Diskusi di hari kedua Belok Kiri.Fest, selain diisi dengan pembahasan buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula, juga ada sesi diskusi dengan tema “Kebudayaan yang Emansipatoris.” Sesi ini diisi oleh tiga orang narasumber: Sandyawan Sumardi (aktivis gerakan sosial), Iwan Pirous (antropolog) dan Tia Pamungkas (sosiolog).

Iwan Pirous mengawali pembicaraan sebagai akademisi dengan berbagai pengalaman mengajar di Antropologi UI dan penelitian-penelitian lapangannya (field work). Berdasarkan pengalamannya selama mengajar Iwan menilai bahwa buku-buku dan teori-teori yang diajarkan di kampus umumnya adalah perspektif kanan. Semuanya memberi cara pandang Indonesia yang sangat kolonial, sepi dari kerusuhan pergerakan dan perjuangan. “Tugas saya adalah membuat mahasiswa membangkang dan terutama terhadap dosennya sendiri”, demikian ujarnya. Dengan cara mengajar lewat diskusi dan buku-buku rujukan yang ia berikan, upayanya menjembatani mahasiswa UI yang umumnya apolitis sedikit-banyak bisa diterima.

Berangkat dari hasil pengalaman penelitiannya tentang gerakan Kiri di tiga negara (Malaysia, Filipina dan Thailand), dia sempat bertemu dengan gerakan Kiri radikal di Filipina yang mengaku Maois sejati dan masih ngotot hingga sekarang ini. Ke-ngotot-an itu merupakan pandangan bahwa gerakan sosial yang nyata adalah bersenjata. Mereka menilai gerakan kanan memiliki segalanya; kapital, kebijakan, industri, uang, senjata, dan lain-lain. Berdasarkan wawancara terhadap para aktivis dan tahanan Kiri, Iwan mengemukakan bahwa revolusi bersenjata ialah bahasa yang aktual hari ini bagi orang Filipina sebab mereka menyesuaikan dengan realitasnya sejak dijajah Spanyol. Lalu lewat satu informannya justru berbalik, “ketika kamu pulang mesti bagaimana itu mengkontekstualkan semangat Kiri di Indonesia.”

Narasumber berikutnya adalah Sandyawan Sumardi. Ia membuka pembicaraan dengan kredo “aku bergerak, maka aku ada” yang digubah dari Thomas Aquinas. Dari itulah makna kebudayaan baginya akan terpenuhi apabila manusia terus bergerak (dinamis). Karena ia seorang aktivis sosial hampir seluruh pembicaraanya berisi tentang aktivismenya di Kampung Pulo, Jakarta sejak masa Orde Baru hingga penggusurannya akhir-akhir ini. Untuk kasus penggusuran ia pun turut bernegosiasi dengan pihak berwenang.

Satu waktu Romo Sandy pernah mendampingi peneliti asal Singapura sebulan penuh di Kampung Pulo. Sampai akhirnya kesimpulan yang ia terima bahwa pembangunan yang direncanakan di sana meniru di Singapura atau New York. Dan pada intinya hal tersebut menghilangkan ruang sosial yang telah ada. Di samping itu, padahal angka bunuh diri di Singapura cukup tinggi dan itulah yang juga ia khawatirkan. Dengan begitu, baginya “orang bukan takut nafas putus, tapi ketika tidak bermakna. Kebudayaan itu masalah pemaknaan pada kehidupan.” Itulah sebabnya ia menyenangi pekerjaan di lingkungan komunitas dengan saling berbagi makna. Karena menurutnya omong kosong terdapat kebudayaan kalau Hak Asasi tidak tercukupi.

Kemudian sosiolog Tia Pamungkas mengawali pembicaraan dengan bertanya “apa itu Kiri?” Ia jawab sendiri, “menjadi kritis.” Selanjutnya ia memaparkan bagaimana dirinya menjadi kritis atau Kiri karena punya kesadaran kelas. Persoalannya kemudian adalah kesadaran kelas dalam mentransfer solidaritas gerakan partisipatoris menjadi penting. Demikianlah persoalan kita: bagaimana kaum muda dapat akses pengetahuan dan kesadaran kelas? Menjawab hal tersebut, menurut Tia “kita punya ruang untuk membangun kesadaran kelas dan tradisi diskursif. Kedua hal inilah inti dari ideologi Marxisme yang harus kita kelola dengan baik, diidentifikasikan, kenali jaringanya, dan kita lihat potensi ke depannya seperti apa.” Seperti romo Sandy, Tia menekankan pentingnya membangun kesadaran kelas dan tradisi diskursif lewat komunitas sebagai modalitas sosial. “Dan pekerjaan rumahnya adalah”, kata Tia, “masyarakat seperti apa yang mau kita tuju? Jika masyarakat tanpa kelas, lalu bagaimana caranya?”

Terkait dengan itu, muncul pula pertanyaan: “apa hambatan-hambatan membangun kesadaran kelas selama ini misalnya di tataran kampus?

Menanggapi itu Iwan Pirous menjelaskan bahwa warisan dari kultur lebih dari 32 tahun lalu untuk menjadi bangsa Indonesia yang menurut kepada penguasa. Kebudayaan terbesar di Indonesia dianggap normal, wajar, bahkan dianggap kehendak Tuhan. “Lantas alat sensor apalagi untuk menghalau ketidakadilan?” Dan itulah karenanya kesadaran kelas hanya muncul lewat analisis dari perspektif kelas itu sendiri. Sedangkan bagi Tia, bahwa reproduksi kesadaran kelas itu tidak berjalan. Ia mengakui gagal-total generasinya yang tak mewariskan kesadaran kelas.

Selanjutnya, menanggapi pertanyaan: imajinasi seperti apa untuk menyelesaikan masalah yang ada di Indonesia, Tia menanggapi dengan memberikan contoh adanya Museum Bergerak ’65 di Yogyakarta. Museum tersebut mengorientasikan generasi muda agar punya semacam imajinasi untuk masa depan kita. Sedangkan Iwan menjawab dengan tegas yakni imajinasi dunia tanpa kelas. Baginya, dunia tanpa kelas bisa diturunkan pada human rights (HAM) dan ini berlaku secara luas tanpa tabu-tabu politik. Ihwal bahasa ia menambahkan bahwa Orba banyak membuat kita berbohong karena kosakata yang maknanya dipelintir atau dihilangkan.

Foto: Free Images

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply