjara juga untuk tambahan empat setengah tahun dengan dakwaan Negri bertanggung jawab secara moral untuk bentrokan berdarah yang terjadi antara aktivis dan polisi selama dasawarsa 1960-1970-an. Dalam dasawarsa tersebut Negri memang banyak menghasilkan tulisan yang dianggap mengompori dan juga dirinya terkait dengan pelbagai kelompok revolusioner. Amensty Internasional memberi perhatian pada kasus Negri. Michel Foucault pernah mengomentari: “bukankah dia di penjara sekadar karena menjadi cendikiawan?”

Pada 1983, empat tahun setelah penangkapannya dan sementara dia masih berada dalam tahanan, Negri terpilih menjadi calon anggota legislatif sebagai wakil Partai Radikal-nya Marco Pannella. Sebagai anggota legislatif, dia memperoleh keistimewaan. Salah satunya membolehkannya meninggalkan rumah tahanan untuk kegiatan-kegiatan politik tertentu. Saat itulah dia pergi ke Perancis dan bertahan di sana selama 14 tahun, menulis dan mengajar dengan leluasa karena dilindungi dari ekstradiksi oleh kebijakan Mitterand.

Di Prancis, Negri mulai mengajar di Université de Paris VIII (Saint Denis) dan juga di Collège International de Philosophie yang didirikan Jacques Derrida. Meski keadaan tempat tinggalnya di Paris mencegahnya dari keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan politik, dia tetap saja bisa menulis dengan penuh semangat dan aktif dalam barisan cendikiawan sayap kiri. Pada 1990 Negri bersama Jean-Marie Vincent dan Denis Berger mendirikan Futur Antérieur. Jurnal tutup publikasi pada 1998 tapi lahir kembali sebagai Multitudes pada 2000 dengan Negri sebagai anggota dewan editor internasionalnya.

Di tahun 1997, Negri kembali ke Itali secara sukarela untuk menjalani sisa hukuman yang telah dikurangi menjadi 17 tahun dengan harapan bahwa tindakan ini akan membangkitkan kesadaran akan situasi ratusan orang buangan dan narapidana politik (termasuk Adriano Sofri dari Lotta Continua, sebuah kelompok Katolik kiri) yang terkait kegiatan-kegiatan politik radikal kiri di Italia selama dasawarsa 1960-an dan 1970-an, yang disebut “anni di piombo” (Lead Years). Negri dibebaskan dari penjara pada musim semi 2003 lalu, setelah menyelesaikan masa hukuman 17 tahunnya. “Kubangkitkan kembali karya-karya politikku mulai dari bawah, dari penjara,” kata Negri yang menulis L’anomalia selvaggia dan Empire-nya di penjara. “Dengan kembalinya aku, Aku akan memberi dorongan kepada generasi yang terpinggir oleh hukum-hukum anti-teroris dasawarsa 1970-an sehingga mereka meninggalkan tempat pengucilan mereka dan kembali mengambil bagian dalam kehidupan publik dan demokratik.”

Di antara tema pokok karya-karya Negri adalah Marxisme, globalisasi demokratik, Anti-kapitalisme, Pascamodernisme, Neoliberalisme, demokrasi, dan sebagainya. Karya-karyanya melimpah, maen hantam, kosmopolitan, dan orisinil. Kadang pula karya-karyanya sulit dan filosofis bermaksud memadukan konsep-konsep kritis dengan pergerakan cendikiawan global dalam rangka memajukan sebuah analisis Marxis yang baru atas kapitalisme.

Negri mengakui pengaruh Michel Foucault, buku Condition of Postmodernity (1989) karya antropolog David Harvey, karyanya Fredric Jameson, Postmodernism or the Cultural Logic of Late Capitalism (1991), dan buku Capitalism and Schizophrenia karya Gilles Deleuze dan Felix Guattari. Meski demikian, dia betul-betul mengambil jarak dengan gerakan pascamodernisme.

Sekarang, Antonio Negri dikenal sebagai penulis bersama Michael Hardt untuk buku mereka Empire yang terbit tahun 2000. Pikiran pokok dari Empire adalah bahwa globalisasi dan informatisasi pasar dunia sejak 1960-an telah menghantar pada sebuah kejatuhan progresif kedaulatan negara-bangsa dan munculnya “sebuah bentuk baru [kedaulatan], terdiri dari serendeng organisme nasional dan supranasional yang disatukan di bawah sebuah logika aturan yang tunggal.” Negri dan Hardt menyebut konfigurasi baru yang global ini dengan ‘kedaulatan Imperium’. Dengan gagasan ini, mereka lebih lanjut mengajukan gagasan bahwa sekarang tiada lagi istilah “kapital asing”. Segalanya selalu berada di bawah naungan gerak kapital dalam jaringan kapitalis. Kekuasaan Imperium baru ini tidak lagi dipegang ‘bangsa’ karena dalam Imperium tidak ada bangsa-bangsa. WTO, IMF, Bank Dunia dan sekitar 200 korporasi raksasa dunia bukanlah milik bangsa tertentu. Jajaran birokrasinya multi/transnasional dan penghisapannya juga tak kenal batas-batas administratif negara bangsa.

Dalam upaya bertahan dan melawan apa yang dianggap sebagai ketidakadilan yang dihasilkan dari kedaulatan imperium ini, keduanya mengajak membangun perlawanan yang terbangun secara otonomi seperti yang ditunjukkan oleh perlawanan anti-WTO pada 1999 di Seattle yang tertata secara longgar yang disebut mereka dengan ‘multitude’; gerakan banyak denyut.

Buku Empire telah berpengaruh luas di Eropa, Australasia dan Amerika Utara. Pada Agustus 2004, Penguin Books menerbitkan karya lanjutan Empire dan yang diberi judul Multitude: War and Democracy in the Age of Empire.

Salah satu karya lainnya adalah Time of Revolution (2003). Dalam karya tersebut Negri menekankan tema-tema yang sudah diajukan St. Augustine dari Hippo dan Baruch Spinoza yang secara singkat bisa digambarkan sebagai upaya menemukan Kota Tuhan tanpa bantuan ilusi transendental. Negri juga mengembangkan pemikiran tentang kuasa yang terpendam dalam pemikiran Martin Heidegger dan John Maynard Keynes, memperluas dan berupaya memperbaiki kritik ideologi sebagai kesadaran palsu seperti yang sudah dimulai oleh Karl Marx.

Saat ini diusia 70-annya, Negri masih terus mengajar dan menulis. Dia membagi waktunya antara Roma, Venisia, dan Paris tempat dia memberi kuliah seminar Collège International de Philosophie dan Université Paris I.

Catatan

[*] Disari dari berbagai sumber.

Foto: Anonim

About the Author

Related Posts

Di luar Bloor Cinema di Toronto tertera pengumuman “The Last Mistress” pada pukul 04.00, “Naomi...

“Panggil aku Samsir saja,” kata lelaki tua itu ketika seorang anak muda menyapanya. “Ini memang...

Rosa Luxemburg lahir pada 5 Maret 1871 sebagai putri bungsu sebuah keluarga Yahudi di Zamość,...

Leave a Reply