Borjuis dan proletar merupakan hasil dari penyederhanaan pertentangan kelas yang terjadi pada masyarakat yang mana “…masyarakat seluruhnya semakin terbelah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan” menghasilkan borjuis dan proletar. Dua kelas yang menunjukan adanya kontradiksi dalam suatu masyarakat.

Sejak 1 Mei 1886 hingga 1 Mei 2016, adalah rentang waktu yang cukup lama bagi perjuangan kelas buruh. 130 tahun sudah berlalu, kini pergerakan buruh terus berupaya mengambil manfaat dan semangat dari atmosfir perjuangan kaum buruh kala itu.

1 Mei menandai eksistensi kekuatan kelas pekerja dalam memperjuangkan hak. Di balik perayaan tahunan kelas pekerja tersebut, substansi perang ideologis sedang berlangsung. 1 Mei menandai kekuatan kelas pekerja yang tak bisa dibendung oleh represi militer dan disiplin ketat pabrik (perbudakan industri).

Perlawanan kelas pekerja mengalami pasang naik dua dekade terakhir. Pengaruhnya bertambah meluas di kota, provinsi, dan antar negara. Terhadap perkembangan ini, penguasa terpaksa melakukan kompromi terhadap gelombang perlawanan arus bawah; yaitu dengan menurunkan jam kerja.

Kelas pekerja berjuang demi kesejahteraan, melakukan mobilisasi politik, menyerang pusat-pusat industri dan pemerintahan. Kebanyakan adalah serikat-serikat buruh di Eropa Barat dan Amerika.

Bertandangnya kapitalisme yang menggantikan sistem produksi feodal mengakibatkan jumlah pekerja industri meningkat tajam dan angkatan kerja yang bertambah banyak. Bahkan perempuan yang awalnya cuma mengurusi urusan domestik, oleh sistem kapitalisme dipaksa keluar dari rumah. Bukan untuk menciptakan keadilan-kesetaraan seperti yang dijanjikan, tapi untuk menggerakkan mesin-mesin industri demi keuntungan kapitalis. Seketika itu pula, aktivitas industri menyerap banyak sekali tenaga kerja.

Dalam masa gegap gempita revolusi industri (berkembangnya teknologi dan mesin) posisi tenaga kerja yang bekerja secara manual menjadi rendah. Pada masa itu, kehadiran mesin disalahkan sebagai faktor penyebab rendahnya daya tawar pekerja, secara konkret ditunjukkan oleh kaum Luddites yang strateginya adalah pembakaran dan perusakan/sabotase mesin-mesin produksi. Inilah kejahatan kapitalisme dalam mekanisme rekruitmen tenaga kerja. Sepertinya teori Adam Smith yang menganggap bahwa ”Tingkat upah ditentukan oleh perimbangan permintaan dan penawaran pasar tenaga kerja (pekerja)” memberikan legitimasi bagi para ekonom borjuis masa itu. Jika begitu maka dengan kata lain ’penawaran’ tenaga kerja (pekerja) yang berlebih dan ’permintaan’ yang terbatas, membuat pengusaha mendapatkan keyakinan konsep untuk menurunkan tingkatan ’harga jual’ tenaga kerja yang berwujud upah.

Di sinilah ketepatan Marx dalam memandang bahwa penghisapan kelas pekerja (oleh kapitalis) telah sempurna dengan dikuasainya tenaga yang keluar dari hasil kerja para pekerja. Tapi ingat (peringatan bagi borjuis) bahwa mesin memang mengefektifkan kerja, tapi mesin tidak bisa menghilangkan yang namanya kerja itu sendiri. Artinya, tanpa sentuhan kerja manusia, mesin tak akan menghasilkan nilai lebih. Nilai lebih diperoleh dari pencurian waktu kerja lebih para pekerja. Bisa-bisa saja para kapitalis memiliki semua uang di jagat raya ini, bisa saja kapitalis memiliki komoditas di seluruh bumi ini, tapi tanpa adanya kerja dari manusia (pekerja), segala uang dan komoditas tadi tak akan berguna. Ini menunjukkan bahwa salah satu faktor paling fundamental dari kapitalisme adalah pekerja/proletar itu sendiri. Maka, pekerja memiliki peluang yang sangat mungkin untuk merebut alat produksi, membalikkan secara radikal sistem ekonomi kapitalisme menjadi sosialisme, itu adalah keniscayaan, bukan utopia belaka.

Ekonomisme Adalah Reduksionis

Untuk membalikkan keadaan revolusioner, dibutuhkan energi yang sangat besar. Jika yang dikehendaki adalah perang kelas, maka praktik-praktik perjuangan ekonomi kelas pekerja yang sekarang hidup harus mulai dikembangkan kapasitasnya. Bagi serikat pekerja, perjuangan dengan capaian ekonomi sudah bukan lagi tujuan.

Memperjuangkan dan berhenti pada level ekonomi saja hanya akan memunggungi konfrontasi kelas, karenanya semakin membangun jarak dengan perjuangan kelas pekerja. Meski perjuangan ekonomi sekalipun saat ini merupakan hasil dari pergulatan sengit yang antagonistik antara pengusaha dan pekerja. Salah satunya yaitu tuntutan kenaikan upah.

Kemajuan perjuangan kelas pekerja saat ini memiliki banyak sekali tantangan dan hambatan. Paling banter masih dalam hal-hal tuntutan yang sifatnya ekonomistik. Lenin sendiri meyakini ada sebuah transisi kesadaran dari ekonomi, organisatori, politik dan ideologis sebagai sebuah proses kesadaran. Tentu tidak dalam alur yang mekanistik, akan tetapi prosesnya dilandaskan pada sejauh mana perang hegemoni dilakukan.

Sehingga dalam makna Lenin, tuntutan ekonomi dalam isu perjuangan pekerja adalah entry point menuju upaya mendorong perjuangan kelas pekerja menjadi ideologis. Tentu melewati proses berliku. Pada masa pasang surut gerakan pekerja seperti sekarang ini, orientasi perjuangan ekonomis masih banyak mewarnai serikat-serikat pekerja. Untuk bergerak maju menjadi kesadaran tertinggi yang diharapkan Lenin, mensyaratkan pembangunan komite/aliansi strategis yang bertugas mengawal kesadaran dan memastikan adanya transformasi kesadaran menjadi politis. Penetrasinya adalah konsolidasi maju/strategis sebagai latihan persatuan semacam front/aliansi, sambil meletakkan pondasi pembangunan partai revolusioner. Tentu prosesnya tidak mekanistik.

Dalam kenyataannya, ekonomisme (perjuangan ekonomi) memang menyediakan kesempatan buat pekerja untuk mendirikan organisasi-organisasi secara luas. Seperti serikat pekerja yang sekadar mencurahkan komitmen mereka pada beberapa daftar isu. Sedangkan perjuangan politik menuntut kelas pekerja untuk membentuk partai politiknya sendiri; menghimpun kekuatan-kekuatan yang memiliki pemahaman tehadap kepentingan-kepentingan kelas pekerja secara fundamental dan program (revolusioner) yang jelas untuk menjalankannya. Oleh Doug Lorimer dikatakan bahwa “Perjuangan ekonomi mengasumsikan bahwa kelas penghisap dapat dipaksa memenuhi kepentingan kelas terhisap oleh sebuah barisan kecil kelas pekerja (cukup dengan pekerja perusahaan/satu cabang industri); sementara perjuangan politik kelas pekerja dilancarkan terhadap perwakilan kolektif kelas kapitalis, yakni kekuasaan negara…

Sehingga agar potensi perjuangan kelas bisa muncul maka setiap tuntutan harus terus-menerus diarahkan untuk menggugat dasar-dasar dari penindasan (sistem kapitalisme) hingga mempropagandakan ke massa luas dan—sebagai hasil dari kemenangan propaganda—pada akhirnya massa sendirilah yang menghendaki tatanan masyarakat baru supaya kepentingan fundamentalnya terbela. Secara politik sama dengan mengangkat proletar sebagai kelas yang berkuasa.

Partai Kelas Pekerja atau Partai Revolusioner

Partai bukanlah perwakilan sektoral tertentu, atau bukan sebuah persekutuan sektoral-tunggal yang menghimpun dominasi kategori sektor tertentu. Dalam arena politik pergerakan kita, konsepsi partai paling sering dibicarakan, dan sesering itu pula diskusi mengenai partai menghasilkan sedikit capaian, jikapun tidak bisa dikatakan gagal membangun partai.

Yang perlu dipahami tentu partai yang dimaksud di sini bukanlah partai yang sekadar mencurahkan energinya untuk kepentingan pemilu namun sebuah partai revolusioner, yang dalam definisi Musso harus mempunyai fungsi-tugas sebagai penjamin dan penjaga ideologi kelas, suatu haluan kesadaran. Tanpa adanya partai revolusioner tersebut, maka potensi radikal proletar hanya akan menjadi sebuah potensi saja.

Di Indonesia sendiri, di luar kelompok yang menggunakan definisi partai, terdapat konsolidasi-konsolidasi gerakan rakyat yang terbagi dalam beberapa konsolidasi. Masing-masing serikat punya pusat konsolidasinya sendiri-sendiri. Misalnya, Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI), Komite Persiapan—Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KP—KPBI), Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Itu adalah konsolidasi berperspektif multi-sektoral. Isinya tak sekadar serikat pekerja saja. Di luar itu terdapat konsolidasi sektoral (isinya hanya serikat pekerja) yang terdiri dari 3 konfederasi terbesar serikat pekerja di Indonesia: KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI). Tentu akan sangat panjang sekali jika menjelaskan profil masing-masing serikat juga proses konsolidasinya. Hal yang terpenting untuk direnungkan adalah sejauh mana ‘pertentangan yang tak terdamaikan’ (pertentangan antagonis) antara proletariat dan borjuis disadari sehingga sedahsyat apapun kekuatan konsolidasi tanpa diberi muatan ideologis hanya akan membuat potensi kelas pekerja malnutrisi. Apakah mereka sudah bergerak dari tuntutan ekonomistik menjadi politis, kemudian merangkak membangun kekuatan ideologis dengan membangun alat politik berwatak kelas berupa partai?

Secara konkret, partai yang dimaksud bukanlah partai yang kehilangan legitimasinya dari proletariat karena meminjam istilah Badiou, proletariat adalah ‘presentasinya’ sehingga partai adalah presentasi langsung dari proletariat dan representasi dari posisi perang kelas. Sehingga partai adalah wadah presentasi sebagaimana proses dramatik komune paris, walau hanya berlangsung 72 hari.

Dari diskursus tentang partai revolusioner itu sendiri (Partai Marxis), biasanya, yang diperdebatkan adalah konsepsi partai yang terbuka untuk massa atau partai dengan seleksi ketat; kategori-kategori apa saja yang bisa dijadikan syarat layak dilantik menjadi anggota partai; bagaimana hubungan partai dengan gerakan. Pertanyaan seputar itu paling banyak terjadi perdebatan. Menurut sepengetahuan saya, di Indonesia sendiri masih sedikit kelompok yang membangun dan menamakan dirinya partai. Sebagai contoh yang ada adalah Partai Pembebasan Rakyat dan Partai Rakyat Pekerja. Keduanya adalah sebuah partai yang sama-sama menggunakan Marxisme sebagai dasar pondasi kajian maupun praktikalnya. Tentu semangatnya adalah membangun sosialisme dan agar proletariat tidak melupakan tujuan yang sebenarnya: perjuangan kelas.

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply