Konferensi di bawah Tirani Modal 2008 — Qaryah Thayyibah bukanlah nama seorang kiai dari Timur Tengah. Bukan juga nama mazhab baru. Qaryah Thayyibah adalah sebuah nama sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) yang berada di Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Sekolah yang dikelola oleh Bahruddin ini berbeda dengan sekolah umum swasta maupun pemerintah. Mulai dari kurikulum, tehnik belajar dan mengajar hingga pengelolaan administrasi sekolahnya.

SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah menerapkan model pendidikan komunitas. Model pendidikan ini menghilangkan dominasi guru dalam kelas. Guru dan murid sama-sama belajar dan berbagi. Bahkan tak jarang murid bisa menjadi guru bagi murid yang lainnya.

Pelajaran pun tak melulu soal hitung menghitung dan baca tulis saja. Tema-tema lain mengenai persoalan sosial, lingkungan, kewarganegaraan hingga persoalan hak asasi manusia bisa menjadi materi penting dalam kelas.

Qaryah Thayyibah memberikan sisi lain tentang potret pendidikan Indonesia. Ketika cerita keberhasilan pendidikan hanya berpangku pada prestasi belajar. Atau terdengar riuh ketika sang murid bisa menjinakkan soal-soal olimpiade dan memenangkan medali emas.

Dunia pendidikan Indonesia tak mengalami kemajuan. Bahkan negara yang memiliki kewajiban untuk mencerdaskan bangsanya sendiri masih seperti mimpi di siang bolong. Pendidikan menjadi barang mahal dan elitis. Human Development Index tahun 2007/2008 menunjukkan Indonesia pada posisi 107 di dunia.

Kritikan dan analisis mengenai kondisi pendidikan saat ini muncul dalam sebuah panel tentang privatisasi pendidikan. Panel ini memiliki tema Peluang Pendidikan Alternatif dan Problem Pengakuan oleh masyarakat, pemerintah, dan Dunia Kerja. Panel ini berlangsung di Universitas Indonesia, Depok, Rabu, 06 Agustus 2008.

“Sekolah menjadi ajang kompetisi. Bukannya menjadi tempat untuk membangun jati diri siswa,” ungkap pembicara, Thantien Hidayati. Ia menilai pendidikan Indonesia hanya menjadi beban bagi siswa dan orang tua siswa. Kondisi semakin berat ketika pemerintah memberlakukan Ujian Nasional sebagai tanda kelulusan seorang siswa sekolah.

“Kalau kamu tidak lulus UN, kamu bodoh. Kalau kamu lulus UN berarti kamu pintar,” katanya.

Selain itu, menurutnya, pendidikan di Indonesia hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja saja. Dan sudah terjebak ke dalam perangkat neoliberalisme. Salahsatu buktinya dengan penghapusan subsidi kebutuhan belajar siswa oleh pemerintah.

Sylvia Tiwon, seorang dosen dari Indonesia yang mengajar di University of California, Berkeley, menjelaskan soal keterkaitan neoliberalisme dan pendidikan. Salah satu yang bisa dilakukan oleh warga dan komunitas adalah membangun sekolah-sekolah alternatif tadi.

Sekolah alternatif ini bisa meredam mitos dan propaganda neoliberalisme tentang pendidikan formal. Saat ini sekolah alternatif yang berbasis komunitas terus bermunculan di tengah arus gelombang pendidikan formal yang ada. Di Jawa Tengah kini sedikitnya telah memiliki sekitar 11 sekolah alternatif. Qaryah Thayyibah pun memberikan kesejukan dan harapan baru. Dan meletakkan pendidikan pada pondasi dasarnya sebagai proses untuk memanusiakan manusia.

Foto: Organizing Change

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply