Cara Produksi

Berbekal perspektif sebelumnya, kini kita bisa mengkonseptualisasikan beraneka cara utama manusia mengorganisasi relasi sosial produksi serta proses kerjanya. Tiap cara membentuk suatu cara produksi yaitu serangkaian relasi sosial yang terjadi secara spesifik dalam kurun sejarah tertentu. Relasi inilah yang mengarahkan kerja sosial untuk menimba energi dari alam menggunakan sarana perkakas, keterampilan, organisasi, dan pengetahuan. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, konsep ini mendorong kita untuk memahami bahwa teknik-teknik dan kerja tiap orang serta dorongan sosialnya berada dalam hubungan timbal-balik, bukan sesuatu yang terpisah.

Seberapa banyak cara artikulasi kerja dan haluan relasi sosial yang ada? Dalam tulisan Marx sendiri kita bisa menemukan sejumlah cara produksi berbeda. Cara produksi yang bersifat asali, bersahaja, dan berbasis komunitas yang dibangun dari model komunisme primitifnya Lewis H. Morgan, cara produksi perbudakan era Eropa klasik zaman antik, cara produksi Jermanik yang dianggap mencirikan masyarakat Jermanik masa-masa awal migrasinya, cara produksi Slavonik yang khas bangsa Slavia awal, cara produksi kaum tani, cara produksi feodal, cara produksi Asiatik, dan cara produksi kapitalis. Tidak semua cara-cara produksi tersebut dilandasi kriteria yang sama. Sebagian bahkan tidak pernah menjadi cara produksi utama dalam arti sesungguhnya dan hanya berperan sebagai cara produksi sampingan. Sebagian lain mewakili penambahan konseptual untuk memperbaiki interpretasi historis yang kini dinilai keliru. Meski demikian, Marx memberi kisi-kisi bagaimana ia menafsirkan konsep tersebut:

“Masyarakat borjuis adalah masyarakat paling berkembang dan merupakan organisasi produksi historis yang paling kompleks. Karena itu, kategori-kategori yang mengekspresikan hubungan, pemahaman terhadap struktur-struktur masyarakat borjuis, juga akan memberikan wawasan terhadap struktur dan hubungan produksi seluruh formasi sosial yang telah punah baik dari sisa-sisa peninggalan dan unsur-unsur pembentuknya, yang sebagian masih merupakan tinggalan tak ternilai yang tersimpan dan yang perbedaan-perbedaan kecilnya telah membangun makna eksplisit di dalamnya, dst. Anatomi manusia merupakan kunci dari anatomi kera. Titik puncak perkembangan spesies yang lebih tinggi dibanding spesies yang lebih rendah, hanya dapat dipahami apabila perkembangan yang lebih tinggi tersebut telah diketahui. Dengan demikian, perekonomian borjuis menyediakan kunci bagi ekonomi yang kuno” (Marx 1973 [1857–1858]: 105).

Cara Produksi Kapitalis

Lalu, apa yang dimaksud Marx sebagai karakteristik utama dari cara produksi kapitalis? Bagi Marx, cara produksi kapitalis mengada ketika kekayaan moneter memungkinkan pembelian tenaga kerja. Kemampuan spesifik ini bukan sifat inheren dari kekayaan sejak awal, ia berkembang secara historis, dan memerlukan hadirnya prasyarat tertentu. Tenaga kerja bukan komoditi yang diciptakan untuk ditawarkan dijual di pasar. Tenaga kerja adalah sebentuk tenaga manusia yang merupakan daya cipta dari Homo sapiens. Selama manusia dapat memperoleh dan memanfaatkan sarana-sarana produksi (perkakas, sumber daya, tanah) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya—berdasarkan pengelolaan sosial seperti apa pun—tak ada satu alasan pun yang dapat memaksa mereka menjual daya kerjanya kepada orang lain sekadar untuk makan. Jadi, agar tenaga kerja bisa ditawarkan untuk dijual, ikatan antara produsen dan sarana produksi harus dipisahkan untuk seterusnya. Hal ini berarti pengampu kekayaan harus mampu menguasai sarana-sarana produksi dan menolak akses bagi siapa pun yang ingin mengoperasikan sarana-sarana produksi tersebut, terkecuali sesuai persyaratan yang mereka buat. Sebaliknya, pihak yang ditolak aksesnya, harus datang kepada pengampu kekayaan yang kini mengontrol mereka dan melakukan penawaran dengan si pengampu kekayaan demi mendapatkan izin pengoperasian sarana-sarana produksi tersebut, untuk kemudian memperoleh upah yang memungkinkan mereka membiayai kebutuhan untuk dapat bertahan hidup.

Memang, di dalam cara produksi kapitalis, produksi menentukan distribusi. Mereka yang membatasi sarana produksi dapat juga mengatur komoditas yang dihasilkan. Mereka yang bekerja menghasilkan komoditas, harus membeli kembali komoditas tersebut dari pemilik sarana produksi. Akibatnya, sarana produksi hanya bersirkulasi di antara para pemilik kapital yang dapat menguasainya. Dengan demikian, bagaimana bentuk cara produksi mengelola kerja sosial untuk mengubah alam juga mempengaruhi bagaimana sumber daya digunakan dan diperoleh di antara para produsen dan non-produsen. Namun, sirkulasi sumber daya, termasuk pendapatan—sebagaimana yang baru-baru ini ditulis seorang antropolog berorientasi ekologis (Love 1977)—tidak sama halnya seperti cara manusia memperoleh energi. Dalam hubungan antara manusia dengan alam, justru terletak peran strategis yang mengatur cara pengalokasian kerja sosial terhadap alam.

Para pemilik kekayaan yang kini memegang kendali atas sarana produksi tentu tidak mau membayar para pekerja untuk mengoperasikan sarana produksi apabila hasil yang didapat hanya cukup untuk menutupi biaya upah pekerja. Faktanya, pekerja mengasilkan produk lebih dari yang dibutuhkan untuk menutupi biaya pemenuhan hidup mereka dalam hari kerjanya. Mereka menghasilkan surplus. Di bawah kondisi cara produksi kapitalis, surplus ini dimiliki individu-individu atau korporasi yang sarana-sarana produksinya dioperasikan pekerja. Semakin besar surplus, semakin besar pula rasio laba yang diperoleh kaum kapitalis saat mereka mengukurnya terhadap belanja pabrik, sumber daya, dan pekerja. Ada dua cara bagi kaum kapitalis untuk meningkatkan surplus ini. Pertama, dengan menjaga upah rendah atau menurunkannya ke titik terendah dalam batasan sosial dan curahan energi pekerja. Kedua, dengan meningkatkan daya hasil pekerja (produktivitas). Peningkatan produktivitas mensyaratkan perbaikan teknologi produksi. Tuntutan inilah yang terus-menerus mendorong kaum kapitalis meningkatkan akumulasi kapital dan pembaharuan teknologi. Semakin besar kapital yang mereka kuasai, semakin besar pula kemampuan mereka untuk meningkatkan produktivitas. Akibatnya akan semakin besar pula kemampuan mereka untuk mengakumulasi surplus demi perluasan produksi. Sebaliknya, semakin besar produktivitas teknologi di bawah kuasa mereka, makin besar pula kemampuan mereka dalam menghasilkan lebih banyak dan menjual dengan harga lebih rendah dibanding para pesaing mereka yang gagal berinvestasi dalam teknologi baru ataupun mereka yang bersaing dengan menambah beban produksi kepada para pekerjanya.

Cara produksi kapitalis dengan demikian menunjukkan tiga karakteristik yang saling terkait. Pertama, kaum kapitalis mengontrol sarana-sarana produksi. Kedua, pekerja tidak memiliki akses bebas terhadap sarana-sarana produksi sehingga mereka harus menjual tenaga mereka pada kaum kapitalis. Ketiga, maksimalisasi surplus yang dihasilkan pekerja dengan menggunakan sarana-sarana produksi yang dimiliki kaum kapitalis mengharuskan “akumulasi tiada henti diiringi perubahan-perubahan dalam metode produksi” (Sweezy 1942: 94; lihat juga Mandel 1972: 103-8).

Akan tetapi, karakteristik-karakteristik tersebut harus dipahami tidak hanya secara sinkronik, beroperasi setiap saat, namun juga secara historis sebagai aspek-aspek yang berkembang dari cara produksi yang mempunyai asal-usul penentu dan berkembang dari waktu ke waktu. Penekanan ini sangat penting. Kekayaan bukanlah kapital sebelum ia mengontrol sarana-sarana produksi, membeli tenaga kerja, dan memasukkannya ke dalam proses kerja, memperluas dan mulai meningkatkan surplus dengan mengintensifkan produktivitas melalui pembaharuan teknologi yang terus meningkat. Untuk mencapai hal ini, kapitalisme harus menguasai produksi, menyerbu proses produktif, dan mengubah syarat-syarat produksinya terus-menerus. Selama kekayaan tetap berada di luar proses produksi, hanya melahap produk-produk produsen utama dan menarik laba dengan menjual produk-produk tersebut, maka kekayaan itu bukan kapital. Kekayaan macam ini boleh jadi diperoleh dan digelembungkan penguasa atau saudagar, namun ia belum memasuki apa yang Marx sebut “jalan revolusioner sebenarnya”, jalan yang mempengaruhi dan mengubah sarana-sarana produksi itu sendiri (Marx 1967 [1894]: 334). Hanya ketika kekayaan telah menguasai syarat-syarat produksi dalam cara tertentulah, baru kita dapat berbicara tentang keberadaan atau dominasi cara produksi kapitalis. Karena itu, tidak ada yang namanya kapitalisme merkantilis atau kapitalisme saudagar. Yang ada hanya kekayaan merkantil. Untuk menjadi kapitalisme, maka kapitalisme harus berupa kapitalisme-dalam-produksi.

Cara produksi kapitalis sebagaimana yang dikonseptualisasi dalam konstruksi ini dengan demikian melanggengkan satu ketimpangan pokok yang terus-menerus direproduksi: ketimpangan antara mereka yang menguasai sarana produksi dengan mereka yang harus mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di saat yang sama hal ini juga menciptakan ketimpangan lanjutan, yaitu proses diferensiasi di antara pemilik sarana-sarana produksi yang menghasilkan pihak yang menang dan pihak yang kalah, serta proses lain yang juga terus berlangsung yakni pemisahan dalam angkatan kerja antara mereka yang mampu bertahan dan yang tidak. Kedua proses ini sebenarnya berkaitan, karena para pemilik kapital terus didorong mencari kolam-kolam baru pekerja patuh atau untuk mengganti pekerja degil lagi mahal dengan mesin. Dengan demikian, model Marx dapat disimpulkan sebagai seperangkat relasi unsur-unsur yang berkembang secara historis—kapital, kerja, dan mesin-mesin—yang terus menciptakan, mencipta ulang, dan memperlebar medan daya yang mengarahkan dan memaksa relasi-relasi sosial. Di antara relasi-relasi sosial yang digerakkan sejauh ini ialah pangsa pasar kerja masyarakat modern yang terus menciptakan ulang perbedaan yang tak diinginkan di antara angkatan kerja.

Cara Produksi Perupetian

Cara produksi kapitalis secara historis dierami di dalam suatu masyarakat jenis tertentu, dan menghadapi aneka rupa masyarakat lain di sepanjang jalur perluasannya. Di antaranya terdapat masyarakat yang lewat politik mengatur pengambilan surplus dari produsen utama melalui sarana politik dan militer. Marx mengkarakterisasi ciri pokok cara produksi ini sebagai berikut:

“telah terbukti bahwa di semua bentuk ketika pekerja langsung masih menjadi ‘pemilik’ sarana-sarana produksi dan syarat-syarat kerja yang diperlukan untuk produksi sarana hidupnya sendiri, hubungan kepemilikan akan hadir pula sebagai suatu hubungan langsung antara tuan dan hamba, sehingga pekerja langsung tidak merdeka; hilangnya kemerdekaan yang dapat diartikan dari sebuah perhambaan dengan kerja paksa menjadi sekedar hubungan perupetian belaka. Menurut pengandaian kami, produsen langsung yang ada di sini menguasai sarana-sarana produksi sendiri, syarat-syarat material kerja yang diperlukan untuk realisasi kerjanya, dan produksi atas sarana hidupnya. Mereka menjalankan kegiatan pertanian dan industri-industri rumahan perdesaan yang terkait dengannya secara mandiri… Di bawah keadaan semacam ini kerja-lebih bagi pemilik nominal atas lahan hanya dapat diperas dari mereka dengan tekanan selain tekanan ekonomi apa pun bentuk yang diandaikannya” (Marx 1967 [1894]: 790-91).

Dengan kata lain, di bawah kondisi seperti ini kerja sosial untuk mengubah alam digerakkan dan dilakukan terutama lewat proses politik yang menggunakan sarana kekerasan dan dominasi. Oleh karena itu, dalam cara produksi yang seperti ini kerja sosial menjadi suatu fungsi dari medan kekuasaan politik, dan akan berbeda pula hasilnya bila medan kekuasaannya bergeser.

Pergeseran diferensial dalam persebaran kekuasaaan yang tidak merata ini dapat dibayangkan dengan menggambarkan dua pilihan situasi. Pertama, situasi ketika kekuasaan begitu kuat terpusat di tangan elite penguasa yang berdiri di tampuk sistem kekuasaan. Kedua, situasi yang di dalamnya sebagian besar kekuasaan berada di tangan para penguasa lokal sedang tampuk kekuasaannya rapuh dan lemah.

Kedua situasi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan beroperasi pada suatu rangkaian distribusi kekuasaan. Jelas bahwa kaum elite penguasa pengambil surplus yang berdiri di tampuk sistem kekuasaan akan menjadi yang terkuat saat mereka mengendalikan beberapa unsur strategis dalam proses produksi seperti sistem irigasi (Wittfogel 1957), dan beberapa unsur kekerasan strategis, seperti tentara profesional dengan kecakapan militer yang superior. Dengan ini para penguasa akan mampu menebar para pengumpul-upeti tanpa memerlukan bantuan para penguasa lokal. Mereka akan merenggangkan cengkeraman penguasa lokal atas sumber-sumber daya, dan dengan demikian juga terhadap para penghasil utama surplus, serta mereka akan menjadikan para produsen utama surplus itu bergantung pada pendapatan dari penguasa ketimbang memberi kesempatan pada mereka memperoleh surplus sendiri. Jika para penguasa berhasil dengan strategi ini, maka mereka dapat menyebabkan para penguasa lokal saling berkelahi memperebutkan posisi hak istimewa terhadap sumber-sumber pendapatan. Para elite penguasa ini juga akan dapat membatasi akses para pedagang ke produsen utama melalui kontrol investasi di perdesaan serta mencegah mereka membiayai para penguasa lokal yang berpotensi memberontak atas nama mereka sendiri. Pada akhirnya, kekuasaan pusat yang kuat itu akan berhasil tumbuh untuk menghambat atau membatasi organisasi-organisasi ‘akar rumput’ yang bersifat lintas daerah, baik itu berupa gilda-gilda, kelompok-kelompok sestatus, perserikatan-perserikatan, atau pun sekte-sekte keagamaan. Di saat bersamaan, kekuasaan pusat yang kuat seringkali didukung golongan petani penghasil surplus, karena penguasa pusat dan golongan petani terhubung karena ketidaksukaan yang sama terhadap para makelar pemegang kekuasaan dan pengumpul surplus.

Kekuasaan pusat sebaliknya akan melemah dan pemegang kekuasaan lokal menjadi kuat ketika unsur-unsur strategis produksi beserta sarana kekerasan ada di tangan pengumpul surplus lokal. Dalam kondisi tersebut, para penguasa lokal dapat menahan aliran upeti ke pusat, mempererat cengkeraman mereka atas tanah dan penduduk yang mengolahnya, serta memasuki perserikatan lokal atau regional. Hanya saja, perserikatan lokal semacam itu kerap ditujukan bukan hanya untuk melawan pusat namun juga melawan anggota-anggota kelas pemegang kekuasaan lokal lain yang mengakibatkan perjuangan faksional merebak di seluruh wilayah perdesaan dan melemahkan posisi kelas mereka sendiri akibat perseteruan internal. Perjuangan-perjuangan faksional karenanya memungkinkan kaum elite di pusat untuk bertahan dengan siasat “pecah dan kuasai“. Secara paradoks, perseteruan internal juga memperlemah posisi produsen utama, karena mereka harus mencari pelindung-pelindung dari kerusuhan serta ancaman pihak lain dalam situasi tiadanya kendali pusat yang kuat.

Dalam arti luas, kedua situasi yang saya lukiskan masing-masing terkait dengan konsep Marxian ihwal cara produksi ‘Asiatik’ dan ‘feodal’. Kedua situasi tersebut biasanya diperlakukan sebagai dua kutub yang selamanya bertentangan. Istilah yang satu biasanya oleh kaum Marxis ditujukan pada Asia, dan istilah lainnya pada Eropa. Akan tetapi, bentang paparan terdahulu telah memperjelas bahwa kita lebih berurusan dengan ragam hasil persaingan antara kelas-kelas bukan produsen demi tampuk kekuasaan. Sejauh hasil-hasil yang beragam tersebut seluruhnya berjangkar di dalam mekanisme-mekanisme pemaksaan “selain tekanan ekonomi“, segera mereka menunjukkan kemiripan (Töpfer 1965; Vasiliev dan Stuchevskii 1967). Kemiripan ini dirangkum dengan sangat baik oleh istilah bersama yang diajukan Samir Amin (1972) yaitu ‘cara produksi perupetian’. Reifikasi ‘feodalisme’ menjadi cara produksi terpisah hanya mengubah babak singkat sejarah Eropa menjadi kasus umum yang menjadi tolak ukur semua gejala “mirip-feodal” lainnya. Konsep cara produksi Asiatik, yang ditandai penguasaan birokrasi negara terpusat terhadap komunitas-komunitas perdesaan dari kaum tani yang lemah, akibatnya mengalami pembacaan sejarah Asia yang ideologis dan ahistoris. Di ‘Barat’ lazim halnya mempertentangkan kebebasan Barat dengan despotisme Timur, baik itu pertentangan buatan Herodotus yang mengacu pada negara-kota Yunani dalam perjuangannya melawan Persia, ataupun buatan Montaigne dan Voltaire yang mempertentangkan masyarakat-masyarakat berdasarkan kontrak sosial terhadap masyarakat-masyarakat yang dicirikan penindasan skala luas di bawah hukum despotik.

Penggunaan konsep ‘cara produksi perupetian’ memungkinkan kita membatasi faktor-faktor politis yang membedakan satu situasi dari yang lain. Misalnya Tiongkok kuno, yang memiliki komponen hidrolik terpusat kuat, sangat jelas mewakili kasus hubungan ‘perupetian’ yang berbeda dengan India, yang bergantung pada sistem irigasi dengan waduk kecil yang tersebar, atau Iran, dengan irigasi melalui sumur bawah tanah dan kanal-kanal. Lebih jauh, negara-negara ‘Asiatik’ yang kuat tersentralisasi seringkali pecah menjadi oligopoli politis yang menyerupai ‘feodalisme’, atau bahkan lebih ‘feodal’ dengan kontrol yang tersebar di tangan para penguasa lokal serta tuan tanah yang menghasilkan konsentrasi dan sentralisasi kekuasaan dari masa ke masa. Dengan mereifikasi tahap-tahap lemah negara-negara Sassanid, Bizantium, atau Dinasti T’ang di Tiongkok menjadi cara produksi ‘mirip-feodal’, atau menggolongkan tahap-tahap kuat dari negara di dinasti-dinasti tersebut ke dalam cara produksi ‘Asiatik’ sebenarnya kita telah keliru memisahkan suatu cara produksi yang sebetulnya saling berkesinambungan.

Jika hal ini benar, maka cara produksi perupetian bergantung pada kuat atau lemahnya organisasi kekuasaan di suatu negara tertentu. Ini berarti bahwa operasinya sebagian bergantung pada perimbangan kekuatan negara satu dengan negara lain dan konstelasi-konstelasi sosialnya. Pergeseran kekuasaan negara di Afrika Utara dan di Asia Barat, tengah dan timur, contohnya, sangat erat berhubungan dengan ekspansi militer dan politis, susutnya populasi perdesaan, maupun dengan meluas atau menyempitnya perdagangan melalui darat. Jika benar bahwa cara-cara produksi non-kapitalis berkelas tergantung pada “sarana selain ekonomi” untuk mengekstraksi surplus, maka keberhasilan ekstraksi atas surplus semacam itu tidak dapat dipahami dalam konteks ‘masyarakat’ terpencil saja, tapi juga karena peran berubahnya medan organisasi kekuasaan yang lebih luas.

Medan politik dan ekonomi yang dimaksud, biasanya diidentifikasikan sebagai ‘peradaban’, atau wilayah-wilayah interaksi kebudayaan yang berporos pada beberapa formasi utama cara produksi perupetian di dalamnya. Biasanya, inilah model ideologis yang dibawa kaum elite pusat pengambil surplus yang lantas ditiru kaum elite lainnya di dalam orbit interaksi ekonomi-politik yang lebih luas. Meskipun satu model dapat menjadi dominan dalam orbit tertentu, sebagaimana halnya dengan model Konfusian yang dibawa kalangan bangsawan-pelajar di Tiongkok, orbit peradaban biasanya merupakan arena tempat sejumlah arus model kebudayan bersaing atau bersandingan. Model-model ideologis ini memiliki sejumlah ciri umum yang mengandung sejumlah masalah ketimpangan. Model ideologis yang sepadan dengan cara produksi perupetian umumnya merupakan representasi hierarkis akan semesta yang di situ tatanan adikodrati dominan bekerja melalui pemegang kekuasaan superior yang menyerap kemanusiaan sebagai bagian darinya. Di saat yang sama, model tersebut mengganti relasi nyata antara pengambil surplus yang berkuasa dengan produsen yang dikuasai menjadi relasi idelogis antara dewa superior dan ‘subjek’ inferior (lihat Feuchtwang 1975). Masalah kekuasaan publik lantas ditransformasikan menjadi masalah moralitas pribadi, dan ‘subjek’ diajak untuk memperoleh penghargaan lewat cara mempertahankan tatanan melalui regulasi yang didasarkan atas tingkah lakunya sendiri. Penyulihan ini mengandung kontradiksi. Jika kekuasaan publik goyah dan keadilan tidak tercapai, maka ikatan yang menautkan subjek dengan yang adikodrati juga akan dipertanyakan. Penguasa kehilangan legitimasi, mandat dari Surga dapat beralih ke pihak lawan, atau rakyat dengan tuntutan moralitas pribadinya akan mulai melawan mediasi aparat pemerintah. Argumen yang diajukan akan berhadapan dengan sangkut paut antara ‘subjek’ dan yang supernatural, bukan dengan sifat dominasi duniawi yang berpijak pada faktor ‘selain sarana-sarana ekonomi’.

Cara Produksi Berlandas-Kekerabatan

Untuk menyusun cara produksi ketiga, dibutuhkan pengetahuan ihwal apa sesungguhnya kekerabatan itu. Secara empiris, kebanyakan populasi bervariasi dalam sebaran dan kerapatan kekerabatannya. Sebagian orang tampaknya memiliki ‘banyak’, sementara yang lainnya ‘sedikit’. Kesamaan tempat tinggal seringkali lebih penting artinya ketimbang posisi genealogis. Gugus tugas terdiri dari bukan-kerabat maupun para saudara. Di antara sebagian populasi, kekerabatan terutama mengatur keturunan dan perkawinan, dan hanya merupakan satu unsur penata di antara penata-penata lain. Dalam populasi lain, kekerabatan merambah luas dan melibatkan kewajiban-kewajiban hukum dan politik, sebagaimana pula aspek-aspek ekologis, ekonomis, dan organisasional.

Namun demikian, mengenali berbagai varisasi tersebut sekadar menempatkan kita pada tingkat mendefinisikan apa yang dilakukan kekerabatan, bukan arti kekerabatan itu sendiri. Meskipun para antropolog ingin dikedepankan di atas disiplin lain karena mereka ‘menyelidiki’ kekerabatan, sebenarnya mereka belum sependapat pada apa sebenarnya kekerabatan itu. Beberapa melihatnya hanya sebatas urusan seks dan prokreasi, sementara yang lain memahaminya sebagai ‘ungkapan’ untuk mendiskusikan urusan-urusan sosial, ekonomi, politik, dan lainnya. Sebagian lagi, memandang kekerabatan sebagai sesuatu yang simbolis, yang muncul dari konstruksi sosial. Saya tidak akan mencoba menyelesaikan perbedaan-perbedaan tersebut, namun mengarahkan pembaca pada perkembangan kepustakaan persoalan ini (lihat Schneider 1972) dan menegaskan pandangan saya bahwa kekerabatan adalah suatu cara pengerahan kerja sosial untuk mentransformasikan alam melalui ‘keturunan’, ‘perkawinan’, atau ‘pertalian darah’, atau ‘ikatan periparan’. Secara sederhana, kerja sosial di sini ‘terkunci’ di dalam relasi tertentu antar orang. Kerja sosial hanya dapat dikerahkan melalui akses pada orang, yang aksesnya dibatasi secara simbolis. Apa yang telah dilakukan, membuka kunci kerja sosial. Bagaimana hal itu dilakukan melibatkan definisi ‘emik’ para kerabat dan ipar. Dengan demikian kekerabatan melibatkan konstruksi simbolis yang menempatkan para pelaku ke dalam relasi sosial yang memungkinkan mereka meminta bagian dari kerja sosial pihak lain sehingga mempengaruhi transformasi atas alam yang diperlukan.

Sebagai antropolog, kita mengakui bahwa berbagai populasi berbeda dalam derajat ketergantungan mereka pada konstruksi simbolis lingkup sempit (‘keturunan’/‘perkawinan’), sebagai kebalikan dari lingkup luas (‘pertalian darah’/‘periparan’). Kita tahu bahwa di antara sebagian orang hak terhadap orang lainnya diperluas hingga sesuatu yang mirip-jaringan dari para pelaku tertentu atau ‘ego-ego’, sedangkan di antara sebagian orang lainnya, hak mengklaim bagian kerja sosial diperluas melampaui rujukan biologis primer untuk mengatur hubungan-hubungan legal/politik di antara kelompok.

