Terlalu kecil bila kita taruh Soekarno hanya sebagai seorang nasionalis. Dengan segala gagasan yang ia cetuskan, Soekarno adalah seorang Nasionalis Kiri. Lebih jauh lagi, Soekarno adalah seorang Marxis. Ketimpangan sosial-ekonomi, ketidakadilan, penindasan, eksploitasi, intimidasi, yang dibawa kolonialisme membuat Soekarno dan kawan-kawan berpikir bagaimana membebaskan rakyat kala itu. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah gerbang pembuka untuk membawa seluruh rakyat Indonesia menuju kemakmuran. Mulailah tercetus ide-ide seperti, Trisakti, Berdikari, Pancasila, dan Sosialisme Indonesia. Dari titik ini, kita bisa perhatikan bahwa Soekarno tidak secara “arbiter” untuk berjuang dalam membebaskan rakyat Indonesia. Maksudnya, ada semacam ide konstruktif yang siap dilancarkan secara konsisten, yang bertumpu pada kondisi objektif bangsa Indonesia kala itu.

Seperti konsep Sosialisme Indonesia misalnya, Soekarno tidak mengadopsi secara paten sosialisme yang dijalankan di Blok Timur, Uni Soviet. Karena memang Marxisme sebagai ilmu tidak mengakomodir generalisasi untuk setiap konsep-konsep turunannya. Artinya, jika ingin membangun negara sosialis atau pun komunis, kita harus berkaca pada latar belakang historis dan kondisi material objektif masyarakat yang bersangkutan. Atas dasar itu, terbitlah gagasan sosialisme a’la Indonesia.

Manual untuk mengejewantahkan ide ihwal Sosialisme Indonesia sebenarnya sudah termaktub dalam karya Semaun (1961), Tenaga Manusia: Postulat Teori Ekonomi Terpimpin. Dalam buku tersebut, Semaun yang memiliki latar belakang intelektual kuat dengan Marxisme merumuskan enam tingkatan perkembangan perekenomian Indonesia dalam rentang tahun 1961 hingga 1990. Namun karena peristiwa tragedi politik berdarah tahun 1965-1966, proyek itu pun terhenti dan manual ekonomi Sosialisme Indonesia pun diganti dengan kitab pembangunan kapitalisme Orde Baru yang dibuat W.W Rostow (1960), The Stage of Economic Growth.

Lewat penjelasan di atas kita bisa menangkap bahwa menjadi “Kiri” itu tidak bisa asal-asalan. Menjadi Kiri mestilah mempunyai posisi filosofis sebagai fondasi cara berpikir dan bertindak. Soekarno mempunyai fondasi Marxisme, maka setiap sikap dan gerakan politiknya selalu bertentangan dengan kolonialisme, imperialisme, liberalisme, dan kapitalisme. Jadi, sesat betul tatkala ada manusia yang memekik jika menjadi Kiri itu tidak dapat dibatasi oleh label ideologi politik tertentu. Soekarno sunggulah tidak serampangan ketika berteriak “America, go to hell with your aid!”, karena ia paham betul mau dibawa ke mana negara Indonesia ini. Pemahaman Soekarno ihwal jalan yang harus ditempuh itu berasal dari posisi filosofis (ideologi) yang ia pegang. Soekarno bukan hanya sekadar bersorak tentang kesetaraan, keadilan, dan pembebasan. Lebih dalam lagi, ia sudah memikirkan apa langkah selanjutnya yang mesti dilalui. Menjadi Kiri haruslah berpihak secara politik praktis maupun teoretis. Dan seperti sekarang ini, saat kapitalisme sudah menemukan mekanisme eksploitasi dengan cara yang sangat halus sehingga dapat mengaburkan kontradiksinya, maka tidak ada pilihan lain selain menjadi Kiri yang berlandaskan Marxisme.

Gerakan Kiri pasca reformasi juga menemukan kegamangan. Ada tendensi yang memperlihatkan bahwa setiap gerakan yang menentang pemerintah dan penindasan terhadap komunitas tertentu dianggap sebagai Gerakan Kiri. Kalau logikanya demikian berarti Pembelaan terhadap LGBT, binatang-binatang yang hampir punah, dan aliran agama tertentu sudah dapat dikategorikan sebagai Gerakan Kiri. Bukan bermaksud menyepelekan, tetapi hal itu justru dapat mengerdilkan signifikansi Gerakan Kiri itu sendiri. Contoh, bila memang hak-hak kaum LGBT sudah diakomodir oleh negara, lalu apa yang akan dilakukan setelahnya? Hampa dan sumir bukan? Bukan hanya kerdil, tetapi juga menghilangkan arah juang dari Gerakan Kiri.

Berkaca pada sejarah di muka, khususnya sebelum tahun 1965, Gerakan Kiri haruslah mempunyai posisi politik (Marxisme) tertentu agar dapat mempredeksi terciptanya tatanan sosial yang lebih baik. Hal itulah yang memungkinkan Soekarno dan kawan-kawan terus mendesakkan kemerdekaan Indonesia. Caranya dengan membongkar kontradiksi dalam sistem perekonomian. Kolonialisme kala itu adalah sumber eksploitasi. Jalan untuk melepaskan dari dari kungkungan itu tidak lain adalah adalah memerdekakan Indonesia.

Lantas apa solusi untuk membangun Gerakan Kiri Baru Indonesia pasca reformasi?

Ada satu solusi klasik yang menyerukan kita untuk membuat partai. Membangun partai sebagai sarana mereproduksi kesadaran kolektif untuk melakukan perlawanan adalah tawaran jalan keluar yang bukan hanya klasik, tetapi juga utopis. Mengapa? Mari kita tengok realitas objektif rakyat Indonesia saat ini. Fragmentasi terjadi di segala tingkatan. Kelas pekerja sebagai agen perubahan terpecah-belah karena konflik kepentingan. Solusi membuat partai, untuk saat ini kurang patut diperhitungkan. Kenyataan menunjukkan, sebagian besar orang membentuk partai semata-mata karena kepentingan politik praktis dan transaksional. Jika dulu zaman Soekarno orang membangun partai karena kesamaan ideologi, sekarang seseorang bisa mendirikan partai dengan sangat mudah selama disokong kekuatan finansial yang mumpuni.

Kenyataan lain yang juga tidak bisa diabaikan adalah adanya kategori kelas baru: kelas menengah. Kelas menengah yang sebagian besar adalah kelas pekerja, justru membela sistem kapitalisme. Mengapa? Mereka merasa sistem ini baik nan adiluhung karena upah dan tunjangan yang mereka dapatkan dalam jumlah besar. Lalu diperparah dengan kelas menengah yang bisa saja menjadi kapitalis kecil (borjuis kecil) dengan membuat usaha “sampingan” untuk tabungan setelah pensiun. Rumit bukan? Kita beruntung ada perhelatan Belok Kiri Festival. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Belok Kiri Festival mampu memancing keingintahuan publik (khususnya para pemuda-pemudi), sehingga bisa dimafaatkan untuk membahasa ulang ihwal Gerakan Kiri.

Melalui acara-acara yang bersifat “kekinian” itulah wacana tentang Gerakan Kiri Baru Indonesia selayaknya dipugar. Generasi muda Indonesia saat ini tentu jenuh tatkala mereka harus membaca koran a’la Bolshveik yang penuh dengan kata-kata rumit dan gambar palu-arit. Gerakan Kiri Baru Indonesia mesti hadir dengan “kemasan” lebih ringan tanpa menghilangkan substansi untuk membongkar kontradiksi dan eksploitasi dalam sistem perekonomian kapitalisme yang kian lama kian terselubung. Seperti perhelatan yang tengah digarap Rumah Kiri dalam beberapa waktu ke depan yaitu, “URBAN GATHERING”. Rencananya dalam acara tersebut akan membincang perkembangan industri fashion. Titik berangkat perbincangan tidak lagi berangkat dari bagaimana sistem kapitalisme mengeksploitasi para buruh indsutri garmen, tetapi melalui penikmat fashion itu sendiri. Mereka bisa berasal dari golongan sosial yang berbeda-beda, dan sangat dimungkinkan pemuda-pemudi yang bukan bahkan tidak mengerti Kiri-Marxis bisa turut serta. Gerakan Kiri Baru akan berkembang jika memperhatikan aspek “perubahan”, “kebaruan”, “konteks waktu”, “tempat”, dan “pemakaiannya”.

*Artikel ini adalah intisari sekaligus tanggapan atas satu sesi diskusi Belok Kiri Festival di LBH Jakarta, 6 Maret 2016 bertema Soekarnois, Trisakti, dan Sosialisme Indonesia, dan Membangan Kiri Baru.

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply