Kata pengantar buku yang baik mengungkapkan pokok pikiran yang hendak dikemukakan penulis. Demikian, kata pengantar bukanlah ikhtisar dari seluruh isi buku. Inilah yang kita temukan dalam kata pengantar Das Kapital (1867)[1] jilid satu untuk edisi Jerman pertama. Dalam edisi tersebut pokok pikiran Marx menuju pembahasan mengenai kapital sudah dapat diperoleh di muka.

Pertama, substansi utama karya terdahulunya Sumbangsih Untuk Kritik Ekonomi Politik (1859) diringkas dalam tiga bab pertama Das Kapital. Yaitu Komoditi, Proses Pertukaran, dan Uang atau Sirkulasi Komoditi disajikan sedemikian rupa sebagai pondasi sekaligus haluan dasar untuk analisa bab-bab berikutnya.

Kedua, Marx mewanti-wanti pembaca bahwa bab pertama soal komoditi sebagai bagian tersulit dalam Das Kapital. Perkara substansi nilai (the substance of value) dan besaran nilai (the magnitude of value) adalah soal pokok dalam bab komoditi yang mesti lekat-lekat dibaca dalam Das Kapital.

Apabila sejauh ini kita masih memelihara anggapan umum bahwa membaca Das Kapital adalah sesuatu yang sukar, maka anggapan tersebut perlu segera diubah dan dibuktikan dengan gegas membacanya. Setiap upaya memahami kapital betapapun sulitnya adalah kunci sukses untuk menganalisis tatanan sosial dan karenanya membuka kemungkinan untuk mengubahnya.

Kapital diibaratkan Marx seperti kesatuan fisiologis manusia. Lebih mudah menyelidiki organ sebagai suatu kesatuan ketimbang mempelajari dari satuan kecil sel. Dengan demikian, Das Kapital adalah abstraksi atas rasionalitas struktur, kausalitas corak produksi kapitalistik[2][3]. Dalam kapitalisme, produk kerja dan bentuk nilai dari suatu komoditi adalah detail-detail kecil yang wujudnya bisa macam-macam. Das Kapital memperlihatkan jalin abstrak dari kekuatan yang membentuk pusparagam produk kerja dan bentuk nilai dari komoditi. Membuat hubungan antaranya jadi dapat dipahami. Sejak dalam corak produksi kapitalistik, kekayaan masyarakat diukur berdasarkan besar kumpulan komoditi, maka penyelidikan pada corak produksi ini dimulai dari analisis terhadap komoditi.

Ketiga, Marx berangkat dari pertanyaan mengenai hukum alamiah corak produksi kapitalis, bukan dari perkembangan tingkat pertentangan sosial yang dihasilkannya[4]. Yang pertama mengkondisikan yang terakhir dan tidak sebaliknya tanpa mengandaikan telah adanya jawaban dari yang pertama[5]. Dengan demikian, ibarat seorang fisikawan meneliti gejala kinetik lewat eksperimen dalam kondisi daya kinetik sebagai suatu normalitas fisika, Marx menyelediki gerak produksi dan pertukaran berdasarkan hukum kepemilikan pribadi dan penggunaan profit untuk akumulasi kapital dalam alam pikir masyarakat kapitalis yang mewajarkannya. Pada masa itu Marx adalah ilmuwan pertama yang merumuskan corak produksi kapitalis (the capitalist mode of production)[6]. Inilah alasan utama Marx tak ragu untuk mengerjakan Das Kapital walau aral melintang menghadang. Dalam disituasi hidup yang penuh kemelaratan. Das Kapital dengan begitu memang layak disebut buku ilmiah karena memuat hukum produksi kapitalistik. Das Kapital sejak asali diperuntukan bagi kelas pekerja semua negeri. Das Kapital menunjukan kenyataan bahwa kapitalisme itu bermasalah dan sampai hari ini kontradiksinya masih berjalan hampir di seluruh muka bumi. ***

Kepustakaan

Marx, Karl. 1977. Capital: A Critique of Political Economy, volume 1, diterjemahkan oleh Samuel Moore dan Edward Aveling. London: Lawrence and Wishart.

————-. 1867. “Preface to the First German Edition” dalam Capital, Volume One (sumber: https://www.marxists.org/archive/marx/works/1867-c1/p1.htm).

Suryajaya, Martin. 2012. Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. Yogyakarta: Resist Book.

[1] Karl Marx, Capital: A Critique of Political Economy, volume 1, diterjemahkan oleh Samuel Moore dan Edward Aveling (London: Lawrence and Wishart), 1977.

[2] “[T]he body, as an organic whole, is more easy of study than are the cells of that body. In the analysis of economic forms, moreover, neither microscopes nor chemical reagents are of use. The force of abstraction must replace both. But in bourgeois society the commodity-form of the product of labour—or the value-form of the commodity—is the economic cell-form. To the superficial observer, the analysis of these forms seems to turn upon minutiae. It does in fact deal with minutiae, but they are of the same order as those dealt with in microscopic anatomy.” Ibid.

[3] Perlu ditegaskan pula bahwa kekuatan abstraksi ini tidak bersifat korelatif: terajut antara subjek dan objek. Lihat Martin Suryajaya, Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer (Yogyakarta: Resist Book), 2012, hlm. 79-90.

[4] “[I]t is not a question of the higher or lower degree of development of the social antagonisms that result from the natural laws of capitalist production. It is a quetion of these laws themselves, …” Loc cit.

[5] “My standpoint, from which the evolution of the economic formation of society is viewed as a process of natural history, can less than any other make the individual responsible for relations whose creature he socially remains, however much he may subjectively raise himself above them.” Ibid, hlm. 21.

[6] “The physicist either observer physical phenomena where they occur in their most typical form and most free from disturbing influence, or, wherever possible, he makes experiments under conditions that assure the occurrence of the phenomenon in its normality. In this work I have to examine the capitalist mode of production, and the conditions of production and exchange corresponding to the mode.” Ibid.

Foto: Huffington Post

About the Author

Related Posts

Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah...

Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang...

Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan...

Leave a Reply