Di luar Bloor Cinema di Toronto tertera pengumuman “The Last Mistress” pada pukul 04.00, “Naomi Klein–The Shock Doctrine”–pada pukul 07.00 dan “Little Shop of Horros” pukul 09.30. Bisnis di toko sebelah tampak hangat, sehangat malam itu. Berbekal tiket ke acara Naomi Klein, orang-orang mengantri sampai ke ujung jalan. Di luar pintu masuk, seorang pria paruh baya dan perempuan berumur sibuk menjual “Socialist Action” seharga 1 dollar (Mereka menjual edisi bulan September yang memuat artikel mengenai kontradiksi kapitalisme, perang kelas di Bolivia dan komentar dari Mumia Abu Jamal).

“Kami meminta maaf ada keterlambatan. Ini kebiasaan aktivis, jadi kalian pasti sudah terbiasa,” kata seorang panitia perempuan. Perempuan muda dengan baju hitam, celana jeans hitam dan anting-anting hitam. Atas nama penyandang dana penyenggara acara dia mengajak yang hadir untuk memerangi rasisme dan kemiskinan serta bekerja untuk pendidikan, menggalang solidaritas internasional, keadilan bagi para imigran dan pengungsi, solidaritas untuk Palestina dan Mowahk of Tyendinaga serta Algonquin of Barriere Lake. “Saya senang karena anda tidak akan bisa melihat audien dari panggung ini,” katanya, “karena saya tidak pernah berbicara di depan delapan ratus lima puluh orang kecuali dalam sebuah protes, dan anda bisa dengan mudah membaur didalamnya.” Dia menengok catatannya. “Bagi audien yang berbeda—mereka yang memegang kapital dan kekuasaan di masyarakat—kata dan ide seorang Naomi Klein merupakan ancaman serius,” kata dia. “Kata-katanya menjadi sumber inspirasi…bagi kita yang pernah dan sedang dicap anti-globalisasi, antikolonialisasi, gerakan anti kemiskinan radikal dan dicap menuntut perubahan sistem secara total dan menyeluruh.

Klein mendatangi panggung. “Ini merupakan masa-masa penuh makna,” katanya sambil tersenyum. Paket dana talangan pertama yang diumumkan oleh Menter Keuangan, Henry Paulson baru saja ditolak oleh The House. “Presiden muncul di televisi dan mengumumkan akan ada Armageddon kalau tindakan ini tidak diambil…tetapi itu tidak terbukti!” dia terus berbicara disambut pengunjung yang riuh rendah bertepuk tangan. Dia memakai jeans berwarna gelap dengan sepatu boot tinggi, baju putih dengan blazer hitam panjang. Dia berpenampilan bak petarung memasuki gelanggang pertandingan. Dia tampak mengagumkan.

Dia baru saja melalui harinya di balik sofa biru ruang keluarga, menunggu tanpa lelah apa yang akan terjadi di Washington lewat CNN. Dia mempersiapkan diri dengan bercangkir-cangkir kopi dan smoothie. Dia memeriksa perkembangan yang terjadi dari pesar di iPhone yang berasal dari kawannya, seorang ekonom yang ada di balik layar. Dia mengikuti anjloknya pasar saham sambil berpikir betapa bodoh seorang Paulson berpikir bahwa dia bisa mengontrol itu semua. “Itulah politisi yang berlagak pedagang.” Penyelenggara Negara tidak seharusnya bermain di dalam pasar, dia seharusnya “mengatur”.

Beberapa minggu terakhir merupakan masa sibuk. Sejak buku “The Shock Doctrine” diluncurkan, Naomi Klein–38 tahun–telah menjadi seseorang yang paling menonjol dan berpengaruh diantara kaum kiri Amerika – sebagaimana Howard Zinn dan Noam Chomsky tiga puluh tahun yang lalu. Nyaris setiap hari dia berbicara di seluruh dunia, dan ratusan orang datang untuk mendengarkan. Mereka mengunjungi websitenya dan mendaftarkan diri kedalam newsletter-nya serta mengirimkan surat penggemar yang penuh hasrat. Dia telah menjadi ikonnya ikon: Radiohead dan Laurie Anderson turut mempromosikan bukunya kepada penggemar mereka; laporannya di Baghdad menginspirasi John Cussack membuat film komedi “War, Inc”. Direktur film asal Meksiko, Alfonso Cuan merasa sangat yakin dengan “The Shock Doctrine” sampai membuat film promosi pendek dengan cuma-cuma. Sekarang, secara mendadak, Naomi Klein diminta dimana-dimana. Munculnya krisis ekonomi menjadi bukti teori “shock doctrine” dan semua orang menginginkan Naomi muncul di televisi dan menjelaskannya.

Tema utama The Shock Doctrine adalah bahwa kapitalisme dan demokrasi, pasar bebas dan manusia bebas, tidak bisa berjalan berdampingan sebagaimana klaim selama ini. Justru sebaliknya, kapitalisme–setidaknya kapitalisme fundamentalis, salah satu tipe yang dipromosikan oleh almarhum Milton Friedman dan kroni “Chicago School” (Mazhab Chicago)–menjadi begitu tidak popular dan berbahaya bagi semua orang kecuali si kaya dari yang terkaya, dimana perwujudannya membutuhkan tipuan terbaik dan yang lebih buruk lagi adalah terror dan siksaan. Friedman mempercayai bahwa pasar akan bekerja baik ketika dibebaskan dari campur tangan pemerintah, sehingga dia mengadvokasi penghapusan tarif, subsidi, aturan tentang upah minim, perumahan publik, jaminan sosial, peraturan finansial, perijinan, termasuk bagi dokter, ya, boleh dibilang menghapus seluruh ukuran yang dipakai untuk melindungi masyarakat dari logika kejam pasar. Naomi berargumentasi bahwa satu-satunya kondisi dimana populasi akan menerima reformasi gaya Friedman adalah ketika ada kondisi kejut, baik itu karena bencana alam, serangan teroris dan perang. Seseorang yang mengalami shock akan berada pada kondisi seperti anak-anak yang merindukan sosok orang tua pengontrol; serupa dengan itu, masyarakat dalam kondisi shock akan dengan mudah memberikan kuasa kepada para pemimpin dan mengijinkan mereka menghancurkan fungsi mengatur pemerintah.

Menurut observasi Friedman, masyarakat sering kali terkungkung oleh “tirani status quo” sehingga tidak mau menerima reformasi nyata, dan dia berargumentasi bahwa krisislah yang bisa meyakinkan masyarakat untuk berubah. Ide ini tidak sepenuhnya kontroversial. Tetapi Naomi Klein menyimpulkan kata-kata Friedman bahwa Chicago School adalah “gerakan yang berharap pada krisis layaknya petani berharap hujan pada musim paceklik”. Lebih buruk lagi, pengikut Friedman tidak bisa sabar, terkadang begitu tidak sabar untuk duduk berdoa kepada Tuhan. Bencana alam sulit untuk diciptakan, tetapi teror dan pengambilalihan kekuasaan mungkin diciptakan. “Beberapa dari pelanggaran HAM yang kejam di era sekarang,” tulisnya, “yang seringkali dipandang sebagai tindak sadistis yang dilakukan oleh rejim anti demokrasi” [Pinochet di Chili, atau Junta Argentina] “sebetulnya merupakan tindakan yang ditujukan untuk menteror publik atau secara aktif mempersiapkan ruang untuk memperkenalkan reformasi pasar bebas secara radikal.

Klein untuk pertama kali memformulasikan tesisnya pada tahun 2004, saat dia melakukan reportase di Bagdad dan menyadari bahwa tujuan Paul Bremer adalah membangun kondisi kapitalis yang sempurna di Irak selagi masyarakat masih berkutat dalam “keterguncangan dan ketakutan” dari pemboman. Setelah itu, Naomi melihat bagaimana tanah nelayan di pesisir Sri Lanka dijual untuk dijadikan hotel setelah peristiwa tsunami. Lebih lanjut dia menyadari bahwa Friedman menyarankan untuk mengubah sekolah publik di New Orleans yang hancur karena badai dengan sekolah swasta. Pola itu mengagetkan. Sekarang, setelah guncangan tersebut menggoyang Washington, sesuatu yang berbeda justru terjadi. Di satu sisi, reaksi awal terhadap krisis ekonomi sejalan dengan teorinya–kejut atau the shock (kegagalan perbankan dan jatuhnya pasar) telah menginspirasi pemerintah untuk mengambil kekuatan besar (sebesar tujuh ratus milyar dollar tanpa prasyarat apapun) dengan klaim bahwa dalam krisis seperti itu setiap orang hanya perlu mempercayakan pengambilan tindakan yang benar, walaupun tindakan tersebut tampak seperti membuat si kaya menjadi kaya dengan mengorbankan orang lain. Itu merupakan bagian dari buku teks. Hanya saja, rencana tersebut tidak berjalan demikian. Para konstituen menulis ribuan surat protes, dan para blogger menulis kemiripan peristiwa tersebut dengan kejadian setelah 11 September, dan bagaimana dana talangan merupakan ekivalen ekonomi dari Patriot Act. Semuanya seperti yang Naomi tulis di bagian akhir buku: penangkal guncangan adalah ingatan. (Perbedaannya, tentu saja adalah bahwa yang ingin diterapkan oleh pemerintah bukan pembaruan gaya Friedman tetapi justru sebaliknya: intervensi besar ke dalam pasar. Walaupun demikian, inti dari intervensi tersebut tetap untuk menjamin bank, perbedaan yang tidak begitu mendasar menurut Klein.

“Bangsa Amerika ingat bahwa mereka berpikir Rudy Giuliani adalah ayah mereka setelah peristiwa 11 September, dan itulah sebabnya mereka berkeberatan mengatakan bahwa Paulson dan Goldman Sachs akan memperdulikan mereka,” kata Klein kepada audien di Bloor Cinema. “Menurut saya, kesalahan terbesar mereka dalam urusan penjaminan ini adalah betapa pendeknya tulisan dibuat. Hanya dua halaman dan tiga paragraf, dan terjadilah hal yang aneh, semua orang mebacanya.” Semua tertawa.”Itu terdengar seperti sebuah kup”

Dia melanjutkan lagi,”Amatlah berharga untuk memikirkan apa yang telah dilakukan kaum kanan selama tiga puluh lima tahun kebelakang sebagai konter revolusi yang telah menghambat kemenangan kita.” Sejarah The New Deal lebih dikenal sebagai sejarah F.D.R[1], kata dia, tetapi pembicaraan mengenai tekanan dari bawah tidak pernah mendapat perhatian yang cukup. Masyarakat terorganisasi, ketika tetangga mereka terusir dari rumah dan perkakas mereka tergeletak di jalan, yang lain akan mengembalikan semua itu ke dalam rumah mereka. Itulah bentuk aksi nyata yang memberikan kemenangan atas kontrol sewa, perumahan publik (public housing) dan pembentukan Fannie Mae[2]. Hal lain yang patut diingat, katanya, adalah bahwa pengorganisasian ini merupakan ancaman – dari revolusi sosialis – dan itulah yang memungkinkan F.D.R berkata ke Wall Street, “Kita harus berkompromi untuk menghindari terjadinya revolusi.” Sekarang, pasar sahamlah yang menjadi kesempatan yang sama seperti pada saat terjadi kekacauan di tahun tiga puluhan, karena kita tengah melihat kegagalan “tangan ajaib” di depan mata kita.”Inilah saatnya berkata ‘model anda gagal’,”katanya.”inilah momen progresif yang ditunggu: untuk mengalahkan.”

Klein lahir tahun 1970, tetapi latar belakang politiknya dimulai sejak tahun tigapuluhan. Tahun tiga puluh dan empat puluhan adalah saat terakhir, menurutnya, dimana gerakan sosial masih punya taring untuk mendorong perubahan ekonomi radikal secara progresif. Saat itu juga merupakan saat terakhir dimana harapan politik yang berani dan besar ada di dalam keluarganya, saat terakhir sebelum semuanya menjadi sebuah utopia belaka bagi keluarga besar Klein.

Kakek dan neneknya, Anne dan Phillip, bertemu di Jack London Club–sebuah klub artis kiri–di Newark, New Jersey, di tahun tiga puluhan. (Kakak Phillip, Sol, bahkan lebih punya tekad– dia pindah ke Uni Sovyet setelah revolusi terjadi dan tidak pernah kembali lagi.) Awalnya, Phillip ingin menjadi pelukis dan di tahun 1936 dia mendapat pekerjaan sebagai animator di Disney. Dia bekerja untuk produksi “Fantasia”, “Snow White” dan “Pinocchio”. Para animator Disney berusaha mengorganisasi diri mereka secara sembunyi-sembunyi sejak awal tahun tiga puluhan, tetapi mereka baru berhasil melakukannya setelah bonus “snow white” yang dijanjikan tidak terjadi. Di akhir musim semi tahun 1941, mereka melakukan mogok kerja. Phillip dan Anne, anggota persatuan buruh yang bersemangat tinggal di tenda di depan studi, memasak disana dan melakukan piket bersama. Anak pertama mereka, Michael, ayah Naomi, waktu itu berumur tiga tahun dan turut tinggal di tenda. Mogok kerja itu selesai pada September, tetapi beberapa bulan setelah itu Phillip dipecat karena menjadi penghasut. Di tahun 1943, dia dan Anne kembali ke New Jersey dan bekerja di galangan kapal.

Sejak hidup mereka carut-marut karena politik, Anne dan Phillip mulai mengalami krisis kepercayaan. Penandatangan Molotov-Ribbentrop Pact oleh Salin menjadi pengkhianatan pertama. Ditambah lagi berita gulag di Uni Sovyet. Saat Khrushchev memberikan pidato rahasia di taun 1956, dimana dia mematahkan pengkultusan Stalin dan konsekuensinya, Phillip dan Anne, sebagaimana banyak orang lainnya, meninggalkan komunisme secara pahit. Mereka memutuskan untuk berpegangan kepada kepercayaan inti mereka yaitu keadilan sosial dan kesamaan ras, dan mengajarkan anak-anak mereka untuk percaya pada hal-hal tersebut, kecuali untuk satu serangan singkat – Anne membawa Michael yang berusia 10 tahun ke Partai Progresif di tahun 1948 dan melakukan perjalanan ke Washington untuk mendukung Rosenbergs – mereka mundur dari politik. Mereka mulai menghabiskan waktu di Nature Friends (kemudian disebut Kamp Midlave) – sebuat tempat retreat di Patersen, didirikan di tahun dua puluhan sebagai tempat dimana seluruh pekerja dari berbagai ras dapat bergabung dan menikmati alam. Nature Friends menjadi hidup mereka. Phillip membangun rumah di daerah itu, dan Anne menanam tanaman. Mereka pergi menonton penyanyi kiri seperti Pete Seeger, Paul Robeson dan Woody Guthrie. Pillip berupaya mengembangkan ambisinya sebagai pelukis tetapi semua rupa yang dibuatnya menyerupai karakter Disney. Dia mencoba memahat di besi dan setelah beberapa waktu hal itu baru membuatnya puas.

Di sekolah menengah, Michael Klein adalah anggota band, komite siswa, dan kapten tim berenang. Tetapi sesungguhnya dia punya kehidupan ganda. Dia dikirim ke perkemahan musim panas sosialis, dan teman-temannya adalah anak-anak “merah” yang tinggal di New York. Bersama mereka dia bisa nyaman berbicara tentang kehidupannya tanpa perlu khawatir. Hal yang sulit dan menakutkan untuk menjadi anak seorang komunis. Salah satu kenangan masa kecilnya adalah saat ia melihat rombongan bus di Perkemahan Midvale di awal musim gugur 1949. Lusinan orang yang tengah menonton konser Paul Robeson terpaksa keluar dengan cedera karena diserang oleh batu dan pentungan oleh preman setempat. Rosenberg dieksekusi pada tahun 1953. Kedua anaknya menjadi yatim piatu. Mereka berumur 6 dan 10, tidak jauh berbeda dari Michael. Itu pun membuat Michael ketakutan.

Keyakinan seorang Michael Klein tidak berbeda dengan kedua orangtuanya. Seperti halnya mereka, ia menjaga jarak dengan partai politik. Di sekolah kedokteran, dia memprotes perang Vietnam dan bergabung dengan kelompok Physician for Social Responsibility. Ketika ia harus menjalani wajib militer, ia tidak menandatangani pernyataan dirinya tidak terlibat dalam organisasi komunis, sehingga pihak militer harus mengadakan dengar pendapat untuk menguji loyalitasnya dalam melayani negara. Pada saat yang sama, ia bertemu pembuat film sekaligus aktivis muda dari Philadelphia bernama Bonnie Sherr, dan menghamilinya. Di dalam proses negosiasi pemilihan, Bonnie Sherr melihat film dokumenter yang dibuat Canadian Broadcasting Corporation tentang tentara Amerika yang menjatuhkan napalm (bom api) di tengah populasi sipil. Menurutnya,”kalau sebuah lembaga pemerintah Kanada bisa membuat film seperti itu, lebih baik kita menikah dan melarikan diri ke Kanada.” Itulah yang kemudian mereka lakukan.

Mereka tinggal di Montreal. Michael bekerja sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit pemerintah. Bonnie, yang belajar film di California. Film pertamanya tentang napak tilas pertama Csar Chaves’s di Sacramento. Di Kanada, Bonnie membuat film berisi wawancara para penerima pelayanan kesehatan tentang pelayanan yang mereka terima. Dia juga membuat film seri tentang Saul Alinsky, kemudian film tentang gerakan perdamaian perempuan di Greenham Common dan di Uni Sovyet (“Ide politik saya tentang dialog sederhana saja,” katanya sekarang. “Tahukah anda bahwa musuh adalah seseorang yang belum anda ketahui kisahnya.”) Di tahun 1980, dia berencana membuat film feminis tentang seks berjudul “Celebration”, tetapi kemudian malah membuat film pornografi berjudul “Not a Love Story”. Dia terlibat dalam kelompok film feminis di Badan Film Nasional bernama Studio D. Teman-teman di Studio D menggandrungi perbintangan (solstices) dan spiritualitas perempuan, sampai pada satu titik dia berkata pada anak perempuannya bahwa dia ingin menjadi penyihir.”Ibu saya selalu mengatakan hal seperti itu,” ungkap Klein tentang ibunya. “Dia selalu ingin menjadi ibu bumi yang lebih hippie dibandingkan dirinya pada saat itu… Fantasi Joan Baez begitu kuat. Fantasi itu selama muncul sekali dalam beberapa tahun, dan dia akan belajar untuk menjadi “Greensleeves” lagi.

Karir kedua orangtua Naomi sangat “Kanada”, sehingga komitmen Klein kepada institusi publik merupakan dorongan emosional, melewati nalar seorang naomi bahwa laba bisa membelokan fungsi tertentu seperti misalnya pelayanan kesehatan. “Kedua orang tua saya tinggal di masa bulan madu sektor publik,” katanya. “Ibu saya dan Studio D selalu ribut karena mereka tidak memperoleh sumberdaya yang menurut mereka patut diperoleh. Tetapi, dari perspektif luas, itu seperti, Ya Tuhan, kalian boleh memiliki studio perempuan yang membuat film tentang perubahan sosial di dalam sebuah institusi publik yang besar! Dan ayah pun bisa membuat sesuatu serupa dengan sistem pelayanan kesehatan dan memulai ruang bersalin di rumah sakit”– ayahnya mengakui pelayanan bidan dan pengobatan alternatif, dan turut serta dalam kampanye anti operasi yang tidak diperlukan dalam persalinan.” Sangat mudah untuk menentang ide pemerintah di Amerika dimana orang mengasosiasikan ruang publik sebatas kantor pos.

Naomi dan Seth, abangnya, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bangga akan sejarah keluarga dan kiri. “Saya tidak bisa mengatakan,” kata Seth Klein, “kapan saya pernah tidak menyadari bahwa saya sangat menyukai film Disney dan sekaligus melihat Walt Disney adalah bajingan.” Ketika mereka mengendarai mobil ke Vermon di akhir pekan, Bonnie dan Michael akan memutar kaset-kaset dari Radio Pasifica yang menampilkan sejarah Amerika melalui musik rakyat seperti cerita McCarthyisme yang disampaikan band the Weavers, gerakan hak sipil melalui Freedom Singers. Ketika Seth masih kecil, dia khawatir bahwa tidak akan ada lagi perjuangan yang tersisa untuk dilakukan, tetapi Bonnie meyakinkan Seth bahwa ia akan menemukan sesuatu yang harus diperhatikan, dan sejak kecil dia sudah mulai mencari tahu apa itu–perjuangan yang membentuk jati dirinya. Ketika dia di kelas 6, ayahnya mengajak dia mendengarkan Helen Caldicott berbicara tentang bahaya senjata nuklir, dan Seth kemudian memutuskan, itulah perjuangannya. Seth memulai kelompok anti nuklir, dan setelah lulus dia mengambil setahun untuk bertualangan menjelajah negeri dengan kelompok tersebut sambil berbicara kepada mahasiswa.

Jika Seth adalah contoh yang tepat dari anak seorang, sebaliknya Naomi justru selalu sulit diajak terlibat dalam demonstrasi. Untuk Naomi selera feminis sang ibu mengganggu. “Dia tidak suka cara saya berpakaian,” kata Bonnie. “Kelompok Studio D memakai rok panjang dan baju gedombrang.” Naomi mengingat bahwa dia berusia delapan atau sembilan ketika “mengabiskan perjalanan melalui pegunungan Rockie sambil mendandani ulang tiap orang di dalam mobil. Sandal ayah diganti dengan setelan pakaian yang berwibawa, dan ibu memperoleh tatanan rambut serta satu stel blazer berwarna pastel, rok dan sepatu yang senada.” Naomi selalu berdebat dengan kedua orangtuanya. “Karena saya penipu ulung, saya jarang ketahuan,” Naomi berkata,”debat kami lebih banyak mengenai sikap diam dan tidak perduli daripada perlawanan saya, dan tentu saja “penolakan saya menjadi bagian dari keluarga”, demikian ayah selalu mengatakannya.

Naomi menghabiskan masa remaja di dalam kamar sambil menulis puisi atau belajar dandan di kamar mandi. Bonnie tidak bisa percaya. Bonnie khawatir Naomi akan menjadi anak menyebalkan yang hanya berpikir tentang pakaian dan menghabiskan waktu di depan cermin. “saya pikir kami khawatir berlebihan tentang urusan remaja yang membentuk Naomi,” kata Bonnie. “Dia membaca Judy Blume! Saya tak percaya. Saya seorang feminis dan saya ingin anak saya pintar matematika.” Mereka berkhayal membesarkan anak posta revolusi,” tulis Naomi di umur dua puluhan. “Mereka berpikir apakah mereka sudah mencuci makanan bayi? Membaca pelatihan Orang Tua Efektif? Melarang mainan perang dan permainan bias gender lainnya?” Sekarang Bonnie berkata, “Saya pikir Naomi berpikir ‘apa salahnya bersenang-senang?’ Dan ada sesuatu pada kami–dan saya tidak begitu suka mengakuinya–sesuatu seperti jujur yang berlebihan. Kami selalu berdebat tentang sesutu. Selalu ada orang jahat.” Kenyataannya bahkan lebih buruk dari itu. Naomi mengalami spiritual claustrophobia; Naomi berkesimpulan bahwa jalur apapun yang dia ambil dalam hidup–konformis atau penentang, pengacara atau penulis puisi–pada akhirnya akan sama membosankan dan tidak masuk diakal. Dan karena itu, ide kedua orangtuanya untuk bersenang-senang–yang antara lain memuat kegiatan di alam dan menjumpai mereka yang membutuhkan di dalam kondisi primitif artifisial (piknik “ponchoed”) bagi Naomi menjadi bukti perbedaan mendasar yang tak bisa diungkapkan antara dirinya dan kedua orangtuanya.” Orang tua saya hanya berpikir untuk berada di jalan dengan VW camper,” dia menulis. “Itu sudah cukup bagi mereka. Laut, langit malam, dan gitar akustik…”

Setelah Naomi lulus dari sekolah menengah, dua peristiwa besar menghapus sikap pemberontakan pada kedua orang tuanya dan pandangan politik mereka. Pertama, ibunya mengalami stroke dan membuatnya quadriplegic. Naomi memutuskan berhenti bekerja dan menghabiskan enam bulan bersama Bonnie di rumah sakit. Kemudian, pada semester pertama di Universitas Toronto, seorang penembak menembak mati empat belas perempuan di Ecole Polythecnique, Montreal karena “Saya membenci Feminis”. Sejak saat itu, dia memutuskan menjadi feminis.

Klein duduk di sebuah meja, di dalam studi MTV di Manhattan. Dia menggoyangkan kakinya ke belakang dan depan. Dia memakai kalung panjang dan boot pendek dengan hak tinggi. Dia bisa berbaikan dengan kedua orang tua, tetapi untuk urusan pakaian dia tetap berbeda dengan gaya aktivis pada umumnya. Naomi memakai jeans tetapi dandanannya tidak bercela seperti pembawa berita. Dia tertawa dan membuat candaan. Dia banyak tersenyum terutama di atas panggung, walaupun tidak pernah jelas apakah dia tersenyum karena terhibur, menjaga kesopanan, kesal atau alas an lain. Penampilan dia bersahabat tetapi tetap terjaga.

Sambil menunggu wawancara, dia ditanya oleh lelaki muda memakai T-shirt hitam, apa kegiatannya akhir-akhir ini. Dia menjawab bahwa dia tengah bekerja membuat versi film dari The Shock Doctrine yang disutradarai oleh sutradara film “Road to Guantanamo”.

“Apa kamu pernah menonton ‘Road to Guantanamo’, Tanya Naomi.

“Tidak. Tetapi saya pernah mendengarnya.”

Film itu bagus–dengan Tipton Three di setiap pergantian wawancara—tiga lelaki Inggris muda yang ditangkap di Guantanamo selama dua tahun—”dan mereka hanya seperti blokes, begitu. Momen terbaik di film itu adalah ketika salah satu dari mereka mengusulkan untuk pergi ke Afganistan karena mereka punya banyak naan. Itulah alasannya.”

Produser, seorang lelaki muda dengan jeans dan kaos polo berwarna jeruk asam, muncul.

“Kita akan berbicara tentang China dan Olimpiade, tentang Darfur dan intervensi,” kata pewawancara. “tetapi juga tentang kepribadianmu–bagaimana anda menjadi anda yang sekarang—karena penontonnya adalah generasi muda yang akan memandang setiap orang di dalam program itu. Tujuannya adalah agar mereka ingin menjadi seperti orang tersebut.

“Apakah anda akan bertanya tentang band kesukaan saya?,” tanyanya.

Ya, sayangnya kami akan menanyakannya.”

“Supaya anda tahu, saya akan katakana M.I.A.”

“Pilihan yang sudah pasti membuat anda masuk kelompok demografis kami,” kata produser.

“Memang saya ada disini untuk menjerat. Apa saya bisa minta teh?”

Sejak emosi Naomi terusik oleh peristiwa pembataian Montreal, Naomi menjadi rujukan anak muda. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus dalam urusan politik dan jurnalistik; dia pernah menjadi editor-in-chief koran kampus, the Varsity. Setelah tahun ketiga, koran the Globe dan Mail menawarkan dia pekerjaan sehingga membuat Naomi meninggalkan kampus. Pada usia 23 tahun dia mengambil alih posisi editor This Magazine, harian Kanada yang sebanding dengan The Nation. Beberapa tahun kemudian, dia mulai kehilangan kepercayaan terhadap negara kiri (the state of the left)–dia merasa negara berhaluan kiri tidak memiliki apa-apa untuk disampaikan selain ketidaksepakatan kiri dengan orang-orang yang bertolak belakang dengannya–dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah.

Kembali ke kampus pada tahun 1996, dia menemukan bahwa semua telah berubah. Sebelumnya, di masa kuliah sarjana, dia menghabiskan sebagian besar waktu untuk protes tentang kecilnya peran dan suara perempuan di dalam kurikulum dan media; politik kampus di 1989 adalah urusan identitas politik. Tetapi, mahasiswa di tahun 1996 tidak perduli dengan identitas, mereka bicara urusan ekonomi. Pada waktu itu, korporasi mulai memasuki dunia kampus: perusahaan minuman ringan bernegosiasi untuk mendapatkan perjanjian ekslusif, iklan muncul di kamar kecil. Ada perasaan bahwa korporasi telah menjadi terlalu berkuasa–bahkan lebih berkuasa daripada pemerintah, tetapi tidak bertanggungjawab kepada siapa pun kecuali pemilik saham. Pada saat yang sama, korporasi besar menarik keberadaan fisik dari Amerika Serikat dan mulai membangun pabrik di luar negeri, secara visual dan semangat, mereka ada dimana-mana, memasukan logo mereka kedalam ruang yang dahulu merupakan ruang publik. Aktivis muda melihat itu dengan penolakan, barangkali karena salah satu ruang yang banyak dimasuki oleh korporasi adalah ruang pemuda dan aktivis, membungkus pemberontakan kedalam kampanye sedemikian rupa sehingga perlawanan tampak sia-sia.

Klein kembali keluar dari kampus dan mulai menulis buku tentang ancaman “budaya merek baru” (new branding culture). Dia memikirkan bagaimana Naomi kecil menyukai label merek yang berkilauan–semua orang punya itu–dan dia sampai pada kesimpulan tidaklah relevan jika gerakan sosial hanya mengutuk kenikmatan yang diberikan oleh label ternama tersebut. “Minuman ringan dan merek komputer berperan sebagai dewa dalam budaya kita,” dia kemudian menuliskan. “Mereka menciptakan simbol yang berkuasa, merekalah yang membangun monumen paling utopis bagi kita.” Dia mendapati gerakan anti korporasi bergejolak di seluruh dunia sebagai reaksi atas pembukaan pabrik di luar negeri dan instrusi berbagai merek di dalam negeri. Di tahun 1999, dia menyelesaikan “No Logo”, sebuah buku tentang merek dan gerakan sosial baru yang diinspirasikan oleh merek tersebut. Kemudian, merupakan keberuntungan, ketika No Logo sedang dicetak, ada sejumlah besar pemrotes berkumpul di pertemuan World Trade Organization di Seattle. Mereka seakan mendadak muncul dan hal itu membingungkan kaum kiri tua. Pada saat itulah “No Logo” muncul dan Klein sendiri yang memberikan penjelasan.

Klein tinggal bersama suami, Awi Lewis di sebuah rumah kecil di Toronto, di sebuah jalan yang sepi. Lewi adalah pembawa acara politik di televisi dan pembuat film dikumenter. Tahun ini dia meliput pemilu Amerika untuk jaringan Al Jazeera berbahasa Inggris. Rumah mereka sangat rapi, tidak ada yang berantakan. Diisi perabotan rumah tangga yang sederhana, seakan dibeli dengan satu kali perjalanan ke Crate & Barrel. Rumah itu tampak tidak ditinggali, dan memang tepat, karena rumah itu lebih banyak ditinggal: baik Lewis maupun Klein selalu berada di jalanan dan sejak pindah setahun yang lalu, hanya menghabiskan tidak lebih dari dua bulan di Toronto. Walaupun demikian, rumah itu penting bagi Naomi Klein. “Saya datang dari latar belakang pengelana dan saya lelah berkelana,” kata Kelin. “Di Montreal, kota dimana saya dibersarkan, jejak kami tidak ada lagi.” (Orang tua Klein pindah ke British Columbia setelah Bonnie terkena stroke, karena cuaca disana bersabahat untuk dilalui dengan kursi roda; Bonnie menjadi aktivis bagi orang cacat. Seth juga tinggal di British Columbia, bekerja dalam isu kemiskinan bagi para pemikir.) “Saya tidak suka pergi ke kota tempat saya dibesarkan dan merasa seperti orang asing,” kata Klein. “Ini adalah kota Avi, dia dan beberapa generasi di atasnya tinggal disini, dan ini adalah sebuah akar yang paling dekat yang bisa saya dapatkan.”

Walaupun Klein dan Lewis mengabiskan sebagian besar waktunya secara terpisah, mereka membuat titik temu untuk menjaga ketergantungan diantara mereka. Avi berusaha tidak bekerja ketika Naomi membutuhkannya. “Avi memberi makan Naomi dan mengurus Naomi ketika Naomi menulis,” kata Bonnie. “Avilah yang melakukan editan pertama setiap tulisan Naomi.” Avi menemani Naomi dalam tur buku dimanapun dia bisa. Di tahun 2002, Klein dan Lewis memutuskan bahwa satu-satunya harapan untuk bisa menghabiskan waktu bersama-sama dalam jangka waktu panjang adalah dengan melakukan proyek bersama, dan mereka memutuskan membuat film. Saat itu, mereka sudah lelah untuk selalu menjadi oposisi, mereka selalu diminta memberi solusi alternatif, karena itu mereka memulai perjalanan mencari apa yang menurut mereka baik. Mereka memilih Argentina, dan membuat film dokumenter “The Take”, yang bercerita tentang sebuah kelompok pekerja yang dipecat dan mengambil pabrik mereka yang sudah ditutup kemudian menjalankannya kembali secara kolektif. Pada saat itu, Buenos Aires sedang rusuh, setiap saat setiap protes yang mereka rekam akan berakhir rusuh dan berakhir dengan tembakan polisi, dan karena itu selalu ada diskusi tentang apa yang harus dilakukan. Lewis ingin menghindar, Klein ingin bertahan. “Saya mencoba menghindari para kru dari situasi bahaya,” kata Lewis. Saya bilang, “ingat keselamatan, ini bukan negara kita, kita ada disini atas nama solidaritas, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk mati.” Tetapi Naomi berkata,”ini prinsipnya: kalau sesuatu terjadi dan kita adalah satu-satunya yang menjadi saksi, kita punya tanggung jawab untuk menyebarluaskannya.”

Klein dan Lewis hampir selalu sepakat dalam banyak isyu politik, tetapi Klein tampak lebih siap mendobrak banyak hal; lebih sinis; lebih penuh amarah. “Saya pikir Avi terlalu cepat menolak gerakan revolusioner,” kata Naomi. “Saya pikir perubahan bertahap memang masuk akal dalam konteks Kanada, tetapi di pegunungan Chiapas hal tersebut tidak tepat. Saya tidak memuja kekerasan yang dilakukan para gerilyawan, tetapi saya pikir memang ada situasi yang memiliki dasar untuk melakukan perjuangan bersenjata. Kami bertengkar mengenai hal-hal seperti itu.” Berbeda dengan Klein yang berasal dari keluarga bekas komunis yang penuh kepahitan, Lewis datang dari keluarga politisi terkemuka, selalu menjadi seorang sosialis ketimbang komunis, dan sangat menjaga keyakinan tersebut. “Kenangan-kenangan awal saya adalah malam-malam konvensi dan pemilihan, melihat orang dewasa menangis atau merayakan sesuatu,” kata Lewis. “Kami di dalam keluarga memahami bahwa kami adalah bagian dari suatu gerakan dan Partai–dengan huruf kapital– adalah bagian besar dari hal tersebut.

Kiblat politik keluarga Lewis hampir tidak pernah berubah dalam beberapa ratus tahun ke belakang. Kakek buyut Avi Lewis Maishe Losz adalah pimpinan Jewish Labor Bund (perkumpulan pekerja Yahudi), sebuah partai sekuler sosialis di kota kecil sebelah timur Bialystok. Bund adalah kelompok anti-Bolshevik. Kelompok tersebut percaya bahwa revolusi harus dicapai melalui prose’s demokrasi, walaupun itu berarti kompromi. Karena itu, pernyataan para Bundis: “Lebih baik ikut arus kelompok terbesar walaupun tidak dalam arah yang sepenuhnya benar ketimbang memisahkan diri dari mereka dan bertahan menjadi puritan.” Tahun 1921, karena takut akan dibunuh oleh Red Army, Losz terbang ke Kanada. Anak Losz yaitu David Lewis menjadi pemimpin nasional partai sosialis demokratis Kanada, New Democratic Party (Partai Demokrasi Baru). NDP tidak pernah membentuk pemerintahan nasional, tetapi mereka membangun kekuasaan di tingkat provinsi: di Kanada sosialisme merupakan arus utama. David Lewis meyakinkan partai untuk menghilangkan penghapusan kapitalisme dari dalam manifesto, dan dia menghancurkan dogma dan ketidakdisipilinan dalam gerakan. (“Demi surga, kapan kita akan belajar bahwa politik kelas pekerja dan perjuangan untuk kekuasaan bukan kelas sekolah minggu?” tanyanya). Anak David yaitu Stephen yang merupakan ayah Avi, mengikuti tradisi keluarga dan dipilih menjadi ketua NDP di Ontario pada usia tiga puluh dua. (Ibu Avi, Michele Lendsberg, seorang jurnalis yang dikenal di Kanada karena gerakan feminisme dan kolom politik sayap kiri yang keras dimana para konservatif selalu disebut “jack-booted” atau “henchmen”). Di akhir enam puluhan, sebuah faksi yang disebut “the Waffle” mengancam perpecahan partai, Stephen Lewis menghancurkannya, sebagaimana ayahnya menghancurkan faksi-faksi sebelumnya. Bagi Stephen dan David, kesetiaan terhadap Partai adalah segalanya. Mereka tidak mengijinkan kaum kiri menghancurkan diri sendiri.

Stephen Lewis meninggalkan kantor tiga puluh tahun yang lalu, dan David Lewis meninggal di tahun 1081, tetapi di Kanada keluarga Lewis tetapi dikenal dan dicintai. “Saya tinggal di dunia fantasi dimana kamu harus mengatakan apa yang kamu percaya dan tidak boleh mundur dari itu karena pemilihmu bisa jadi tidak bersimpati dengan itu,” kata Stephen Lewis. “Itu menjelaskan kenapa kepemimpinan saya adalah salah satu yang dikenal tidak berarti, bahkan hal itu nyaris menjadi legenda.” Lewis baru saja menghabiskan lima tahun sebagai perwakilan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/ AIDS di Afrika, tetapi selang waktu kosong dari aktivitasnya mengkampenyekan HIV/ AIDS tidak membuat dia lebih diam. “Saya sekarang lebih fundamentalis,” katanya. “Saya sama sekali tidak punya kesabaran untuk kapitalisme. Saat ini saya lihat hampir tidak ada hal positif dari sisten internasional yang buruk ini, karena itu saya merangkul pandangan Naomi tentang bagaimana dunia berputar. Sesungguhnya, saya lelah dengan emosi retoris–saya ingin lebih terlibat dalam agresi fisik. “Saya pikir, pada generasi orang tua saya ada perasaan terkalahkan,” kata Avi Lewis. “Mereka dibesarkan pada jaman setelah perang berakhir. Saat itu banyak hal di dunia ini bisa berubah–sebuah negara kesejahteraan (walfare state) sedang dibangun, dilindungi dan dikembangkan. Tetapi kehidupan dewasa mereka dilalui dengan melihat penurunan kualitas hidup sebagian besar orang di benua ini, dan mereka melihat apa yang sudah diperoleh di tahun enam puluhan dan tujuh puluhan sebagian besar menghilang, mereka merasa tidak ada lagi harapan. Di sisi lain, Naomi dan saya besar di masa kemunduran sudah terjadi, jadi kami terbiasa lebih pesimistis tetapi tidak merasa kalah, karena kami tidak pernah memiliki kemewahan sebuah harapan.

Hari-hari ini, Avi Lewis tampak makin menyerupai produk keluarga, sesuatu yang sebetulnya tidak selalu seperti itu. “Saya telah berupaya memberontak dengan begitu rupa, tetapi tidak dengan cara yang menyakitkan. Itu hanya bisa terjadi kalau saya memberontak secara politis,” katanya. “Saya adalah pembawa acara MuchMusic, sebuah MTV bagi kami. Saya tahu saya tidak melakukan politik sebagaimana saya dibesarkan dan karena itu batin saya mengalami konflik. Orangtua saya bertanya, ‘Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan? Saya tahu kamu mencintai music dan keren sekali untuk bergaul dengan Bowie, dan terkadang kamu punya acara spesial selama satu jam tentang music dan politik di Afrika Selatan, yang agak berbau politik, tetapi apakah kamu sudah melakukan yang terbaik?’ Saya menjadi terasing dari warisan politik saya. Saya harus masuk ke dalam tradisi. Saya sudah memiliki platform tersebut sejak usia empat atau lima tahun.” Lewis bertemu Klein pada masa itu. Mereka berdua tengah meliput pemilu Kanada tahun 1993–Lewis untuk MuchMusic dan Klein untuk CBC. Sewaktu Lewis bertemu Klein, ia merasa bahwa Klein lebih bebas daripada keluarganya, dan ini mendorong dia untuk lari. “Saya selalu punya keyakinan bahwa Naomi adalah pemilik politiknya sendiri,” kata Lewis. “Dan ketika saya dekat dengannya, saya mulai menyesuaikan faham politik saya.”

Bagi orang tua Klein dan Lewis, satu-satunya perbedaan antara anak-anaknya dengan keluarga besar adalah masalah gaya. “Saya ingat ayah Stephen mendebat William F. Buckley ketika saya masih mahasiswa,” kata Michele Landsberg. “Tempat tersebut penuh dengan para pengarung jeram, dan kami girang bukan kepalang ketika David menghajar si ular William Buckley. Mengingat retorika David, yang dalam banyak hal sebetulnya lebih merupakan kenangan dan nostalgia para sosialis tua, yang berbicara tentang pekerja miskin di balik jas hujan yang sudah rusak. Naomi lebih banyak menggunakan ironi, karena “kami melewati masa-masa romantisme bagaimana kami mengubah dunia.” Tetapi jika orang tua mereka tidak pernah meragukan apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik; maka Lewis dan Klein tidak begitu yakin tentang itu. “Naomi sangat serius menanggapi tanggung jawab terhadap generasi muda yang mendengar dan memuja dia,” kata Lewis. “Dan itulah sebab utama mengapa dia menolak berkata, ‘Ini solusi alternatifnya, ini yang harus kita lakukan dan perjuangkan.’ Kecurigaan terhadap orang yang punya jawaban –itulah karakteristik utama generasi kita, dan itu pulalah alasan mengapa saya tidak pernah masuk politik. Sangat susah bagi kami berdua ketika orang melihat kami untuk sebuah kepastian sebagaimana yang dimiliki generasi sebelumnya.” Salah satu dari sedikit pemimpin politik yang disukai Klein adalah Sub-Komandante Marcos, kepala Zapatista di Meksiko yang membuat ambiguitas dan keraguan menjadi suatu obsesi.

Dalam “No Logo”, Klein merayakan bentuk protes anti korporasi yang bersifat anarkis tanpa bentuk–apa yang dengan sarkasme disebut sebagai organisasi tanpa bentuk. Aktivis generasi kini menyebutnya sebagai “sebuah sistem kuasa yang secara prinsip bersifat sentralistik yang menantang, sebagai kritik dari sayap kiri terhadap solusi satu-untuk-semua dari pasar sayap kanan,” tulisnya. “Gerakan sosial seperti itu sering dianggap tanpa ideologi, minim pesan yang menyeluruh, tidak memiliki rencana utama. Itu memang benar dan kita seharusnya sangat berterimakasih untuk itu.” Masa kini, gerakan sosial sudah lama hilang, Klein tidak terlalu bersemangat tentang itu. “Saya merespon kaum kiri yang saat itu menurut saya mencoba memaksakan solusi mereka dengan cara-cara oportunis,” katanya. “Saya mengharapkan ada lebih banyak artikulasi muncul melalui jalur akar rumput, tetapi itu tidak terjadi–saya pikir seluruh diskusi rusak oleh 11 September. Arus utama kalangan NGO (Non-Goverenmental Organization) takut diasosiasikan dengan mereka yang tampak seperti teroris, dan mereka mulai berbicara tentang perang.” Lewis tidak pernah terpukau seperti Klein dalam hal ketidakdisiplinan gerakan sosial, dan Klein mengakui bahwa Lewis bisa jadi benar. “Melihat bagaimana segala sesuatu begitu mudah menguap tanpa ada satu lembaga yang menyerap energi tersebut dan memakukannya–semua terlalu singkat,” katanya. “Pengalaman itulah yang membuat saya merasaka bahwa kita perlu lebih terukur, baik itu melalui partai politik maupun mencurahkannya melalui tulisan.”

Pada akhirnya, terlepas dari kecurigraannya terhadap para pempin dan kepastian, Lewis mencintai dan menghargai tradisi keluarga. N.D.O secara teratur mendekatinya untuk menjalankan sebuah kantor (seperti Klein), dan dia memikirkan hal tersebut secara serius (tidak seperti Klein). Pada kampanye pemilihan umum baru-baru ini di Kanada, Kelin mengadvokasi strategi memilih–baik untuk memilih kelompok liberal maupun N.D.P, tergantung yang mana yang memiliki peluang menang di sebuah distrik—untuk mempromosikan tujuan yang lebih besar, yakni menggulingkan Tories. “Saya tidak cukup percaya kepada N.D.P untuk betul-betul peduli,” kata Klein. Avi mencoba berbicara dengan Klein tentang itu, sedangkan ayah mertua Klein terhenyak. “Saya tidak memiliki satu menit pun untuk strategi memilih,” kata Stephen Lewis. “Saya hanya percaya bahwa cara satu-satunya adalah anda memilih sesuai dengan keyakinan anda.” Tetapi Klein tidak banyak memakai partai politik. Ketika ditanya tentang itu, dia menjelaskan bahwa dia melihat banyak gerakan pembebasan yang dikhianati oleh para politisi yang mereka pilih, tetapi ketidaksabaran dia terutama muncul lebih dari itu: dia tampak tidak menyukai partai, dan memang benar, pemerintah dengan cara primitif hampir selalu melakukan cara Milton Friedman. Secara prinsip, dia adalah Keynesian, tetapi dia tidak percaya pada sentralisasi, lembaga, platform, teori–apapun kecuali inisiatif yang sangat kecil, bersifat lokal, ad-hoc dan spontan. Pada dasarnya, dia sangat sangat tidak suka didikte tentang apa yang harus dilakukannya.

Dalam “Shock Doctrine” terlihat jelas ketidaksukaan Naomi terhadap politik. Dia cenderung menggabungkan berbagai kelompok kanan yang sangat berbeda menjadi satu –neo-konservatif, kroni kapitalisme dan para libertan. (Pada akhirnya “The Shock Doctrine” lebih anti-korporasi ketimbang anti-Friedman). Dan dalam upaya memburu contoh-contoh dimana ideologi dipergunakan sebagai muka upaya-upaya pengkayaan diri kroni dan korporasi, dia bergerak ke posisi dimana politik dimanapun urusannya selalu tentang memperkaya diri. Kekuatan utama dia– mengikuti gerak uang; tidak pernah mengambil ideologi di atas nilai, tetapi selalu mempertanyakan siapa yang memperoleh keuntungan dari situ; membantu kaum kiri untuk kembali ke analisis ekonomi yang terlupakan di masa “individu adalah politis”–adalah juga kelemahannya. Sudut pandang materialismenya terkadang tampak mengerikan untuk mempercayai bahwa politik itu ada. Pada satu titik, misalnya, dia berargumentasi bahwa kaum elit Israel kehilangan minat terhadap perdamaian karena perusahaan-perusahaan Israel memperoleh keuntungan besar dari bisnis teknologi keamanan dan memperoleh laba dari perang. Dia berargumentasi bahwa partai komunis China memukul balik para pemrotes di Tiananmen Square bukan untuk mempertahankan kekuasaan tetapi untuk mempertahankan program liberalisasi ekonomi Den Xiaoping (yang merupakan cabang dari paham ortodoks, kenyataannya, banyak pihak di dalam partai curiga–kecurigaan yang dipaksa hanya oleh pemrotes pro Barat).

“Saya bukan pemikir utopis,” kata Klein. “Saya tidak membayangkan masyarakat sosial ideal. Saya juga tidak terlalu suka membaca buku-buku seperti itu. Saya hanya merasa lebih nyaman berbicara tentang bagaimana kondisi yang ada.” Satu-satunya masa dimana ia merasa sedikit utopis adalah di Buenos Aires pada tahun 2002, pada saat sistem politik secara virtual terpecah–yaitu pada saat dia dan Lewis tengah membuat film “The Take”. “Itu merupakan masa yang luar biasa di Argentina, karena ruang vakum itu telah terbuka,” katanya. “Mereka telah menumbangkan empat presiden dalam waktu dua minggu, dan mereka tidak punya gambaran tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Setiap istitusi berada dalam situasi krisis. Para politisi bersembunyi di rumah-rumah mereka. Ketika mereka keluar, para ibu rumah tangga akan menyerang dengan sapu. Dan, sewaktu berjalan-jalan di seputaran Buenos Aires di malam hari, ada begitu banyak pertemuan di setiap sudut jalanan. Di setiap lapangan ada lampu jalanan, orang-orang berkumpul dibawahnya, berbicara tentang apa yang harus dilakukan untuk membayar hutang dari luar, demi Tuhan. Ada kelompok-kelompok yang terdiri dari seratus atau lima ratus orang. Dan mereka mengorganisir pembelian kebutuhan rumah tangga bersama-sama karena dengan cara itu mereka memperoleh harga lebih murah, mengatur barter karena nilai tukar yang tidak berharga. Itu merupakan hal yang paling memberikan inspirasi bagi saya.”

Klein percaya bahwa perubahan hanya bisa terjadi ketika gerakan sosial menjadi besar dan menggangu sehingga para politisi tidak bisa mentakacuhkannya. Itu merupakan argumentasi yang tidak pernah berhenti diperdebatkan dengan mertuanya. Stephen Lewis tidak yakin dengan daya tarik mereka sebagai kiri baru masa depan–dia menyetir ke Little Rock di 1957, ketika Orval Faubus dipanggil keluar dari militer, untuk menjadi saksi gerakan sipil kanan secara langsung- tapi pada akhirnya dia menjadi politisi. “Skeptimisme Naomi dan Avi bukan skeptimisme yang sama dengan saya, sekalipun mereka memiliki lebih banyak bukti daripada saya,” kata Stephen Lewis. “Ada masa dimana orang seperti Avi dan Naomi betul-betul berpikir bahwa gerakan sosial bisa mengambil alih kondisi. Tetapi anda mungkin punya gerakan hijau yang mempengaruhi pajak terhadap karbon, anda bisa berkampanye pelucutan nuklir yang mengurangi temperature peperangan, tetapi anda tidak akan pernah punya gerakan yang serba bisa, mulai dari mengurusi penitipan anak sampai bantuan luar negeri dan melihat itu sebagai bagian dari usaha mengubah dunia. Hal itu datang melalui politik.

Baik Klein maupun Lewis skeptis tentang Barack Obama. “Saya pernah ada pada kampanyenya dan melihat dia berbicara, dan saya merasakan perasaan yang dirasakan,” kata Lewis. “Itu sangat menggairahkan. Dan untuk tidak ikut bergairah tidaklah sopan. Kita mendambakan inspirasi, dan hidup menjadi menyedihkan jika selalu diisi dengan menganalisis segala sesuatu. Tetapi perasaan utama yang diciptakan oleh Obama adalah ketakutan, karena saya melihat orang-orang membodohi diri mereka sendiri. Jika anda melihat kebijakan Obama, apa yang ditampilkan adalah kemenangan paradigma politik sayap kanan sejak jaman Reagan, dan saya pikir dia bisa membuat kemunduran secara dramatis, karena bagi kalangan muda yang terlibat dalam dunia politik untuk pertama kalinya, adalah berbahaya jika mereka mengalami disilusi.” Karena Klein tidak berharap banyak dari politisi manapun, dia tidak mengharapkan Obama akan menjadi lebih progresif. “Saya tidak ingin tampak terlalu sinis, tetapi pertama kali saya melihat video “Yes We Can” yang dibuat oleh Will.I.Am, respon pertama saya adalah “wow, akhirnya ada juga politisi yang membuat iklan sebaik Nike,”katanya. “Slogan ‘Yes We Can’ dapat berarti apapun yang anda inginkan. Slogan tersebut sangat ‘Just Do It’.” Ketika anda mendengar itu, anda akan mendengar diri anda berpikir, Yeah! Kita akan menghentikan penyisaksaan dan menutup Guantanamo dan keluar dari Irak! Dan anda berpikir, tunggu dulu, apakah betul dia berkata demikian? Dia tidak betul-betul mengatakan itu bukan? Dia berkata kita akan mengirim lebih banyak tentara ke Afghanistan. Dia mengatakan apa yang ingin didengar oleh orang banyak, dan kemudian kembali di ruangan, dia membuat perjanjian dan menandatangani untuk status quo. Tetapi jika ada yang tidak suka Obama, maka mereka harus bergerak ke tengah.” Sampai titik itu, Klein mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menasionalisasikan perusahaan minyak. “Adalah pekerjaan kaum kiri untuk bergerak ke tengah,”katanya. “Keluarlah dan katakan sesuatu yang gila! Dan setelah itu, mendadak, akan tampak lebih masuk akal bagi para politisi untuk mengambil posisi yang lebih beresiko.

Untuk seseorang yang mempercayai gerakan sosial begitu kuat, Klein bisa merasa mual jika berada di tengah. Para aktivis selalu jujur dan penuh dedikasi–sebagaimana orangtuanya. “Gerakan turun ke jalan membuat saya depresi,” katanya. “Berjalan kaki sambil berteriak—saya tidak dapat apa-apa dari itu semua.” Ketika ia berpartisipasi dalam gerakan anti globalisasi, dia mengerti bahwa gerakan protes di luar pertemuan perdagangan tersebut adalah cara utama supaya didengar, tetapi tetap saja mereka terlihat sedikit komikal untuknya. “Apakah memang itu yang kita inginkan?” tulisnya di sebuah kolom di musim panas tahun 2000. “Sebuah gerakan untuk menguntit pertemuan, mengikuti birokrat perdagangan seakan-akan mereka ‘Grateful Dead’?” Forum Sosial Dunia (World Social Forum) di Brazil merupakan tempat yang dia pikir akan seperti rumah, tetapi disana terlalu banyak suara brisik tidak jelas, dan Josh Bovs berada di sekitar itu dengan sejumlah pengawal untuk melindunginya dari paparazzi, dan para aktivis yang saling menuding satu sama lain rasis dan klasis, dan rentang budaya yang ada sulit diterima. “Ada sederet penari di atas panggung, kepala menunduk karena malu, dan kaki yang menghentak,” tulisnya, menjelaskan semuanya. “[Kemudian] orang mulai berlari, menanam alat-alat yang menurut mereka memberdayakan: palu, bata, kapak, buku, bolpen, keyboard komputer. Di babak akhir, seorang perempuan hamil menanam benih, benih-benih, yang disebut sebagai dunia lain.”

Satu-satunya jenis protes yang disukai adalah tipe Yippie, cukup teaterikal untuk bisa menghibur dan mentertawakan diri sendiri sampai pada tahapan yang masih dia toleransi. Pada protes di Kota Quebec pada waktu Amerika Sumit tahun 2001, contohnya–ketika pemerintah mengelilingi mereka dengan pagar pelindung yang tinggi, sekelompok aktivis membangun tembok ala jaman pertengahan dengan kayu dan menempatkan boneka Teddy diatasnya. “Kota Quebec begitu gila,” katanya. “Itu merupakan salah satu masa dimana tidak ada orang yang tahu apa yang sedang terjadi, dan ada beberapa momen terobosan, momen pembebasan, momen euphoria. Sebagian besar adalah generasi muda, dan mereka ditembak gas air mata, tetapi masih menikmati diri mereka sendiri, bermain kucing dan tikus dengan polisi. Apa yang saya sukai dari itu semua adalah kenyataan bahwa satu kota turut bergabung–orang-orang bekerja di kafe-kafe di jalan utama, dan para tetangga mempersiapkan plastik air untuk mencuci mata. Itu merupakan realitas alternatif.

Setelah kemarin Milton Friedman di 2006, Universitas Chicago memutuskan untuk mendirikan sebuah institusi sebagai penghormatan. Institusi itu ditentang banyak professor yang membentuk kelompok penentangan. Klein menawarkan diri untuk berdebat dengan seseorang dari pendiri institusi itu, tetapi tidak ada seorangpun yang bersedia melakukannya. Jadi Naomi setuju untuk datang ke Chicago dan berbicara tentang ketidaksetujuan dia terhadap kegiatan tersebut.

Sebuah malam diselenggarakan antara lain dengan sponsor dari Platypus Affiliated Society, kelompok membaca antara guru-mahasiswa dengan fokus tentang Frankfurt School (Mazhab Frankfurt) dan Periode Internasional Kedua Marxisme dan di depan, beberapa anggota Platypus, lelaki muda kurus tinggi dan pucat tetap mempersiapkan meja. Platypus didirikan atas ide bahwa kaum kiri punya pertimbangan yang benar tentang sejarah kaum kiri, terutama pada masa kelamnya, untuk itu sebuah studi sejarah diharapkan dapat membantu kaum kiri dari situasi bermasalah yang ditimbulkannya. (“Para pemrotes telah berubah menjadi sub-kebudayaan sempit yang berisi kebencian, frustasi dan kegusaran sebagai perilaku patologis karena integrasi sosial”, kalimat seperti itu yang biasa ditemui pada editorial Platypus Review.) Dilihat dari bobot terhadap otokritik, Platypus bukanlah konstituen alami untuk pekerjaan Klein, tetapi dia datang ke kelompok kampus yang membaca “The Shock Doctrine” dan juga Hayek dan Friedman. “Para konservatif terlibat pertanyaan seputar kebebasan dan utopia secara langsung,” Ian Morrison, editor newsletter Platypus berkata. “Kami terkejut bahwa Klein terlihat menjauh dari utopianisme, kami merasa kaum kiri masuk kesitu karena pembicaraan tentang pembebasan dari orang macam Bush.” Interograsi Platypus ke masa lalu telah membawa ke berbagai arah. Beberapa anggotanya juga bergabung di dalam kelompok baru Students for a Democratic Society, sebuah kebangkitan kelompok kiri baru dari enam puluhan. Di Agustus, Platypus berpartisipasi dalam peringatan bersejarah di Grant Park, mengingat Konvensi Demokratik tahun 1968 tanpa polisi. “Sebagai kelompok kaum muda, nyaris tanpa pengalaman sebagai aktivis, kegiatan itu merupakan satu-satunya kerangka yang dapat dipakai untuk menegaskan perlunya partisipasi aktif,” menurut berita Platypus Review. Bentuk lain tampak kedodoran dari sisi bahasa maupun ideologi… Kami tidak mau melihat sejarah—sejarah radikal kami—dari kejauhan tetapi langsung dari dalam… Kami berdebat, misalnya, etika menominasikan babi hidup sebagai presiden: apakah kita harus memberinya makan, dan dimana itu akan tinggal?”

Para pria Platypus mengisi baris terdepan Assembly Hall, dan Klein berdiri di podium. Di depannya ada kerumunan baik, bukan saja orang-orang dari kampus. Tiga anarkis secara khusus mengemudi dari St Louis untuk melihat dia. “Apa yang kita jalani sejak Reagan adalah kebijakan yang membebaskan kekuatan keserakahan,” deklarasi Naomi. “Saya tidak berpikir bahwa sebuah proyek dapat betul-betul membangun dunia dan menghapus kemiskinan. Saya pikir itu merupakan perang kelas antara si kaya dan si miskin, dan menurut saya mereka menang, dan menurut saya si miskin bertarung balik.

Dia tidak tertarik membuat kiri menjadi arus utama, dia ingin meyakinkan bahwa kiri tidak perlu menjadi arus utama.” (Itu) merupakan bagian yang membuat kita tidak terlalu kuat dari yang seharusnya,” katanya,” Siapa diantara kita yang percaya bahwa laba harus mengatur seluruh aspek kehidupan kita adalah bagian dari kita yang menerima narasi bahwa ide neoliberal menang di seluruh dunia karena mereka popular dan ide kita gagal.” Atas alasan itu, dan karena itu penting untuknya, di “The Shock Doctrine”, tidak ada perkecualian–bagaimana reformasi pasar radikal terjadi karena persetujuan sekelompok orang. (Secara sambil lalu, dia menunjuk Reagan dan Sarkozy). Tetapi beberapa contoh yang dia berikan tidak terlalu masuk akal ketimbang yang lain. Dia berargumentasi bahwa Perang Falklands–penyerangan seminggu dengan akibat utama adalah gelombang patriotisme Inggris–merupakan ‘krisis politik yang cukup besar’, menciptakan kekacauan yang cukup bagi Margaret Thatcher untuk menerapkan agenda ekonominya. (Adalah benar, tanpa gelombang tersebut, Thatcher bisa jadi tidak memenangi pemilu, tetapi popularitas buruk tidak sama dengan kekalahan traumatis.) Klein menolak referendum yang dilakukan Boris Yeltsin sebagai “latihan propaganda” dimana sebagian besar pemilih mendukung reformasi Yeltsin, dengan basis yang tidak biasa bahwa hal itu tidak mengikat. Dia meneruskan dengan perang di Chechnya yang menurutnya bukan untuk menghancurkan secessionisme tetapi untuk melindungi kebijakan ekonomi Yeltsin. Karena itu, menurutnya, hal itu “berkontribusi signifikan kepada jalan tol penyaliban Chicago School (Mazhab Chicago).” “Naomi adalah pengenal pola,” kata Lewis. “Beberapa orang merasa dia membengkokan contoh supaya cocok dengan tesisnya. Tetapi kekuatan dia yang besar adalah bagaimana dia membantu orang mengenali pola-pola di dunia, karena itu adalah langkah penting pertama untuk menjalankan perubahan.

Catatan

Tulisan ini merupakan terjemahan dari tulisannya Larissa MacFarquhar, Outside Agitator: Naomi Klein and the New New Left yang dimuat di www.newyorker.com, 03 Desember 2008. Diterjemahkan oleh Mellyana Frederika.

Foto: The Guardian

About the Author

Related Posts

“Panggil aku Samsir saja,” kata lelaki tua itu ketika seorang anak muda menyapanya. “Ini memang...

Antonio Negri lahir dari keluarga borjuis kelas teri di kota Padua, Italia, pada 1 Agustus 1933....

Rosa Luxemburg lahir pada 5 Maret 1871 sebagai putri bungsu sebuah keluarga Yahudi di Zamość,...

Leave a Reply