Apa yang penting dari sebuah rekonstruksi? Rekonstruksi dilakukan untuk mengetahui secara detail tentang kejadian-kejadian yang ada sebelum sesuatu itu terjadi. Misalnya, sekelompok polisi yang melakukan suatu rekonstruksi ihwal kejadian kriminal. Sebuah rekonstruksi dilakukan dengan cara “membekukan” momen dari waktu ke waktu, sebelum hingga sesudah suatu peristiwa terjadi. Para polisi yang melakukan rekonstruksi ulang kejadian perkara berkali-kali tentang pembunuhan seorang wanita yang meminum kopi beracun, dijalankan untuk mengetahui siapa orang yang (bersalah) berada di balik pembunuhan tersebut. Artinya rekonstruksi ditujukan, Pertama, untuk mencari kebenaran. Kedua, untuk mencari bukti-bukti objektif. Ketiga, sebagai bahan pertimbang dalam mengambil keputusan. Jadi, tidak bisa secara tiba-tiba seseorang ditetapkan bersalah dalam suatu kasus tanpa proses rekonstruksi (penyelidikan) sama sekali. Jika pun ada, maka orang-orang yang menghakiminya adalah orang yang malas dan cacat secara logika berpikir.

Hal inilah yang tampaknya menimpa Sejarah Gerakan Kiri Indonesia. Sejarah Gerakan Kiri Indonesia sebagaimana khalayak luas ketahui selalu mendapat stigma buruk. Orang-orang yang secara politik mengambil garis “kiri” (Marxisme) diidentikan sebagai manusia rusuh, kotor, tidak cinta perdamaian, tidak bermoral, hingga atheis. Padahal jika kita tengok sejarahnya, kemerdekaan Indonesia terjadi tidak bisa lepas dari campur tangan tokoh-tokoh Gerakan Kiri (Semaun, Tan Malaka, Nyoto, Iwa Koesoemasoemantri, Haji Misbach, dan kawan-kawan). Bahkan sang proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pun sangat erat dengan Marxisme. Ide-ide beliau untuk membangun bangsa dan negara Indonesia sebagian diambilnya dari aspek-aspek penting dalam ajaran Marxisme. Itu artinya, Soekarno juga termasuk dalam Gerakan Kiri Indonesia. Karena ia (Soekarno) mampu mengejawantahkan paham Marxisme sebagai basis Gerakan Kiri pada tataran praksis. Karena itu gerakan kiri Indonesia (yang di dalamnya terdapat ideologi Marxisme) mempunyai watak aksiologis (aspek pemanfaatan). Bagaimana tidak, hingga negara Indonesia merdeka, tokoh-tokoh Gerakan Kiri Indonesia selalu menaruh perhatian kepada rakyat yang tertindas dan terus mencari cara agar terwujudnya sistem yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia.

Gerakan Kiri Indonesia mulai menemukan kebuntuannya setelah peristiwa G 30/S 1965 yang digadang-gadang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI dituduh ingin melakukan kudeta terhadap presiden Soekarno. Ditambah dengan serangkaian aksi pemberontakan, PKI sebagai manifestasi gerakan kiri saat itu dinilai akan menjadi benalu yang dapat mengancam eksistensi Negara Republik Indonesia. Soeharto sang Jendral Militer kala itu pun memainkan peran penting. Ribuan kader dan simpatisan PKI ditangkap, dihakimi, dan dihukum mati tanpa ada rekonstruksi sama sekali. Maksudnya, setiap gerakan yang menentang superioritas militer dicap sebagai “orang kiri/komunis degil” yang harus ditangkap dan dibumihanguskan tanpa pengadilan. Pada akhirnya, kondisi politik-ekonomi global (perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat) yang saling bersaing menghantarkan Soeharto ke tampuk kekuasaan. Soeharto menjadi presiden dengan bermodal Surat Perintah Sebelas Maret dan Orde Baru pun resmi dimulai.

CoverSGKISelama hampir tiga puluh dua tahun propaganda untuk menghardik Gerakan Kiri dengan gencar dilakukan. Gerakan Kiri itu anti-agama, tidak bermoral, dan penebar kebencian antar rakyat Indonesia. Soeharto sebagai representasi kaum liberal Amerika pun kian sigap dalam menyortir segala hal yang akan dikonsumsi rakyat Indonesia. Dengan begitu, generasi muda setelah Orde Baru lantas berpikir bahwa Gerakan Kiri Indonesia tidak memberikan kontribusi apapun (tidak memiliki watak aksiologis) untuk Indonesia. Tidak hanya gerakannya, juga sejarahnya yang dianggap tidak penting untuk diungkit dan dikenang. Era itu dianggap sebagai fase “kegelapan” dari negara Indonesia sehingga harus dilupakan.

Hilmar Farid dalam diskusi yang diselenggarakan Akatiga beberapa tahun lalu (2007) menyatakan bahwa berdirinya Orde Baru membawa dampak yang luas pada kehidupan bangsa Indonesia termasuk, dalam segi akademik (lihat Hilmar Farid, Sekilas tentang Analisis Kelas). Banyak dari dosen-dosen yang tidak mau mengajaran beberapa teori-teori politik berhaluan “kiri”. Implikasinya, rakyat Indonesia menjadi tidak [berani] kritis dan tidak peduli dengan salah satunya; busuknya birokrat korup pada zaman Orde Baru.

Senada dengan itu, Wijaya Herlambang (2013) pun lewat buku Kekerasan Budaya Pasca 1965, menyatakan bahwa Orde Baru tidak hanya berhasil melakukan genosida terhadap orang-orang yang dicap “kiri” dan delegitimasi pada aras politik tentang ide-ide Gerakan Kiri (sosialisme atau komunisme) dengan menebar agitas yang murahan serta jauh dari kata masuk akal. Lebih daripada itu, Orde Baru pun berhasil melegitimasi Anti-Gerakan Kiri melalui sastra dan film. Banyak lembaga-lembaga kesenian (seperti Manifestasi Kebudayaan) sengaja didirikan untuk menciptakan suatu karya agar terciptanya tren liberalisme di kalangan rakyat Indonesia. Kesenian mulai dibebas-nilaikan, seni untuk seni. Seni tidak ada hubungannya dengan politik atau keberpihakan pada rakyat kecil yang tertindas. Jadi, pada saat Orde Baru, ide-ide Gerakan Kiri sungguh dicukur habis dan dikerdilkan dari segala lini. Pada titik inilah, Belok Kiri Fest hadir untuk merekonstruksi Sejarah Gerakan Kiri Indonesia, demi memutus dan membongkar secara kritis doktrin sesat Orde Baru tentang Gerakan Kiri yang masih terus diwariskan hingga saat ini.

Belok Kiri Fest sendiri sebetulnya adalah acara peluncuran buku SEJARAH GERAKAN KIRI INDONESIA (untuk pemula) yang dikemas dalam bentuk festival. Ini merupakan sebuah terobosan baru. Karena istilah festival sendiri dapat mengubah citra Gerakan Kiri yang sebelum sangat bersifat kaku dan lampau menjadi lebih fleksibel dan kekinian. Dilaksanakan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Belok Kiri Fest berlangsung dari tanggal 27 Februari – 5 Maret 2016 (lihat Susunan Acara Belok Kiri Fest) 

bkf

Selama seminggu acara ini digelar akan diisi dengan bicang-bincang berbagai tema dan narasumber yang menarik (lengkapnya silahkan kunjungi situs Belok Kiri Fest). Acara ini sangat direkomendasikan untuk pemuda-pemudi yang masih penasaran akan kebenaran sejarah Gerakan Kiri Indonesia, termasuk Anda, para “orang tua” yang masih percaya akan doktrin sesat Orde Baru tentang Gerakan Kiri. Lewat buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia (SGKI) pasti terjawab setiap potongan puzzle yang sengaja dihilangan oleh rezim Orde Baru. Tak perlu khwatir, buku SGKI bukanlah buku yang membosankan. Walaupun buku ini memiliki ketebalan 600 halaman lebih, hampir seluruh isinya disusun dalam bentuk gambar hasil kerja 30 orang seniman yang dimotori Yayak Yatmaka. Siapapun Anda, seluruh lapisan rakyat Indonesia dari setiap tingkatan usia bisa dengan mundah untuk mencernanya. Setiap kontribusi, gerak sejarah, manfaat (aksiologis) dari Gerakan Kiri Indonesia pun akan kentara dalam buku ini. Karena itu, jangan sampai lupa untuk hadir di acara Belok Kiri Fest dan yang tetu saja sisihkan sedikit uang untuk membeli bukunya!

About the Author

Related Posts

Chaotic Jumps merupakan tajuk pameran tunggal oleh seniman media baru (new media art) Krisna Murti...

Meski cuaca sore ini sedang diguyur hujan, tidak mematahkan semangat kawan-kawan untuk hadir di...

Sabtu 27 Februari 2016, seperempat jam sebelum pukul empat sore, puluhan orang berkumpul di...

Leave a Reply