Penyelidikan Marx terhadap masyarakat kapitalis pertama-tama didasarkan pada analisis tentang komoditi. Kekayaan dalam masyarakat dimana corak produksi kapitalis berdiri mengemuka sebagai kumpulan komoditi-komoditi. Itulah sebabnya Marx memulai analisisnya dari komoditi. Menurutnya, komoditi harus dibedakan dengan barang. Tidak semua barang adalah komoditi, begitupun sebaliknya. Pertanyaannya, seperti apa komoditi yang barang dan yang bukan barang itu? juga apa itu barang yang komoditi dan yang bukan komoditi?. Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan tersebut.

Barang merupakan entitas fisik ciptaan manusia untuk memuaskan kebutuhan manusia. Apapun hakikatnya, baik untuk penuhi kebutuhan lahir atau juga batin, tidak jadi soal. Namun barang tidak serta merta menjadi komoditi. Komoditi yang dimaksud Marx mula-mula harus dipahami sebagai barang dagangan. Barang dikatakan sebagai komoditi karena ada relasi sosial yang melandasi keberadaannya.

Sebagai ilustrasi bahwa tidak semua barang adalah komoditi simak contoh berikut:

Suatu ketika ada seorang pemuda pergi ke toko kue untuk membeli sepotong kue (komoditi). Setelah dibeli, kue tersebut digunakan untuk memberi kejutan ulang tahun pada kekasihnya. Kue (barang) yang dibeli pemuda tersebut merupakan sebuah komoditi (relasi jual-beli), namun ketika kue sudah diberikan (berelasi) pada sang kekasih, kue tersebut tidak lagi menjadi komoditi. Melainkan menjadi kejutan yang manis.

Contoh lain, dalam tradisi muslim zakat berupa beras 3,5 kg adalah kewajiban. Umat muslim yang taat menyerahkan zakat pada panitia masjid wilayahnya untuk disalurkan pada orang fakir miskin. Dalam konteks tersebut zakat berupa beras (barang) diberikan cuma-cuma pada fakir miskin (relasi). Dalam relasi ini beras tidak menjadi komoditi, melainkan amal ibadah. Beras zakat menjadi komoditi jika umpamanya beras yang seharusnya disalurkan tersebut malah diselewengkan oleh oknum panitia untuk kemudian dijual ke pasar. Pada situasi ini beras (barang) zakat tersebut relasinya bukan lagi sebagai amal ibadah, melainkan komoditi.

Ilustrasi berikut menggambarkan bahwa tidak semua komoditi adalah barang. Relasi komoditi bergantung pada kondisi sosial masyarakat dan kebudayaannya. Sebagai contoh, seorang eksekutif muda membutuhkan transportasi cepat sehingga memilih jasa (relasi) maskapai penerbangan internasional. Dalam hal ini komoditi berupa jasa bukan barang. Jasa pesawat, bagi orang Baduy-dalam bukanlah komoditi. Mengapa? dalam kebudayaan orang Baduy-dalam berpergian hanya dibolehkan dengan berjalan kaki.

Contoh lain, dalam suatu masyarakat sederhana seorang dukun bayi yang membantu ibu hamil melahirkan (relasi) biasanya mendapat imbalan berupa sembako sukarela (barang). Pada suatu ketika, pemerintah mewajibkan setiap dukun bayi untuk memiliki sertifikat dan mengikuti pelatihan tenaga medis modern. Diikutilah anjuran pemerintah tersebut. Sejak itu dukun bayi tersebut mendapat gelar sebagai bidan resmi. Ia kemudian menetapkan tarif untuk setiap praktek kerja membantu kelahiran (jasa), maka praktek kerja ini kemudian menjadi komoditi yang bukan barang.

Dengan demikian, komoditi tidak melulu berupa barang yang memiliki wujud fisik atau terindrai, melainkan bisa bukan barang atau wujudnya menempel pada sesuatu seperti komoditi jasa, ide, prediksi, pikiran, kebahagiaan, ketidakpastian, kejiwaan, bahkan fantasi. Sehingga, setiap relasi sosial dapat melandasi adanya komoditi yang bukan hanya berupa barang, itulah sebabnya tidak semua komoditi adalah barang.

Kepustakaan

Marx, Karl. 1977. Capital: A Critique of Political Economy, volume 1, diterjemahkan oleh Samuel Moore dan Edward Aveling. London: Lawrence and Wishart.

Foto: Commodity Online

About the Author

Related Posts

Dalam corak produksi kapitalisme, tenaga kerja manusia adalah sebuah komoditi kunci yang unik....

Marx memulai analisis dari jenis petukaran komoditi yang paling sederhana yaitu, pertukaran...

Sebagai teman membaca Das Capital, sangat disarankan kita pun membaca buku Understading Capital...

Leave a Reply