Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida, Marx, Hegel, Badiou dan Hobbes. Apalagi pikiran-pikiran mereka. Sama seperti ketidaktahuan saya pada cerita pewayangan dan mitos-mitosnya. Tapi tampaknya ada orang-orang yang punya kegemaran mengutip semua itu sebagai bahan untuk menguatkan pendapat maupun membantah pendapat orang lain.

Pembaca awam seperti saya tidak tahu pasti, apakah kutipan-kutipan itu tepat dan bebas dari pemelintiran?

“Pendapat awam, pendapat ilmiah, bahkan wahyu Tuhan sangat bisa dipelintir untuk berbagai tujuan. Kedua belah pihak yang berdebat sama-sama punya potensi untuk melakukan itu,” kata seorang kolega,“ karena sama-sama ingin tampak benar dan ingin diakui sebagai sumber kebenaran.”

Saya mengernyitkan kening, apakah harus seberat ini untuk memahami sejarah 1965 dan penyelesaiannya? Apakah saya harus lari dulu ke perpustakaan dan mengunyah apa yang ditulis Derrida, Marx, Hegel, Badiou dan Hobbes sebelum bisa mencerna tulisan “Maaf” Goenawan Mohamad (GM) dan mereka yang terprovokasi olehnya? Ah, betapa beratnya! Tenaga saya bisa habis di jalan sebelum bisa memahami apa yang mereka bicarakan. Dan semakin jauh saja perjalanan yang harus saya lalui untuk sekadar tahu perkembangan penyelesaian tragedi kemanusiaan 1965.

“Itulah sebabnya gue ogah untuk cari tahu isu-isu seperti itu. Capek dan boring,” kata seorang kolega yang lain.

Jika tak sabar memang melelahkan. Beruntung saya masih punya sedikit ketelatenan mengikuti kisah “Maaf-nya” GM dan para penentangnya—yang tampaknya masih belum beranjak dari masa “puber intelektual”. Termasuk mencermati rangkaian kalimat bernada marah yang sontak menggelinding menyusulnya. Melengkapi kengerian saya saat mencerna gambar GM yang dituding antek-antek CIA (Central Intelligence Agency) di buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula.

Saya tidak punya ikatan khusus dengan orang-orang yang mengalami pembantaian di sepanjang 1965-1966. Begitu pun dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Saya hanya tahu, ada kesewenang-wenangan penguasa yang akibatnya masih bisa kita rasakan hingga sekarang. Sedikit kritis, dicap komunis, antek-antek PKI. Mereka yang tidak memiliki keyakinan Agama dan tidak mempercayai Tuhan di-PKI-kan. Bahkan, seorang kawan yang sangat kritis dan skeptis terhadap PKI pun tak luput dari tuduhan PKI dan dianggap musuh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) hanya karena menggelar sebuah diskusi. Ini cerita basi jaman Soeharto yang “sialnya” masih terus dipelihara dan terpelihara di lingkungan kita. Hantu itu terus dihidupkan.

Mengapa hantu yang tak jelas wujudnya itu masih saja dipelihara oleh para penganut NKRI harga mati? Apakah benar membahayakan kehidupan kita? Saya pikir tidak, karena saya tidak percaya hantu, apalagi hantu PKI dan komunisme. Bahkan, mereka yang mempercayai hantu pun saya yakin tak bisa membuktikannya. Jawabannya pasti katanya dan katanya.

“Jadi sebenernya yang ketakutan itu justru mereka yang memelihara hantu,” kata kolega saya. “Ya gak seh?” Dia mulai mau berpikir agak jauh.

Nah, ternyata lo mulai…” kalimat saya terpotong.

“Sebentar, lo jangan nimpalin omongan gue dulu. Gue belum selesai.” Tiba-tiba kolega saya bersemangat. Majalah gaya hidup yang tengah dibuka-bukanya pun digeletakkan begitu saja. Ini pertanda dia memang mau ngobrol serius.

Lo koreksi kalo gue salah ya, secara elo lebih pinter dari gue.” Dia mengubah tempat duduknya, membenahi rok pendeknya. “Lo  kan tadi ngoceh soal tulisan si GM yang lo share ke gue. Terus lo eneg dengan tulisan itu. Dan lo juga agak kecewa sama orang-orang yang nanggepin si GM dengan emosi. Termasuk lo juga mumet sama lawan-lawan pendapatnya si GM karena sama-sama demen ngutip ini itu dan mengobral kalimat berputar-putar yang membuat pembaca macam kita tampak bego terus kebingungan neh orang mau ngomong apa sebenernya. Ya, lo dan gue sama untuk soal itu. Gak suka sama orang yang berbelit-belit dan demen pamer referensi karena pengen kelihatan pinter dan bener. Padahal, belum tentu. Apa susahnya pake bahasa sederhana dan gampang dimengerti kalo tujuannya mau ngasih tahu orang. Kecuali memang tujuannya mau memelintir, bukan membuat orang macam kita jadi pintar.”

“Terus…”

Gini, tahun 65-66 terjadi pembantaian massal. Mereka yang dibantai bukan cuma anggota dan simpatisan PKI, juga mereka yang dianggap PKI. Terus Soeharto membuat cerita-cerita mengerikan tentang jahatnya PKI dan komunisme biar pembantaian itu dianggap sah. Terus, pendek cerita, setelah Soeharto “lengser” beredar informasi bahwa tuduhan Soeharto selama ini tidak lebih dari usaha pemutarbalikkan fakta. Salah satunya seperti yang pernah gue baca di buku Gerwani (Saskia Wieringa) punya elo. Semakin hari semakin kebuka tuh borok-boroknya Soeharto dan Orba sehingga para pengikutnya dan mereka yang pernah membantu Soeharto merasa terancam. Terang aja mereka akan mati-matian berusaha menyembunyikan borok-boroknya. Cara yang paling gampang ya itu tadi, menakut-nakuti dengan hantu komunisme.”

“Lalu apa hubungannya dengan “maaf-nya” si GM? Potong saya.

“Sabar dikit, gue sambil mikir ini. Ah, kok  jadi berasa seperti aktivis ya. Atau sebenernya gue ini punya bakat jadi aktivis,” tawa Norma—sebut saja begitu—meledak. “Gue lanjut. Setelah makin terkuak peristiwa pembantaian 65, para survivor yang masih hidup, keluarganya dan aktivis pembela kemanusiaan terus mendorong agar pemerintah menuntaskan persoalan itu, dan mengungkapkan secara gamlang pihak yang harus bertanggungjawab atas permbantaian itu. Meski gue bukan aktivis, tentu gue setuju dengan usaha itu, karena gue pikir memang seharusnya begitu.”

Lo mikir juga rupanya ya.” Saya tertawa. “Terus… terus…”

Nah, menurut gue, usaha pengungkapan kebenaran itu bukan soal menuntut ganti-rugi. Ini soal kemanusiaan dan pertanggungjawaban, bukan soal maaf-maafan seperti kata si GM. Kalo soal maaf, siapa pun bisa kasih kali. Bisa diobral, seperti maaf di hari lebaran. Gak susah! Lagian kalo pun ada maaf-maafan, itu baru bisa terjadi setelah jelas siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggungjawab. Soal maaf adalah soal belakangan yang gak penting dibahas sebelum diperjelas duduk perkaranya. Menurut gue seh begitu. Ya, gak seh?!” Norma mengakhiri penjelasannya.

“Iya bener,” kata saya pendek.

Eh, tapi, bentar, ada satu lagi yang mesti gue omongin. Karena peristiwa 65 ini begitu berbelit-belit, atau mungkin dibuat berbelit-belit, semua pihak harus berani jujur, karena dalam hidup gak ada yang mutlak hitam dan putih. Gak ada 100% salah, dan 100% benar. Menurut gue seh itu yang penting: jujur untuk sama-sama melihat dengan apa adanya.”

Kalimat-kalimat terakhir Norma sedikit menghentak saya. Saya tidak menanggapinya, hanya memikirkan bahwa kata-kata perempuan pengoleksi baju-baju J.Crew itu benar adanya.

Foto: Bahai Blog

About the Author

Related Posts

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Borjuis dan proletar merupakan hasil dari penyederhanaan pertentangan kelas yang terjadi pada...

Leave a Reply