Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah baku sapa dengan watak ganda yang melekat pada Fashion. Yakni, fashion sebagai objek yang tampak dan tak. Sebagai produk simbolik sekaligus produk kerja material, fashion mensyaratkan keterlibatan banyak orang dalam memproduksinya. Pilihlah, apa itu produksi makna kultural ataupun produk fisiknya. Dengan kata lain, teman kencan saya mau bilang kalau fashion adalah produk sosial atau kalau mau agak didekatkan dengan terma kiri, fashion sebagai produk kolektif!. Tapi bukan sembarang produk sosial, fashion adalah produk imajinasi kultural. Apa artinya dengan produk imajinasi kultural? Bagaimana ia bisa melekat pada sesuatu yang hakikatnya material, seperti pakaian? Pada bagian kedua ini, mari simak lanjutan diskusi manis saya dengan si teman kencan. Mudah-mudahan berguna buat kawan pembaca yang sedang bersiap belanja pakaian buat hari raya.

Fashion Sebagai Produk Imajinasi Kultural

Pembaca yang hidup dalam masyarakat yang mengenal pakaian sebagai pranata sosial mestilah barang sekali dua berbelanja pakaian. Pilihlah belanja dimana, apa itu mall, butik, factory outlet, distro, toko barang bekas, toko online, lapak komunitas, sampai pasar sekalipun, yang jelas pembaca melakukan aktivitas membeli pakaian.  Sebelum belanja kawan pembaca setidaknya mestilah sudah punya selera atau ukuran-ukuran pakaian yang dianggap sangat mewakili identitas kawan pembaca. Suatu pakaian yang gue-banget!. Mau itu fashionista atau pula aktivis kiri. Yang jelas kawan pembaca mestilah memilih pakaian yang nyaman dan sesuai dengan asosiasi kultural yang melekat pada diri kawan pembaca masing-masing. Demikian pakaian menjadi fashion, karena ada nilai tambah kultural yang dilekatkan padanya. Nilai tambah yang cuma ada dalam imajinasi dan belief orang yang mengenakan pakaian tersebut.

Pertanyaannya bagaimana nilai tambah tersebut bisa mengada sebagai kenyataan imajiner yang disepakati oleh banyak orang?. Teman kencan saya mengingatkan kalau hakikat fashion sebagai industri yang dibuat dari imajinasi (imagine making industry). Sambil minum-minum cantik, saya berseloroh “Loh bukannya semua hal-ihwal yang ciptakan manusia itu melibatkan imajinasi?”. Betul. Bedanya, dalam fashion, peran perancang busana dan pekerja-pekerja kreatif di belakangnya punya andil yang lumayan penting dalam memproduksi citra. Meski perlu diingat pula, kalau watak fashion sebagai produk sosial turut mereproduksi dan merekreasi citra yang diproyeksikan. Sederhananya, fashion berdiri di antara dua kontinum yang saling membentuk. Yakni, perancang dan pengguna. Dengan yang pertama sebagai determinan dari yang kedua.

Sebagaimana karya seni, fashion menempatkan produksi citra sebagai orbit aktivitas produksinya. Mula-mula, para perancang memproyeksikan citra personalnya sebagai individu ke dalam medium pakaian yang dirancangnya. Citra personal ini kelindan dengan status sosial dari sang perancang. Status sosial seorang perancang yang memungkinkannya mengakses kursus rancangan pakaian di Central Saint Martin, London atau Ecole De La Chambre Syndicale, Paris menentukan gaya rancangan dan audiens-konsumennya yang tentu dari kalangan yang setidaknya mafhum dengan karya rancangan pakaian yang hilir nampang di cover majalah Vogue atau Bazzar Harper. Beda lagi dengan seorang perancang yang akrab dengan skena skateboard dan subkultur musik indie, audiens-konsumennya barang tentu mereka yang setidaknya mengikuti perkembangan skena subkultur, mau itu lewat webzine macam Alternative Press atau selebaran zine komunitas yang beredar di gigs. Bourdieu (1984) agaknya lumayan kena ketika bilang bahwa status sosial seorang perancang menentukan status produk yang diproduksinya. Jangan heran kalau audiens-konsumen rancangannya pun datang dari status sosial yang kurang lebih sama. Para perancang busana berperan sebagai pencipta sekaligus pembubuh legitimasi fashion terhadap pakaian yang dirancangnya.

Seiring pasang naik keterbukaan teknologi dan informasi, penggolongan kelas-kelas dalam fashion kian menguap (Kawamura 2004). Ketika batas kultural antar kelas kian menipis,  peran perancang busana sebagai agensi yang mencipta dan melegitimasi fashion mengemuka. Teman kencan saya mengingatkan kalau, peran yang dimainkan perancang busana ini pada masa sebelum revolusi industri jadi privilege para aristocrat yang mendikte kepatutan fashion bagi rakyatnya. Hilangnya subjek fashion untuk diimitasi membuat semacam alih otoritas kultural pada individu kreatif di belakang fashion, tak lain daripada para perancang busana. Persoalannya, status sosial sebagai otoritas kultural hanya sekedar menjadi status hampa tanpa adanya sarana yang dapat menyebarkan produk kulturalnya ke khalayak.

Bagaimana suatu rancangan bisa jadi konsumsi publik?. Disinilah  pembagian kerja diperlukan. Di lini produksi, seorang perancang busana di suatu perusahaan pakaian bekerja dengan pemegang saham perusahaan, asisten perancang, penggunting sample, pembuat sample, pembuat pola, dan para pekerja di pabrik yang memproduksi rancangannya secara masal. Di lini konsumsi, para perancang bekerja dengan para pemasar, biro iklan, dan media massa untuk mendiseminasikan produk jadi rancangannya.

Secara konkrit, Kawamura (2004) dan Crane (2000) dalam penelitiannya menunjukan bagaimana kaitan dan saling pengaruh antara institusi yang memproduksi fashion dengan perancang busana sebagai pencipta fashion. Dalam temuannya, kartel dagang fashion Perancis, French Fashion Trade Organization, dianggap punya peran sentral dalam mengorganisir institusi-instusi yang memobilisasi para perancang busana, fashion forecaster, biro fashion, serta event dan aktivitas fashion di Paris. Tiap tahun para perancang busana perusahaan dari berbagai negeri hadir untuk membeli produk-produk fashion sebagai sample, supaya gagasannya dapat “direplikasi” oleh perusahaan mereka. Sementara media massa berperan dalam mereproduksi citra fashion dan menjadikannya bagian dari pengalaman dan kesadaran kolektif  khalayak lewat media visual seperti televisi, foto, film, dan advertising.

Ringkasnya, rancangan fashion mesti diinstitusionalisasikan ke dalam lintasan aktivitas kerja kolektif agar dapat mengejawantah jadi sesuatu yang konkrit dan bisa dikonsumsi oleh publik. Di sini lah kita melihat gerak aktualisasi dari sesuatu yang immaterial, serupa citra-kultural fashion, ke dalam bejana material, berupa aktivitas memproduksi, mengkonsumsi, dan mereproduksi fashion.

Foto: SG

Apa yang Ada di Benakmu Ketika Bicara Fashion – Bagian 1

About the Author

Related Posts

Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang...

Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan...

Tulisan ini melawan pemaknaan yang diterima begitu saja oleh masyarakat tentang definisi anarkisme....

Leave a Reply