Konsep-konsep Pokok Materialisme Historis

Di dalam bagian ini saya akan diskusikan konsep-konsep pokok tertentu dari materialisme historis dan menunjukkan bagaimana mereka berseberangan dengan bangunan-bangunan dari sudut pandang antropologis yang lebih konvensional. Tempat untuk memulainya ialah hubungan dialektis antara manusia dan alam yang Marx lihat sebagai hal fundamental di dalam proses evolusi sosial manusia.

Marx mulai pencariannya akan suatu pemahaman atas hukum-hukum evolusi masyarakat manusia dengan menekankan kesatuan sekaligus pertentangan antara manusia dan alam. Di dalam tamsilnya yang sering dikutip ihwal arsitek terburuk dan lebah terbaik, Marx (1967: 178) menyadari benar akan arti penting imajinasi manusia. Meski begitu, bahasa dan representasi itu sendiri diturunkan dari reproduksi sosial manusia atas syarat-syarat keberadaan mereka sendiri: “manusia bisa dibedakan dari binatang oleh kesadaran, oleh agama atau apa pun lainnya yang anda suka. Mereka sendiri mulai membedakan diri mereka dari binatang segera mereka mulai memproduksi sarana hidup mereka” (Marx dan Engels 1970: 42). Di dalam produksi, manusia memperhadapkan dirinya pada alam dengan bertindak atas dunia eksternal dan mengubahnya; namun pada saat bersamaan mereka secara dialek-tis satu dengan alam, karena dalam mengubahnya mereka mengubah diri mereka sendiri juga (Marx 1967: 177).

Dengan demikian dalil utama materialisme historis ialah bahwa produksi dan reproduksi sosial adalah landasan sejarah manusia. Dalam rangka menarik makna teoritis dalil ini, saya telah mengisolasi dua dasar pikiran pokoknya: pertama, produksi itu proses sosial; kedua, produksi dan reproduksi menentukan struktur dinamis masyarakat manusia. Dua dasar pikiran ini akan dikembangkan dan dipertentangkan dengan pandangan-pandangan antropologis ihwal masyarakat di dalam dua bagian berikut.

Produksi adalah Proses Sosial

Materialisme historis berurusan dengan evolusi manusia sebagai suatu spesies sosial, bukan sebagai organisme individual. Maka meskipun berkutat dengan “manusia si pembuat-alat” tampak sebagai konsekuensi yang bisa dimaklumi dari tekanan Marx atas produksi manusia atas sarana hidup, meneliti simpanse yang akan mematahkan jerami untuk memancing rayap keluar untuk menjelaskan evolusi manusia, adalah hal sia-sia. Bukan intensionalitas produksi yang membatasi kegiatan manusia, melainkan keniscayaan watak sosialnya. Menjadi manusia berarti menjadi sosial karena kita mereproduksi diri kita sendiri hanya melalui kerjasama produksi demi sarana-sarana hidup kita. Oleh karena itu, Robinson Crusoe sendirian di pulaunya ialah hasil dari masyarakat tertentu (dan mengutak-atik penderitaannya adalah hasil ideologis lainnya).

Karena orang selalu berada di dalam masyarakat, individu tak pernah merupakan unit-unit otonom. Justru sebaliknya, orang bisa mengindividuasi diri mereka hanya di dalam masyarakat dan tiap-tiap individu ditentukan seperangkat hubungan sosial tertentu. Masyarakat tidak bisa dipahami sebagai populasi atau kumpulan individu-individu, tapi hanya sebagai totalitas hubungan-hubungan sosial (Marx 1973: 100). Karena itulah selalu tidak waras secara metodologis mengandaikan suatu kelompok sukubangsa atau unit politik (masyarakat Nuer, Amerika Serikat) sebagai satu unit analisis yang memadai. Kita harus mulai dengan merekonstruksi hubungan-hubungan sosial yang menentukan subjek-subjek atau kelompok-kelompok tertentu.

Karena orang bisa mengindividuasi diri mereka sendiri hanya dalam masyarakat, tidak ada pertentangan yang kodrati antara individu dan masyarakat. Dengan demikian masalah tertib-tatanan tidak mestinya menjadi persoalan utama teori sosial, tidak pula kesetimbangan (equilibrium) yang diandaikan sebagai syarat reproduksi semua masyarakat. Fungsionalis-struktural (baik yang Parsonian atau varian Inggrisnya) berurusan dengan pemeliharaan kesesuaian sistemik yang mensyaratkan kecenderungan-kecenderungan atomistik yang melekat di dalam semua masyarakat. Sebagai ideologi, individualisme khayali dari masyarakat kapitalis ditegaskan melalui universalisasinya di dalam tulisan-tulisan fungsional-struktural (Asad 1972; Macpherson 1965).

