Konferensi di bawah Tirani Modal 2008 — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masdar Farid Mas’udi menilai bahwa radikalisme agama di Indonesia akan tumbuh subur. Penyebabnya diantara lain pandangan sempit persoalan tafsir keagamaan, kemiskinan dan tingkat pendidikan umat yang masih rendah. Selain itu, radikalisme ini didorong oleh ketidakadilan struktural.

Hal ini ia sampaikan ketika menjadi salahsatu pembicara pada panel tentang fundamentalisme agama dan pasar di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia, Selasa 5 Agustus di Depok.

“Ibarat pohon, radikalisme bisa tumbuh subur,” katanya.

Ia melihat peranan ulama menjadi faktor penting untuk meredam tumbuhnya radikalisme agama tersebut. Saat ini, ulama atau para pemimpin agama memiliki kuasa besar untuk menafsirkan persoalan tafsir keagamaan. Kuasa tersebut cenderung untuk berada pada posisi paling benar dan absolut.

Menurutnya saat ini, umat Islam harus melakukan pembenahan dan memperkuat diri secara mendasar. Baik menyangkut sumber daya manusianya, ekonomi, sosial, politik hingga ilmu pengetahuan. Tujuannya agar umat Islam terbebas dari kemiskinan dan pengetahuan yang sempit.

“Tidak ada gunanya, kelemahan ini ditutup-tutupi dengan hanya menyalahkan orang lain dan mengutuknya. Orang lain (Barat) terlalu kuat untuk kita salahkan. Dan terlalu digdaya untuk dikutuk,” katanya.

Degung Santikarma dalam makalahnya Bali: Fundamentalisme Siapa? Mengatakan bahwa saat ini di Bali sendiri agama dan pasar telah bekerjasama untuk mendukung kepentingan kekuasaan. Pasar, menurutnya, telah mengkomodifikasikan simbol-simbol keagamaan sebagai tanda bukti identitas untuk menjalankan roda modal.

Kemiskinan dan ketidakadilan saat ini tak hanya berlaku bagi kalangan umat Islam maupun seperti kasus yang terjadi di Bali saja. Namun masalah ini menjadi persoalan serius bagi warga penduduk dunia lainnya. Penyebab ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi dunia salahsatunya akibat dari fundamentalisme pasar yang berpihak pada kebebasan.

Ivan Hadar, koordinator nasional dari Millenium Development Goals mengatakan bahwa ketimpangan ini akibat berlakunya ekonomi neoliberalisme saat ini.

Fundamentalisme pasar ini memiliki tiga komponen pokok. Pertama, hukum ini telah mengambil alih peran negara dan masyarakat dalam mengatur masalah ekonomi dan modal. Kedua, hukum ini mendorong kebebasan individu untuk mengambil alih sektor publik, Ketiga, hukum ini percaya bahwa pengelolaan pemerintahan yang baik hanya dapat tercapai jika melalui mekanisme hukum pasar. Kebijakan ini mengakibatkan ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi secara global.

“Indonesia hanyut dalam arus besar neoliberalisme ini,” ingat Ivan Hadar.

 Foto: Rand
About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply