Kebangkitan radikalisme anti otoritarian di ujung abad ke-20 ditandai dengan perkembangan beragam gerakan politik baru, di antaranya adalah kelompok-kelompok anarkis dalam beragam variannya dan juga kelompok-kelompok politik lainnya yang menyerap kecenderungan Marxian.

Marxis Otonomis berawal dari kelompok-kelompok Marxis Italia yang mengidentikkan gerakan mereka sebagai “operaismo” atau “buruh-isme”, di mana kekuatan revolusioner bertumpu pada beragam inisiatif buruh untuk melakukan swaaktifitas yang bebas dari intervensi serikat buruh atau pihak luar lainnya—mulai dari pencurian, perlambatan kerja, sabotase, mogok kerja liar (wildcat strikes), hingga pendudukan.

Inisiatif yang awalnya muncul di pabrik-pabrik di Italia Utara pada dekade-dekade 1950—1960-an, memunculkan beragam respon dari para militan, di mana kemudian terjadi perkembangan-perkembangan teoritis pada analisa tentang dinamika konflik dalam sistem kapitalisme, komposisi kelas pekerja, fungsi kerja dalam sistem kapitalisme, hingga perluasan-perluasan konseptual tentang kemungkinan-kemungkinan realisasi-realisasi alternatif dari masyarakat kapitalistik.

Analisa konflik Otonomis yang memberi penekanan pada bagaimana kekuatan-kekuatan pemberontakan kelas pekerja telah memaksa kapital untuk berevolusi, merupakan sesuatu yang kontras terhadap analisa Marxis tradisional yang terlalu menekankan pada kemampuan kapitalis untuk memaksa dan membatasi kelas pekerja. Di sini kita dapat mengatakan bahwa evolusi sistem manajemen dan produksi kapitalis merupakan adaptasi-adaptasi untuk mengimbangi resistansi kekuatan kelas pekerja, di mana kemudian krisis kapital adalah akibat-akibat dari menguatnya resistansi pekerja terhadap kapital.

Harry Cleaver, aktivis Marxis yang melakukan banyak kajian tentang gerakan Otonomis mengatakan bahwa “hanya dengan memahami kekuatan kita, kita dapat menentukan langkah apa yang akan kita lakukan berikutnya”. Berbeda dengan beragam varian Marxis yang selalu menekankan pada bagaimana kita telah dibatasi oleh kapital untuk melakukan ini dan itu, dan yang bahkan ironisnya cenderung menjadi puji-pujian tentang kehebatan kapitalme.

Pemaknaan ulang proletariat merujuk pada perluasan insurgensi yang tidak lagi dibatasi oleh tembok pabrik, tapi juga mencakup mereka yang yang bukan merupakan bagian dari ekonomi uang, tapi yang terdominasi oleh rezim akumulasi kapital (1). Mobilisasi swadaya yang dilakukan oleh masyarakat adat (indigenous), perempuan, mahasiswa (termasuk di dalamnya pelajar pra-universitas tentunya) dan masyarakat subsisten—menunjukkan lingkup “otonomi pekerja” yang jauh lebih luas dari yang dibayangkan sebelumnya. Pemberontakan untuk menuntut pembaharuan pada relasi gender (oleh perempuan, gay dan lesbian), pemberontakan pelajar, pemberontakan masyarakat adat—adalah contoh-contoh insurgensi kelas pekerja yang diorganisir secara otonom oleh para pelakunya.

Penolakan terhadap kerja merupakan perkembangan teori otonomis yang didasari pada analisa konflik, di mana tuntutan kelas pekerja utamanya merupakan pengurangan kerja dan perbaikan upah—tuntutan-tuntutan yang dikonfrontasikan dengan sistem kapitalisme yang merupakan suatu sistem yang mensubordinasikan seluruh bentuk kehidupan pada kerja, di mana terjadi pembebanan kerja yang tidak terbatas.

Perkembangan-perkembangan teoritis tersebut menguatkan strategi politik dan praktek gerakan otonomis. Kita menemui gerakan seperti “Wages for Housework” (Upah bagi Kerja Domestik), penuntutan upah yang ditujukan pada kolektif kapitalis, yaitu negara. Gerakan lainnya contohnya adalah yang dikenal dengan gerakan “Self-Reduction” (swareduksi) yang merupakan suatu gerakan di mana orang-orang sepakat untuk membayar harga barang dan jasa lebih rendah dari harga resmi yang ditetapkan, khususnya dilakukan dalam penolakan terhadap kenaikan harga jasa layanan publik. Secara konsisten tuntutan otonomis di pabrik-pabrik ditujukan pada pengurangan kerja dan kenaikan upah, dengan penolakan yang sangat serius terhadap konsep produktivitas.

Dekonstruksi dan resistansi terhadap relasi-relasi dalam kapital memunculkan sisi lain—yaitu proses konstruksi menuju realisasi-realisasi subyektif yang melampaui kapital (2). Realisasi-realisasi alternatif tersebut berulang kali terjadi pada ledakan-ledakan pemberontakan, ketika secara simulatan penghancuran relasi lama tergantikan dengan relasi-relasi baru—dalam revolusi-revolusi besar dan kecil.

Eksperimen-eksperimen yang dilakukan tersebut merupakan kemampuan subyektif untuk mengelaborasi masa depan pasca kapitalis. Potensi-potensi otonomus dari berbagai sektor dalam kelas proletariat membawa kita pada pembaharuan pemahaman tentang apa yang kita sebut sebagai “proyek komunis”—yang bukan lagi seperti yang dibayangkan Marxis tradisional dengan komunisme yang seragam—namun realisasi komunis yang bertujuan untuk merealisasikan keragaman eksistensi yang dideterminasikan secara otonom oleh subyek-subyek yang terlibat.

Otonomi dan Realitanya

Apa yang memberikan makna pada konsep “Marxis Otonomis” sebagai suatu tradisi spesifik yang dapat kita identifikasikan dalam tradisi Marxis yang lebih luas, adalah beragam gerakan, politik, pencetus—yang menekankan pada kekuatan otonom dari pekerja—otonom dari kapital, dari organisasi resmi mereka (serikat buruh dan partai politik)—bahkan kekuatan kelompok-kelompok yang lebih spesifik untuk bertindak secara otonom dari kelompok lainnya (misalnya perempuan dari lelaki). “Otonomi” berarti kemampuan pekerja untuk mendefinisikan kepentingan-kepentigan mereka yang kemudian mereka perjuangkan—melampaui sekedar reaksi dari eksploitasi dan untuk selanjutnya membentuk perjuangan kelas dan mendefinisikan suatu masa depan.

Dalam tradisi Marxis Otonomis, tercetusnya kesadaran tentang otonomi kelas pekerja salah satunya berawal dari kajian-kajian yang dilakukan oleh C.L.R. James dan Raya Dunayevskaya. James dan Dunayevskaya menelaah perkembangan kapitalisme di Amerika dan Uni Soviet, sebagai suatu titik tolak untuk memahami perjuangan kelas dan Perang Dunia II. Kajian tersebut terbit dengan judul State Capitalism and World Revolution. James menganalisa mode produksi Taylorisme dan Fordisme sebagai suatu era baru dalam perjuangan kelas. Seperti para teoris Mahzab Frankfurt, James juga menyadari tentang dominasi teknologi terhadap manusia; tapi tidak seperti kelompok Frankfurt, dia juga melihat kekuatan kelas pekerja dan menganggapnya sebagai suatu aspek yang sangat penting. Meskipun kelompok Frankfurt dan James/Dunayevskaya memiliki pandangan yang serupa tentang sistem yang diterapkan baik di Amerika Serikat maupun di Uni Soviet sebagai totalitarianisme modern, kelompok yang terakhir juga mengungkap beragam swaaktivitas kelas pekerja yang berkembang dalam totalitarianisme. Salah satu pemberontakan signifikan yang terjadi adalah pemberontakan dewan-dewan pekerja di Hungaria yang menentang intervensi Soviet pada tahun 1956. Swaaktifitas ini seperti diungkapkan oleh James adalah inisiatif proletariat untuk memecah bentuk-bentuk organisasi lama, melalui proses bebas dan kreatif. Dengan mencontohkan lebih jauh beragam swaaktifitas, di antaranya Paris 1793, Komune 1871, Soviet 1905, James menyimpulkan bahwa organisasi populis dan pekerja pada zaman itu bukan merupakan sesuatu yang direka oleh para intelektual ataupun vanguard. Pergolakan-pergolakan yang terjadi di seputar 1950-an di Jerman Timur, Nantes (Perancis), dan Inggris juga menjadi bagian dari analisa James tentang kemampuan beragam subyek untuk melakukan beragam swaaktifitas.

Munculnya gelombang resistansi pekerja yang otonom dari pengaruh partai ataupun serikat buruh yang terjadi di sentra-sentra manufaktur di Italia Utara, menjadi subyek diskusi, katalisator pengembangan teori dan debat di antara generasi baru militan di sana. Dari studi tentang realita otonomi resistansi kelas pekerja, terutama di Amerika, para militan Italia mulai mengartikulasikan posisi kelas pekerja yang mampu menggagas resistansi dan fakta bahwa mereka bukanlah korban yang pasif dan reaktif tapi sebaliknya merupakan agen yang berulang kali memaksa kapital untuk terus menerus melakukan penataan ulang pada sistem pengelolaannya.

Raniero Panzieri, salah satu militan yang tergabung dalam Quaderni Rossi melakukan analisis pada perkembangan Fordisme di Italia dengan mengkaji ulang teori Fraknfurt dan karya Marx tentang dominasi teknologi. Melalui analisanya tersebut, dia membuat suatu kesimpulan tentang bagaimana evolusi teknologi dan sistem manajemen kapitalis sebenarnya merupakan suatu respon terhadap resistansi kelas pekerja. Dia melihat bagaimana kapitalisme beradaptasi terhadap resitansi kelas pekerja, melalui perencanaan yang semakin diperketat, tapi di mana satu-satunya elemen yang tidak dapat direncanakan adalah kelas pekerja.

Perbedaan penting adalah bahwa Marxis Otonomis bertumpu pada kekuatan pekerja dalam analisa tentang konflik kelas dalam kapitalisme, pada dinamika perkembangan konflik-konflik tersebut. Di sini ada kebenaran sederhana bahwa hanya dengan penilaian yang akurat tentang kekuatan kita, barulah kita dapat berdebat bagaimana membangun kekuatan tersebut. Jika kita terus menerus menghabiskan waktu kita berbicara tentang kekuatan kapital untuk melakukan ini, melakukan itu, membatasi kita dengan cara ini, atau memaksa kita melakukan itu—kita tidak akan menemukan cara yang dapat memberi kita petunjuk tentang apa yang harus lakukan. Namun jika kita memulai dengan meninjau kekuatan kita dan pemahaman tentang bagaimana kapitalisme merespon kekuatan tersebut, tentunya kita berada pada posisi yang lebih baik untuk berpikir bagaimana kita akan selanjutnya bergerak.

Dinamika Kekuatan Otonom Kelas Pekerja dan Perkembangan Teori Otonomis

Tuntutan kenaikan upah dan pengurangan jam kerja merupakan suatu tuntutan yang sangat familiar bagi gerakan pekerja, baik pada gerakan tradisional maupun kontemporer. Keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan, yang artinya memiliki lebih banyak sumber daya untuk memenuhi beragam kebutuhan dan tersedianya waktu luang untuk melakukan beragam aktifitas di luar kerja.

Reorganisasi kapital sebagai respon pada tuntutan tersebut adalah diterapkannya konsep familiar tentang tingkat upah berdasarkan tingkat produktivitas. Penerapan apa yang dinamakan “productivity deal” merupakan suatu reaksi kapital terhadap tuntutan kenaikan upah; konsep yang memberlakukan tingkat upah yang dikaitkan dengan produktifitas.

Analisa Antonio Negri dan Mario Tronti terhadap “productivity deal” di Italia pada 1960-an memberikan dorongan lebih lanjut pada perkembangan teori Otonomis yaitu tentang penolakan kerja. Pertama mereka menyadari bahwa “productivity deal” merupakan suatu respon terhadap kekuatan resistansi kelas pekerja dengan tuntutannya. Mereka juga menyadari bahwa perkembangan ledakan tuntutan untuk kenaikan upah dan perkembangan resistansi terhadap kerja merupakan penyebab runtuhnya “productivity deal” dan terjadinya krisis pada ekonomi Italia.

Krisis yang terjadi di Italia tersebut menimbulkan suatu gejolak politik yang signifikan. Kelompok-kelompok Otonomis seperti Potere Operairo (PO) menyerang dukungan Partai Komunis pada kebijakan kapitalis dalam penerapan “productivity deal” tersebut. Sebaliknya PO mendukung strategi otonom kelas pekerja untuk menuntut kenaikan upah dan pengurangan kerja (pengurangan produktivitas)—suatu strategi yang secara jelas menolak “productivity deal” tersebut. Posisi tersebut juga didukung secara teoritis melalui dekonstruksi pada konsep kerja yang dianut oleh Kiri tradisional, yang menganggap bahwa perjuangan adalah tentang pembebasan kerja dari kapital, menuju pada kerja yang tidak teralienasi. Visi Kiri tradisional ini sendiri dulunya berkembang di kalangan pengrajin terampil pada periode awal perkembangan kapitalisme dan dan tidak dapat diterapkan pada buruh industri kontemporer yang tidak mempunyai keterampilan khusus. Tronti juga berpendapat bahwa bagi buruh industri, kerja sendiri merupakan suatu bentuk pengontrolan sosial. Pemahaman ini selanjutnya berkembang pada realisasi tentang sifat dasar resistansi kelas pekerja yang tidak selalu merupakan pemberontakan terhadap kapital, tapi juga pemberontakan terhadap eksistensi mereka sebagai kelas pekerja.

Merujuk pada Volume II Capital, Mario Tronti menganalisa proses total akumulasi. Tidak sulit baginya untuk melihat aspek fundamental yang diungkapkan Marx, yang intinya menyimpulkan bahwa proses akumulasi total adalah proses “akumulasi” kelas-kelas—kelas kapitalis dan kelas pekerja. Marx memberikan fokus pada sirkulasi dan reproduksi yang menyertakan reproduksi kelas-kelas. Hal ini menyangkal analisa ortodoks yang menyamakan kapital dengan pabrik. Reproduksi kelas pekerja terjadi bukan hanya di pabrik, tapi juga pada sektor domestik dan kehidupan bermasyarakat. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan analisa Marx tentang “pekerja cadangan” pada Capital Volume I pada bagian yang membahas akumulasi. Akumulasi berarti akumulasi “pekerja cadangan” dan juga pekerja aktif, dan mereka yang bekerja untuk mereproduksi kelas. Pabrik di mana kelas pekerja bekerja adalah tatanan masyarakat secara keseluruhan, sebuah pabrik sosial. Kelas pekerja harus dimaknai ulang, dengan juga menyertakan mereka yang bukan merupakan pekerja pabrik.

Dominasi dan Pembebanan Kerja yang Tidak Terbatas alam Kapitalisme

“Tujuan dari kelas pekerja adalah untuk tidak menjadi pekerja, untuk tidak menjadikan kerja sebagai agama” —Mario Tronti

Kebanyakan Marxis tradisional mendefinisikan kapitalisme sebagai suatu pola sistem ekonomi dan bukan secara susbstansinya. Artinya mereka memfokuskan seluruh kajian-kajiannya pada bentuk-bentuk spesifik bagaimana kapital mengeksploitasi pekerja: sistem pengupahan. Definisi yang sering diberikan adalah “proletariat yang diupah”. Selanjutnya tujuan politis dari para Marxis tradisional adalah penghapusan sistem upah. Fokus pada bentuk upah tersebut didasari pada pemahaman teoritis bahwa kerja merupakan sesuatu yang alami pada semua masyarakat dan merupakan karakteristik fundamental yang mendefinisikan eksistensi manusia. Bahwa penghapusan kapitalisme termasuk generalisasi relasi kerja merujuk pada sosialisme dan komunisme—yang merupakan masyarakat berkelas tunggal, dimana setiap orang bekerja—tanpa eksploitasi dan dengan pemenuhan kepuasan personal dan kolektif.

Apa yang telah diperdebatkan oleh Otonomis, adalah perbedaan visi Otonomis dalam hal kerja. Perbedaan visi ini berati perbedaan dalam pembacaan teori Marxis dan perbedaan strategi politik untuk penghapusan kapitalisme dan tentang apa yang akan menggantikan kapitalisme. Secara susbstansi, Otonomis memfokuskan pada relasi sosial dalam kapitalisme—suatu relasi yang didominasi kerja. Kapitalisme bukan hanya sekedar sistem sosial, bahwa kita dapat mengakhiri eksploitasi dengan tetap mempertahankan kerja. Kapitalisme merupakan suatu sistem yang mensubordinasikan seluruh kehidupan pada kerja, dan dengan itu membatasi manusia untuk mengeksplorasi jalur-jalur menuju realisasi-realisasinya. Pensubordinasian kehidupan pada kerja berarti bukan saja kita dipaksa untuk menyisihkan sebagian besar waktu untuk bekerja—bahkan aktifitas lainnya selain kerja direduksi menjadi hanya sekedar rekreasi (pemulihan). Contohnya dapat ditemukan pada sebagian besar dari kita yang diharuskan untuk bekerja rutin—kita akan menemui bahwa sebagian besar dari hidup kita (selain tidur) didominasi oleh kewajiban untuk bekerja secara langsung pada kapitalis. Dan kita juga menemui bahwa sebagian besar waktu luang kita (di luar waktu kerja) digunakan untuk mempersiapkan diri kita untuk bekerja (perjalanan menuju dan pulang dari tempat kerja, pemulihan, dan hal-hal lain yang dilakukan agar kita dapat kembali bekerja pada hari berikutnya).

Bagi mereka yang tidak diupah (biasanya ibu rumah tangga), banyak waktu luang sebenarnya dicurahkan pada kerja-kerja rumah tangga, yang bukan saja membentuk dan mereproduksi kehidupan domestik, tapi juga melibatkan kerja-kerja untuk merawat dan membesarkan anak yang kemudian akan menjadi pekerja. Perempuan (terkadang dengan suaminya) dan guru-guru di sekolah harus membesarkan anak-anak untuk menerima perintah, untuk mengontrol hasrat dan spontanitas. Hal yang sama terjadi pada perempuan (ibu rumah tangga), di mana kerja-kerja yang mereka lakukan untuk/dengan suami mereka secara rutin, sebagian besarnya dicurahkan untuk mereproduksi kembali tenaga kerja sang suami. Kerja-kerja rumah tangga yang meliputi penyediaan makanan, pengelolaan lingkungan rumah, pemberian jasa seksual dan psikologis, memungkinkan sang suami untuk dapat kembali bekerja tiap-tiap hari tanpa si suami membunuh majikannya. Argumen ini bukan hanya ingin menunjukkan bahwa kapital telah memperluas mekanisme pengendaliannya melampaui batas pabrik (seperti yang telah diungkapkan Mahzab Frankfurt), tapi lebih jauh kapital telah menciptakan mekanisme yang termasuk pembebanan kerja—dalam mereproduksi kehidupan sebagai kerja. Argumen-argumen ini lebih jauh lagi dapat dikembangkan pada beragam jenis kerja tanpa upah, seperti tugas-tugas sekolah dan kerja-kerja yang dilakukan petani subsisten—untuk menunjukkan bagaimana kapital bertujuan untuk merubah segala jenis bentuk kehidupan menjadi kerja, untuk kemudian mereproduksi kapital, serta bagaimana kapital bertujuan untuk mengkonversikan seluruh masyarakat menjadi satu “pabrik sosial” atau rumah kerja sosial yang besar.

Pada skala global, jika kita mencoba memahami situasi di Selatan dan juga di Utara. Sejak awalnya kapitalisme merupakan sistem yang mengglobal, dari periode akumulasi primitif, perbudakan Afrika dan perampasan yang dilakukan di berbagai wilayah di dunia—yang merupakan bagian integral dari perkembangan kapitalisme di Amerika dan Eropa Utara. Orang-orang Afrika diperbudak pada lahan-lahan yang dirampas dari orang-orang Cherokee untuk memproduksi kapas yang diperlukan untuk mendukung pembebanan kerja pada buruh Inggris yang bekerja di pabrik-pabrik tekstil di Manchester. Kisah tentang imperialisme adalah tentang perampasan kekayaan, pembukaan pasar, dan perebutan ruang untuk kapital. Seluruh dari peristiwa yang disebutkan adalah momen-momen dalam proses global untuk mengubah masyarakat dunia menjadi pekerja, dimana terjadi perkembangan beragam jenis bentuk pengendalian terhadap kelas pekerja. Di abad 19, terjadi pemotongan ibu jari para penenun India untuk mempertahankan pekerjaan di pabrik-pabrik tekstil di Inggris. Puluhan tahun kemudian, para pekerja di Asia dan Amerika Latin diperkerjakan pada pabrik-pabrik yang telah dipindahkan dari pabrik-pabrik di Amerika Utara dan Eropa Utara.

Penolakan Kerja

Munculnya “penolakan kerja” merupakan suatu tuntutan eksplisit yang merupakan peringatan penting bahwa kelas pekerja selalu melakukan resistansi terhadap kerja, sejak zaman akumulasi primitif sampai sekarang. Kadang, pengurangan kerja, pembebasan hidup dari kerja, menjadi suatu tuntutan eksplisit, seperti perjuangan untuk mengurangi waktu kerja dari 10 jam menjadi 8 jam. Dalam rentang waktu 1880—1940, resistansi pekerja di Amerika berhasil memenggal pekan kerja dan mendapatkan akhir pekan. Pada masa-masa lainnya, khususnya ketika gerakan pekerja resmi memegang kekuasaan, tuntutan ini direpresi dan dikaburkan, dan hanya dapat diamati dalam resistansi pasif dan sabotase yang dilakukan pekerja dalam kesehariannya. Munculnya tuntutan penolakan kerja yang eksplisit dan yang dapat diartikulasikan dengan baik, telah membangkitkan teori Marxis secara signifikan. Bahkan Otonomis selama dekade 1950-an masih mempunyai pandangan bahwa tujuan dari revousi adalah membebaskan kerja dengan mengambil alih kendali terhadap kerja. Penolakan kerja secara masif yang terjadi di Italia merupakan peringatan tentang kebenaran fundamental bahwa selama pembebanan kerja merupakan suatu cara pendominasian, pekerja akan selalu melakukan resistansi terhadap kerja (dan juga terhadap statusnya sebagai hanya sekedar pekerja). Kita dapat melihat beragam konflik sosial yang terjadi di akhir 1960-an dan 1970-an sebagai resistansi terhadap kerja, meskipun para protagonisnya tidak mengartikulasikan tuntutan mereka sebagai penolakan kerja secara eksplisit. Kebanyakan dari pemberontakan yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan penolakan terhadap kerja (untuk menciptakan pekerja), yang dibarengi dengan tuntutan untuk suatu sistem pendidikan yang dapat memberikan mereka kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang mereka inginkan dan bukan materi-materi yang akan membentuk mereka menjadi pekerja untuk kepentingan akumulasi kapital. Sedangkan pemberontakan yang dilakukan oleh perempuan adalah suatu penolakan terhadap peran tradisional mereka dalam pabrik sosial: sebagai prokreator dan rekreator tenaga kerja, yang dibarengi juga dengan tuntutan untuk relasi gender dan sosial yang baru. Sedangkan tuntutan dari sektor lain, seperti yang dilakukan oleh masyarakat kulit hitam bukanlah sekedar ungkapan ketidakberdayan, tapi juga merupakan suatu pemberontakan menentang peran yang diberikan mereka dalam akumulasi kapital: sebagai bagian dari “stok pekerja cadangan” dalam pasar tenaga kerja, orang-orang yang sekedar menjalani kehidupan susbsisten dan sebagai masyarakat yang tidak mempunyai akses pada partisipasi politik.

Malangnya, banyak sekali Marxis dengan fokus tradisionalnya pada kerja yang tidak teralienasi sebagai suatu eksistensi manusiawi, gagal melihat antagonisme fundamental dalam kapitalisme dan terjebak pada ideologi revolusioner dari awal abad 20 yang menyerukan “pengambil alihan produksi”, “pengambil alihan pabrik”, dengan tujuan akhir untuk menjadi pengelola sekaligus pekerja.

Kebanyakan dari interpretasi teori Marxis, terutama teori tentang nilai kerja gagal untuk melihat bagaimana sebenarnya teori tersebut tidak bermaksud bahwa Marx mengakui bahwa satu-satunya nilai dalam masyarakat adalah kerja. Banyak pembacaan Marx lainnya yang secara akurat membaca analisa Marx tentang alienasi (dalam Manuskrip 1844) sebagai suatu kritik terhadap pemberhalaan kerja dalam kapitalisme dan menyimpulkan bahwa sosialisme dan komunisme adalah tentang pembebasan kerja dari bentuk pemberhalaan tersebut. Namun kesalahan yang sering dilakukan adalah ketika banyak yang menginterpretasikan fokus Marx pada kerja sebagai kepercayaan Marx bahwa kerja yang tdak teralienasi adalah suatu titik tertinggi dari eksistensi manusia—bahwa kerja merupakan sesuatu yang mendefinisikan kemanusiaan.

