Bukan suatu kebetulan jika kaum kapitalis dan pekerja saling berhadap-hadapan sebagai penjual dan pembeli di dalam pasar komoditi. Jentera perputaran proses itulah yang terus-menerus melempar kembali salah satu di antara mereka ke pasar sebagai penjual tenaga kerja dan mengubah produknya ke dalam kuasa kepemilikan yang lainnya. Pekerja memang bagian dari kapital, sebelum dia menjual dirinya pada kaum kapitalis.

Marx, Das Kapital, I

Dalam simposium ini[1], kami diminta untuk mengkaji ketimpangan sosial lewat perspektif perbandingan dan pembangunan. Gerald Berreman (1981) telah dengan tepat menunjukkan relatif kurangnya pengkajian sejenis dalam antropologi terkini, meski Stanley Diamond (1974) berargumen bahwa masalah kesetaraan atau ketimpangan sejak awal merupakan agenda terpendam antopologi. Berreman mengundang kami untuk memulai sebuah diskusi umum berkenaan dengan topik tersebut, dengan satu contoh kasus yang bersandar pada bukti empiris. Kalau ada pemahaman yang bisa disumbangkan oleh antropologi terkait topik ini, hal itu tentu disebabkan melimpahnya kajian dengan perbedaan situasi-situasi kultural yang telah dikaji antropolog.

Para antropolog biasanya mencoba melakukan perbandingan antarbudaya, mula-mula dengan menghimpun “contoh-contoh kasus”, yaitu model-model masyarakat atau kebudayaan yang disusun dari data hasil pengamatan atau laporan. Model-model ini kemudian dibandingkan secara sinkronik atau secara berangkai dengan memperhatikan satu dan yang lainnya, menggunakan satu atau lebih kriteria analisis untuk menata contoh-contoh kasus tersebut secara berurutan. Terkadang, urutan sinkronik atau rangkaian tersebut diberi tafsiran diakronik dan ditempatkan dalam kerangka berjangka waktu sehingga dapat menjelaskan suatu proses. (misalnya, “adaptasi”, atau “perkembangan”). Kita semua telah akrab dengan prosedur-prosedur ini dan mungkin juga telah menggunakannya di suatu waktu. Kita tahu bahwa hal ini telah dan bisa dilakukan, seringkali dengan hasil yang memuaskan secara ilmiah dan estetis.

Akan tetapi, saya akan mengajukan sejumlah keberatan terhadap model analisis ini. Pertama, kita seringkali memperlakukan data amatan atau rekaman sebagai realitas dalam dan pada dirinya sendiri, ketimbang sebagai hasil suatu proses, yang kurang lebih, terjadi dalam waktu historis. Apa yang selanjutnya kita lihat dan bandingkan adalah endapan proses-proses yang kasat mata dan dapat diamati (seringkali malah bersifat sementara), bukan proses itu sendiri. Kedua, kita sudah tahu setidaknya sejak kemunculan kaum difusionis, bahwa tak ada satu masyarakat atau kebudayaan pun yang berdiam ibarat sebuah pulau. Selalu ada pertukaran dan hubungan timbal-balik antar masyarakat serta kebudayaan lainnya. Akan tetapi, apa yang tampaknya kurang dipahami adalah bahwa “kasus-kasus” yang saling terkait ini muncul dalam khazanah antropologi yang eropasentris hanya karena orang-orang Eropa atau Eropa-Amerika mengunjunginya, dan mereka melakukan ini karena digerakkan kekuatan yang lahir dari apa yang kita sebut “kapitalisme”. Dengan demikian, apa yang kita jelajahi dan amati di tempat-tempat yang dikunjungi para antropolog di seluruh dunia terpancang dalam suatu hubungan khusus dengan proses ekspansi kapitalisme; sebuah proses yang timbul sebagai tanggapan bekerjanya seperangkat struktur atau relasi tertenu.

Proses ekspansi ini beserta tanggapan yang muncul terhadapnya, dapat diidentifikasi secara historis. Hal ini memungkinkan menempatkan “contoh kasus” kita di dalam koneteks kronologis yang dapat diidentifikasi secara empiris. Kita tidak lagi berhubungan dengan suku-suku Ojibwa, Ndembu, Bemba, atau Ponapea yang murni, melainkan dengan populasi yang terlibat dalam perkembangan, kehancuran, anabolisme, katabolisme, penataan ulang, pengorganisasian, dan pengorganisasian ulang kultural terus-menerus. Sekali kita menyadari hal ini, kita segera akan sadar betapa terbatasnya metode perbandingan contoh-contoh kasus tersebut tanpa menautkannya pada proses-proses penggerak yang mengerangkai kesalinghubungan mereka itu. Metode ini membatasi kita untuk mengkonstruksi asumsi-asumsi historis kasus yang dikaji, yang variabel-variabelnya selalu berjalin seiring ekspansi kapitalisme (lihat, contohnya, Wassertorm [1977] ihwal Chiapas; Miller [1975] tentang Kongo; Ranger [1968] serta Ranger dan Kimambo [1972] perihal gerakan keagamaan Afrika Timur dan Tengah; dan Bishop and Ray [1976] tentang Perdagangan Indian ke Teluk Hudson).

Materi dan wawasan semacam ini dapat kita manfaatkan untuk mengajukan konstruksi teori yang memadai. Mungkinkah membangun suatu model teoretis hubungan pokok yang mendorong ekspansi kapitalis? Akankah model tersebut membantu kita menjelaskan pertukaran antara penutur bahasa Athabascan dengan para pedagang bulu binatang, antara Kompeni Hindia Timur Inggris dengan para petani kapas Maharashtra, antara penduduk daerah sabuk tembaga di Rhodesia dengan pertambangan Roan Antelope? Mungkinkah mengembangkan bangunan teoretis yang dapat membantu memahami unsur-unsur terpenting yang mengorganisasi populasi secara non kapitalistik, namun bersinggungan, dikelilingi, atau direorganisasi oleh kapitalisme mutakhir?

Diskusi-diskusi terakhir di antara para sejarawan, antropolog, dan filsuf Marxis mulai memperhatikan kembali gagasan Marx ihwal cara produksi sebagai konsep pokok dan terpadu yang memiliki daya penjelas. (Lihat, sejumlah kontribusi yang terus bertambah berkenaan dengan topik ini, Wittfogel 1931, 1957; Meillassoux 1960, 1967; Töpfer 1965; Tökei 1966; Coquery-Vidrovitch 1969; Terray 1969; Althusser dan Balibar 1970; Godelier 1970; Sahlins 1972). Nanti akan saya coba tunjukkan mengapa konsep ini memiliki arti teoretis bagi antropologi perbandingan dan (terutama) apa yang bisa ia tawarkan pada para antropolog yang mengkaji masalah ketimpangan sosial.

Karena metode Marx berbeda dari metode yang biasa kita terapkan, pertama-tama saya akan membahas pendekatan umum Marx terlebih dahulu. Kemudian saya akan mengurai tiga cara produksi: cara produksi kapitalis, seperti yang Marx teliti. Serumpun cara produksi yang berlainan seperti ‘Asiatik’, ‘Afrika’, dan ‘feodal’ yang masing-masing akan saya anggap sebagai varian dari cara produksi ‘perupetian’. Dan terakhir yang saya sebut sebagai cara produksi ‘berdasarkan kekerabatan’ agar terhindar dari jebakan semantik yang terkandung dalam istilah “primitif’. Setelahnya saya akan menyimpulkan implikasi analisis ini berkenaan dengan topik simposium.

Catatan

[1] Aslinya artikel ini ditulis untuk Symposium on Social Inequality yang diorganisasi Gerald D. Berreman di Burg Wartenstein, Gloggnitz, Austria, tanggal 25 Agustus hingga 3 September 1978 yang didanai Wenner-Gren Foundation for Anthropological Research [peny.].

© Eric R. Wolf 1978, 1981 / Diterjemahkan oleh Dede Mulyanto / Foto: Business Insider

About the Author

Related Posts

Cara Produksi Berbekal perspektif sebelumnya, kini kita bisa mengkonseptualisasikan beraneka cara...

Metode Marx Jamaknya kesulitan dalam penerapan metode Marx lahir dari betapa berkebalikannya metode...

Antropolog di dalam Masyarakat Kapitalis Maju Di dalam perkembangan tulisan ini, saya telah ajukan...

Leave a Reply