Metode Marx

Jamaknya kesulitan dalam penerapan metode Marx lahir dari betapa berkebalikannya metode tersebut dengan apa yang kini kita terima sebagai pendapat umum soal ilmu pengetahuan. Pendapat ini sesungguhnya keliru, dan perlu diklarifikasi lebih lanjut pengandaian dasarnya. Saya akan sedikit meringkas pengandaian ini seturut rumusan David Hume. Menurut Hume, apa yang dapat kita ketahui sepenuhnya bersifat indrawi. Kita tidak bisa mengandaikan bahwa di balik sifat-sifat indrawi itu terdapat esensi atau substansi tunggal yang dapat menjelaskan koherensinya. Karena kita tak bisa mengandaikan esensi tunggal seperti itu, maka kita tak bisa mengandaikan pula adanya kausalitas. Apa yang bisa kita lakukan hanyalah mencatat kesalinghubungan antar gejala yang terjadi bersamaan. Ketika kita nyatakan telah terjadi dua gejala yang terjadi bersamaan, kita tidak bisa lantas mengandaikan bahwa hal itu akan berulang kembali di masa mendatang, meski kita berharap demikian. Apa yang dapat kita lakukan adalah memastikan bahwa metode teknis yang dipakai untuk mencatat ada atau tidaknya kejadian yang berulang tersebut cukup masuk akal dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi atau kelompok. Hanya jika metode yang kita gunakan masuk akal maka mereka akan memperoleh kesepakatan. Metode yang paling masuk akal karena itu ialah dengan mengukur sifat-sifat gejala, karena pengukuran dapat menghilangkan unsur subjektivitas manusia. (Sebagaimana dicatat Kolakowski [1969], cara ini menuntun pada paradoks yang sukar dipahami tentang tampilan-tampilan kualitatif yang kemungkinan harus dihilangkan untuk memperoleh suatu konsensus ihwal sifat-sifat terindra yang diajukan. Meski, penalaran matematis hanya dapat menyatakan soal valid atau tidak sesuatu, tanpa memberi pengetahuan tentang keberadaannya).

Pendapat umum ilmu ini dikembangkan secara pragmatis oleh Auguste Comte, pencetus sosiologi. Ia menambahkan gagasan bahwa jika metode pencatatan kejadian yang berulang itu masuk akal, maka metode tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kendali manusia terhadap alam dan terhadap kehidupan sosial manusia, untuk kemudian mempertinggi kesempatan manusia bertahan hidup. Dengan demikian menurut Comte yang benar ialah yang berdaya guna.

Marx juga menyatakan penyelidikan-penyelidikannya sebagai ilmu—atau lebih tepatnya sebagai Wissenschaft. Hal ini juga bermakna proses penemuan pengetahuan, namun melalui pendekatan yang berbeda. Untuk melawan pandangan bahwa apa yang dapat manusia lakukan hanyalah mencatat kejadian yang berulang dari sifat-sifat indrawi melalui metode yang telah disetujui sebelumnya, Marx dan yang lainnya memulai dari apa yang mereka anggap sebagai aspek-aspek yang tak dapat dinafikan dari pengalaman manusia. Aspek-aspek ini adalah hubungan manusia dengan alam, hubungan sosial antar manusia, kemampuan manusia mengubah alam untuk kebutuhannya, serta kemampuan simbolis Homo sapiens. Penamaan yang kita berikan untuk aspek-aspek pengalaman manusia, serta konsep yang kita kenakan pada hal tersebut adalah produk lingkungan historis dalam upaya kita memahaminya. Namun Marx memandang bahwa aspek ini ialah sesuatu yang riil dan mendasar. Tugas dari Wissenschaft oleh karena itu adalah menjelaskan aspek pengalaman ini melalui konsep-konsep yang akan menunjukkan keterhubungannya. Sebagaimana yang Marx katakan: “substratum tersembunyi suatu gejala harus terlebih dahulu ditemukan lewat ilmu”, dan tentu saja “ilmu akan jadi mubazir jika tampakan luarnya sama persis dengan hakikat hal-ihwal” (Marx 1923 [1867]: 478; 1967 [1894 ]: 817).

Oleh karena itu, yang mendorong penyelidikan Marx ialah keperluan membangun sebuah rumusan abstrak yang dapat menangkap ‘hakikat’ hal-ihwal yang kemudian mampu memberi penjelasan atas gejala konkret. Inilah yang dimaksud Marx sebagai “menanjak dari yang abstrak ke yang konkret”. Prosedur dari rumusan abstrak ke penjelasan konkret akan mengarahkan serangkaian pendekatan konseptual untuk menjelaskan fenomena tertentu yang terjadi di suatu ruang dan waktu tertentu. Marx dengan gamblang mencirikan dua tahap utama dalam pendekatannya, yaitu tahap konseptualisasi proses kerja dan konseptualisasi cara produksi. Ia juga mencoba menggambarkan sejumlah cara produksi yang berlainan. Tahap ketiga ialah konseptualisasi suatu formasi sosial—suatu ‘masyarakat’ konkret yang ada secara historis, yang mengandung satu atau lebih cara produksi. Marx dan Engels menggunakan istilah-istilah tersebut namun tidak menjelaskannya secara teoretis. Penjelasan ini karena itu belum terselesaikan. Tahap atau tingkat keempat dari pendekatan ini ialah pengamatan dan penafsiran atas interaksi sosial dan bentuk-bentuk kebudayaan yang memperantarainya, baik yang ada di dalam maupun di antara berbagai formasi sosial.

Proses Kerja

Mari kita mulai dengan tahap pertama, yaitu konseptualisasi proses kerja. Telah saya sebutkan bahwa dalam upaya konseptualisasi ini, Marx memulai dari aspek-aspek yang ia anggap riil dan fundamental dari keberadaan manusia. Hal yang pertama terkait spesies Homo sapiens, baik sebagai produk alam maupun sebagai pelaku yang ikut mengubah alam untuk kemaslahatan manusia, atau sebagaimana yang Marx ungkapkan dalam bahasa Hegelian; “manusia menghadapi materi dari alam sebagai daya-daya alam itu sendiri” (Marx 1923 [1867]: I33). Dalam antropologi merebaknya pemikiran ekologis telah membuat pendapat ini jadi lumrah. Di saat bersamaan, rumusan Marx mengingatkan kita bahwa hubungan Homo sapiens dengan alam memiliki watak rangkap. Homo sapiens bukan hanya subjek yang diperintah dan dibatasi lingkungannya, namun juga subjek yang berperan aktif dalam mengubah lingkungan. Peran aktif ini tidak hanya didasarkan pada sifat somatis Homo sapiens namun juga pada sifat eksosomatis atau kebudayaannya.

Aspek selanjutnya berasal dari aspek yang pertama. Cara Homo sapiens mengubah alam untuk memenuhi kebutuhanya ialah melalui kerja. “Proses kerja… adalah syarat umum metabolisme antara manusia dan alam. Proses kerja merupakan syarat alamiah yang kekal bagi keberadaan manusia” (Marx 1923 [1867]: 139). Pernyataan yang tampak begitu jelas ini sesungguhnya menyimpan rumusan teoretis penting. Dari sana Marx menarik pembedaan antar kerja-perorangan (work) dan kerja (labor). Kerja-perorangan merupakan kegiatan seseorang mengerahkan energinya untuk menghasilkan energi. Sedangkan proses kerja (labor process) secara keseluruhan merupakan suatu gejala sosial yang dilakukan antar manusia lewat hubungan sosial. Konsep kerja umum ini—berlawan dengan konsep kerja-perorangan yang khusus sifatnya—tidak hadir begitu saja. Marx memuji Adam Smith atas rumusan tersebut, sambil menambahkan bahwa “langkah besar ke depan” ini hanya mungkin terjadi ketika beragam jenis kerja dapat dipertukarkan secara moneter (Marx 1973 [1857–1858]: 104). Ketika kerja umum telah hadir, maka kita bisa pula melukiskan bagaimana manusia membentuk beraneka ragam jenis kerja yang terorganisasi hingga proses teknis kerja dan pembagian produksi kerja sosial di antara mereka sendiri. Memahami bagaimana manusia mengubah alam untuk kemaslahatannya karena itu tidak berhenti pada perian dan analisis ihwal bagaimana mereka bekerja. Juga dibutuhkan suatu perian dan analisis atas relasi sosial yang mengatur distribusi kerja sosial serta alokasi produk sosial yang dihasilkan kerja tersebut. Pekerja, sebagai produsen langsung bukan seorang Robinson Crusoe yang hidup terpencil, melainkan selalu seseorang yang berhubungan dengan orang lain, baik sebagai kerabat, hamba, budak, atau pekerja-upahan. Sedangkan pihak yang mengendalikan kerja dan produksi sosial berbeda dengan teknisi yang menjalankan operasi teknis kerja. Merekalah yang mengerahkan kerja dalam suatu kerangka yang ditentukan dan diberlakukan secara sosial baik sebagai seorang kerabat yang dituakan, kepala suku, tuan tanah, atau kapitalis. Perspektif ini membantu kita melihat bagaimana pembagian kerja teknis serta proses-proses kerja perorangan beroperasi dalam kesalinghubungan yang amat menentukan dengan relasi sosial produksi. Lewat pendekatannya, Marx membuat dua aspek proses kerja manusia sebagai hal yang dapat dikonseptualisasi bersama ketimbang sebagai hal yang terpisah satu sama lain.

Proses yang mencakup pengerahan dan pengalokasian produk kerja hasil hubungan sosial antar orang-orang ini, mengatur baik kepala maupun pelaksananya. Berbeda dari hewan lainnya, manusia mengkonseptualisasi dan merencanakan proses kerja. Dengan demikian kerja mensyaratkan adanya intensionalitas, informasi, dan pemaknaan. Karena kerja selalu berarti kerja sosial, maka informasi dan pemaknaan juga selalu bersifat sosial dan dilakukan dalam ideasi sosial. Tulisan ini bukan bertujuan menjelaskan secara rinci pandangan Marxian tentang ideasi, namun kita bisa menggarisbawahi tiga aspek pokoknya. Pertama, ideasi mengikuti arah atau vektor; ideasi bergerak sepanjang garis daya yang ditimbulkan oleh lintasan di dalam pergerakan anasir-anasirnya. Kedua, dalam lintasan seperti apa pun ideasi pasti menghadapi batas-batas eksternal,—sebuah cakrawala yang tak mungkin dilampauinya. Terakhir, ideasi memiliki batas-batas internalnya berupa titik-titik krusial dari anasir yang membentuk lintasan tempat arus ideasi akan tergoncang dan tercerabut di sepanjang pintasan yang “aman”. Hal ini menimbulkan sebuah gejala “fetisisme” atau “mistifikasi” (lihat Godelier 1973; Taussig 1977).

Jika relasi antara ideasi manusia dan kerja tak mampu diketahui, maka pikiran menjadi sepenuhnya subjektif atau independen dari hubungan manusia dengan dunianya; menjadi “mitos yang memikirkan dirinya lewat manusia” menurut Levi Strauss (1964:20). Apabila pikiran sepenuhnya subjektif, maka tidak mungkin menilai kecakapan atau ketidakcakapannya. Jika pikiran sepenuhnya independen dari tindakan manusia, maka berubahnya pemikiran akan sulit dikaji dan dapat dikatakan sebagai sekadar ilmu batin. Kemunculan umat manusia dari alam, perubahan yang ia lakukan terhadap alam lewat kerja sosial, dan juga perubahan kodrat manusia itu sendiri semuanya mengakibatkan perubahan yang menjadi bagian dari proses historis. Proses ini berjalan bukan dalam pengertian bahwa satu kejadian mengarah pada kejadian lainnya, akan tetapi berjalan lewat perubahan hubungan antar orang, kerja, dan alam. Mereka mengalami perubahan di masa lalu, sedang berubah saat ini, dan akan berubah di masa datang.

© Eric R. Wolf 1978, 1981 / Diterjemahkan oleh Dede Mulyanto / Foto: Prospect Magazine

About the Author

Related Posts

Cara Produksi Berbekal perspektif sebelumnya, kini kita bisa mengkonseptualisasikan beraneka cara...

Bukan suatu kebetulan jika kaum kapitalis dan pekerja saling berhadap-hadapan sebagai penjual dan...

Antropolog di dalam Masyarakat Kapitalis Maju Di dalam perkembangan tulisan ini, saya telah ajukan...

Leave a Reply