Dalam kasus pertama konstruksi simbolis kekerabatan hanya menjelaskan siapa yang memiliki akses terhadap siapa, sementara dalam kasus kedua, konstruksi simbolis kekerabatan melibatkan pembedaan di antara kelompok-kelompok silsilah dalam hubungannya dengan ‘tanah milik’. Dari sisi yang agak berbeda, ketika konstruksi-konstruksi simbolis taksiran sempit mendominasi, klaim terhadap kerja sosial dan ruas-ruas alam tetap ‘terbuka’ atau secara potensial dapat diperluas. Ketika konstruksi simbolis taksiran luas dimunculkan, mereka membatasi siapa yang memiliki akses terhadap bagian siapa dari kerja sosial terhadap penuntut lain yang mungkin muncul, demikian pula halnya dengan siapa yang memiliki izin untuk mengolah alam terhadap pihak pengolah alam lainnya. Mengapa keturunan ‘alih-alih lokalitas atau prinsip-prinsip lainnya membentuk basis kelompok korporat semacam itu’ adalah, sebagaimana dikatakan oleh Meyer Fortes , ‘sebuah pertanyaan yang perlu dikaji lebih jauh lagi’ (Fortes 1953: 30).

Ketika konstruksi-konstruksi simbolis kekerabatan kemudian ‘diperluas’, kita menemukan bahwa relasi antara produsen kerja sosial dan pengolah alam terstruktur secara monopolistik atau oligopolistik. Mereka mengizinkan atau melarang akses terhadap barang-barang strategis. Mereka mengatur pertukaran orang dalam kelompok melalui perkawinan atau penggadaian (Douglas, 1964), mengubah perkawinan menjadi aliansi atau penyelesaian hutang berjumlah besar. Pertukaran-pertukaran tersebut jelas-jelas politis. Lebih jauh lagi, piagam-piagam simbolik kekerabatan menyediakan landasan bagi ketimpangan distribusi peran manajerial di dalam medan hukum dan politik, apakah itu pembedaan antara tetua dan junior, senior dan kadet, atau anggota-anggota garis berpangkat tinggi dan berpangkat rendah.

Kecenderungan untuk menghidupkan pertentangan eksternal berhadap-hadapan kelompok lain seiring sejalan dengan pelipatgandaan pertentangan internal. Pertama, kita menemukan pertentangan antara laki-laki dan perempuan. Sejumlah keseimbangan saling melengkapi antar peran-peran gender mungkin dapat dipertahankan selama kekerabatan hanya satu unsur penata di dalam konteks keterbukaan sumberdaya. Akan tetapi, dengan munculnya kelompok-kelompok sesilsilah di dalam ranah politik, relasi periparan menjadi relasi politik, dan perempuan kehilangan status dalam relasinya dengan laki-laki ketika mereka menjadi mata uang aliansi. Terdapat pula pertentangan antara tetua dan junior, dengan tetua berposisi khusus sebagai pemegang perintah manajerial di dalam dan di luar kelompok. Sebagian junior mungkin akan menjadi senior dan menggantikan posisi para tetua, namun sebagian yang lain tidak akan berhasil menduduki posisi penting apapun. Kita tahu bahwa pertentangan demikian dapat memicu konflik terbuka. Secara etnografis, kita dapat merujuk pada pemberontakan ‘anak muda’ terhadap para tetua mereka dalam transisi dari kehidupan desa-desa menetap ke kehidupan perburuan berkuda di Great Plains (Holder 1970) dan pada formasi quilombo perburuan budak bukan-kerabat di Angola (Miller 1975).

Akhirnya, pemeringkatan internal menciptakan pertentangan antara pribumi dan pendatang, antara garis-garis keturunan junior dan senior dari leluhur yang sama, dan tentu saja antara garis-garis yang terus meningkat dengan garis yang jatuh pamornya. Pertentangan ini dapat bersumber dari peningkatan atau keruntuhan demografis, dari keberhasilan atau kegagalan manajemen atas aliansi, orang, atau sumberdaya; dari berhasil atau gagalnya dalam peperangan. Naik turunnya hal-hal tersebut tampaknya senantiasa hadir dan selalu efektif dalam memperparah pertentangan-pertentangan ke dalam bentuk ketegangan, konflik, dan keruntuhan.

Lalu, bagaimana unit-unit tersebut dapat padu dari waktu ke waktu? Bagaimana solidaritas sosial menjadi mungkin? Jawabannya adalah tidak mungkin, atau setidaknya tidak untuk waktu yang lama. Cara produksi berlandas-kekerabatan dapat menghidupi diri sendiri hanya dalam konteks tiadanya mekanisme apa pun yang dapat mengumpulkan atau memobilisasi kerja sosial terpisah dari hubungan-hubungan tertentu yang ditegakkan kekerabatan. Selain itu, adalah hal umum bagi oposisi internal tampil terutama di dalam mitos dan ritual, bukan pada tingkat ‘kenyataan sehari-hari’. Dalam kenyataan sehari-hari, oposisi-oposisi yang dimainkan senantiasa bersifat pribadi, persinggungan tetua tertentu dengan junior tertentu pada ruang dan waktu tertentu pula, bukan oposisi umum tetua dan junior sebagai anggota-anggota kelas. Di dalam kehidupan sehari-hari cara produksi berlandas-kekerabatan meregenerasi diri dan pertentangan-pertentangannya dengan mempersonalkan tekanan-tekanan dan konflik-konflik.

Secara paradoks, proses oposisi bekerja dalam ranah mitos dan ritual ketika pertentangan-pertentangan penuh bahaya dalam kehidupan sehari-hari dimainkan dan diuraikan pada tingkat yang umum dan universal. Kini mereka terhubung pada pesan cara-cara yang membuat keumuman ini berjangkar pada kodrat semesta. Jika ada penjelasan yang ditawarkan, ia akan mengambil bentuk varietas-varietas yang universal.

Namun demikian, penyelesaian konflik baik pada tingkat umum maupun khusus, pada akhirnya harus menghadapi batas-batasnya di dalam ketidakmampuan cara produksi berlandas-kekerabatan menyelesaikan masalah-masalah struktural. Penyelesaian konflik hanya dengan pembubaran dan pembelahan, dan tidak mengejutkan apabila hal tersebut tidak hanya sering terjadi tetapi—dalam kenyataannya—merupakan sumber-sumber penting perubahan. Hanya dengan mempertahankan suatu fiksi kekekalan sajian etnografis seseorang dapat menggambarkan pembubaran dan pembelahan sebagai proses tiada henti pembentukan ulang tatanan yang sama dari waktu ke waktu. Fenomena kelangkaan ekologis sebagaimana dikemukakan Napoleon Chagnon (1968)—keterkepungan suatu populasi oleh tetangga-tetangganya—atau persinggungan dengan masyarakat-masyarakat perupetian atau kapitalis membuat tiruannya tak mungkin sekarang ini, dan mereka bisa jadi sudah mengalami hal tersebut di dalam jangka waktu lama.

Berbeda dengan pengkaji lain yang melihat masyarakat yang dibangun dalam cara produksi berlandas-kekerabatan sebagai egalitarian, saya berargumen bahwa mereka penuh dengan ketimpangan riil dan akibatnya dilanda banyak ketegangan. Mereka mencoba mengatasi konflik dengan mengasingkannya, menggeneralisasikan dan meletakkannya ke dalam yang supernatural, atau dengan membubarkan dan memecahnya. Tidak seperti masyarakat perupetian dan kapitalis, mereka kurang mampu menghimpun dan menuntun kerja sosial terpisah dari hubungan pribadi, dan karenanya juga kekurangan sarana untuk mengikat masyarakat dengan memakai kekerasan internal dan eksternal yang menjamin dominasi kelas dan kontradiksi.

Ringkasan

Dalam makalah ini, di awal saya sajikan dasar rasional untuk memperkenalkan konsep cara produksi dan kemudian mencoba menggambarkan tiga di antaranya, cara-cara yang berbeda dalam pengerahan kerja sosial untuk mengubah alam dan mereproduksi relasi-relasi sosial yang mengatur pengerahan tersebut. Dalam penjabarannya, saya mengangkat masalah ketimpangan bukan sebagai gejala unik dalam dirinya sendiri namun sebagai ikutan dari bekerjanya cara-cara produksi penentu. Tersirat dalam pendekatan ini adalah bahwa relasi sosial yang tampak, termasuk ketimpangan, diakibatkan relasi-relasi yang bekerja pada tingkat lebih mendasar. Masing-masing cara produksi memperlihatkan suatu kausalitas struktural atau dinamika yang terus-menerus menciptakan dan mencipta ulang relasi pokok ketimpangan sosial, yang di atasnya ketimpangan lain kemudian berdiri.

Dalam upaya ini, saya telah membahas ketiga cara produksi secara terpisah. Hal ini hanya mewakili perkiraan awal. Dalam ruang dan waktu yang riil, kita temukan masyarakat-masyarakat tertentu yang meliputi dan menggabungkan ketiga cara produksi ini dalam bentuk-bentuk berbeda baik secara historis maupun geografis. Selain itu, mereka melakukan hal demikian di dalam interaksi atau konflik satu sama lain. Di dunia yang dikaji para antropolog, beberapa dari masalah-masalah paling menarik berkenaan dengan cara-cara ketika ekspansi satu cara produksi bisa memperkuat atau menggeser ketimpangan cara produksi yang lain.