Dari Otonomi Menuju Realisasi Alternatif

Penolakan terhadap kerja akan mengarahkan kita pada praktik-praktik alternatif melampaui kapital.

Ketika teori kritis berhenti pada analisanya tentang hegemoni dan dominasi kapitalis yang menyeluruh, teori Otonomis mengungkap dan mengartikulasikan kekuatan masyarakat untuk memperjuangkan kehidupannya yang tereduksi menjadi sekedar kerja. Di satu sisi adalah bagaimana kapital selalu bergerak untuk menyusup dan membentuk segala jenis bentuk kehidupan, di sisi lainnya adalah bagaimana seluruh jenis bentuk kehidupan ini akan memberontak, setiap bentuk kehidupan menjadi relung insurgensi terhadap dominasi tersebut. Bukan saja perjuangan kelas ada di mana-mana, tapi juga adalah penolakan pada kerja yang merupakan kesamaan antara perjuangan mereka yang berupah dan yang tidak—yang merupakan penolakan terhadap pereduksian hidup menjadi sekedar kerja dan perjuangan untuk mencari alternatif-alternatif realisasi diri.

Marx dalam Grundrisse dan Capital, mengungkapkan resistansi terhadap kerja, bukan hanya “kerja dalam kapitalisme” (di mana mereka dieksploitasi), tapi karena hidup adalah lebih dari hanya sekedar kerja. Transformasi kualitatif kerja dalam kapitalisme—sebagai alienasi—muncul bukan hanya karena bentuk pengorganisasian kerja, tapi juga karena peningkatan kuantitas kerja. Seperti dikatakan Marx dalam diskusinya tentang lebih absolut dan perjuangan terhadap hari kerja, bahwa dengan perluasan kerja, kapital dapat mencapai dominasinya—melalui kerja lebih dan nilai lebih. Isu sentral pada bab tentang hari kerja membahas perjuangan kelas pekerja menentang peningkatan dan kemudian perjuangan untuk mereduksi kerja. Sedangkan dalam Grundrisse, pokok pembahasan Marx adalah tentang reduksi kerja yang akan membawa pada penghapusan “nilai kerja” menuju “nilai sebagai waktu luang”. Marx membayangkan masyarakat pasca kapitalisme sebagai masyarakat yang terlibat dalam banyak hal, dimana kerja adalah hanya merupakan salah satu dari beragam aktivitas dalam eksistensi manusia yang kaya.

Penghapusan alienasi hanya dapat dicapai dengan pengurangan kerja secara kuantitatif, hingga kerja menjadi salah satu bagian integral dari eksistensi manusia yang penuh keragaman. Pembebasan kerja hanya dapat terjadi dengan pembebasan dari kerja, dari pereduksian kapitalis terhadap kehidupan menjadi kerja. Jika kita bisa melihat semua ini, baru kita dapat terbebaskan dari ilusi “produktivisme sosialis tradisional”; kita akan bebas untuk berpikir tentang perjuangan, revolusi dan kebebasan—secara simultan merestorasi kerja sebagai salah satu dari beragam aspek dalam kehidupan.

Marxis Otonomis, Antonio Negri mengambil terminologi self-valorization, yang dimaknai sebagai pengembangan yang dilakukan secara mandiri oleh kelas pekerja. Lebih jauh lagi, self-valorization merujuk pada pengembangan kelas pekerja secara otonom vis-à-vis kapital. Di sini, Negri berbicara tentang bagaimana kelas pekerja tidak semata-mata melakukan perlawanan terhadap kapital, tapi juga bagaimana mereka menciptakan beragam bentuk realisasi diri. Apa yang diungkapkan Negri adalah perbedaan mendasar dengan pandangan Marxis tradisional untuk menggantikan kapitalisme dengan suatu bentuk sosialisme yang homogen, kita harus memahami komunisme sebagai keberagaman alternatif. Revolusi melibatkan ledakan, suatu pelarian dari pereduksian, dan bukan suatu penggantian dari satu bentuk rezim penyeragaman ke rezim penyeragaman lainnya. Di sini adalah pentingnya otonomi perjuangan beragam sektor dalam kelas.

Dengan memposisikan ulang perhatian kita pada self-valorization, tentu juga membawa perubahan pada agenda-agenda politik kita. Sejalan dengan usaha kita untuk memahami bagaimana kekuatan pekerja mampu mempertahankan krisis kapitalisme sepanjang 1970-an sampai 1980-an, kita juga mulai mengeksplorasi proses perkembangan mandiri kelas pekerja, yang juga merupakan faktor penting dalam memicu krisis dan mungkin menjadi satu titik tolak penting untuk menjelaskan secara lebih luas tentang komunisme yang terjadi sekarang.

Meskipun usaha-usaha yang dilakukan Negri masih sebatas eksplorasi teoritis dan pengkajian-pengkajian empirisnya dibatasi pada beberapa jenis industri utama, pihak-pihak lain telah melakukan pengkajian-pengkajian lebih lanjut terhadap perkembangan otonom kelas pekerja sepanjang 1960-an hingga 1970-an (revolusi kultural di wilayah urban dan juga resistansi komunal petani dan kelompok-kelompok masyarakat adat). Pengkajian-pengkajian oleh Negri sebagian besar terfokus pada pengembangan otonom kelas pekerja dalam dunia kerja, pihak-pihak lain melakukan kajian-kajian pada pengembangan otonom pada aktivitas-aktivitas yang tidak berhubungan dengan dunia kerja. Kajian-kajian tersebut telah memberikan pemahaman yang kaya tentang beragam pengalaman resistansi kreatif yang berlangsung selama krisis—tidak terlihat dan tidak dihancurkan oleh represi ataupun kooptasi kapitalis.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa titik tolak yang wajar untuk mengelaborasi strategi politis kelas pekerja adalah dengan memahami kekuatan kita. Konsep pengembangan mandiri ini membutuhkan kajian yang terfokus pada kekuatan kita untuk membatasi dan melawan dominasi kapital terhadap kita dan juga kemampuan kita untuk mengelaborasi alternatif-alternatif. Misalnya adalah konsep penolakkan kerja yang dapat memberi kita pemahaman tentang beragam resistansi sosial yang telah menjerembabkan kapitalisme pada kondisi krisis, begitu juga dengan konsep pengembangan otonom yang mungkin dapat membantu kita untuk memahami dan mengelaborasi berbagai alternatif.

Seperti juga telah diungkapkan oleh Negri dalam bukunya Marx Beyond Marx yang merujuk pada Grundrisse, bahwa penciptaan komunisme bukanlah sesuatu yang terjadi kemudian, tetapi sesuatu yang berulang kali muncul dalam perkembangan saat ini. Kekuatan untuk menolak kerja adalah kesempatan untuk meluangkan waktu dan ruang yang relatif bebas dari pembebanan kerja kapitalis. Kekuatan pengembangan diri adalah kemampuan untuk mengisi kebebasan tersebut dengan kegiatan alternatif dan bereksperimen dengan bentuk-bentuk baru relasi sosial—mengelaborasi masa depan komunistik di saat sekarang. Perspektif ini membolehkan kita untuk menyadari dan memahami (dalam kerangka teoritis dan politik Marxis) kreativitas dan imajinasi yang sedang berproses pada apa yang dikatakan sebagai “gerakan sosial baru”—yang bagi Marxis tradisional dan Post-Marxist sebagai sesuatu yang tidak berada dalam kerangka teori Marxis. Apa yang disebut sebagai gerakan sosial baru adalah gerakan-gerakan yang selalu merupakan arus yang menentang keterkondisian kapital—terlepas dari apakah mereka mengartikulasikan idenya demikian atau tidak. Misalnya, gerakan gay, lesbian dan gerakan perempuan tidak hanya menolak subordinasi kehidupan pada kerja tetapi juga telah memulai beragam eksperimen dalam pengembangan bentuk-bentuk baru relasi gender dan keluarga. Gerakan ekologis, tidak hanya menyerang eksploitasi kapitalis terhadap alam, tapi juga mengembangkan beragam bentuk hubungan alternatif antara manusia dan lingkungannya. Dalam perkembangannya, gerakan-gerakan ini saling mempengaruhi, misalnya pengadopsian berbagai praktek-praktek kultural alternatif yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat adat dan pra-kapitalis. Tentunya bukan berarti gerakan-gerakan ini akan terbebaskan dari kritik politik hanya karena kita telah menyertakan mereka ke dalam kerangka gerakan Marxis; seperti juga kita harus bersikap kritis pada resistansi pekerja yang lebih familiar, seperti serikat buruh.

Tentunya juga, tidak semua kreativitas adalah berguna dan secara otomatis menentang kapitalisme dan membantu untuk membebaskan kita untuk kemudian mencapai suatu kondisi yang lebih menarik. Tentunya kita akan menemui banyak pertentangan politis dengan gerakan-gerakan tersebut, seperti juga pertentangan politis kita dengan analisa sebagian besar kaum Marxis. Demikian juga dengan beragam bentuk “politik identitas” yang selalu mengedepankan perbedaan politis dan menolak segala kemungkinan untuk melakukan dialog politis. Hal-hal yang mungkin lebih menarik untuk diperhatikan adalah pentingnya untuk memahami aspek-aspek positif dari beragam resistansi tersebut dan bagaimana kekuatan-kekuatan sosial tersebut dapat memberikan kontribusi dalam suatu konstruksi komunis.

Catatan

Termasuk (isteri) pekerja domestik yang tidak berupah, masyarakat adat, masyarakat subsisten, mahasiswa yang merupakan proletariat masa depan dan sektor-sektor lainnya yang merupakan bagian integral dari akumulasi kapital—subyek-subyek yang terdominasi oleh disiplin pembebanan kerja kapitalis.Lihat konsep self-valorization yang dijelaskan pada bagian Glosarium.

Daftar Pustaka

Cleaver, Harri. 2000. Reading Capital Politically, 2nd ed. Texas: University of Texas Press.
Nick Dyer-Withefold. 2004. Autonomist Marxism and the Information Society. Canberra: Treason Press.
Wright, Steve. 2002. Storming Heaven – Class Composition and Struggle in Italian Autonomist Marxism. London: Pluto Press.

Situs

Au-top-sy: ttp://lists.village.virginia.edu/~spoons/aut_htm/index.html
Harri Cleaver: http://www.eco.utexas.edu/Homepages/Faculty/Cleaver/
International Wages for Housework Campaign: http://womenstrike8m.server101.com
Collective Action Notes: http://www.geocities.com/CapitolHill/Lobby/3909/index.html
Wildcat (Jerman): http://www.rhein-neckar.de/~wildcat
EZLN (Zapatista): http://www.ezln.org

Glosari

Fordisme: Perkembangan sistem produksi industrial pasca Taylorisme, di mana “rasionalisasi produksi” diterapkan dengan pemecah-belahan proses produksi menjadi serangkaian unit-unit produksi dan pereduksian keterampilan pekerja seiring dengan ditingkatkannya fungsi beragam jenis mesin. (Lihat juga Taylorisme) pabrik sosial: Merujuk pada masyarakat kapitalis dimana kerja telah melampaui pabrik dan kantor, di mana seluruh aspek kehidupan didominasi oleh kerja untuk mereproduksi kapital, contohnya adalah kehidupan domestik yang berfungsi untuk mengelola tenaga kerja dan mereproduksi tenaga kerja baru. Lihat tulisan ini yang memberikan argumen tentang bagaimana kapitalisme membentuk tatanan masyarakat yang secara fundamental adalah pabrik sosial.

Pembebanan kerja: Dalam perspektif otonomis, kapitalisme bukan hanya relasi sosial berdasarkan eksploitasi pekerja untuk mendapatkan nilai lebih dari kerja, tapi juga merupakan suatu sistem yang membebankan kerja pada seluruh aspek kehidupan. Berbeda dengan Marxis tradisional yang menganggap bahwa revolusi adalah tentang pembebasan kerja dari relasi kerja yang mengalienasi—bagi Otonomis pendominasian waktu manusia secara kuantitatif oleh kerja merupakan alienasi itu sendiri. Di sini Otonomis berpendapat bahwa resistansi perlu diarahkan untuk pengurangan kerja secara substansial. Dalam perspektif ini, pasca-kapitalisme diartikan sebagai kemungkinan untuk menentukan pola-pola kehidupan yang terbebaskan dari kerja, di mana kerja hanya merupakan salah satu bentuk dari keragaman eksistensi manusia.

Self-valorization: Merujuk pada kemampuan untuk menggagas, mencipta dan mengembangkan kesadaran, relasi sosial dan beragam swaaktifitas yang merupakan alternatif dari yang berlaku dalam kapitalisme. Self-valorization dalam perspektif Otonomis merupakan hal-hal yang menyangkut konstruksi atau titik tolak penataan masyarakat pasca-kapitalisme, seperti yang diungkapkan otonomis: “komunisme bukanlah sesuatu yang dikonstruksikan nanti, tapi merupakan sesuatu yang berkali-kali tercetus dalam sejarah dan kehidupan kontemporer”.

Sirkulasi resistansi: Konsep Otonomis untuk mendeskripsikan tentang penyebaran resistansi terhadap kapitalisme seiring dengan perpindahan kapital. Contohnya, secara sederhana, perpindahan modal dari wilayah-wilayah yang dianggap sebagai negeri “kapitalisme lanjut” misalnya Jerman ke Vietnam (yang dianggap lebih terbelakang), salah satunya adalah akibat kekuatan resistansi terhadap modal di Jerman; di mana kemudian perpindahan modal akan juga membawa perpindahan pada resistansi.

Swaaktivitas: Beragam tindakan, kegiatan, pengorganisasian dan lain sebagainya, yang dilakukan oleh suatu kelompok berdasarkan keinginan, inisiatif dan kepentingan kelompok itu sendiri (lihat juga swakelola).

Swakelola: Swakelola oleh suatu kelompok merujuk pada bagaimana kelompok tersebut mempuyai kemandirian yang bebas dari intervensi pihak luar dalam pemutusan, pengaturan, pengelolaan dan pelaksanaan beragam hal. Namun swakelola tidak mengartikan absennya solidaritas, dukungan dan kerjasama antar kelompok; interaksi antar kelompok di dasari pada suatu pengertian bahwa tidak ada kelompok yang mendominasi dan juga tidak ada kelompok yang didominasi.

Taylorisme: Konsep produksi yang berkembang sejak sebelum Perang Dunia I dan mencapai tahap penerapannya yang matang sebagai suatu sistem produksi yang bercirikan perencanaan jangka panjang dalam produksi, operasi dan kendali. (Lihat juga Fordisme).

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah...

Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang...

Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan...

Leave a Reply