Kembali ke Komoditi

Teori  /   /  By Kresna Herka Sasongko

Sebagai teman membaca Das Capital, sangat disarankan kita pun membaca buku Understading Capital karya Fox dan Johnston (1978). Selain enak dibaca dan penting, Fox dan Johnston ahli dalam meringkas dan menyarikan pokok pikiran yang ditulis Marx dalam dua bab pertama Das Capital yang merupakan kunci sukses memahami keseluruhan isi buku. Dalam pembahasannya pada halaman 1-4, keduanya membahas ihwal komoditi secara singkat, padat, dan jelas.

Mengapa harus dimulai melalui komoditi? Karena relasi corak produksi kapitalisme berpijak pada kumpulan komoditi. Komoditi ialah sifat yang dilekatkan pada sesuatu yang sudah mengalami proses produksi.[1] Pertama, komoditi adalah sebuah objek (Fox & Johnston, 1978:1). Artinya, untuk adanya objek sama sekali harus ada subjek yang aktif terlebih dahulu dan tentunya ada perantara atau predikat yang menghubungkan subjek dengan objeknya. Dalam hal ini manusia yang saling berelasi berperan sebagai sebjek dan kerja adalah perantara untuk dapat memproduksi atau menghubungkan dengan objek yaitu, komoditi.

Komoditi secara implisit mengandung tiga nilai yaitu, nilai guna, nilai tukar dan nilai, saya mencoba untuk membedakan ketiga jenis nilai yang terkandung dalam sebuah komoditi tersebut. Pertama nilai guna, Komoditi sebagai objek haruslah mampu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia (Fox & Johnston, 1978:1). Artinya, setiap komoditi yang diproduksi memilik tendensi yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan manusia. Contoh, sepatu yang dibuat oleh Pak Otong berguna untuk melindungi kaki atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang arsitek yang berguna untuk merancang gedung Wisma Bakrie. Dengan begitu, nilai guna yang terpancar dalam sebuah komoditi haruslah memiliki kegunaan tertentu. Nilai guna berkenaan dengan aspek fisik dari komoditi yang dapat dirasakan secara empirik oleh manusia, karena jika tidak memilki kegunaan sama sekali maka dapat dipastikan bahwa sesuatu itu bukanlah komoditi yang tidak berguna dan bisa jadi dihilangkan dari dunia ini. Namun sampai sini sepatu buatan Pak Otong atau rancang bangun ciptaan Mas Arsitek bukanlah komoditi, melainkan sekedar barang.

Ada syarat-syarat tertentu untuk sesuatu bisa dikatakan sebagai sebagai komoditi. Lebih jelas, komoditi adalah produk hasil kerja manusia yang diproduksi dengan tujuan untuk dipertukarkan (Fox & Johnston, 1978:2). Komoditi tidak hanya objek yang miliki kegunaan namun juga merupakan sesuatu yang berguna atas dasar hasil kerja manusia (Fox & Johnston, 1978:2). Maksudnya, sesuatu yang bukan hasil kerja manusia bukanlah sebuah komoditi. Misal, udara atau oksigen yang manusia hirup setiap saat dan sebidang tanah yang ada di daratan bumi bukanlah sebuah komoditi karena itu adalah ciptaan Tuhan yang Maha Esa.

Berdasar pada definisi tentang komoditi di muka yang menyatakan bahwa manusia memproduksi komoditi dengan tujuan untuk dipertukarkan. Maka itu membuktikan bahwa komoditi sebagai objek juga memiliki nilai tukar. Berbeda dengan dari nilai guna, nilai tukar adalah proporsi dari sebuah komoditi ketika sebuah komoditi depertukarkan dengan komoditi lainnya di pasar (Fox & Johnston, 1978:2). Maksudnya, ketika ada satu jaket dipertukarkan dengan dua sepatu, maka proporsi untuk satu jaket adalah dua sepatu dan proporsi untuk dua sepatu adalah satu jaket. Kecenderungan nilai tukar ini hanya mengemuka ketika sebuah komoditi direlasikan dengan komoditi lainnya. Artinya nilai tukar mengungkapkan dirinya pada tataran aktual yaitu, ketika satu komoditi ditukarkan dengan komoditi lainnya. Dengan kata lain komoditi adalah suatu hasil kerja manusia yang diproduksi untuk dipertukarkan melalui pasar.

Namun, perlu digaribawahi jika komoditi tetaplah komoditi sejauh esensinya tidak berubah, yakni bergantung pada tujuan apakah ia diperlakukan sebagai suatu barang yang diproduksi untuk dipertukarkan atau tidak. Maksudnya, komoditi-komoditi yang ditimbun atau belum laku tetaplah komoditi. Dengan demikian pertanyaan selanjutnya adalah apa yang menyebabkan satu jaket bisa ditukar dengan dua sepatu dan dua sepatu hanya dapat ditukar dengan satu jaket?

Pertanyaan akan mengapa satu jaket bisa ditukarkan dengan dua sepatu adalah dampak dari perbedaan nilai dari keduanya. Pertanyaanya, apakah yang menjadi penyetara dari pertukaran tersebut?. Tak lain adalah nilai yang tersemat dalam sebuah komoditi tersebut. Nilai tukar untuk satu jaket adalah dua sepatu sementara nilai tukar untuk dua sepatu adalah satu jaket. Dalam hal ini nilai menjadi basis yang meregulasi nilai tukar. Nilai tukar suatu komoditi adalah ekspresi dari nilainya (Fox & Johnston, 1978:2). Pertanyaannya adalah apakah yang dimaksudkan dengan nilai? nilai adalah sifat komoditas yang sudah inheren dalam bentuk komoditas itu sendiri tanpa relasinya dengan komoditas lain (Martin Suryajaya, 2013:71).

Jika nilai guna bertumpu pada kegunaan fisik tertentu dari suatu komoditi dan nilai tukar mengemuka ketika suatu komoditas dipertukarkan dengan komoditas lainnya. Maka pertanyaannya kemudian adalah apa yang menentukan besar kecilnya suatu nilai pada suatu komoditas?. Besaran nilai suatu komoditi ditentukan oleh kebutuhan waktu kerja sosial untuk memproduksinya. Kebutuhan waktu kerja sosial berarti waktu kerja rata-rata di bawah teknologi (kekuatan produksi) dan kondisi sosial [Fox & Jhonston, 1978:3]. Jadi, inilah jawaban atas pertanyaan mengapa satu jaket dapat ditukarkan dengan dua sepatu dan dua sepatu hanya dapat ditukarkan dengan satu jaket. Katakanlah, sekompok orang pembuat jaket di Cigondewah dapat memproduksi jaket dengan waktu kerja rata-rata sosial selama dua hari untuk menghasilkan satu jaket. Sementara, para pengerajin sepatu di Kopo Bihbul dalam sehari mampu untuk menghasilkan satu sepatu. Maka dengan begitu, agar nilai antara jaket dan sepatu dapat setara untuk mendapatkan satu jaket haruslah ditukarkan dengan dua sepatu. Hal ini disebabkan karena perbedaan waktu kerja sosial yang diperlukan untuk membuat kedua komoditi tersebut. 1 Hari kerja = 1 Sepatu & ½ Jaket. Jadi berdasarkan waktu kerja yang dibutuhkan untuk produksi, 2 Sepatu = 1 Jaket.

Substansi dari nilai tukar suatu komoditi ketika mereka dipertukarkan adalah nilai yang tersemat di dalamnya. Dengan begitu maka jelas sudah perbedaan antara nilai guna, nilai tukar, dan nilai.

Selanjutnya mari membahas soal dua kerja yang terkadung dalam komoditi. Marx membagi ke dalam dua jenis kerja yaitu, kerja abstrak dan kerja kongkrit. Secara definitif kerja abstrak adalah kerja (labor) dalam artian umum (homogen) atau kerja yang memproduksi nilai secara kuantitatif yang merupakan abstraksi dari beberapa kerja tertentu yang produktif membuat nilai guna (Fox & Johnstone, 1978:99). Sementara, kerja kongkrit adalah kerja sebagai kerja (work) tertentu yang menghasilkan nilai guna, kerja dalam aspek kualitatif (Fox & Johnstone, 1978:99). kerja (work) adalah   aktivitas produksi yang dapat dilakukan secara individual. Artinya, konsep tentang kerja kongkrit bisa tergambarkan di sini. Maksudnya kerja yang berkeahlianlah yang menjadi dasar dari kerja works ini. Contoh, ketika ada seorang ahli masak dari Cikondang yang mempunyai keahlian membuat sebuah martabak telur yang lezat, Itu adalah yang disebut sebagai kerja kongkrit atau kerja yang-work tadi. Sementara berbeda dari penjelasan mengenai kerja work, kerja labor atau kerja abstrak adalah serentetan kejar-kerja produktif yang menjurus ke golongan sosial dalam suatu sturuktur moda produksi tertentu, inilah yang dimaksudkan dengan kerja abstrak.

Soal kerja labor bisa dijelaskan begini, seorang ahli masak memang tidak perlu bantunan dari orang lain untuk membuat martabak karena hal itu sudah menjadi keahlian yang dia miliki. Tetapi, perlu diperhatikan bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk membuat martabak tidaklah mungkin dilakukan oleh seorang ahli masak sendiri (individual) melainkan ada kerja-kerja lain yang memungkinkan seorang ahli masak dapat membuat sebuah martabak. Maksudnya, dalam membuat martabak ada bahan seperti tepung, telur, garam, daun bawang, minyak, daging, penyedap rasa dan sebagainya yang tentu bukan hasil kerja dari seorang ahli masak yang hanya memiliki keahlian untuk membuat maratabak. Melainkan, yang memungkinkan seorang ahli masak untuk mengejawantahkan setiap keahliannya (work) adalah kerja-kerja sosial produktif (labor) dari individu lain yang terkategorisasi dalam suatu moda produksi tertentu. Dalam konspesi Marx, labor inilah yang disebut kerja abstrak karena untuk adanya martabak sama sekali dibutuhkan individu lain yang memproduksi bahan-bahan yang memungkinkan untuk membuat martabak seperti antara lain, hasil kerja seorang peladang, hasil kerja seorang peternak dan hasil kerja seorang petani garam. Jadi, lebih jauh lagi dalam konteks inilah kerja work dikondisikan oleh kerja labor.

Catatan

[1] Saya menekankan pada tatanan masyarakat yang sudah masuk dalam corak produksi kapitalisme. Maksudnya, komoditi memang ada pada relasi masyarakat non-kapitalisme. Tetapi pada masyarakat kapitalisme, komoditi menjadi salah satu inti yang membuat relasi produksi tersebut terus berjalan dan memungkinkan untuk terjadinya transformasi struktural pada kehidupan individu-individu yang saling berelasi di dalamnya.

Foto: Anonim

About the Author

Related Posts

Dalam corak produksi kapitalisme, tenaga kerja manusia adalah sebuah komoditi kunci yang unik....

Marx memulai analisis dari jenis petukaran komoditi yang paling sederhana yaitu, pertukaran...

Kerja mendapatkan kedudukan penting dalam setiap analisis Marx. Marx pun membedakan kerja sebagai...

Leave a Reply