Di sebuah coffee shop di bilangan Jakarta Selatan saya menemui seorang kawan lama. Ini adalah janji kesekian kali yang baru benar-benar kejadian. Sebelumnya selalu saja ada alasan yang membuat kami batal bertemu. Kesibukan dan kemalasan ke luar rumah di akhir pekan adalah penyebabnya. Tapi hari ini kami berhasil mengusir itu.

Di luar rasa rindu untuk berbincang-bicang, buku adalah alasan yang membuat kami sama-sama ngotot untuk bertemu. Dia berjanji akan memberi sebuah buku yang dalam beberapa hari ke belakang banyak dibicarakan orang di halaman-halaman media sosial: “Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula” (SGKIUP, 2016).

“Jangan minta penjelasan tentang buku ini. Selain aku tidak punya kapasitas untuk itu, akan lebih baik jika kamu menelusurinya terlebih dahulu. Dan akan lebih baik lagi jika komentar dan kritikmu dikemukakan dalam tulisan,” kata dia.

Well, baiklah. Saya ikuti sarannya. Dan selama pertemuan, saya menahan diri untuk tidak membuka-buka bukunya, apalagi mengajukan beberapa pertanyaan yang langsung terlintas di kepala saat melihat gambar jilid dan wujud buku yang konon berbobot 1,5 kg itu.

Dua minggu setelah pertemuan itu saya baru benar-benar bisa menelusuri detail bukunya dengan lebih seksama. Buku ini memang tidak biasa. Membutuhkan kesabaran. Jangankan untuk mencerna isinya, untuk sekadar melihat-lihat halamannya saja perlu ekstra menahan diri agar tidak langsung menutupnya kembali.

Hal yang paling sederhana, urusan huruf. Pilihan beberapa jenis huruf yang dicampur aduk dalam layout halaman a la stensilan tahun 1980-an—bahkan mungkin lebih mundur lagi—di buku itu sebenarnya sudah gagal mengundang selera pembaca seperti saya yang tidak pernah menjadi “aktivis kiri”. Orang yang tidak cukup akrab dengan visualisasi “kemarahan” dan keinginan untuk “diakui” sebagai kelompok yang ikut berjasa menggelorakan kemerdekaaan dan memperjuangkan Indonesia yang lebih baik.

Tragis memang, karena niat penerbit mencetak buku ini berangkat dari harapan dapat “mendorong pembaca untuk tertarik mempelajari buku-buku sejarah lebih lanjut” (SGKIUP, halaman VII).

Apa boleh buat, saya harus tetap bersabar, karena sudah berjanji akan menelusurinya, meski mungkin akan terasa kecut di ujungnya.

Semangat Kolektif yang Vulgar

Membuka halaman-halaman awal SGKIUP saya langsung bisa menangkap ada semangat kolektif dan kolaboratif dalam usaha menerbitkan buku ini. Itu positif. Saya hitung ada 26 organisasi yang bekerjasama dengan penerbit Ultimus untuk menerbitkan buku ini. “Kami tidak sendiri”, begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan. That’s good. Tidak ada masalah dengan itu.

Namun, semangat kolaborasi dan kolektif itu menjadi tampak konyol ketika diwujudkan dalam bentuk parade 22 orang penulis pengantar hingga menghabiskan 78 halaman. Bahkan ada satu orang yang menulis kata pengantar dua kali (halaman IX dan XLIV). What’s the point?

Setiap orang yang menulis kata pengantar berangkat dari pemikirannya masing-masing. Sayangnya, sang penyusun buku sejak awal tidak berhasil mengkerangkai berbagai gagasan, dan memberi alur jelas agar hasilnya padu. Karena kegagalan itulah, paparan kata pengantar yang beragam itu menjadi serpihan pendapat yang terlepas satu dengan lainnya, kecuali ungkapan bahwa buku SGKIUP “bagus”, “keren”, dan “propaganda Orba harus dilawan”.

Sebaliknya, saya sebagai pembaca yang berada di luar “dunia kiri” menjadi bertanya, apakah ini pujian atas pertimbangan substansi, atau sekadar solidaritas perkawanan?

Penuh Amarah dan Dendam

Ada banyak tanggapan dalam melihat sejarah 1965. Ada yang merasa senang dan bersyukur menyaksikan kehancuran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh jahat dan mengancam Negara Republik Indonesia. Sebaliknya, ada yang merasa teriris karena pemberantasan PKI yang dilakukan Orde Baru adalah kejahatan kemanusiaan. Menghakimi orang tanpa pengadilan: penjara, pengasingan hingga pembunuhan. Dampaknya bahkan masih kita rasakan hingga saat ini. Sikap kritis kerap diterjemahkan sebagai antek-antek PKI atau PKI baru yang harus dihabisi.

Saya sendiri—meski tidak pernah mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari kaum kiri—berada di sisi pandangan bahwa Orde Baru adalah penjahat kemanusiaan. Ada banyak pendapat dan bukti hasil penelitian yang menunjukkan itu. Dan jika saja pertimbangan akal yang kita pakai untuk mencerna kenyataan masa lalu Indonesia tanpa hitung-hitungan sentimen agama dan keyakinan absolut, bukan hal yang sulit untuk menerima—atau setidaknya memberi ruang untuk memikirkan—sejarah di luar versi Orde Baru.

SGKIUP, saya pikir juga adalah salah satu usaha untuk itu. Mengajak kita untuk melihat kembali sejarah Indonesia secara jujur. Menggugah kita untuk tidak begitu saja menerima tutur sejarah buatan Orde Baru tanpa ada pertanyaan dan kesangsian. Usaha yang patut dihargai tentunya. Namun, saya juga harus jujur. Kehendak untuk menunjukkan “kebenaran”, sekalipun benar adanya belum tentu bisa diterima—bahkan setelah “kebenaran” itu diungkapkan—jika penyampaiannya cenderung emosional dan membuat tidak nyaman. Penggambaran kejahatan Orde Baru dengan sengaja ditampilkan secara vulgar. Seperti yang bisa kita baca dalam paparan kata pengantar penerbit buku SGKIUP (halaman VIII):

Kenapa dalam buku ini ada peristiwa atau kejadian yang digambar dengan cukup sadis? Bukankah itu mereproduksi kekerasan? Justru di situ pentingnya gambar untuk ditampilkan, bahwa nyata-nyata rezim Orba itu membantai rakyat dengan sadis, dalam keadaan damai, bukan keadaan perang….

Dan bahwa apa yang sesungguhnya terjadi jauh lebih sadis dibanding gambar-gambar ini.

Menjaga ingatan atas kekejaman Orde Baru adalah bagian dari pendidikan. Usaha semacam itu bukan milik para korban dan kalangan aktivis yang sadar atas tragedi kemanusiaan yang berlangsung di sepanjang kekuasaan Orde Baru. Siapa pun wajib menyuarakannya, termasuk saya, dalam lingkungan sekecil apa pun itu. Namun, tentu kita perlu mempertimbangkan matang-matang tentang cara penyampaiannya agar pesan pentingnya bisa tersampaikan tanpa orang merasa dihasut, atau bahkan ditakut-takuti, menutup buku sebelum tuntas dibaca, hingga jadi antipati.

Sampai di sini, kiranya perlu ditelisik lebih dalam apa yang ditulis Anom Astika dalam pengantar buku SGKIUP (halaman LXXX), bahwa “kepekaan sosial tidak lahir karena darah dan air mata”, juga tidak terjebak pada “obsesi ketertiban Hollywood yang muncul dalam bentuk film laga, yang penuh gambaran peristiwa mobil jungkir balik, kekerasan dan tembak-menembak.”

Saran saya, mungkin para penyusun buku SGKIUP bisa merenungkan kembali, apakah perlawanan terhadap propaganda Orde Baru harus dilakukan dengan cara yang sama seperti Orde Baru menghabisi setiap kekuatan penentangnya? Bukankah itu artinya menjadi sama saja?

Kiri Abu-abu

Hal lain dari buku SGKIUP yang menarik diberi catatan adalah tentang absennya batasan “kiri”. Dalam kata pengantar penerbit dikemukakan bahwa buku SGKIUP tidak berusaha menerjemahkan “apa itu kiri”; “apa itu gerakan kiri”; “apa bedanya dengan komunisme, sosialisme, sosial demokrat” dan anasir-anasir kiri lainnya (halaman VIII).

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengenali gerakan kiri jika batasan “kiri” dan apa itu “gerakan kiri”-nya sendiri tidak jelas? Menjadi semakin aneh dan tidak masuk akal jika kita membaca argumentasi yang dikemukakan penerbit yang menyebutkan bahwa:

Sebagian akan dijelaskan dengan sekian banyak pengantar yang ditulis dari berbagai sudut pandang yang sengaja kami muat dengan maksud mengantarkan kepada para pembaca yang ingin mengenal apa sesungguhnya “gerakan kiri” itu. Jadi, kesimpulan kata pengantar ini sendiri adalah semacam “buku tipis” yang menjelaskan “gerakan kiri” bagi pemula. (SGKIUP, halaman VIII)

Bukankah pengantar buku lahir setelah buku selesai ditulis?

Kebingungan saya semakin menjadi-jadi setelah menelusuri isi bukunya yang—diakui atau tidak—telah menempatkan sosok PKI sebagai pusat perhatian (pemeran utama). Lantas saya berpikir, jangan-jangan memang para penyusun buku SGKIUP secara spesifik menerjemahkan kiri sebagai gerakan komunisme—atau lebih tepatnya PKI—tapi tidak mau mengakui secara terbuka.

Secara pribadi saya tidak alergi dan phobia terhadap gerakan komunisme atau pun kiri. Setiap orang toh punya kemerdekaan untuk menentukan pilihan fahamnya. Jadi mengapa harus ragu dan malu-malu? Mengapa menjadi tidak percaya diri untuk menunjukkan kebenaran jika memang itu adalah kebenaran?

Semoga tulisan ini cukup bermanfaat sebagai bahan pemikiran kita semua. Akan sangat menyenangkan jika penyusun buku SGKIUP bisa menanggapi tulisan ini dengan tulisan lagi, sehingga wacananya berkembang.

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula adalah buku sejarah pertama yang ditulis...

Leave a Reply