Daftar Pustaka

Althusser, L., dan Balibar, E. (1970) Reading Capital. New York: Pantheon Books.
Amin, S. (1972) “Underdevelopment and Dependence in Black Africa: Origins and Contemporary Forms”, Journal of Modern African Studies 10: 503-24.
Berreman, G.D. (1981) “Social Inequality: A Cross-Cultural Analysis” dalam G.D. Berreman (ed.), Social Inequality: Comparative and Developmental Approaches, 3-40. New York: Academic Press.
Bishop, C.A., and Ray, A.J. (eds.) (1976) “The Fur Trade and Culture Change: Resources and Methods”, Western Canadian Journal of Anthropology 6 (1): special issue.
Chagnon, N.A. (1968) “The Culture-Ecology of Shifting (Pioneering) Cultivation among the YanomamoÈ Indians”, Proceedings, VIII-th International Congress of Anthropological and Ethnological Sciences 3: 249-55.
Coquery-Vidrovitch, C. (1969) “Recherche sur un mode de production africain”, La Pensée, no. 144, 61-78.
Diamond, S. (1974) In Search of the Primitive: A Critique of Civilization. New Brunswick, N.J.: Transaction Books.
Douglas, M. (1964) “Matriliny and Pawnship in Central Africa”, Africa 34: 301-13.
Feuchtwang, S. (1975) “Investigating Religion”, dalam Maurice Bloch (ed.) Marxist Analysis and Social Anthropology, 61-82. Association of Social Anthropologists Studies, 2. London: Malaby Press.
Fortes, M. (1953) “The Structure of Unilineal Descent Groups”, American Anthropologist 55: 17-41.
Godelier, M. (1970) “Preface”, dalam M. Godelier, Sur les sociétés pré-capitalistes, 13-142. Paris: Editions Sociales.
Godelier, M. (1973) Perspectives in Marxist Anthropology. Translated by Robert Brain. Cambridge, England: Cambridge University Press.
Godelier, M. (1977) Perspectives in Marxist Anthropology. Cambridge Studies in Social Anthropology, 18. Cambridge, England: Cambridge University Press.
Godelier, M. (1982) La Production des grands hommes: Pouvoir et domination masculine chez les Baruya de Nouvelle-Guinée. Paris: Fayard.
Holder, P. (1970) The Hoe and the Horse on the Plains. Lincoln: University of Nebraska Press.
Kolakowski, L. (1969) The Alienation of Reason: A History of Positivist Thought. New York: Anchor Books.
Lévi-Strauss, C. (1964) Le Cru et le cuit. Paris: Plon.
Love, T.F. (1977) “Ecological Niche Theory in Sociocultural Anthropology: A Conceptual Framework and an Application”, American Ethnologist 4: 27-41.
Mandel, E. (1972) Der Spätkapitalismus: Versuch einer marxistischen Erklärung. Frankfurt am Main: Suhrkamp.
Marx, Karl. (1923 [1867]). Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie. Vol. 1. disunting Karl Kautsky. Berlin: Dietz.
Marx, K. (1946 [1867]) Capital. Vol. 1. Diterjemahkan Eden dan Cedar Paul. London: Dent.
Marx, K. (1967 [1894]) Capital: A Critique of Political Economy. Vol. 3. Disunting Friedrich Engels. Diterjemahkan Ernest Untermann. New York: International Publishers.
Marx, K. (1973 [1857-1858]) Grundrisse: Foundations of the Critique of Political Economy (Rough Draft). diterjemahkan Martin Nicolaus. London: Allen Lane.
Meillassoux, C. (1960) ‘Essai d’interprétation du phénomène economique dans les sociétés traditionnelles d’auto-subsistance’, Cah. Et. Afric., 4, 1960: 38-67.
Meillassoux, C. (1967) ‘Recherche d’un niveau de détermination dans la sociétés cynégétique’, L’Homme et la Société, 6, Oct.-Dec., 95-106.
Miller, J.C. 1975. Kings and Kinsmen: Early Mbundu States in Angola. London: Oxford University Press.
Ranger, T.O. (ed.) (1968) Emerging Themes of African History: Proceedings, International Congress of African Historians, University College, Dar-es-Salaam.
Ranger, T.O., dan Kimambo, I.N. (eds.) (1972) The Historical Study of African Religion. Berkeley: University of California Press.
Sahlins, M.D. (1972) Stone Age Economics. Chicago: Aldine-Atherton.
Schneider, D.M. (1972) “What Is Kinship All About?” dalam P. Reining (ed.), Kinship Studies in the Morgan Centennial Year, 32-63. Washington, D.C.: Anthropological Society of Washington.
Sweezy, P.M. (1942) The Theory of Capitalist Development. New York: Oxford University Press.
Taussig, M. (1977) “The Genesis of Capitalism amongst a South American Peasantry: Devil’s Labor and the Baptism of Money”, Comparative Studies in Society and History 19: 130-55.
Terray, E. (1969). Le Marxisme devant les sociétés “primitives”. Paris: Maspero.
Töpfer, B. (1965) “Zu einigen Grundfragen des Feudalismus: Ein Diskussionsbeitrag”, Zeitschrift für Geschichtswissenschaft 13: 785-809.
Tökei, F. (1966) Sur le mode de production asiatique. Budapest: Akademiai Kiado.
Vasiliev, L.S., dan Stuchevskii, I.A. (1967) “Three Models for the Origin and Evolution of Precapitalist Societies”, Soviet Review: A Journal of Translations 8: 26-39.
Wasserstrom, R. (1977) “Land and Labour in Central Chiapas: A Regional Analysis”, Development and Change 8: 441±63.
Wittfogel, K.A. (1931) Wirtschaft und Gesellschaft Chinas. Part 1, Produktivkräfte, Produkts- und Zirkulations-Prozess. Schriften des Instituts fürSozialforschung an der Universität Frankfurt am Main, 3. Leipzig: C. L. Hirschfeld.
Wittfogel, K.A. (1957) Oriental Despotism: A Comparative Study of Total Power. New Haven, Conn.: Yale University Press.

© Eric R. Wolf 1978, 1981 / Diterjemahkan oleh Dede Mulyanto / Foto: SG

About the Author

Related Posts

Metode Marx Jamaknya kesulitan dalam penerapan metode Marx lahir dari betapa berkebalikannya metode...

Bukan suatu kebetulan jika kaum kapitalis dan pekerja saling berhadap-hadapan sebagai penjual dan...

Antropolog di dalam Masyarakat Kapitalis Maju Di dalam perkembangan tulisan ini, saya telah ajukan...

Leave a Reply