Setiap barang yang memiliki kegunaan tertentu, misalnya kertas, besi, kue, dan sebagainya dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yakni kualitas dan kuantitas. Kegunaan suatu barang membuatnya memiliki nilai guna. Nilai guna dikondisikan oleh kualitas fisik dari suatu barang yang tidak dapat dipisahkan. Ketika menyelidiki nilai guna suatu barang, kita selalu mengasumsikan kuantitas tertentu. Misalnya enam potong kue. Dengan demikian setiap barang mengandung dua bentuk watak: kualitas dan kuantitas. Dalam wujud komoditinya barang memiliki nilai guna dan nilai. Adapun yang terakhir dipantulkan ke permukaan menjadi nilai tukar. Mari kita selidiki satu per satu.

Nilai guna merupakan kapasitas yang terkandung pada suatu ciptaan manusia untuk memuaskan kebutuhan tertentu manusia. Sehingga ciri dari nilai guna sangat subjektif dan bergantung pada relasi dan konteks sosialnya. Misalnya, kotoran kerbau yang memiliki nilai guna bagi orang-orang suku Sasak sebegai pembersih lantai rumah dan pengusir nyamuk, namun kotoran kerbau tidak memiliki nilai guna yang sama bagi masyarakat perkotaan di Jakarta. Di tempat lain di kecamatan Parongpong, Bandung Barat kotoran kerbau memiliki nilai guna sebagai Bio-Gas. Contoh lain, di Tiongkok, penduduk mengenal nilai guna monyet untuk dimakan otaknya, bagi penduduk Indonesia umumnya monyet tidak memiliki nilai guna untuk dimakan, melainkan untuk atraksi doger monyet di persimpangan lampu merah.

Begitupun nilai guna dari rumah untuk hunian tetap pada masyarakat modern, tidak memiliki nilai guna bagi para musafir yang hidup mengembara. Begitu pula, jasa penerbangan bagi penduduk dunia sebelum abad ke-20 belum menjadi komoditi, karena Wright bersaudara belum menciptakan pesawat sehingga nilai guna pesawat belum dikenal siapapun. Atau pada orang-orang Mbuti di Kongo yang tidak mengenal nilai guna dari Bungee Jumping, karena relasi sosialnya belum menciptakan suatu pemuasan nilai guna akan hal tersebut. Dengan kata lain, nilai guna dapat berbeda-beda dalam masyarakat yang berbeda pula kebudayaannya. Pun nilai guna muncul ketika waktu tertentu dan tidak akan memiliki nilai guna pada waktu sebelum nilai gunanya diciptakan. Nilai guna bukanlah karena bentuk-bentuknya (barang/jasa), melainkan latar belakang konstruksi sosial yang membentuk nilai guna pada barang tersebut. Karena, setiap nilai guna hanya muncul dan dimiliki oleh kehidupan sosial masyarakat manusia tertentu.

Selain nilai guna, syarat agar menjadi komoditi, nilai guna barang harus dapat dipertukarkan. Itulah nilai tukar. Nilai tukar merupakan kapasitas pada barang supaya dapat dipertukarkan dengan barang lainnya yang memiliki nilai guna berbeda. Sebagai nilai tukar, pertukaran antara kacang panjang dengan wiski; barbel dengan peluit; majalah porno dengan Das Kapital; atau batu obsidian dengan kuku dari Patih Gajah Mada; dan sebagainya dimungkinkan. Dalam masyarakat pra-kapitalis nilai tukar adalah apa yang dipahami sebagai barter. Dalam masyarakat dengan corak produksi kapitalis, nilai tukar diekspresikan lewat harga. Harga mensyaratkan adanya suatu ekspresi universal dari nilai tukar, yang tak lain adalah uang. Uang dengan demikian merupakan bentuk lanjut dari pertukaran antar nilai guna.

Lalu pertanyaanya, dalam kehidupan sehari-hari apa yang mendasari adanya pertukaran antara sejumlah kacang panjang dengan wiski?. Bagaimana agar pertukaran tersebut saling disepakati?. Adalah kerja sejarah atau konvensi sosial terhadap standar pengukuran kuantitas dari suatu objek yang memiliki nilai guna tertentu. Inilah dimensi relasi sosial yang memungkinkan adanya situasi pertukaran nilai guna pada masyarakat yang memiliki pembagian kerja di dalamnya. Sebagai contoh, mustahil jika seorang pekerja hendak mempertukarkan sejumlah upah kerja yang ditabungnya dengan jaminan kehidupan setelah mati, karena keduanya jelaslah hal yang berbeda (duniawi dan non-duniawi) yang tidak punya relasi antara satu dengan lainnya. Sehingga nilai tukar pun harus memiliki relasi sosial. Misalnya, sejumlah gabah pak tani dengan palawija; sejumlah ikan dengan kentang; sejumlah akses pendidikan dengan sayur-mayur, sejumlah garam dengan kain tenun penduduk Baduy-luar; sejumlah jabatan dengan mobil kijang jantan; dan sebagainya.

Nilai tukar hanya mungkin muncul melalui pertukaran antar nilai guna yang berbeda. Demikian, ketika sekian nilai guna dipertukarkan dengan sekian nilai guna yang lain, nilai guna tersebut sebenarnya sedang berhadapan dengan pantulan nilai dari dirinya lewat perantara pertukaran. Sederhananya, pertukaran harus hadir dengan yang bukan dirinya (A ≠ A) sebagai pantulan atas nilai dari suatu nilai guna tertentu yang dipertukarkan. Misalnya, satu buah Smartphone keluaran terbaru yang dipertukarkan seorang mahasiswa dengan empat buah buku impor, maka terdapatlah nilai tukar. Untuk memudahkan dirumuskan menjadi: S = 4B (S = Smartphone dan B = Buku).

Perlu diperhatikan bahwa nilai suatu komoditi tidak akan muncul ketika tidak dipertukarkan, tidak dipantulkan atau tidak direlasikan dengan komoditi yang lain. Misalnya “S = … ” [tidak dengan apapun], maka S tidak memiliki nilai. Pun ketika sesuatu yang dipertukarkan dengan sesuatu yang sama, tidak akan memunculkan nilai apa-apa. Misalnya satu buah Smartphone yang dipertukarkan dengan satu buah Smartphone yang sama (S = S) tidak akan memunculkan nilai apapun, karena tidak mempunyai perbedaan nilai guna sebagai syarat adanya nilai tukar. Dengan begitu, nilai guna harus dipertukarkan lebih dulu agar mengetahui nilai komoditi (misalnya, S = 4B). Itu berarti bahwa satu buah Smartphone (C) bernilai 4 buah buku (4B); berarti juga bahwa 2 buah buku bernilai dengan ½ nilai sebuah Smartphone (2B = ½S).

Adam Smith dan David Ricardo memahami komoditi hanya sampai pada nilai guna dan nilai tukar. Sehingga, jika ingin mengetahui suatu nilai komoditi, bagi Smith & Ricardo, hanya cukup pada nilai tukar yang diketahui lewat adanya pertukaran antar nilai guna (misalnya, bahwa S bernilai 4B; A bernilai 2B; 5W bernilai 3D; 4X bernilai Y, dst). Artinya, nilai komoditi hanya muncul ketika adanya pertukaran.

Pertanyaannya, bagaimana agar pertukaran tersebut menjadi setara? Bagaimana agar dapat mengetahui patokan nilai komoditi yang satu dan patokan nilai komoditi yang lainnya sehingga dapat dipertukarkan? Bagaimana agar terciptanya keseukuran dalam nilai tukar? karena, suatu nilai tukar tidak mungkin terjadi sebatas karena ada relasi kekerabatan, relasi sukarela, atau relasi permintaan dan penawaran sehingga hal tersebut jelas bukan komoditi. Ataukah nilai tukar demikian didasarkan atas sifatnya yang manasuka?. Adam Smith dan David Ricardo tidak bisa menjawabnya.

Berbeda dengan keduanya, Marx tidaklah puas sampai pada penjelasan soal nilai guna dan nilai tukar, ia menambahkan konsep penjelas, yakni nilai. Bahwa untuk mengetahui nilai “S” yang dimunculkan lewat pertukarannya bernilai “4B”, pertama-tama “S” sendiri harus sudah mempunyai suatu nilai tertentu sebelum dipertukarkan. Yakni syarat bagi kesetaraan dan keseukuran untuk dipertukarkan, suatu konsep yang dikenal dengan nilai komoditi Marx. Jadi, nilai sebuah Smartphone harus sudah ada sebelum ia dipertukarkan, begitupun 4 buah buku harus punya nilai tersendiri sebelumnya. Dari manakah asalnya?, tak lain dari pencurahan kerja manusia.

Begini penjelasannya lebih lanjut. Misalnya, satu buah Smartphone yang tidak dipertukarkan tentu tidak dapat diketahui nilainya, artinya satu buah Smartphone harus masuk dalam relasi pertukaran untuk mengungkap nilai tukarnya. Setelah Smartphone dipertukarkan dengan buku, maka muncul persamaan bahwa satu buah Smartphone bernilai dengan 4 buah buku. Dari pertukaran itu muncul pantulan nilai sekunder bahwa satu buah Smartphone adalah 4 buah buku atau satu buah buku adalah ¼ nilai sebuah Smartphone. Lalu, bagaimana untuk mengetahui bahwa satu buah Smartphone itu benar-benar bernilai 4 buah buku? dan satu buah buku benar-benar bernilai ¼ nilai sebuah Smartphone?. Jawabannya adalah dengan mengetahui nilai primer komoditi dari satu buah Smartphone dan satu buah buku dengan membongkar masing-masing pencurahan kerja manusia dalam memproduksi satu buah Smartphone dan satu buah buku. Dengan kata lain, nilai komoditi yang ada sebelum dipertukarkan dengan mengungkap sejumlah tertentu kerja yang dicurahkan dalam memproduksi kedua komoditi tersebut.

Bahwa sesuatu hanya mungkin memiliki nilai yang dapat ajeg sendiri ketika berada dalam konteks relasionalnya. Bahwa Smartphone yang dipertukarkan (direlasikan) dengan buku menjadi syarat adanya nilai satu buah Smartphone bernilai 4 buah buku. Contoh relasi pertukaran Smartphone dengan komoditi yang lain dapat diukur berdasarkan ilustrasi persamaan berikut, Smartphone ketika dipertukaran dengan piringan hitam suatu grup musik menjadi, satu buah Smartphone bernilai 2 buah piringan hitam (S = 2 PH); ketika dipertukarkan dengan biji kopi luwak menjadi, satu buah Smartphone bernilai 250 gram biji kopi luwak (S = ¼ BK), dan seterusnya. Hingga satu buah Smartphone mengemuka sebagai wujud barang dari produksi nilai (primer) komoditi hasil pencurahan sejumlah kerja tertentu yang kemudian bisa dipertukarkan dan memunculkan pantulan nilai (sekunder) dengan komoditi lainnya.

Komoditi terdiri dari dua aspek, yakni aspek fisik (nilai guna) dan aspek nilai (nilai tukar dan nilai-nya). Apa gunanya melakukan pemilahan aspek dari komoditi tersebut? tak lain supaya bisa memahami latar filosofis pemikiran realis Marx yang dialektis dengan paripurna. Komoditi mempunyai tiga tingkatan realitas: yakni realitas riil (nilai), realitas aktual (nilai tukar) dan realitas empirik (nilai guna). Artinya, nilai merupakan bagian dari tingkatan realitas riil atau suatu mekanisme tertentu dari komoditi, yang tak lain adalah sejumlah curahan kerja tertentu. Sedangkan nilai tukar, sejumlah kapasitas sesuatu yang dipertukarkan dengan kapasitas sesuatu lainnya, merupakan momen peristiwa (komoditi) yang masuk dalam tingkatan realitas aktual. Nilai guna adalah tingkatan pada realitas empirik yang bisa diketahui lewat fenomena-fenomena yang bisa dirasakan, dilihat, dicium, dipakai, dimakan, dihabiskan, dan sebagainya.

skema-nilai-guna-tukar-nilai

Mari kita ilustrasikan tiga tingkatan realitas dengan menerapkannya pada suatu kasus fenomena alam seperti Tsunami Aceh tahun 2004. Pertama-tama kita harus memahami permukannya, yakni realitas empiris. Fenomena empirisnya bahwa terjadi banyak rumah yang porak-poranda, mayat ratusan ribu orang berserakan bercampur dengan puing-puing bangunan dan material alam seperti pasir, lumpur, pohon, bebatuan dan sebagainya. Lantas, untuk mengetahui momen peristiwanya, kebetulan ada orang yang tidak sengaja merekamnya lewat video amatir tragedi Aceh penghujung 2004 tersebut. Sehingga dapat diketahui realitas aktualnya yang bermula dari goncangan gempa yang cukup besar disusul beberapa menit kemudian gelombang air laut dengan tingginya melebihi rumah berlantai dua menghempas daratan menyapu wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Lalu, untuk memahami realitas riil yang terjadi (mekanisme yang bekerja di belakangnya), para ilmuwan ahli bumi menemukan bahwa Tsunami Aceh bermula dari gempa megathrust berskala 9,1 Richter kira-kira terletak di Samudra Hindia (160 km di sebelah utara pulau Simeulue, lepas pantai barat Sumatera Utara) pada kedalaman 30 km sebagai akibat tergelincirnya patahan (20-25 meter) lempeng tektonik India bertabrakan di bawah lempeng Sunda hingga menyebabkan rekahan sepanjang 1.600 kilometer di mana dalam waktu hampir seketika memunculkan gelombang tsunami setinggi 30 meter menyapu daratan Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara) serta beberapa negara lain seperti Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand.

Dengan demikian, realitas komoditi tak ada bedanya dengan fenomena alam. Ada hukum gerak organisasi tertentu yang mengatur dan membuatnya memiliki makna relasional tertentu.

Kepustakaan

Marx, Karl. 1977. Capital: A Critique of Political Economy, volume 1, diterjemahkan oleh Samuel Moore dan Edward Aveling. London: Lawrence and Wishart.

Foto: The Republic Companies

About the Author

Related Posts

Dalam corak produksi kapitalisme, tenaga kerja manusia adalah sebuah komoditi kunci yang unik....

Marx memulai analisis dari jenis petukaran komoditi yang paling sederhana yaitu, pertukaran...

Sebagai teman membaca Das Capital, sangat disarankan kita pun membaca buku Understading Capital...

Leave a Reply