“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler pada 12 April 2016. “Wow,” pikir saya. Gigih benar perjuangan mereka. “Kaki mereka disemen hingga Presiden Joko “Jokowi” Widodo mau menemui dan mengakomodir permintaan mereka,” tulis wartawan Rappler.

Membaca berita itu timbul perasaan salut dan haru, meski saya tidak tahu harus berbuat apa untuk menyikapi persoalan serupa. Kalau cuma datang menonton aksi “heroik” itu ke Istana Negara buat apa? Saya pikir tak banyak guna juga untuk mereka. Karena itu, pilihan “menonton” atas nama solidaritas saya abaikan. Meski begitu, saya berusaha mengikuti perkembangan beritanya dan mencari berbagai informasi seputar masalah pembangunan pabrik semen di Kendeng. Seperti apa duduk persoalannya, bagaimana sejarahnya dan seterusnya, sehingga saya bisa memahami betul aksi serius ibu-ibu Kendeng itu. Saya ingin tahu juga apa kira-kira tanggapan Presiden Jokowi yang konon “merakyat” itu. Dengan begitu, saya memiliki bekal cukup untuk memberi dukungan yang bukan atas dasar belas kasihan.

Disela-sela pencarian informasi pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, seorang kawan membagi link sebuah artikel berjudul “Mengapa Kita Harus Belajar Berpihak pada Aksi #DipasungSemen Ibu-Ibu Rembang”.

Dengan sabar saya menelusuri tiap kalimatnya. Sebagai sebuah tulisan solidaritas seseorang atas masyarakat Kendeng, saya menghargainya. Cukup rinci mengemukakan ikatan ibu-ibu Kendeng itu dengan tanah pertaniannya, perjalanan perjuangan mereka mempertahankan sumber kehidupannya, hingga memutuskan melakukan aksi memasung kakinya dengan semen di depan Istana Negara. Informasi itu sangat berguna bagi orang seperti saya yang lebih akrab dengan masalah kemacetan, polusi asap kendaraan, perilaku semena-mena pengemudi di Jakarta, gaya hidup perkotaan, cafe-cafe yang nyaman untuk kongkow di akhir pekanperkembangan koleksi Burberry, dan seterusnya, karena itulah lingkungan terdekat saya. Dunia tempat saya berada dan beraktivitas. Tak ada yang bisa menyalahkan hal itu, apalagi menilai buruk dan memandang sinis, hanya karena berbeda dengan lingkungan Anda.

Orang-orang yang bukan aktivis, yang hari-harinya habis dicurahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti orang-orang di lingkungan saya tidak akrab dengan persoalan petani Kendeng dan petani-petani lain yang berada nun jauh di sana. Jika mereka membaca, yang dibaca adalah sesuatu yang menarik dan terkait dengan dunia mereka. Sama halnya dengan beberapa aktivis yang saya kenal. Mereka lebih tertarik membaca kasus penggusuran, pelanggaran hak asasi manusia, dan semacamnya daripada membaca ulasan fashion Suzy Menkez atau Tim Blanks di New York Fashion Week. Karena itu, saya bisa memahami mengapa sebagian besar orang-orang di lingkungan saya tampak bingung dan menganggap aneh melihat ibu-ibu Kendeng itu memasung kakinya dengan semen. Pun, tak mengherankan ketika muncul tanggapan seperti yang dipaparkan Kalis Mardiasih:

“Kenapa ibu-ibunya yang dipasung semen ya? Bapak-bapaknya pada kemana?”
“Kok tega ya lihat istri dipasung gitu?”
“Kenapa tidak mencoba berdialog ulang dengan pemilik pabrik?”
“Kenapa nekad banget membahayakan diri sendiri dengan dipasung semen?”
“Bukannya tuntutan mereka telah dimenangkan pengadilan ya? Kok masih aksi?”

Namun, sungguh disayangkan Kalis menanggapinya dengan nada sinis dan cenderung menyalahkan:

Jadi begini lho sodara-sodara, seharusnya pertanyaan serupa itu tidak perlu muncul apabila anda sekalian menyempatkan sedikit waktu untuk menonton film di Youtube berjudul “Samin Vs Semen” produksi WatchDoc Image  yang merupakan salah satu bagian dari perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru. Film itu pertama kali diunggah tanggal 3 Maret 2015 serta telah ditonton 68.357 kali (ketika saya menulis tulisan ini). Tetapi baiklah, barangkali anda semua terlampau sibuk hingga tak sempat menonton. Saya akan sedikit merangkum mengapa kita harus belajar berpihak pada aksi Ibu-ibu Kendeng yang memasung kakinya dengan semen itu.

Lebih jauh lagi Kalis menulis:

Lagipula, apa sih yang kalian nyinyirkan dari pergerakan masyarakat kelas bawah yang tentu saja tidak memiliki Sumber Daya untuk membayar media, pengacara, kuasa hukum, serta pejabat Negara, yang semuanya telah bungkam itu? Aksi #DipasungSemen jelas hanya upaya merebut perhatian publik dan perhatian Pemerintah Pusat serta Presiden terpilih yang membawa segudang janji pada pemilihan umum lalu.

Mereka tidak membuat kemacetan seperti aksi buruh yang dibenci kelas menengah. Mereka tidak akan membahayakan siapapun, dan mereka telah sadar betul bahwa resiko yang akan mereka hadapi dengan para cukong dan penguasa adalah kekalahan. Namun, setidaknya, sebagai manusia yang memiliki harga diri, mereka telah berupaya untuk terus melawan: sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Tanggapan seperti itu sungguh nggak asyik. Pertama, penulis seperti hidup di bawah tempurung kelapa, tak mengenal ada dunia lain di luar dunianya. Sehingga beranggapan semua orang berpikiran dan memiliki pengetahuan sama dan harus bersikap sama. Jika berbeda atau tertinggal pengetahuan dianggap keliru sehingga pantas dilecehkan atau dicap “kelas menengah ngehek”. Ini salah besar, karena dunia sosial itu tidak tunggal.

Kedua, kepedulian sosial itu bukan bawaan lahir, harus ditumbuhkan secara sosial. Karena itu, jika ada pandangan atau pendapat orang yang dianggap tidak tepat, atau bahkan dinilai bodoh, bukan kemudian ditanggapi dengan sikap menyalahkan, tapi hadiahi dia dengan informasi dan pengetahuan. Bagaimana caranya, itu yang harus dipikirkan, karena kesadaran tidak lahir dari rahim ibu, tapi harus ditularkan.

Munculnya tanggapan-tanggapan seperti di atas tidak perlu disalahkan dan dibalas “nyinyir”, tetapi dijadikan bahan bercermin. Mengapa sesuatu yang penting untuk banyak orang hanya dimengerti oleh segelintir orang? Mengapa kesadaran untuk mendukung protes petani Kendeng hanya hidup di kalangan aktivis? Mengapa hanya sekelompok orang yang ribut soal penggusuran, sementara sebagian besar masyarakat tak peduli dengan itu? Dan mengapa tidak berhasil menularkan gagasan kritis kepada banyak orang jika itu adalah kebaikan untuk khalayak luas?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih panjang dan harus dijawab jujur sekalipun mungkin pahit untuk dirasakan, bukan lantas menyalahkan orang karena pemahamannya yang mungkin masih dangkal dan dianggap oon. Sungguh keliru bukan, jika Anda ingin buang air berharap toiletnya yang menghampiri Anda. Bukan begitu, Kalis?!

Salam hangat…

Foto: Tips of Divorce

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

Borjuis dan proletar merupakan hasil dari penyederhanaan pertentangan kelas yang terjadi pada...

Leave a Reply