Agama Islam adalah agama yang tidak bebas nilai. Artinya, kesucian Islam sebagai agama haruslah diperjuangkan, tidak bisa dengan sendirinya hadir dari bawah tanah atau turun dari langit. Memang dogma-dogma agama Islam yang tertulis dalam kitab Al-Quran berasal dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Akan tetapi, Al-Quran sebagai tuntunan hidup orang Islam hadir dalam kehidupan sosial manusia. Jadi ceritanya, ketika dunia ini sedang kacau, Allah SwT akan mengirimkan orang untuk memberikan peringatan dan memperbaiki kekacauan tersebut (Sunannatullah). Contohnya, penunjukkan para nabi dari Adam Alaihis Salam (AS) hingga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW), mereka adalah para utusan Allah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di muka bumi dengan tantangan zamannya masing-masing.

Permasalahan seperti ketidakadilan, penindasan, fitnah, perzinahan, eksploitasi satu kaum terhadap kaum lainnya, menjadi tugas pokok yang harus diselesaikan oleh agama Islam. Jadi sebenarnya nilai Islam adalah nilai pembelaan dan pembebasan atas ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi yang menimpa umat manusia. Maka tidak heran dalam sejarah pergerakan negara Indonesia pun kita menemukan nama-nama seperti, H.O.S Cokroaminoto, Haji Misbach, Tan Malaka, Alimin, yang menegaskan keberpihakan nilai-nilai agama Islam dalam arena perjuangkan kemerdekaan negara Indonesia.

Ada yang menarik dari tokoh-tokoh Islam yang ikut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Mereka mencoba untuk mensinkretiskan ajaran-ajaran Islam dengan ideologi garis politik Kiri (oleh karenanya mereka juga “dicap” sebagai Islam Kiri), seperti sosialisme, komunisme, dan marxisme. Contohnya, Haji Misbach yang menafsirkan secara radikal Surah Al An’am ayat 145 yang menyebutkan bahwa haram hukumnya memakan darah yang mengalir. Misbach tidak secara harafiah menafsifkan ayat tersebut. Lebih dalam ia mengartikan bahwa menghisap tenaga kerja orang lain secara eksploitatif untuk memperoleh keuntungan pribadi (persis seperti penjajah yang mengeksploitasi rakyat pribumi ketika masa kolonialisme) adalah sama saja dengan meminum darah. Karena itu, perbuatan tersebut haram, dan harus dilawan. Di sini mulai ditemukan kecocokan antara ajaran Islam dan komunisme sebagai ideologi politik. Pada titik itu pulalah Islam progresif mendapatkan posisi dan arah juangnya di Indonesia. Penyelarasan antara beberapa ayat-ayat suci Al-Quran dan prinsip-prinsip turunan marxisme (seperti, komunisme dan sosialisme) terus dirumuskan kembali sebagai senjata dalam melakuan perlawanan, sekaligus cara untuk menciptakan tatanan sosial masyarakat yang lebih baik.

Pada zaman kapitalisme modern seperti sekarang, agama Islam di Indonesia sudah menjadi sarana dalam pengerukan laba. Lihat saja bagaimana Islam dikomersialisasi lewat ustadz-ustadz yang tampil di televisi; sistem perbankan yang mulai bersyariah; dan bisnis-bisnis a’la Islam lainnya. Logika-logika mistik yang terus direprokduksi setiap harinya membuat umat Islam yakin bahwa segala macam masalah yang menimpa dirinya adalah karena kehendak Allah SWT. “Kamu miskin? Hidup kamu susah terus? Ya, itu karena kamu sedang diuji oleh Allah SWT. Perbanyaklah doa.” Kata sang Ustadz yang biaya ceramah perjamnya bisa berjuta-juta rupiah.

Contoh lain, yang paling kentara adalah ketika tahun 2015 lalu, tatkala Indonesia terkena musibah kemarau panjang. Kejadian itu dianggap sebagai penyebab kebarakan hutan sehingga bencana asap pun mengancam beberapa daerah di Indonesia hingga negara tetangga. Solusinya, banyak umat mulsim Indonesia menggelar salat gaib, meminta agar diturunkan hujan oleh Allah SWT. Ini memang satu solusi yang menenangkan sekaligus menyesatkan. Apa pasal? Karena itu “solusi” semacam itu mengaburkan akar penyebab sebenarnya kedua masalah tersebut muncul.

Pertama, masalah kemiskinan memang selalu terjadi dalam sistem kapitalisme. Kemiskinan adalah kondisi yang dibutuhkan untuk mendapatkan tenaga kerja murah. Kedua, kebakaran hutan terjadi karena kerakusan kaum kapitalis industri kelapa sawit yang terus mengekspansi kawasan-kawasan hutan Indonesia. Memang Allah SWT sebagai “Prima Causa”, penyebab segala sesuatu di dunia ini terjadi. Tetapi mesti diingat, terdapat “Secondary Causa” yang juga turut serta menciptakan permasalahan di bumi ini.

