Konferensi di bawah Tirani Modal 2008 — Dari sudut budaya, konferensi Warisan Otoritarianisme; Demokrasi di Bawah Tirani Modal, hari ini bicara soal seni rupa di tengah komodifikasi pasar. Ada tiga pembicara; Marco Kusumawijaya, ketua Dewan Kesenian Jakarta, Agus Mediarta dari Komunitas Film Independen dan Aminudin TH Siregar, seorang kritikus dan pengamat sejarah seni rupa.

Menurut Aminudin, sepak terjang pasar menandakan kekuasaan pasar yang telah menentukan segala-galanya dalam seni rupa. Tapi, Marco dan Agus lebih banyak bicara persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masing-masing komunitas. Marco, misalnya bercerita soal proses pengelolaan seni dalam program-program Dewan Kesenian Jakarta, dia memfokuskan pada pembiayaan. Sedangkan Agus, mempersoalkan kerja-kerja di Komunitas Film independen yang tidak komersil. Secara umum ketiga pembicara menyiratkan pesimistik terhadap alternatif melawan tirani modal. Sebab, di sisi lain komunitas-komunitas itu sulit berkembang tanpa bantuan donor.

Diskusi itu berjalan agak lambat, pembahasannya juga melebar dan tidak menyentuh persoalan mendasar menyangkut relasi dan posisinya dihadapan modal, seperti bagaimana modal bekerja di wilayah itu, apa pengaruhnya dan bagaimana sikap dari komunitas perupa itu sendiri?

Perdebatan lebih banyak berkutat di wacana strategi kebudayaan, mana yang paling efektif dan mana yang potensial. Dengan wacana debat yang lebih banyak dikisaran soal perlu atau tidaknya strategi romantik dan preservatoris seperti ‘kembali ke desa’ dan hubungannya dengan eksistensi seni tradisi dan seni modern.

Kesimpulannya bermuara pada sebuah proses kehilangan orientasi, sehingga perlu strategi yang harus dilakukan di wilayah seni budaya untuk mempertegas dan melihat lagi fungsi awal seni budaya dalam kehidupan. Di tengah ketidakberdayaan pemerintah dan kedigdayaan modal hari ini, banyak hal yang perlu dibenahi, seperti proses negosiasi, jarigan, strategi individu, komunitas dan infrastruktur.

Foto: Huffington Post

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply