Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang diselenggarakan sebuah kampus fashion di bilangan Jakarta Selatan. Disana saya menyaksikan para peraga dengan pusparagam busana yang ekstravagan silih berlenggok di runway. Sebagai seorang yang tidak terbiasa mengikuti perkembangan fashion, memafhumi rancangan busana yang ditampilkan para peraga jadi sesuatu yang rumpil. Tak heran jika nalar polos saya tetiba mengepung dengan rentetan pertanyaan, “adakah kiranya rancangan yang demikian “tidak biasa” berkenan dikenakan dalam aktivitas sehari-hari?”. Lalu “apakah pakaian yang saya kenakan sehari-hari ini bisa disebut fashion?”. Atau lebih sederhana lagi, “apa itu fashion?”.

Gatal dengan ledakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya memberanikan diri untuk merisikokan citra lelaki berbudaya yang sedang saya tampilkan untuk menepuk teman kencan dengan pertanyaan “apa sih bedanya fashion dengan pakaian?”. Berikut hasil perbincangan kami.

Materialitas dan Imaterialitas Fashion

Apa itu fashion? Sulit juga sebetulnya untuk memberikan definisi tepat untuk terma ini. Perkaranya sepanjang sejarah, makna fashion terus mengalami perubahan, ia bisa dimaknai secara beragam sesuai dengan kebiasaan dan perangai berpakaian tiap orang di dalam struktur sosial yang berbeda-beda. Pada awal kemunculannya, setidaknya sekitar tahun 1482 di Perancis, kata ini berarti tata laku kolektif dalam berpakaian (Ramaury 1996). Kata fashion demikian bisa dibedakan dengan pakaian, kain, kostum, dsb, karena mula-mula kata fashion pada dirinya sendiri mengandung muatan sosial, bandingkan dengan pakaian yang cuma merujuk pada unsur material yang dikenakan oleh seseorang.

Teman kencan saya yang kebetulan cukup mengikuti perkembangan tren busana menunjukan sebuah ebook berjudul The New Oxford English Dictionary on Historical Principles. Darinya fashion didefinisikan sebagai suatu tindakan atau proses pembuatan, tata laku, kebiasaan yang sedang populer, penggunaan saat ini, penggunaan konvensional dalam berpakaian dan moda kehidupan. Singkatnya, ujar teman kencan saya ini, fashion adalah kekinian yang temporer dalam cara berpakaian, dengan temporalitas sebagai penanda kontinuitas perubahan.

Dalam definisi sehari-hari fashion dan pakaian kerap dipertukarkan mana suka. Kata fashion umumnya merujuk pada pakaian atau gaya berpakaian. Definisi semacam ini bisa dimaklumi, sebab fashion dan pakaian adalah dua ihwal yang saling mengandaikan satu sama lain. Fashion adalah konsep untuk merujuk pada cara berpakaian tertentu, sedangkan pakaian adalah dasar material darinya fashion memungkinkan untuk dipahami. Dengan kata lain, fashion merupakan konsep immaterial dan simbolik, sedang pakaian adalah praktik atau fenomena empirik. Terlalu abstrak? Teman kencan saya memberi satu contoh sederhana bagaimana pakaian yang kita kenakan sehari-hari bisa memiliki kedua-dua aspek itu secara bersamaan. Tengoklah, celana jeans, katanya.

Pada tataran konsep, konsensus sosial masyarakat modern memaknai celana jeans sebagai jenis celana tertentu berbahan dasar denim yang merujuk pada rancangan Jacob W. Davis dan Levi Strauss, pendiri brand Levi Srauss & Co. Sebagai jenis celana, mulanya celana jeans dirancang untuk para penambang dan koboy, sampai pada tahun 1950’an celana jenis ini marak digunakan oleh para remaja karena fleksibilitas dan ketahanannya. Pangsa penggunanya mengalami perluasan, pada tahun 1960’an jeans populer di kalangan subkultur Hippies hingga kemudian menjadi semacam pernyataan kultural di kalangan muda-mudi subkultur Punk dan Heavy Metal pada tahun 1970’an dan 1980’an. Jeans sebagai fashion seiring waktu mengalami perkembangan baik dari sisi inovasi maupun asosiasi kultural yang dilekatkan padanya. Jeans kemudian menjadi simbol kultural untuk penampilan kasual muda-mudi.

Pada tataran material, celana jeans bisa diidenfikasi lewat bahan bakunya yang berupa katun denim. Katun denim sendiri merupakan jenis kain yang ditenun melintang diagonal membentuk persegi dan dicelup dengan cairan pewarna tekstil. Katun denim mampu menyerap kelembaban dengan cepat, dan punya efek pendingin ketika suhu menghangat (Yvette Mahe 2015). Jean memang terkenal karena ketahanannya, makanya mula-mula celana jenis ini digunakan oleh kelompok sosial yang dekat dengan aktivitas fisik, seperti penambang, tukang kayu, dll. Seiring waktu keterkenalannya di kalangan masyarakat sebagai jenis celana yang punya aspek “ketahanan” dan “penggunaan untuk aktivitas fisik” menubuhkannya semacam simbol kutural sebagai celana kasual.

Bersambung ke bagian ke 2… (segera)

*Pada bagian selanjutnya diskusi akan saya lanjutkan seputar fashion sebagai konsep dan kajian akademis, serta fashion sebagai pernyataan kultural kelompok sosial tertentu, dalam hal ini: kelopok kiri.

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah...

Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan...

Tulisan ini melawan pemaknaan yang diterima begitu saja oleh masyarakat tentang definisi anarkisme....

Leave a Reply