Sejarah berulang dalam dua bentuk, berkecambah sebagai tragedi atau tumbuh sebagai lelucon. Keduanya sama-sama merupakan benih yang ditanam Orde Baru sepanjang kekuasaannya.

Sejarah sebagai tragedi adalah pembantaian, penghapusan, penghilangan, pelarangan, dan penindasan atas sikap kritis. Kata-kata tersebut terngiang bila kita mengingat berbagai kejadian sejak fajar Orde Baru terbit hingga terbenamnya di penghujung abad ke-20. Saat memasuki era reformasi, yang konon merupakan era terbitnya kebebasan berpendapat dan berorganisasi, ternyata benih yang ditanam Orde Baru itu masih tumbuh subur. Begitulah ketika sejarah menjelma lelucon yang akan saya ceritakan di sini.

Dua hari lalu (27 Februari 2016) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, komite Belok Kiri Fest dilarang menggelar acaranya yang rencana akan digelar dari 27 Februari hingga 5 Maret 2016 di Galeri Cipta 2 TIM. Meski sudah menyesuaikan persyaratan perizinan dan birokrasi. Sebagian orang-orang Unit Pelayanan Terpadu (UPT) TIM mempersulit hingga akhirnya tak memberi izin penyelenggaraan Belok Kiri Fest. Keputusan serupa juga dikeluarkan pihak kepolisian yang memerintahkan untuk menghentikan kegiatan tersebut. Sungguh sejarah itu berulang sebagai lelucon. Apalagi, sehari menjelang pembukaan acara Belok Kiri Fest, beberapa orang yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Cinta Bangsa menggelar konferensi pers menolak Festival Belok Kiri Fest (26 Februari 2016). Mereka menyerukan untuk menolak penyelenggaraan Belok Kiri Fest karena dianggap sebagai komunis gaya baru.

Demikianlah, acara batal diadakan di TIM, namun pihak komite tidak tinggal diam. Mereka segera mengambil tindakan berani yaitu melakukan pernyataan sikap sekaligus berencana melanjutkan acara di lokasi yang lain. Namun pernyataan sikap ini pun terhalang oleh pihak yang tidak setuju dengan diadakannya acara ini. Mulai dari masuknya aparat keamanan polisi lengkap dengan persenjataan, pelarangan konperensi pers di depan Galeri Cipta 2 hingga pendemo gabungan dari HMI dan FPI yang menyerukan pembubaran Belok Kiri Fest sambil menuding acara tersebut merupakan kebangkitan komunisme.

Sekali lagi, kebenaran harus disuarakan. Ketika tak boleh diadakan di satu tempat, masih ada tempat lain. Konperensi pers yang semula diadakan di depan Galeri Cipta 2, dipindah ke tempat parkir kendaraan, tak jauh dari Galeri Cipta 2. Konperensi pers itu berisi kronologi peristiwa pembatalan dan juga pernyataan sikap yang disampaikan oleh Dolorosa Sinaga, Ketua Komite Belok Kiri Fest.

Usai pernyataan sikap, komite memindahakan acara Belok Kiri Fest ke kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Jalan Pangeran Diponegoro no. 74, Jakarta. Acara dibuka pada 27 Februari 2016 dengan pembacaan puisi, pementasan musik, dan kata sambutan serta penandatanganan buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia. Mereka, panitia dan pendukung gerakan kiri bersatu, tak berhenti menyuarakan kebenaran.

Penyebaran Pengetahuan, Melawan Propaganda, dan Bersatu

Belok Kiri Fest, di dalamnya ada Peluncuran buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia, dan berbagai kegiatan lain ini merupakan upaya untuk membuka kembali kisah panjang perjuangan rakyat yang tereksploitasi juga menambah pengetahuan tentang perkembangan Marxisme di dunia. Pengetahuan yang tepat akan mampu menempatkan Marxisme sebagai cara berpikir yang revolusioner. Tentu saja revolusioner di antara pemikiran-pemikiran borjuis. Acara-acara diskusi yang direncanakan komite tersebut pun bagi saya merupakan kemajuan gerakan bagi ranah pemahaman teori. Mengingat kata-kata Lenin bahwa tanpa teori revolusioner, tak akan ada gerakan revolusioner.

Sama dengan slogan yang diserukan komite kemarin malam, “Lawan propaganda Orde Baru!, bagi saya acara ini merupakan kemajuan bagi perbaikan cara berpikir yang selama ini dibentuk oleh Orde Baru. Minimnya keterbukaan cara berpikir dan anggapan negatif mengenai Marxisme masih ada di kepala orang Indonesia. Setidaknya, dalam Belok Kiri Fest ini, Marxisme mampu dikenal bukan sebagai momok dan pemeran utama dari tragedi 65 yang diciptakan Orde Baru saja, melainkan sebagai ilmu pengetahuan yang objektif dan bermanfaat. Marxisme sebagai ilmu akan menunjukan kebenarannya yang dialektis dan historis hanya jika ada keterbukaan cara berpikir dan kemauan untuk mempelajarinya. Dorongan untuk belajar itu sendiri nampaknya akan ditingkatkan melalui diskusi-diskusi yang diselenggarakan acara ini. Sehingga apabila terus dipelajari dan mampu dimengerti, kita akan menyadari ada yang tidak beres dengan kehidupan kita hari ini. Ketika pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang terjadi dengan umat manusia itu timbul, di sanalah praktik Marxisme sebagai ilmu tersebut akan bermanfaat bagi umat manusia.

Selain itu, dari sisi gerakan kiri, Belok Kiri Fest merupakan salah satu proses kemajuan dari gerakan di Indonesia dalam upaya menerima tongkat estafet Marx-Engels dalam perjuangan menumbangkan tatanan kapitalisme. Satu langkah maju bagi kita untuk terus menguatkan barisan. Kita yang selama ini hanya bergerak masing-masing melalui kelompok masing-masing atau juga individual, dapat menemukan benang merah arah perjuangan kita di acara seperti ini. Mengingat cara-cara konkret yang harus kita lakukan bukanlah seperti perjuangan di abad ke-19 atau ke-20 melainkan cara yang sesuai dengan realitas Indonesia pada abad 21 ini.

Dalam acara ini kita mampu bertatap muka langsung dengan seluruh orang yang selama ini berkontribusi dan berjuang dalam perlawanan anti kapitalisme. Melalui perkenalan, bincang-bincang hingga diskusi-diskusi yang ada, saya pikir ini akan menjadi tahap selanjutnya di dalam hubungan kita selama ini. Komunikasi yang terjalin dalam jaringan kita ini bila terus diremajakan niscaya akan mengeratkan barisan perjuangan kita. Mengingat belum adanya ruang untuk pertemuan bagi gerakan kita, acara ini setidaknya dapat membuka celah bagi persatuan yang erat dan langkah perjuangan yang lebih konkret ke depannya.

Sama seperti apa yang diungkapkan Lenin hampir seabad yang lalu, bahwa tiada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner. Juga wejangan Mao soal apel. Bahwa bila kita ingin merasakan apel kita harus mencicipi sendiri apel tersebut. Jelaslah bahwa teori dan praktik haruslah berjalan timbal balik dan seiringan. Inilah sesungguhnya semangat perjuangan yang bernafaskan materialisme historis dan dialektis.

Sukses Belok Kiri Fest, Suksesnya Penyebaran Pengetahuan

Dengan demikian berlangsungnya acara ini sudah sepatutnya kita dukung. Suksesnya gerakan kiri ini pun akhirnya akan kembali lagi kepada kita semua. Entah yang berada kiri, agak kiri, kiri sekali maupun yang berada di seberang kanan. Mengingat eksploitasi yang hadir dalam moda produksi kapitalisme ini beroperasi secara aktif dan objektif. Siapa pun, sadar tak sadar, merupakan korban dari kecacatan sistem moda produksi ini. Dari tukang bajaj yang mangkal di depan TIM, orang-orang UPT TIM, polisi-polisi di dalam truk, hingga teman-teman HMI yang berdemo.

Suksesnya Belok Kiri Fest ini diharapkan menjadi satu langkah konkrit untuk memajukan pengetahuan dan perkembangan gerakan kiri di Indonesia, sebelum tahap perjuangan selanjutnya. Akhir kata, mari kita terus menyebarkan kabar baik kebenaran ini dengan sabar. Tetap hadiri peluncuran buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia dan Belok Kiri Fest, niscaya bermanfaat. Ajak teman-temannya untuk hadir juga ya, kuy! Panjang umur perjuangan melawan kapitalisme dan lawan terus propaganda Orde Baru.

Tenabang, 28 Februari 2016

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Chaotic Jumps merupakan tajuk pameran tunggal oleh seniman media baru (new media art) Krisna Murti...

Meski cuaca sore ini sedang diguyur hujan, tidak mematahkan semangat kawan-kawan untuk hadir di...

Sabtu 27 Februari 2016, seperempat jam sebelum pukul empat sore, puluhan orang berkumpul di...

Leave a Reply