Chaotic Jumps merupakan tajuk pameran tunggal oleh seniman media baru (new media art) Krisna Murti yang digelar di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Krisna menampilkan delapan karya seni video yang bisa dinikmati publik dari 15 April hingga 8 Mei 2016 kemarin. Lalu juru kurasi pameran dipercayakan pada Heru Hikayat yang dikenal komunitas seni rupa sebagai kurator dan pengulas seni rupa yang telah mengkuratori pameran dan festival seni rupa di berbagai tempat. Dalam pameran ini, Heru berupaya menghadirkan sekuensi karya Krisna dari 1998 sampai 2016.Chaotic Jumps sendiri adalah salah satu judul karya Krisna yang kemudian diangkat jadi tajuk pameran. Chaotic Jumps dianggap sebagai penyelia sekaligus benang merah delapan karya yang dipamerkan kali ini.

Pameran dibuka di Amphiteater pada Jumat 15 April 2016. Sejak pukul 07.30 malam, dengan berselimut dingin hawa kawasan Bandung Utara, pengunjung disuguhkan bincang-bincang hangat antara guru dan murid. Sunaryo, pemilik galeri kebetulan merupakan mantan pengajar Krisna di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Di masa Krisna menempuh kesarjanaan pada 1981, seni video di Indonesia belum jadi media seni rupa yang banal dipilih para pelajar seni sebagai spesialisasi kekaryaannya. Tak ayal, tugas akhir penulis buku Video Publik (Penerbit Kanisius, 1997) dan Essays on Video Art and New Media: Indonesia and Beyond (Penerbit IVAA, Yogyakarta 2009) ini diganjar rapot C oleh para penguji. Ialah Sunaryo yang sedia memberi nilai A. Kebetulan saat itu beliau sedang giat residensi dan hadir dalam forum seni rupa di Eropa, yang mana membuatnya menyaksikan pasang naik gerakan media baru di kalangan perupa.

Sunaryo menilai jalan sunyi yang dipilih Krisna sebagai suatu bentuk inisiatif Avant-Gardis yang akan memperkaya khasanah seni rupa di Indonesia. Benar saja, sejak tahun 1990, Krisna telah mengadakan lebih dari 35 pameran tunggal di Indonesia dan mancanegara.Krisna telah diundang sebagai seniman residensi dan pembicara di Jepang, Singapura, Kuba, Rusia, Australia, Jerman, dan Belanda. Beberapa karyanya telah jadi bagian dari koleksi Fukouka Asian Art Museum, Jepang dan Galeri Nasional Indonesia.

Tidak seperti generasi yang lahir tahun 90-an, seperti saya, Krisna dimamah dalam alam peralihan teknologi komunikasi dan informasi serta sosial-politik. Alam peralihan dari televisi ke internet dan gawai. Dalam konteks politik, Krisna tumbuh dalam bentang otoritarianisme Orde Baru dan jaman demokrasi pasca-reformasi.Pengalaman historis ini membentuk corak kekaryaan yang dicipta Krisna. Watak televisi sebagai media komunikasi satu arah acap jadi alat propaganda rejim penguasa: para penyelenggara negara dan para pemodal. Gelombang seni video di berbagai belahan dunia, termasuk seperti yang dilakukan Krisna hendak menyela narasi dominan yang dibangun rejim penguasa. Seni video kemudian menjadi semacam strategi untuk menawarkan narasiliyan dari sudut pandang khalayak umum yang terdominasi kuasa wacana oleh negara dan pemodal.

Negara dan pemodal memanfaatkan keterbatasan inheren dari televisi dan media video sebagai selongsong komunikasi dan informasi, yakni tertutupnya celah dialog antara penyampai dan penerima informasi. Delapan buah karya yang ditampilkan dalam pameran ini berupaya menyiasati keterbatasan itu dengan menyongsong corak komunikasi lain lewat bahasa non-verbal. Bahasa non-verbal disampaikan lewat gestur interaktif performer yang berinteraksi dengan properti di sekitarnya.

Salah satu karya yang paling membius perhatian saya adalah karya video instalasi berjudul Earthquake. Jika tujuh karya lain dipamerkan lewat media visual yang tidak realtime, sebagaimana lukisan dan patung, dalam hal ini karya ditampilkan lewat televisi layar datar dan proyeksi citra visual dari proyektor yang ditembakkan ke dinding polos. Maka Earthquake menawarkan sensasi konsumsi citra visual yang lain. Dalam Earthquake pengunjung disajikan interaksi langsung dengan karya: proyeksi video yang disemprotkan ke lantai ruang pamer dengan performer yang tampil pada saat bersamaan dalam bingkai proyeksi proyektor. Citra visual dan soundscape mereproduksi suasana bibir pantai. Selewat, sensasi nyata yang dicitrakan karya ini bisa mengecoh sadar kita, di satu sisi kita tahu kalau yang sedang dinikmati itu cuma sekedar karya seni, tapi pengkondisian ruang dan properti yang apik membikin karya ini diningratkan ke tingkat “nyata”. Di sinilah kekuatan seni video, ia bisa mengilusikan kenyataan dengan representasi dari kenyataan itu sendiri. Sebagai media, video bisa digunakan untuk menguasai ataupun melawan wacana kekuasaan.

Karya-karya Krisna Murti sungguh indah. Perkaranya, bagi saya yang tidak begitu terbiasa mengkonsumsi karya seni yang dipamerkan di galeri-galeri, kepekaan terhadap makna yang tersingkap di balik suatu karya seni, termasuk delapan karya seni video Krisna Murti, jadi kerja yang melelahkan. Kesukaran orang awam, seperti saya, dalam merengkuh kode-kode makna tersembunyi di balik ritme, warna, gerak, juga garis yang serampang dari karya seni ada hubungannya dengan terbatasnya rujukan kultural atas objek seni yang diindrai. Rujukan kultural adalah pengalaman khas mengkonsumsi dan menghidupi praktik kebudayaan tertentu, dalam hal ini seni video karya Krisna. Batasan mental ini mencegah orang awam untuk melangkah maju dari aras citra empirik yang terindrai ke aras logika internal letak kode-kode kultural dapat termaknai. Itulah sebabnya orang awam seperti saya cuma dapat menikmati keindahan karya seni dari komposisi yang terlihat. Sementara nalar makna, atau pesan implisit dari karya itu sendiri sepenuhnya tak terjamah. Dengan kata lain, saya hanya bisa bilang “karya ini indah”, tanpa paham pesan yang ingin disampaikan si perupa.

Jika tesisnya adalah seni video sebagai penyela narasi dominan di media arus utama maka yang semestinya ditawarkan karya seni video adalah jalan bebas hambatan untuk mengakses muatan makna yang disampaikan. Meski sebetulnya kerja penerjemahan narasi karya sudah akan selalu dilakukan oleh sang kurator. Adakah cara lain yang bisa dilakukan setiap orang, penikmat seni, secara mandiri buat merengkuh pesan si perupa secara utuh. Tanpa perlu dimediasi oleh narasi pengantar dari sang kurator. Tanpa juga perlu mengurangi sisi keindahan dari karya itu sendiri.

Seni video akan berhenti jadi seni untuk seni itu sendiri, jika pengungkapan makna dinarasikan secara lebih eksplisit. Tanpa perlu dilandasi prasyarat tertentu untuk bisa mengungkap kode-kode tersembunyi di baliknya, seperti harus kuliah di FSRD, rajin ikut kursus filsafat, ataupun sering-nongkrong-di-galeri. Dengan demikian narasi yang liyan yang hendak diwakili bisa betul-betul terwakili.If only we really determined to let the subaltern speak.***

Foto: Image Base

About the Author

Related Posts

Meski cuaca sore ini sedang diguyur hujan, tidak mematahkan semangat kawan-kawan untuk hadir di...

Sabtu 27 Februari 2016, seperempat jam sebelum pukul empat sore, puluhan orang berkumpul di...

Sejarah berulang dalam dua bentuk, berkecambah sebagai tragedi atau tumbuh sebagai lelucon....

Leave a Reply