Itu artinya, penyebab dari kedua contoh permasalahan di atas adalah konsekuensi logis dari faham kapitalisme. Di sinilah tugas dari Islam Progresif: membongkar logika-logika mistik yang sengaja diciptakan dalam relasi ekonomi kapitalisme untuk menutupi setiap eksploitasi, ketidakadilan, ketimpangan dan kerusakan yang telah dilakukannya.

Dalam aras politik Islam progresif tidak terjun ke dalam politik identitas. Tidak seperti para liberalisme Islam yang mengaku membawa kebaruan dalam khasanah pemikiran Islam lewat ide-ide tentang kebebasan, pluralisme, toleransi, dan kesetaraan. Islam Progresif tidak masuk dalam perbincangan tersebut, karena itu dinilai bukan inti permasalahannya. Jika kita sebagai umat Islam masih membahas hal-hal yang demikian, sama saja dengan kita terjun ke dalam logika mistik seperti uraian di atas.

Islam progresif justru ingin mengembalikan agama Islam menjadi agama yang membebaskan dengan tujuan menegakan keadilan sosial bagi umatnya. Agama Islam itu sudah progresif dari dalam dirinya. Jadi, tidak penting untuk seorang Islam progresif memakai celana “cingkrang”, jengot, baju koko, peci, atau tanda titik hitam di kening, karena bukan identitas yang dituju. Tujuan Islam adalah bagaimana mengorganisir massa berbasis kelas untuk melawan penindasan dan ketidakadilan. Jadi jelas bahwa secara politik Islam progresif berbasis pada kelas, bukan identitas. Dengan begitu pergerakan yang dilakukan pun tidak akan menyasar bayang-bayang semata, tetapi langsung menohok ke inti permasalahan umat manusia saat ini: kapitalisme.

Catatan saya untuk Islam Progresif ada pada tataran filosifis. Jika memang Islam progresif dekat dengan Marxisme—terbukti dengan digunakannya analisis kelas sebagai cara untuk mengorganisir massa—lalu bagaimana cara mendamaian dua ajaran ini (Islam dan marxisme) yang sesungguhnya berbeda? Gus Dur (1982) lewat esai Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme misalnya, mengungkapkan bahwa kesamaan antara Islam dan marxisme hanya terjadi pada aras orientasi saja. Artinya, subjek politik yang dibela adalah sama-sama kaum yang tertindas dan tereksploitasi. Namun secara filosofis dan pergerakan pasca berhasil membebaskan kaum tertindas, keduanya berbeda. Marxisme dengan materialisme historis/dielektis, sementara Islam yang dengan metafisikanya; yang satu berbasis dari relasi sosial produksi ekonomi dan yang satunya lagi berasal dari wahyu Tuhan.

Hal ini juga berimplikasi pada tugas Islam progresif untuk membongkar—atau meminjam istilah Gus Roy Murtadho mendekonstruksi—logika mistik, bagaimana cara kita untuk membongkar logika mistik tersebut tanpa mengeliminasi kategori transenden—dalam hal ini Tuhan dan kitab-kitabnya—yang absolut? Bukankah setiap analisis yang diusahakan serasional mungkin akan tertuju pada muara yang sama ketika kita tidak menyimpan kategori transenden, yaitu semua ini terjadi karna kehendak yang Maha Kuasa.

Saya kian menyadari, hal itulah yang menjadi penyebab mengapa PKI bertentangan dengan partai-partai Islam (Masyumi, NU, PSII, dan Murba) dalam rentang tahun 1951-1965. PKI bahkan secara terang-terangan memasukkan kategori Kyai dalam program Tujuh Setan Desa yang pada akhirnya menjadi legitimasi bagi orang Islam untuk turut serta membantai orang-orang komunis. Karena itu, sampai pada titik ini saya sepakat dengan Gus Dur yang menyatakan bahwa Islam dan marxisme hanya bertemu pada tataran orientasi saja—subjek politik yang dibela sama, tetapi setelah pembelaan tersebut berhasil direbut, baik Islam maupun marxisme kembali pada posisi yang saling bertentangan. Jika demikian, posisi Islam dalam gerakan Kiri pun seolah menjadi kawan di awal dan menjadi musuh di akhir, benarkah demikian? Walluhu alam bissawab.

*Artikel ini merupakan intisari dan tanggapan atas diskusi di Belok Kiri Festival di YLBHI Jakarta, 19 Maret 2016 dengan tema “Apa itu Islam Progresif?”

Foto: Slate

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply