Jika sepatu saya membuat kaki saya sakit, maka jawabannya bukanlah bertelanjang kaki, namun mencari sepatu yang pas. Jika makanan kita buruk, kesimpulannya bukan malah tidak makan sama sekali, melainkan kita perlu mendapatkan makanan yang layak, lezat, dan bergizi. Jika saya tidak puas dengan dokter saya, maka saya perlu mencari dokter yang lebih baik. Sama halnya dengan partai dan kepemimpinan –  Alan Woods, 2011.

Dewasa ini mungkin tidak  ada ideologi politik yang patut kita sematkan rasa melas selain anarkisme. Khususnya di Indonesia, anarkisme seakan dikebiri dengan “stigma” yang buruk. Hampir seluruh media massa merujuk anarkisme sebagai tindakan yang merusak, rusuh, dan tidak tahu aturan atau hukum yang berlaku. Contoh terbaru adalah demonstrasi tidak kondusif yang dilakukan para pengemudi jasa angkutan umum (taksi) untuk menentang kehadiran angkutan transportasi yang dipesan melalui cara online (Grab, Uber, Go-jek).

Hampir seluruh reporter acara berita di televisi selalu mengatakan bahwa demontrasi tersebut berujung anarkis. Seseorang memekik kepada saya bahwa itu bukan anarkis, tetapi aksi vandal. Kebingungan menghantaui dan memaksa saya untuk berpiki: apakah  itu merupakan tindakan vandalisme atau anarkisme? Kebingungan saya pun kian menjadi tatkala mambaca satu artikel di Rumah Kiri, Op-Ed | Anarkisme: Sejarah dan Perbedaannya dengan Marxisme.

Penulisnya berusaha mengklarifikasi konsep anarkisme yang dirasa banyak disalahtanggapi oleh khalayak luas, khususnya di Indonesia:

Secara asali, kata anarkis berarti order without rulers atau tatanan tanpa penguasa.  Kata ini identik dengan tindakan kekacauan, dan pengrusakan. Anarkis sering digambarkan sebagai tindakan orang yang melempar bom atau tindakan merusak alat-alat publik. Padahal, gerakan anarkis belakangan ini adalah gerakan yang hampir sama sekali tidak menggunakan kekerasan. Kata anarkis menjadi momok karena ini adalah gerakan paling efektif dalam mencari solusi terhadap tindakan kekerasan yang seringkali dilakukan oleh Negara (Hatib Kadir).

Bagi saya, tidak pernah terbayang suatu tatanan tanpa penguasa jika tidak dibarengi dengan perjuangan politik yang teroganisir dengan baik. Lalu, anarkisme diyakini oleh penulisnya adalah gerakan yang paling efektif dalam mencari solusi. Saya pun tidak mengerti apa indikatornya sehingga anarkisme disebut sebagai gerakan yang paling efektif? Sungguh argumentasi di atas membuat saya kian tidak mengerti tentang apa itu anarkisme.

Anarkisme menolak kelas penguasa (ruling class). Sebaliknya, ide ini menekankan pada gerakan cinta, mutual aid atau kerjasama yang saling menguntungkan. Tradisi anarkisme mengunggulkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Hal ini berbeda dengan kondisi masyarakat industri yang cenderung merusak alam (Hatib Kadir).

Pertanyaannya saya, bagaimana cara anarkisme menumbangkan kelas penguasa jika pergerakanna dengan hanya “menolak”. Saya pikir anak balita lebih lihai melakukan penolakan terhadap makanan yang tidak ia inginkan. Artinya, strategi politik praktis macam apa yang ditawarkan oleh anarkisme untuk menolak kelas penguasa? Apakah dengan cara memakai pakaian ninja sembari membawa bom molotov lalu melemparnya ke Istana Presiden, lalu bergegas pergi ke hutan belantara untuk menciptakan komune yang sederhana dan cinta alam? Saya pikir tidak demikian. Masyarakat industri cenderung merusak alam, sementara anarkisme berorientasi pada kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Apakah anarkisme ini tengah berusaha membawa kembali perjalanan sejarah masyarakat manusia ke zaman berburu meramu—ketika pembagian kerja sosial belum sekompleks saat ini? Jika memang demikian, maka anarkisme pun terjabak dalam romantisme belaka yang justru mengunci perkembangan masyarakat manusia pada tataran sistem teknologi.

Secara filosofis, Anarkisme berpandangan pada teori Rousseau bahwa manusia secara alami harus mempunyai kebebasan secara alamiah (natural freedom). Kebebasan dalam melakukan hubungan sosial dengan alam dan manusia. Dalam jangka panjang, kenikmatan terhadap kebebasan natural ini ditata dalam satu bentuk aturan yang disebut civic freedom dan moral freedom, dimana setiap individu berhak berpartisipasi dalam pembuatan hukum (law making). Law making mengatur kebebasan dan moralitas individu. Namun demikian, para anarkis tidak sepakat dengan ide law making yang berujung pada model governmentality atau kepemerintahan. Kaum anarkis tidak melihat perlunya model governmentalitydalam menghubungkan antara natural freedom dengan sociability”. Pemerintahan selalu bersifat eksploitatif karena merebut hak yang paling mendasar dalam manusia yakni natural freedom (Hatib Kadir).

Lagi-lagi saya tidak mengerti apa yang mendasari argumentasi bahwa manusia harus mempunyai kebebasan alamiah? Pandangan tersebut bersifat a-historis. Apa pasal? Karena berkaca dari sejarah, manusia tidak secara bebas menentukan pilihan-pilihannya di masa depan. Karena ada warisan dari proses evolusi sejarah di masa lalu yang terjadi, dan itu memberikan beban dalam diri manusia untuk menentukan pilihan berikutnya. Jadi, sungguh menyesatkan cara berpikir yang mendasari argumentasi bahwa manusia secara esensi mempunyai hak kebebasan alamiah. Lupakah kita bahwa sejak leluhur manusia (Kera Hominim) memutuskan hijrah dari cara hidup arboreal (di atas pohon) ke terestrial (di permukaan tanah) bukan didasarkan pada keinginan untuk bebas, tetapi karena  paksaan untuk beradaptasi secara ekologis (hukum alam).

Begitupun ketika kita memahami manusia sebagai makhluk social. Relasi sosial yang terbentuk antarindividu niscaya akan membentuk struktur sosial. Jika sudah terbentuk struktur sosial, pasti ada konsensus bersama dalam bentuk hukum yang ditujukan untuk  mengatur segala tingkah-laku individu yang hidup di dalamnya. Bahkan dalam struktur masyarakat pemburu-meramu pun sudah ada hukum yang mengatur akan siapa yang memburu dan siapa yang meramu, siapa yang berjaga di rumah (basecame) dan siapa yang pergi untuk mencari makanan, siapa yang mengurus anak dan siapa yang mendapat jatah daging buruan yang lebih besar. Jika kita memandang individu sebagai yang-ingin-bebas, maka keinginan bebas satu individu akan berbenturan dengan keinginan bebas dari individu lainnya. Pada titik itulah hukum diperlukan untuk mengatur masalah tersebut, dan ide seperti ini hanya mungkin diwujudkan dalam konteks masyarakat negara yang siap mengintervensi hukum dan mengaturnya untuk kepentingan bersama (kolektif). Jadi, apakah anarkisme ini merupakan bentuk lain dari liberalisme? Berkaca dari petikan di atas, hukum dalam pandangan anarkisme hanya diciptakan untuk mengatur kebebasan dan moralitas individu. Apa pentingnya mengatur kebebasan dan moralitas ketika manusia tidak bisa dengan leluasa memenuhi kebutuhkan subsistensinya akibat privatisasi sarana produksi oleh segenlintir orang saja?

Gerakan anarkisme yang paling berhasil adalah pada tahun 1936-1939 di Spanyol. Gerakan anarko sindikalisme dalam melawan rejim Jenderal Franco, dikenal dengan istilah “Franco Rebellion”. Gerakan ini berhasil mengambil alih peranan Negara dalam “Spanish Civil War”. Terdapat kurang lebih satu juta setengah anggota gerakan anarko sindikalisme. Kaum anarkis berhasil menguasai separuh dari Negara Spanyol khususnya di daerah perdesaan, dan beberapa kawasan penting seperti Catalonia (urban anarcho syndicalism) dan Andalusia (peasant anarchism(Hatib Kadir).

Saya rasa ini gerakan anarkisme paling mumpuni. Bagaimana tidak, dengan dukungan dari kelas buruh, kaum anarkis mampu untuk membendung kemenangan kaum fasis Spanyol, Jendral Franco pada tahun 1936. Dengan gagah berani mereka menduduki barak-barak militer dan kemundian bergabung dalam kuduta Franco, hingga mereka berhasil memenangkan kendali politik di Bacerlona. Namun, fakta sejarah memperlihatkan kaum anarkis menolak untuk mendirikan pemerintahan buruh di Catalunia. Hal ini dengan sangat jelas menjadikan perjuangan penuh heroisme itu luluh-lantak. Pada akhirnya pemerintahan kaum borjuis lama dan komunisme a’al  Stalinis kembali merajai di sebagian negeri Spanyol, dan ada kaum anarkis pun turut membantu melenyapkan aroma revolusi Spanyol dengan bergabung pada pemerintahan tersebut.

Sampai di sini sebenarnya anarkisme menunjukkan kebingungannya paling maksimal. Rasa anti  terhadap partai dan kepemimpinan dalam sebuah negara membuat mereka kehilangan arah juang. Terbentuknya sebuah komune memang suatu sistem ekonomi-politik paling adiluhung. Namun,  manusia sungguhlah tidak hanya berjumlah satu di dunia ini, begitu pun juga anarkisme. Maksudnya, ada banyak anasir-anasir di dunia ini yang mempunyai orientasi politik yang berbeda-beda (baca= kapitalisme). Karena itu, menjadi sebuah kekonyolan tatkala kita secara serampangan mendirikan komune di tengah berkembanganya bisnis kapital finansial yang berbasis teknologi informasi di abad 21 ini. Kita mesti belajar dari sejarah Komune Paris yang hanya berumur 72 hari. Perjuangan untuk melawan sistem kapitalisme tidak cukup hanya dengan melakukan ”direct action” yang sebenarnya akan berujung pada muara yang sama dan bersifat reaksioner. Energi dan kesadaran seseorang tentang eksploitasi menjadi tidak berguna tanpa adanya organisasi yang bertugas untuk membentuk kesadaran kolektif. Dalam hal ini pembentukan partai merupakan suatu syarat mutlak untuk diwujudkan sebagai kendaraan perang dalam rangka merebut kekuasaan Negara. Namun, sejauh ini saya perhatikan kajian anarkisme—pada tataran teoritis maupun praktis—belum sampai pada tahap itu.

Berjuang untuk mengubah dunia bukan sebuah misi yang ambisius, revolusi adalah ajang uji coba kesabaran untuk terus belajar sekaligus arena untuk menciptakan momentum secara berkelanjutan. Apa yang dikatakan sebagai sebuah ambisi sebenarnya adalah sebuah ketekunan untuk terus berjuang secara konsisten melawan ketidakadilan.  Dalam hal ini mungkin kaum anarkis hanya kurang bersabar saja, sehingga menimbulkan rasa frustasi mendalam yang berujung pada kebingungan. Ya, seperti yang saya rasakan sekarang.

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply