Tulisan ini melawan pemaknaan yang diterima begitu saja oleh masyarakat tentang definisi anarkisme. “Anarkisme” adalah konsep yang paling sering disalahartikan atau mengalami demonisasi hingga saat ini”. Secara asali, kata anarkis berarti “order without rulers” atau tatanan tanpa penguasa.  Kata ini identik dengan tindakan kekacauan, dan pengrusakan. Anarkis sering digambarkan sebagai tindakan orang yang melempar bom atau tindakan merusak alat-alat publik. Padahal, gerakan anarkis belakangan ini adalah gerakan yang hampir sama sekali tidak menggunakan kekerasan. Kata anarkis menjadi momok karena ini adalah gerakan paling efektif dalam mencari solusi terhadap tindakan kekerasan yang seringkali dilakukan oleh Negara.

Anarkisme menolak kelas penguasa (ruling class). Istilah Anarkisme identik dengan ide tentang absennya pemerintahan dan hukum dalam pemerintahan. Anarkisme juga menolak sistem kepemerintahan dalam pasar. Sebaliknya, ide ini menekankan pada gerakan cinta, mutual aid atau kerjasama yang saling menguntungkan. Tradisi anarkisme mengunggulkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Hal ini berbeda dengan kondisi masyarakat industri yang cenderung merusak alam.

Kata anarkisme muncul pertama kali di tahun 1642 ketika pemberontakan di Inggris pertama kali terjadi terhadap Royal State atau sistem pemerintahan kerajaan. Kata ini dimunculkan oleh kaum bangsawan Inggris yang merasa terganggu kemapanan kekuasaannya. Para bangsawan menganggap pemberontakan dan protes merusak struktur tatanan masyarakat yang sudah ada. Gerakan anarkis cukup mengganggu semangat ortodok yang selama ini dipegang oleh kaum bangsawan. Di abad-abad selanjutnya, terjadi perubahan semantik terhadap gerakan anarkisme. Selama masa revolusi Perancis misalnya, ada gerakan-gerakan yang menentang kaum Jacobin. Gerakan ini mulai mempertanyakan otoritas, khususnya hak istimewa raja dan institusi agama.

Secara filosofis, Anarkisme berpandangan pada teori Rousseau bahwa manusia secara alami harus mempunyai kebebasan secara alamiah (natural freedom). Kebebasan dalam melakukan hubungan sosial dengan alam dan manusia. Dalam jangka panjang, kenikmatan terhadap kebebasan natural ini ditata dalam satu bentuk aturan yang disebut civic freedom dan moral freedom, dimana setiap individu berhak berpartisipasi dalam pembuatan hukum (law making). Law making mengatur kebebasan dan moralitas individu. Namun demikian, para anarkis tidak sepakat dengan ide law making yang berujung pada model “governmentality” atau kepemerintahan. Kaum anarkis tidak melihat perlunya model governmentality dalam menghubungkan antara “natural freedom” dengan “sociability”. Pemerintahan selalu bersifat eksploitatif karena merebut hak yang paling mendasar dalam manusia yakni “natural freedom”.

Joseph Proudhon (1809-1965) merupakan salah satu penggagas ide tentang anarkisme. Ia menyoroti soal property atau hak kepemilikan. Idenya yang paling terkenal adalah “every property is a theft” setiap hak kepemilikan adalah pencurian. Namun Proudhon tidak menolak kepemilikan dalam batas “possession” atau kepemilikan dasar dan tidak untuk kepemilikan dalam skala besar. Proudhon memperkenalkan ide “mutualisme” dimana masyarakat, misalnya, dapat mengembangkan bank tanpa bunga, dan berbagai trade union atau serikat dagang bersama tanpa eksploitasi dan campur tangan pemerintah. Pandangan Proudhon mempunyai pengaruh pada masyarakat kelas pekerja di Perancis, Spanyol, Italia hingga ke Inggris.

Di Abad 19, selain Proudhon, Mikhael Bakunin (1814-1876) juga merupakan penggagas anarkisme yang berpengaruh. Bakunin adalah tokoh yang berpengaruh. Ia berwajah tampan dan terkesan liar dengan rokok cerutu yang selalu terselip di mulutnya, peminum yang kuat dan paham soal makanan yang lezat. Kharismanya menjadi lebih besar karena ia merupakan musuh terbesar dari Karl Marx. Keberatan utama Bakunin terhadap Marx adalah tahap evolusi Marxisme yang mengharuskan melewati Marxisme Sosialistik berada dibawah diktator proletarianisme untuk menuju komunisme. Sistem sosialisme membutuhkan sentralisme kepemerintahan dengan berbagai sistem administrasi, birokrasi dan berbagai perangkatnya. Di fase inilah Bakunin merasa keberatan. Marx sendiri memang banyak berdebat dengan Bakunin. Namun demikian, Marx sendiri mempunyai kecenderungan ke arah anarkisme ketika ia merespon terhadap Paris Commune. Ia cenderung lebih anarkistik dalam melihat perdebatan dan perkelahian dalam Paris Commune yang menggulingkan kaum bangsawan Perancis pasca Napoleon.

Baik Proudhon maupun Bakunin, melihat bahwa pemikiran Marx sangat  berpotensi untuk menggiring sistem masyarakat ke dalam diktator otoritarianisme. Bakunin sebenarnya mempunyai pandangan yang banyak miripnya dengan Marx, dimana Bakunin sepakat bahwa Negara merupakan alat yang menciptakan klas penguasa bagi yang mempunyai kekuatan politik. Bakunin juga menambahkan bahwa disamping dominasi ekonomi, ada banyak dominasi yang didasarkan pada agama, ras, dan gender. Marxisme terlalu sempit melihat pada hal ekonomi semata.

Strategi Marxisme dari transisi kapitalisme menuju sosialisme juga mengandalkan kelas pekerja untuk merebut kekuatan politik, dan menggunakan mesin Negara, seperti tentara untuk merebutnya. Untuk mendapatkan tanah secara kolektif dan mencegah munculnya pasar, masih ada potensi Negara untuk muncul dan adanya sistem patriarki di dalamnya. Sosialisme memang membuat masyarakat sejajar, tapi tidak membuat manusia yang merdeka atau bebas. Di bawah pemikiran Bakunin lah, muncul banyak gerakan buruh yagn berbasis “anarcho syndicalism” yang menolak pendekatan sosialisme otoriatian ala Marxisme.

Figur besar dalam Anarkisme di abad 20 adalah Peter Kropotkin (1842-1921). Ia adalah seorang ahli geografi dari Rusia. Layaknya pendapat utama anarkis, ia percaya bahwa segala bentuk kepemilikan harus diletakkan diatas kepentingan umum (collectivism). Kropotkin menentang ide Darwinisme tentang kompetisi dalam mencapai kesuksesan. Ia berpendapat bahwa kerjasama (cooperation) justru menjadi kunci utama dalam evolusi manusia. Pandangan Kropotkin ini sesuai dengan bukti-bukti antropologis dan sejarah, bahwa manusia dapat bekerja sama dan berkembang melalui etika saling membantu (mutual aid), bukan saling berkompetisi dan mengalahkan satu sama lain.

Anarkisme Versus Marxisme

Secara teori, anarkisme memang tidak berkembang layaknya Marxisme yang dipelajari secara marak di kampus-kampus. Di banding Marxisme, Anarkisme tidak menimbulkan penafsiran yang demikian beragam. Gerakan anarkisme baru merupakan cabang-cabang aksi alternatif, dibanding perdebatan pemikiran yang sangat teoritis layaknya Marxisme. Memang istilah anarkisme merupakan gerakan yang sangat praktis, dan tidak berkembang pesat pada tataran epistemologi pemikiran seperti Marxisme.  Gerakan anarkisme lebih merupakan praktis kegiatan sehari-hari yang tidak mempunyai utopianisme seperti yang digambarkan oleh Marx.

Dalam pendekatan antropologi, David Graeber seorang antropolog terkenal satu dekade belakangan, mendapatkan ide tentang Anarkisme dari Kropotkin. Bagi Graeber, masyarakat dapat melakukan interaksi ekonomi tanpa harus melakukan resistensi di tengah dominannya peran Negara. Tanpa harus melakukan boycott, penggembosan alat-alat produksi seperti yang digambarkan James Scott, seorang anarkis Marxis yang dipengaruhi oleh gambaran-gambaran perlawanan kaum buruh melalui pemikiran E.P Thompson. David Graeber, antropolog anarkis yang terinspirasi dari Marcell Mauss, seorang sosiolog Perancis, menawarkan praktik anarkismenya. Mauss menggambarkan relasi ekonomi dan organisasi sosial dapat dijalankan melalui “pemberian dan resiprositas” yang dibangun oleh komunitas dengan cara mengatur dirinya sendiri tanpa campur tangan Negara dan hukum pasar. Graeber memberi contoh klasik “Jika di kampungmu tidak punya pipa dan air karena walikota dan pemilik air swasta memonopoli kepemilikan air, jika anda berdiri di depan rumah walikota itu namanya “protest“, jika anda memblokade rumah walikota itu namanya “civil disobedience“, tapi “direct action“ adalah anda membuat pipa sendiri dan mencari air sendiri. Maka itulah anarkisme“.

Salah satu kunci dari anarkisme adalah “direct action” atau aksi langsung seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi ketika secara langsung memproduksi garam secara mandiri tanpa harus melakukan kekerasan terhadap pemerintah kolonial Inggris. Di beberapa kasus yang lebih kontemporer, David Graeber antropolog anarkis memperkenalkan istilah direct action pada kasus-kasus pendudukan ruang public seperti di Tahrir Square hingga pendudukan Wall Street, New York dalam menentang rejim politik hingga menentang kebijakan austerity. Dalam gerakan direct action, tercipta semacam institusi otonomi dimana orang berkumpul bersama dan melakukan aksi secara otonom. Pandangan David Graeber ini sekaligus mengkritik pandangan anarkisme James Scott. Scott merupakan antropolog politik yang melihat anarkisme sebagai bentuk “passive agresive” dalam bentuk menghindar dan tidak ikut berpartisipasi aktif terhadap permasalahan publik.

Anarkisme Kontemporer

Gerakan anarkisme yang paling berhasil adalah pada tahun 1936-1939 di Spanyol. Gerakan anarko sindikalisme dalam melawan rejim Jenderal Franco, dikenal dengan istilah “Franco Rebellion”. Gerakan ini berhasil mengambil alih peranan Negara dalam “Spanish Civil War”. Terdapat kurang lebih satu juta setengah anggota gerakan anarko sindikalisme. Kaum anarkis berhasil menguasai separuh dari Negara Spanyol khususnya di daerah perdesaan, dan beberapa kawasan penting seperti Catalonia (urban anarcho syndicalism) dan Andalusia (peasant anarchism). Pada masa ini, perempuan dan laki-laki mempunyai posisi yang sejajar. Beberapa gerakan anarkis juga menerapkan “vegetarianisme”. Gerakan anarkisme ini juga menguasai pusat-pusat kekuatan militer sehingga cukup mengkhawatirkan Lenin di Rusia yang hendak mengembangkan komunisme. Pada era kontemporer, anarkisme juga mempunya sejarah panjang di Ukraina, Italia hingga partai liberal Mexico yang berjuang di kawasan utara Mexico.

Gerakan anarkisme belakangan ini cenderung bangkit kembali dan marak khususnya dalam menentang gurita pasar bebas. Anarkisme juga muncul dalam berbagai aktivisme gerakan ekologi, Zapatista di Mexico, hingga gerakan anti rasisme. Gerakan anarkisme belakangan ini berkembang pada kelompok-kelompok kecil atau gerakan federasi yang tidak terhubung dalam satuan gerakan anarkisme secara skala besar, tunggal dan utuh.  Hal ini yang membedakan Anarkisme dengan model gerakan Leninisme, dimana gerakan Leninisme cenderung bertujuan bagaimana melakukan konsolidasi menjadi besar dan tunggal. Buku Antonio Negri dan Michael Hardt, Multitude (2004) menunjukkan bahwa gerakan Anarkisme dalam Global Justice Movement tidak lagi melihat Negara sebagai musuh utama yang relevan, melainkan perusahaan-perusahaan kapitalisme global lah yang menjadi momok ketidakadilan.  

Pada saat ini, secara garis besar, perdebatan anarkisme lebih pada dua hal: antara anarkisme yang memperjuangkan kelas pekerja sebagai pusat perjuangan revolusi dengan anarkisme yang berorientasi pada gaya hidup. Model anarkisme pertama dapat dilihat pada model gerakan anarkisme di Afrika Selatan, Zabalaza Collective Anarchis movement, yang menerbitkan berbagai pamphlet dan buku, dan dua dari anggotanya baru menerbitkan buku terbarunya, Black Flame (2009), diterbitkan oleh AK Press. Buku ini berargumen bahwa anarkisme yang sesungguhnya adalah anarkisme perjuangan kelas yang harus dilakukan oleh kekuatan kaum buruh. Pandangan ini cenderung melihat gerakan anarkisme kedua sebagai gerakan kaum borjuis.

Ada banyak hal yang tidak dapat dapat ditangani dengan baik oleh Marxisme, namun Anarksime mampu menjadi jawaban terhadapanya. Misalnya, anarkisme berhasil melakukan pendekatan terhadap permasalahan lingkungan alam, urbanisasi dan rencana tata ruang perkotaan. Belakangan ini, model Anarkisme lebih digemari karena ia merupakan disiplin praktis, daripada keinginan besar untuk mengubah dunia seperti yang menjadi ambisi Marxisme.

About the Author

Related Posts

Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah...

Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang...

Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan...

Leave a Reply