Tujuan tulisan ini ialah memberikan suatu pengantar atas konsep-konsep dan metode-metode pokok materialisme historis untuk para antropolog yang tertarik menerapkan kerangka pikir materialisme historis di dalam kajian mereka sendiri. Dalam usaha ini, tidak mungkin untuk memangkas aspek-aspek tertentu Marxisme, semisal kajian soal kebudayaan atau masyarakat-masyarakat ‘primitif’, dan menyerahkannya kepada para antropolog. Sebab, tekanan Marx pada analisis historis terpadu atas totalitas sosial memustahilkan pemencilan antropologi sebagai disiplin tersendiri dalam ilmu-ilmu sosial. Dalam tulisan ini saya memanfaatkan karya antropologis lewat ilustrasi dan pembedaan, terutama untuk menerangkan bangunan teoritis dan asas-asas metodologis Marxis.

Karena itulah tujuan utama esai ini ditujukan pada kritik terhadap praktik teoritis konvensional antropologis. Saya tak hendak berapologi atas tekanan ini. Berkebalikan dari sejumlah prakonsepsi akademik tertentu, materialisme historis bukanlah kerangka dogmatis yang berpautan seluruhnya (atau teori struktural) yang dapat diterapkan secara mekanistik pada masalah apa pun. Alih-alih, materialisme historis adalah tradisi keilmuan yang terus berkembang, berjuang membangun pemahaman teoritis ihwal masalah historis tertentu di dalam suatu dunia yang didominasi konflik kelas. Jadi, teori kritis, yang berupaya menembus mistifikasi ideologi kita sendiri, merupakan aspek pokok proses perkembangan ilmiah ini.

Namun, saya hendak tekankan bahwa penyajian saya tidak melingkupi seluruh bentang sudut-sudut pandang di dalam tradisi Marxis. Pandangan-pandangan yang dikemukakan di sini telah berkembang di dalam kelompok-kelompok tempat saya berkarya[1], namun ada para antropolog Marxis lain—seringkali bekerja di dalam kelompok kecil dan menerbitkan karyanya dalam jurnal-jurnal radikal—yang kemajuannya belum ditinjau secara cukup memadai. Karena itulah tulisan ini harus diperlakukan sebagai taksiran berjalan—suatu upaya menjernihkan persoalan-persoalan pokok—dan sebagai mukadimah singkat pada konsep-konsep dan metode-metode Marxis.

Di dalam seksi pertama tulisan, “Materialisme Dialektis”, dasar-dasar pikiran filsafati yang melandasi pendekatan Marxis diringkas dan dipertentangkan dengan beberapa pendirian epistemologis umum di dalam antropologi. Seksi kedua, “Konsep-Konsep Pokok Materialisme Historis”, menggambarkan cara-cara bagaimana asas-asas materialisme dialektis telah dikembangkan di dalam kajian ilmiah ihwal masyarakat manusia.

Di dalam seksi ketiga, “Cara-Cara Produksi”, saya pusatkan perhatian pada masalah-masalah metodologis pokok. Seksi ini dipilah ke dalam dua bagian: diawali suatu tinjauan kritis, yang lalu diikuti penyajian konstruktif dari “keadaan terkini”. Kedua bagian ini berdiri sendiri; barangkali perlu kembali ke yang pertama setelah membaca yang kedua. Kesimpulan dari tulisan ini menyoal sepintas tentang situasi antropolog-antropolog Marxis yang bekerja di dalam masyarakat kapitalis mutakhir.

Materialisme Dialektis

Materialisme historis ialah ilmu, dan seperti semua ilmu, ia didasarkan pada asas-asas ontologis serta epistemologis yang menggambarkan macam apa dunia itu dan bagaimana kita mengetahuinya. Landasan filsafati materialisme historis ialah materialisme dialektis, rekonstruksi materialisnya Marx atas dialektika Nalar-nya (Mind) Hegelian. Di dalam seksi pertama ini, saya akan diskusikan dasar-dasar pikiran pokok materialisme dialektis dan menunjukkan bagaimana konsekuensi metodologis materialisme dialektis berseberangan dengan beberapa cara-cara analisis antropologis yang sudah lazim.

Dasar-Dasar Pikiran Utama

Marx bersikeras bahwa terdapat struktur-struktur atau keteraturan material di alam, struktur-struktur yang tidak ditentukan baik oleh pikiran manusia, maupun ungkapan sampingannya:

“Hegel jatuh ke dalam khayal saat mengartikan yang riil sebagai hasil pikiran yang sedang memusatkan pada dirinya sendiri, sedang menggali kedalamannya sendiri, dan menguak dirinya dari dirinya sendiri, sedangkan metode yang muncul dari yang abstrak ke yang konkret adalah satu-satunya cara yang melaluinya pikiran mengambil alih yang konkret, mereproduksinya sebagai yang konkret di dalam pikiran” (Marx 1973: 101)[1].

Karena struktur-struktur bukan sekadar hasil pikiran, maka teori kritis dan demistifikasi tidaklah cukup untuk mengubah dunia. Penolakan Marx atas idealisme Hegelian di dalam manuskrip Paris 1844 (Marx 1964) didasarkan pada pertimbangannya ihwal tautan wajib antara praksis teori dan politik.

Ketika menolak idealisme, Marx tidak mengajukan suatu pertentangan antara yang material dan yang ideal. Dia memandang bahwa pikiran merupakan hasil aktivitas indrawi subjek-subjek manusia yang riil dan dengan demikian sesungguhnya hukum-hukum pikiran tentu bagian dari struktur material alam. Di dalam tesis pertamanya tentang Feuerbach, Marx menulis: “cacat utama semua materialisme yang ada hingga sekarang (yang Feuerbach termasuk di dalamnya) ialah bahwa hal-ihwal, kenyataan, keberindraan, diartikan hanya dalam bentuk objek kontemplasi, tapi bukan sebagai kegiatan indrawi manusia, praktis, dan secara subjektif” (Marx dan Engels 1970: 121). Marx menghapus dikotomi palsu antara yang ideal dan yang material dan dengan demikian menyediakan landasan epistemologis bagi suatu ilmu materialis (pikiran dapat mengambil alih yang konkret dan struktur material dapat diketahui)[2].

Dengan demikian, pikiran itu bagian dari dunia material dan diatur hukum yang sama dari pergerakan dialektis yang juga mencirikan alam. Akan tetapi, hukum-hukum dunia material tidak dapat direduksi pada hukum-hukum pikiran; pikiran tidak pernah dapat menyalin ataupun memahami semua kenyataan material. Pengetahuan ilmiah atas dunia berarti memahami penentu-penentu mendasar dan menyaring yang tidak penting. Karena dunia material secara terus-menerus dan tak terulang berubah, arti penting kategori-kategori teoritis tertentu dan persoalan-persoalannya akan berubah pula.

Keteraturan struktural dunia itu material, namun mereka juga dialektis sehingga senantiasa berkembang. Karena semua struktur ialah proses dinamis—hubungan antara ada (being) dan menjadi (becoming)—mereka tidak dapat dikenali secara positif melalui bentuk permukaan tampakannya. Struktur hanya bisa diketahui ketika hubungan-hubungan secara dialektis dikonseptualisasi: “…secara umum, hubungan-hubungan bisa dibuktikan ada hanya dengan dikonseptualisasikan, dengan dipisahkan dari subjek-subjek yang terlibat dalam hubungan-hubungan ini satu sama lain” (Marx 1973: 143). Kenyataan tidak bisa dipahami pada permukaan hal-ihwal.

Metode-Metode Analisis Antropologis

Konsekuensi metodologis materialisme dialektis berlawanan dengan cara-cara analisis yang dipraktikkan kebanyakan antropolog kontemporer. Di sini saya hanya akan diskusikan tiga pendekatan antropologis: perekaman fakta-fakta positif, pemetaan ke dalam struktur-struktur logis, dan analisis sinkronik atas sistem. Tak satupun dari ketiganya, tentu saja, merupakan kerangka metodologis yang lengkap, tidak pula cara-cara ini saling bersifat eksklusif. Lévi-Strauss dikritik agak lebih panjang terutama karena tekanannya pada struktur ketaksadaran bagi beberapa orang telah mengaburkan ketaksepahaman mendasar antara strukturalisme dan Marxisme.

Perekaman Fakta-fakta Positif. Pendekatan-pendekatan positivis yang mengambil kategori-kategori mereka dari yang konkret ada dua jenisnya di dalam antropologi: strategi materialis kultural (etik) yang mengamati dan mengukur fakta di dunia material; dan metode-metode etnosaintifik (emik) yang dirancang untuk menemukan kategori-kategori kognitif “di dalam kepala orang” dengan merekam perilaku kebahasaan secara esensial. Sekali kita terima dikotomi ideal/material ini, entah kita menerima keutamaan ranah emik atau yang etik, maka positivisme akan menjadi satu-satunya alternatif terhadap idealisme transendental.

Dari sudut pandang materialisme dialektis, ada dua kekeliruan pokok dalam positivisme. Pertama, yang konkret mesti dipahami lewat konseptualisasi atas hubungan-hubungan dialektis yang menentukannya, bukan melalui bentuk permukaan sementaranya. Kedua, pikiran tidak dapat menyalin struktur dunia nyata. Karena mengetahui mencakup pengenalan dan penataan beberapa “fakta” dan bukan yang lain, kita artinya tidak pernah sekadar merekam kenyataan. Apabila kita tidak bisa secara teoritis gamblang ihwal mengapa kita melihat beberapa fakta bukannya yang lain, mengajukan beberapa pertanyaan bukannya yang lain, maka kita sebenarnya hanya menyembunyikan dari diri kita sendiri landasan tersirat pilihan teoritis kita.

Pemetaan ke dalam Struktur Logis. Seperti Marx, Lévi-Strauss bersiteguh bahwa untuk memahami hal-ihwal berarti menganalisis hubungan-hubungan struktural yang mendasari kenyataan empiris. Namun gagasan Marx soal struktur dialektis itu materialis dan metode analisisnya cukup beda dari pemetaan hubungan-hubungan ke dalam oposisi logis ajeknya Lévi-Strauss. Lévi-Strauss melihat sejarah sebagaimana Hegel memerikannya: dialektika mewujudkan dirinya secara harmonis di dalam pergerakan kutub-kutub logis. Sementara Marx menemukan pergerakan dialektis itu tak terulang—perkembangan terputus, tak imbang, dan perubahan kualitatif[3].

Maka, sementara Lévi-Strauss (1971: 566) memerikan struktur secara metaforis sebagai suatu silinder stabil yang sedang memperluas dirinya sendiri secara tak terbatas melintasi waktu namun secara analitis tak terpengaruh waktu itu sendiri, Marx menemukan struktur historis yang secara terus-menerus mengubah diri mereka sendiri. Bagi Lévi-Strauss semua kontradiksi itu berkualitas sama; semuanya ialah oposisi-oposisi yang dapat direduksi pada analisis terakhir dalam dimensi universal runutan dari runutan-runutan. Bagi Marx, kontradiksi beragam kualitasnya sejalan perkembangan material mereka di dalam sejarah, baik dalam pertentangan dan dalam pengaruh pentingnya (di dalam peristilahan Althusser kontradiksi itu silih-menentukan). Dengan demikian tidak mungkin ada oposisi-oposisi struktural yang sifatnya universal.

Analisis Sinkronik atas Sistem. Baik dalam strukturalisme Lévi-Straussian maupun fungsionalisme-struktural, analisis atas suatu sistem perlu membuat suatu pembedaan metodologis antara cara analisis sinkronik dan diakronik. Memang tidak ada pernyataan bahwa sistem-sistem berada di luar masa, hanya saja untuk mengetahui sistem-sistem semacam itu diperlukan pemaparan sinkronik atasnya. Apabila semua hubungan berasal dari tatanan yang sama dan jika matra-matra sistem tertentukan, maka kemunculan sifat-sifat suatu sistem selalu bisa dianalisis secara sinkronik—entah sebagai penataan ulang dalam unsur-unsur sistem atau sebagai proses penyesuaian kuantitatif (Cancian 1960).

Namun, justru andaian-andaian yang mendasari syarat-syarat analisis sinkronik itulah yang ditantang oleh gagasan kontradiksi material di dalam analisis Marxis. Asal struktur itu malah—sebagaimana Lévi-Strauss (1971: 560) katakan pada Piaget—di dalam struktur, tapi struktur itu sendiri diakronik dan senantiasa berkem-bang. Pertautan antara andaian antropologi strukturalis serta fungsionalis-struktural dan idealisme teleologis pendahulu evolusi-onis abad kesembilan belasnya disingkap oleh Mao:

“pandangan dunia metafisik atau evolusionis vulgar melihat hal-ihwal sebagai yang terisolasi, statis, dan beratsebelah. Ia menganggap semua hal di dalam semesta, bentuk-bentuk mereka dan jenis-jenis mereka, sebagai yang secara abadi terisolasi satu sama lain dan tak lekang. Jenis perubahan ini hanya meningkat atau menurun secara kuantitatif, atau berubah tempat. Selain itu sebab peningkatan, penurunan, atau perubahan tempat macam itu tidaklah berasal dari dalam hal-ihwal namun di luarnya, dan dengan demikian, daya dorongnya bersifat eksternal” (Mao Tse-Tung 1966: 25).

Jadi, pembacaan strukturalis atas Marx (Sebag 1964) yang menerima perbedaan metodologis antara cara analisis struktural dan temporal serta menurunkan analisa atas dinamika ke tingkat lebih rendah dari proses abstraksi adalah keliru. Keteraturan-keteraturan struktural selalu prosesual dan mesti dikonseptualisasi sedemikian rupa dalam memahami situasi historis konkret tertentu. Saya bukan hendak menyatakan bahwa penjelasan sinkronik atas suatu sistem bukan jadi langkah penting dalam tahap analisis. Marx misalnya, secara heuristik merancang model sinkronik reproduksi sederhana kapital dalam rangka memperjelas penentu-penentu pokok model dinamisnya ihwal perubahan kualitatif di dalam reproduksi kapital yang diperluas.

Namun, teori yang terakhir dari reproduksi diperluas tidaklah kurang abstraknya ketimbang model reproduksi sederhana. Malah ia secara konseptual lebih rumpil. Hal macam ini adalah satu-satunya model memadai dari perkembangan kapitalis, karena andaian teori reproduksi diperluas (tidak seperti teori reproduksi sederhana) bertaut pada kondisi material realitas historis yang hendak dipahami.

Kegagalan memahami aspek penting metode analisis Marx di dalam Capital ini menghantar pada salah-tafsir yang bebal atas rumusannya ihwal hukum tendensi kejatuhan tingkat laba. Hukum ini tidak semestinya dibaca sebagai perian historis atau prediksi, akan tetapi sebagai analisis dinamis ihwal faktor-faktor sistemik penting yang mendasari jalannya perkembangan kapitalis. Begitu pula, “cara produksi” (mode of production) ialah konsep dinamis bagi Marx, bukan konsep statis. Penyelewengan ke dalam logika Capital ini menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan metodologis antara materialisme historis, strukturalisme, dan evolusionisme teleologis sebagai suatu cara penjelasan hadir bahkan sebelum kita langsung mengalamatkannya pada analisis atas masyarakat manusia.

Di dalam mendiskusikan dua cara analisis antropologis yang terakhir, saya sudah tekankan anasir idealis di dalam karya Lévi-Strauss. Sekalipun begitu antropolog strukturalis dengan teguh menolak menerima cap Hegelianisme yang dialamatkan kepada karya mereka. Boleh dikatakan, mereka betul. Keasyikan Lévi-Strauss dengan struktur-struktur logis pikiran memang tidak muncul dari penyematan transenden pada Roh apa pun, tapi dari analisisnya ihwal penentu pokok keberadaan material manusia, yakni kemenangan Manusia atas Alam melalui representasi simbolik Kebudayaan.

Fakta bahwa strukturalisme dalam praktiknya kelihatan Hegelian tidak kemudian menyamarkan kesamaan antara dalil pokok Lévi-Strauss dan diskusi kodrat manusia oleh antropolog anti-Hegelian semacam Geertz (1973) dan White (1949) yang menekankan arti penting simbolisasi di dalam evolusi manusia. Posisi Marxis di sini tidak bisa diklarifikasi di tingkat epistemologis karena persoalan utamanya bukan soal cara kita mengetahui tetapi soal apa itu masyarakat manusia. Keabsahan andaian-andaian materialisme dialektis dibangun lewat analisis ilmiah atas sejarah manusia.

Catatan

[1] Kutipan Marx selalu merujuk ke edisi yang paling mudah didapat. Seperti akan jelas dari pola pengutipan, saya ambil Grundrisse (Marx 1973) sebagai bagian dari korpus karya Marx matang.

[2] Untuk diskusi lebih lanjut tentang hal ini, lihat Lenin (1972) dan Engels (1939).

[3] Gagasan Althusser (1970a) dan Nicolaus (1973) yang berbeda jalan analisisnya ihwal kaitan antara Marx dan Hegel mesti diperiksa di sini.

© Bridget O’Laughlin 1975 / Diterjemahkan oleh Dede Mulyanto / Foto: WSI Magazine

About the Author

Related Posts

Cara Produksi Berbekal perspektif sebelumnya, kini kita bisa mengkonseptualisasikan beraneka cara...

Metode Marx Jamaknya kesulitan dalam penerapan metode Marx lahir dari betapa berkebalikannya metode...

Bukan suatu kebetulan jika kaum kapitalis dan pekerja saling berhadap-hadapan sebagai penjual dan...

Leave a Reply