Pernahkah kamu melihat demonstrasi penulis? Desainer grafis? Ataupun IT developer? Lalu, pernahkah kamu melihat demonstrasi buruh? Tentunya yang ini tidak asing lagi. Freelancer di Indonesia (mungkin juga di belahan dunia lainnya) seringkali tidak terlibat dalam gerakan untuk menuntut haknya sebagai pekerja. Pada umumnya, mereka bekerja sendiri secara terpisah baik di rumah, kafe-kafe, atau yang sedang trend saat ini yaitu di coworking space. Freelancer juga biasanya tidak terikat kontrak secara berkelompok, namun secara pribadi dengan kesepakatan kerja yang berbeda-beda sehingga cenderung tidak memiliki kepentingan kolektif seperti kelas pekerja lainnya.

Bagi sebagian kalangan freelancer tidak sekadar dijadikan alternatif namun memiliki “strata” yang lebih istimewa ketimbang istilah lain seperti buruh, karyawan, ataupun pegawai. Ada tiga hal yang membuat freelancer merasa dirinya berbeda dari kelas pekerja. Pertama, freelancer menempatkan dirinya sebagai kelas kreatif. Kedua, freelancer bekerja secara otonom, mereka memilih tempat kerja mereka sendiri dan memiliki waktu luang yang lebih besar. Freelancer lebih menguntungkan secara keuangan ketimbang kelas pekerja. Singkatnya menjadi freelancer adalah cara mudah menjadi kaya.

Sayangnya, ketiga pembeda tersebut hanyalah distraksi* yang membuat freelancer tidak memahami kondisinya sebagai kelas pekerja baru. Distraksi pertama, freelancer biasanya bekerja di wilayah kerja mental seperti media, penerbitan, dan teknologi. Namun, kategori freelancer atau pekerja lepas tidak berhenti pada pekerja kreatif seperti seniman, penulis ataupun desainer saja namun juga pada kategori pekerja yang berada diantara kreativitas dan rutinitas seperti penerjemah, editor, dan copywriter ataupun desainer grafis inhouse. Selain itu, ada kategori yang tidak termasuk kreatif seperti pengendara ojek dan sopir crowdsourcing online, tukang pijat, asisten rumah tangga, dll. Artinya kreativitas tidak melekat pada status freelancer atau bukan.

Distraksi kedua, freelancer memang tidak terikat secara langsung baik secara waktu dan tempat. Namun, realitasnya mereka perlu menghabiskan sejumlah uang untuk menunjang pekerjaan dan biasanya tidak ditanggung oleh klien mereka. Misalnya; akses internet, laptop, segelas kopi di cafe (ya iya kalau cuma segelas), biaya sewa space di coworking space, dan lainnya. Persoalan waktu juga memiliki persoalannya sendiri, tidak sedikit freelancer yang bekerja saat pekerja biasa libur (misalnya Sabtu/Minggu). Selain itu, jika pekerja konvensional dibayar untuk kelebihan jam kerja dalam bentuk uang lembur, freelancer tidak punya kemewahan itu.

Distraksi ketiga adalah soal penghasilan. Dalam kategori ini terjadi kesalahpahaman yang sangat besar, selain freelancer dibebani biaya pendukung kerja dan tidak dibayar lembur, freelancer juga tidak memiliki jaminan kesehatan yang ditanggung kliennya. Pada sisi yang paling tragis adalah kondisi persaingan yang tidak teratur mengenai harga dan kualitas layanan sehingga penghasilan antara freelancer satu dengan lainnya bisa sangat berbeda, belum lagi project yang belum tentu didapat secara rutin dan jaminan pembayaran yang lemah atau seringkali dimundurkan waktunya sehingga freelancer harus membiayai operasionalnya sendiri.

Runtuhnya ketiga distraksi tersebut sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa karena pada dasarnya kemunculan freelancer tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan yang muncul dari pasar tenaga kerja dalam kapitalisme. Korporasi membutuhkan cadangan tenaga kerja bukan hanya pada kerja fisik, namun juga pada kategori kerja mental dan kerja kreatif. Kebutuhannya sama, pekerja terampil, murah, tidak terikat waktu artinya bisa dipekerjakan lebih dari 8 jam kerja konvensional, dan tidak perlu jaminan jangka panjang seperti upah rutin, asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja. Dengan begitu jelas bagi korporasi mempekerjakan freelancer lebih menguntungkan ketimbang menambah pegawai tetap.

Kondisi ini dapat dianalogikan dalam banyolan yang terus menerus diulang oleh Zizek dalam setiap kesempatan, banyolan ini Ia ambil dari sebuah film berjudul Ninotchka karya Ernst Lubich. Dalam banyolan ini diceritakan; “Tokoh masuk kedalam sebuah Kafe dan memesan kopi tanpa krim; Si Pelayan menjawab: maaf kami tidak punya krim, bagaimana jika kami berikan kopi tanpa susu?”. Pada kasus ini, sang tokoh mendapatkan barang yang sama, segelas kopi biasa tanpa krim ataupun susu. Namun banyolan muncul ketika terjadi dua negasi untuk mendefinisikan barang yang sama menggunakan logika differensial yang berbeda.

Logika differensialis ini juga yang menyebabkan miskonsepsi pada freelancer melalui negasi yang mereka buat sendiri terhadap kondisi kerja yang penuh ketidakpastian. Bantuan distraksi media, selaput tipis gaya hidup dan gemerlap teknologi ikut serta membangun penolakan mereka terhadap ketidakutuhannya. Jika mereka mampu membongkar distraksi ini dan memahami keberadaannya di antara sistem kapitalisme mungkin mereka akan mulai berfikir untuk berserikat dan memperjuangkan haknya bersama kelas pekerja lainnya. Lalu, mungkinkah  freenlancer ini berserikat? Aihh. Pertanyaan ini mungkin tidak bisa saya jawab dengan memuaskan, karena saya bukan vibrator yang memiliki tugas memuaskan hasrat parsial orang lain.

*Distraksi adalah proses pengalihan perhatian individu atau kelompok dari informasi yang ia butuhkan kepada informasi lain yang tidak berkaitan dengan fokus atau kebutuhannya.

Sumber Bacaan:

Fatimah Fildzah, Saat ini, Kita Semua (Buruh/Pekerja/Karyawan) adalah Precariat. Indoprogress: http://indoprogress.com/2012/10/saat-ini-kita-semua-buruhpekerjakaryawan-adalah-precariat/

Mortensen, Audun (ed). Zizek Jokes: Did You hear the one about Hegel and negation?. The MIT Press. London.

Sarah Grey. Four Myths About the “Freelancer Class”. Jacobin Magazine: https://www.jacobinmag.com/2015/05/freelance-independent-contractor-union-precariat/

Slavoj Zizek. Smashing the Spinning Plates. In These Times: http://inthesetimes.com/article/13454/smashing_the_spinning_plates/

Mark Graham. Digital Transformations of Work: Digital work & the global precariat. In These Times: https://usilive.org/opinions/digital-transformations-of-work-digital-work-the-global-precariat/

Foto: Shutter Stock

About the Author

Related Posts

“Macet lagi, macet lagi, gara-gara si Komo lewat”, bagi mereka yang terbilang angkatan 90-an pasti...

Leave a Reply