Konferensi di bawah Tirani Modal 2008 — Arus besar neoliberalisme kian menggulung humanisme. Dia bersekutu dengan kekuatan konservatif lokal untuk memperbesar arus dan masuk ke rongga-rongga kehidupan rakyat. Rakyat miskin semakin terancam nasibnya, lingkungan hancur dan budaya lokal semakin tergerus dari peradaban. Lembaga-lembaga demokratis justru menjadi alat-alat neoliberalisme untuk menindas rakyat miskin, sehingga tidak ada ruang bagi rakyat untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Diskursus itu dikemukakan pada review dan perumusan cluster politik hasil Konferensi Warisan Otoritrianisme; Demokrasi dan Tirani Modal di Universitas Indonesia di Depok, kemarin.

Vedi Hadiz, seorang pengamat politik yang mengajar di National University of Singapore mengatakan, istilah-istilah politik yang berkembang di era demokrasi hasil reformasi selama 10 tahun ini mengacu pada konsepsi neoliberalisme sepertigood vovernance dan lain-lain. Rakyat miskin telah terhempas dari arena politik demokrasi legal – formal. Kondisi inilah yang membuat rakyat tidak mampu mengarahkan demokrasi hasil reformasi untuk berpihak kepada mereka.

Namun kekuatan rakyat tidak hilang dan dapat bangkit unuk mengubah kondisi yang ada. “Prasyarat untuk hal ini adalah ide-ide alternatif dan gerakan sosial yang masif disertai dengan kesadaran revolusioner,” kata Hadiz. Seharusnya, menurut dia, gerakan sosial yang telah berhasil dilakukan oleh negara-negara lain, dijadikan perbandingan gerakan sosial di Indonesia.

Venezuela, Bolivia, Ekuador, gerakan buruh di Korea Selatan, memberi inspirasi di abad 21 dalam membangun basis-basis gerakan sosial dan konsepsi yang dapat dijalankan untuk mencapai sistem demokrasi rakyat. Kekecewaan rakyat terhadap lembaga-lembaga demokratis sudah semakin nyata. Perhatikan saja wacana golput menjelang Pemilihan Umum 2009, dia kembali populer sebagai sikap perlawanan. Rakyat membutuhkan konsepsi alternatif untuk memecahkan masalah yang terjadi.

Gerakan sosial menjadi salah satu jawaban untuk menghapus kegelisahan rakyat. Peran kaum intelektual progresif revolusioner untuk membangun ide-ide alternatif bersama rakyat harus dilakukan secepatnya. Hadiz menjelaskan bahwa ide-ide alternatif yang ditopang oleh gerakan sosial, dapat menjadi mesin pendobrak keangkuhan neoliberalisme dan kaum predatoris.

Konklusi dari review dan perumusan cluster politik adalah seruan bagi seluruh peserta konferensi untuk membawa dan mengembangkan hasil-hasil konferensi kepada khalayak luas, terutama di basis-basis gerakan sosial untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

Foto: Observer

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply