Sabtu 27 Februari 2016, seperempat jam sebelum pukul empat sore, puluhan orang berkumpul di pelataran kantin Taman Ismail Marzuki. Mereka berkumpul untuk menyimak konferensi pers komite pelaksana Belok Kiri.Fest. Belok Kiri.Fest adalah sebentuk perlawanan kesadaran, berformat festival, terhadap moralitas dan propaganda yang ditanam oleh Orde Baru selama 32 tahun. Selain pameran, loka karya, dan diskusi, di dalamnya juga ada peluncuran buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula.

Konferensi pers itu dilakukan setelah komite pelaksana dihalang-halangi sejumlah pihak untuk menggelar Belok Kiri.Fest (BKF) di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Bahkan, konferensi pers yang semula hendak dilakukan di sekitar Galeri Cipta II pun dilarang pihak pengelola. Dalam konferensi pers yang dilakukan alakadarnya itu, pihak komite menyampaikan pembatalan pelaksanaan BKF di Galeri Cipta II, kronologi pembatalan BKF, serta pernyataan sikap atas apa yang melatarbelakangi pembatalan itu. walau batal diselenggarakan di TIM, komite memberitahukan bahwa BKF akan tetap dihelat. “Acara tetap berlangsung. Dipindahkan ke kantor LBH Jakarta,” pungkas salah seorang perwakilan komite.

Dari siaran pers yang disampaikan dan salinan tertulisnya yang dibagikan di sana, dapat diketahui bahwa empat hari sebelumnya, banner kegiatan yang telah dipasang sejak tanggal 22 Februari di depan TIM, diturunkan oleh pengelola TIM keesokan harinya. Alasannya, surat izin kegiatan yang telah mendapat cap dari pihak polsek setempat, dinilai tidak cukup. Surat izin itu harus disertai surat balasan dari polsek.

Selama proses perizinan, dari tanggal 18 hingga 26 Februari, komite pelaksana dilempar dari satu meja ke meja birokrasi lain, dari polsek ke Polres Jakarta Pusat, lalu ke Polda Metro Jaya. Namun semua upaya itu berujung buntu. Hingga H-1, BKF tak diberi izin diselenggarakan di TIM. Saat itu pula penyelenggara disuruh membongkar display yang telah dipasang di Galeri Cipta II. Kabarnya, pihak polisi dan keamanan setempat akan membongkarnya jika hal itu tidak dilakukan penyelenggara.

Kondisi itu semakin diperkeruh ketika pada Hari-H, di depan tempat yang kerap disebut-sebut sebagai oase kebudayaan itu, sejumlah mahasiswa yang mengaku dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), belakangan diketahui sebagai HMI Jakarta Raya, bersama PII dan PECAT, melakukan aksi demonstrasi penolakan penyelenggaraan BKF dengan alasan klasik stigma manipulatif non-ilmiah tentang komunisme. Pihak komite, dalam siaran persnya, menggarisbawahi tiga hal terkait pembatalan BKF itu. Pertama, mekanisme penggunaan Galeri Cipta II di TIM tidak transparan dan tidak tersosialisasi dengan baik. Mekanisme perizinan yang makin dipersulit hingga berujung pelarangan itu, justru menunjukkan pengebirian hak publik untuk berkumpul dan berekspresi. Kedua, aparat terindikasi tidak punya pengetahuan yang merata soal mekanisme peminjaman dan seakan malah mempermainkan penyelenggara kala berupaya memperoleh izin. Ketiga, adanya pihak-pihak tertentu yang menentang dan mengancam dihelatnya kegiatan ini dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kebenaran.

***

Sebagaimana dikemukakan komite penyelenggara, Belok Kiri.Fest tetap digelar. Menjelang jam delapan malam, MC menyapa audiens yang telah memenuhi aula bawah gedung LBH Jakarta. Sebelumnya, Naomi Srikandi membaca puisi dan cerpen sastrawan Lekra. Sastrawan yang dimaksud adalah Martin Aleida dan Sabar Anantaguna. Puisi dan cerpen yang dibacakan itu menunjukkan bahwa karya para sastrawan Lekra memiliki daya estetika yang tinggi; tidak seperti anggapan banyak orang yang menganggap karya sastrawan Lekra beraroma pamflet.

Dalam acara Pembukaan Belok Kiri. Fest itu, audiens yang terdiri dari berbagai latar belakang, diajak salah satu penggagas buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula, Yayak Yatmaka, untuk berdiri dan menyanyikan stanza ketiga lagu Indonesia Raya secara berjamaah, diiringi suara gitar dan jimbe. Setelahnya, barulah ketua komite BKF, Dolorosa Sinaga, naik ke podium untuk menyampaikan sambutannya.

Rangkaian sesi berikutnya diisi oleh Sanggar Ciliwung dan Paduan Suara Dialita. Kelompok yang disebut terakhir itu terdiri ibu-ibu korban dan keluarga korban Tragedi 1965. Dengan merdu, mereka menyanyikan Lagu untuk Anakku karya Heryani Wibisono, Ujian karya Jubaidah Munzid, dan Resopim karya Subroto Atmodjo. Setelah ketiga lagu itu, secara spontan Internasionale, yang liriknya diterjemahkan oleh Ki Hajar Dewantara ke bahasa Indonesia, meruang di aula itu.

Sebelum acara pembukaan itu ditutup Bilven, salah satu penggagas buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula, perwakilan dari tiga generasi yang berbeda menyampaikan pidatonya di depan audiens. Generasi yang lahir di dekade 1990-an atau “generasi kekinian,” diwakili oleh Evi S. Handayani. Dia menyebut bahwa generasinya sebagai “generasi korban penggelapan sejarah,” yang mestinya menolak menanggung beban sejarah. “Sejarah kita memang pahit. Tapi sepahit-pahitnya sejarah, kita harus tahu sejarah sejujur-jujurnya dan sebenarnya,” gadis berkacamata lebar itu menutup pidato dan komentarnya atas BKF dan SGKIuP.

Perwakilan generasi yang lahir di era 1980-an, Martin Suryajaya, menyambut gembira kegiatan ini. Terutama acara-acara diskusi yang akan diadakan, ia anggap dapat menjadi medium distribusi pengetahuan dan kesadaran, serta menjadi wadah pertukaran gagasan dalam memperbaiki keadaan bangsa ke arah yang lebih baik. Wakil ‘generasi keduluan,’ Sri Katno, mengatakan bahwa BKF dapat menjadi sarana untuk membuka tabir sejarah dan kebenaran. “Semua jalan ke kiri adalah jalan yang benar,” ujar perempuan sepuh yang masih tampak bersemangat itu sembari menganjurkan reformasi di bidang hukum.

Kemudian, tiap perwakilan generasi itu, bersama Yayak Yatmaka dan Dolorosa Sinaga, secara simbolis meresmikan peluncuran buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula dan acara Belok Kiri.Fest yang akan berlangsung hingga akhir Maret 2016 di kantor LBH Jakarta.

Dari tinjauan ilmu sejarah, upaya yang dilakukan Belok Kiri.Fest dan buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula sejalan dengan apa yang oleh Emma Wilmer sebut sebagai “public history.” Editor Public History Resource (www.publichistory.org) itu menjelaskan, “Public history adalah sejarah yang secara praktis diaplikasikan. Hal itu didasarkan pada pemahaman bahwa sejarah tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tapi [juga] dipelajari di berbagai tempat, dan dengan berbagai cara,” (RC Williams, 2007: 167).

Selain menjembatani jurang antara akademisi sejarah dan komunitas luas, serta mentransmisi gagasan di antara keduanya, dalam aktivitas public history semacam itu, sejarawan berkolaborasi dan berinteraksi dengan non-sejarawan, misalnya seniman, dalam membentuk serta memengaruhi interpretasi publik atas masa lalu yang tercecer. Dapat dikatakan, BKF dan buku SGKIuP merupakan sebentuk edukasi sejarah bagi masyarakat luas. Terutama dalam usaha merekonstruksi pemahaman historis atas gagasan dan gerakan Kiri yang selama lebih dari tiga dekade dimanipulasi dan dimatikan rezim otoriter Orde Baru. Tindakan menghalang-halangi dan ancaman atas upaya edukasi sejarah bagi publik yang dilakukan BKF dan SGKIuP, sama saja dengan usaha melanggengkan pembodohan. Pelarangan sejenis itu juga menampilkan sikap infantil mereka yang melarang dan menunjukkan masih bersemayamnya cara pikir serta propaganda yang ditanamkan rezim Orde Baru.

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Chaotic Jumps merupakan tajuk pameran tunggal oleh seniman media baru (new media art) Krisna Murti...

Meski cuaca sore ini sedang diguyur hujan, tidak mematahkan semangat kawan-kawan untuk hadir di...

Sejarah berulang dalam dua bentuk, berkecambah sebagai tragedi atau tumbuh sebagai lelucon....

Leave a Reply