Sebaliknya, Marx menelanjangi hubungan-hubungan kelas yang mendasari tampakan-tampakan kebebasan individual di dalam masyarakat kapitalis dan menunjukkan bahwa masyarakat tak mesti suatu sistem kesetimbangan harmonis. Persis karena orang-orang secara sosial saling bergantung di dalam produksi, masyarakat bisa mereproduksi dirinya sendiri secara terus-menerus kendati berkonflik dan berkontradiksi. Karena kita tidak dapat andaikan bahwa pergerakan apa pun yang keluar dari kesetimbangan membinasakan sistem, penjelasan atas fakta-fakta sosial yang bertumpu pada pemeliharaan integrasi fungsional tidak memberikan penjelasan sama sekali.

Di dalam peristilahan yang khas antropologis, hanya absah mengakarkan penjelasan soal pertukaran perempuan atau barang-barang di dalam konteks pemeliharaan solidaritas sosial apabila kita terlebih dahulu telah menunjukkan mengapa kelompok-kelompok yang saling bertukar itu bertentangan. Artinya, mendefinisikan pertukaran sebagai landasan tertib sosial paling-paling hanya menjadi reduksi tak masuk akal atas kosakata konseptual (dengan menyatakan bahwa semua hubungan sosial secara definitif ialah hubungan pertukaran) dan paling banter menjadi penerimaan naif atas suatu jiwa egoistik yang berlaku universal.

Saya tekankan implikasi diskusi Marx atas watak sosial produksi karena kerapnya keliru tafsir atas teori Marxis di dalam dikotomi antara teori-teori konsensus dan teori-teori tegangan ihwal masyarakat. Materialisme historis bukanlah teori tegangan; ia sama sekali tidak mengandaikan bahwa konflik, hierarki, dan stratifikasi itu universal di semua bentuk masyarakat. Eksploitasi dan konflik kelas itu khas secara historis, bukan gejala sosial umum.

Idealisasi utopian atas masyarakat-masyarakat pra-industri seringkali merupakan dukungan ideologis bagi bayangan atas kelanggengan evolusioner kelas-kelas dalam masyarakat yang secara teknologis kompleks, sekaligus suatu artefak kebijakan-kebijakan kolonial tertentu (Asad 1973; Suret-Canale 1973). Karena hal ini antropolog cenderung mengabaikan perkembangan dan konflik kelas di dalam masyarakat yang dikajinya. Para antropolog Marxis sudah coba menebus bias ini, namun dengan tidak mengandaikan bahwa hubungan kelas itu universal.

Keteguhan Marx ihwal batasan sosial atas individu punya konsekuensi penting bagi teori-teori kebudayaan sebagaimana juga bagi teori-teori ihwal masyarakat. Karena tidak ada subjek-subjek individual otonom, tidak ada pula hal semacam manusia alamiah asasi, yang terlucuti dari tambahan aksidental kebudayaan dan sejarah. Manusia yang menghendaki kemasyhurannya Malinowski, pemaksimal universalnya teori ekonomi neoklasik, agresornya Ardrey, dan dorongan n-prestasinya McClelland, dengan demikian, semuanya khayali, lagi-lagi mistifikasi yang cocok di dalam periode ekspansi masyarakat kapitalis (Macpherson 1965) (meski kurang menarik ketika anda tidak bisa betul-betul mendapatkan apa yang anda inginkan). Tentu saja orang-orang itu mahkluk material sekaligus berkesadaran yang dalam konteks seperti ini dipengaruhi fisiologi tubuhnya sendiri, akan tetapi pengaruh-pengaruh fisiologis ini selalu dipengaruhi keadaan sosio-historis tertentu. Tidak ada bawaan psiko-fisiologis yang berlaku umum di dalam keberadaan manusia.

Penegasan soal keteguhan Marx ihwal pentingnya adaptasi sosial yang serba-lentur di dalam evolusi keberadaan manusia bagi saya tampak sebagai sisi terkuat kajian-kajian primata kontemporer (sedang sisi terlemah adalah pencarian atas kera universal). Implikasi kajian-kajian macam itu bagi teori-teori kebudayaan dengan amat jernih tergambarkan dalam kepustakaan antropologis lewat Geertz (1973): kita tidak bisa punya suatu teori kebudayaan umum; kita hanya bisa menafsirkan kebudayaan-kebudayaan tertentu. Teori kebudayaan umum secara metodologis hanya mungkin jika kita memiliki suatu teori umum yang bisa menganalisis bagaimana cara representasi kultural diorganisasikan dan direproduksi secara sosial.

Di sini Geertz dan Marx berpisah jalan secara asasi. Meski Geertz menampik gagasan ihwal subjek universal yang punya kodrat bawaan tetap, dia masih menyatakan bahwa ada situasi eksistensial universal yang berlaku umum bagi semua masyarakat, dan karena itu intersubjektivitas bisa masuk ke dalam sistem-sistem pemaknaan. Pendekatan fenomenologis yang berangkat dari situasi eksistensial subjek macam ini bertabrakan dengan metode tafsir kebudayaannya Marxis. Untuk menunjukkan mengapa demikian, kita mesti kembali ke kaitan antara kesadaran dan keberadaan sosial lewat konsep Marxis ihwal ideologi.

Semenjak representasi kultural hanya hadir ketika mereka terorganisasi secara sosial, kesadaran senantiasa tertanam di dalam keberadaan, kesadaran tidak pernah berdiri sendiri di luar keberadaan: “bukan kesadaran manusialah yang menentukan keberadaannya, namun keberadaannya yang menentukan kesadar-annya (Marx 1970: 21). Orang bisa benar-benar memegang teguh semua jenis representasi yang saling bertentangan tanpa mengubah syarat-syarat keberadaan sosial mereka. Representasi kultural bukanlah sistem logis yang selalu mengarah kepada konsistensi, representasi kultural pada akhirnya diatur konteks-konteks sosial mereka, bukan oleh logika pikiran.

Sekali pun begitu, persis karena keberadaan tidaklah ditentukan kesadaran—meski bagian dari realitas sosial, kesadaran tidak mencakup keseluruhan realitas sosial—bentuk-bentuk kesadaran tidak hanya menggambarkan tapi bisa juga secara sistematis membalik gambaran hubungan-hubungan sosial yang membentuknya. Pembalikan semacam ini membentuk ideologi, yakni bentuk-bentuk kesadaran yang tampak nyata tapi sebetulnya keliru. Ideologi tak punya sejarahnya sendiri, tidak pula punya kandungan universal; berdasarkan fungsinya ideologi hanya bisa didefinisikan dengan hubungannya terhadap suatu masyarakat historis tertentu[1].

Tentu saja ada bentuk-bentuk kesadaran yang sifatnya tidak ideologis. Dalam kerangka Marxis kebudayaan dan ideologi tidak sama. Biar pun demikian, apabila kesadaran tidak seutuhnya mengemukakan syarat-syarat sosial keberadaan, maka kita tidak pernah bisa benar-benar memahami syarat-syarat ini melalui ungkapan kesadaran subjektif. Pintu masuk intersubjektifnya pendekatan-pendekatan fenomenologis pada penafsiran kultural dengan demikian khayali, karena pandangan subjek (entah sadar atau tidak) berpeluang menjadi suatu mistifikasi atas apa yang mendasari hubungan-hubungan sosial.

Apabila kita salah pahami hubungan-hubungan sosial yang melaluinya kebudayaan diorganisasi, maka kita salah tafsirkan kebudayaan juga, karena pemaknaan ada di dalam rujukannya. Oleh karena itu kita harus mengawali penafsiran kebudayaan dengan suatu sistem sosial yang terbentuk secara historis dan bukan mengawalinya dengan subjek-subjek. Orang-orang pada akhirnya mendefinisikan diri mereka sendiri lewat hubungan sosial mereka, bukan melalui lambang-lambang yang mereka gunakan.

Produksi dan Reproduksi Menentukan Dinamika Struktur Masyarakat

Sistem sosial dalam konsepsi Marx ialah suatu totalitas dinamis yang tersusun atas hubungan-hubungan antar orang dan antara orang dan alam. Hubungan-hubungan dari totalitas sosial ini berkualitas beda. Karena produksi dan reproduksi subsistensi manusia merupakan landasan masyarakat, aspek atau momen penentunya ialah daya-daya produksi teknis dan hubungan-hubungan sosial produksi. Sistem produktif beserta bentuk-bentuk konsumsi, distribusi, dan pertukarannya (basis), pada akhirnya menentukan bentuk hubungan-hubungan politis dan ideologis (suprastruktur).

Marx tidak pernah menyatakan bahwa sejarah sekadar ungkapan hubungan-hubungan produktif. Ekonomisme macam itu bertentangan dengan pemahamannya ihwal kaitan dialektis antara basis dan suprastruktur. Namun, pada akhirnya, arti penting pranata-pranata tertentu ditentukan oleh cara produksi:

“…abad-abad pertengahan tidak hidup dari Katolikisme, tidak pula dunia kuno dari politik. Sebaliknya, cara mereka memperoleh nafkahlah yang menjelaskan mengapa di sini politik dan di situ Katolikisme memainkan peran utama. Untuk selebihnya ia hanya memerlukan sedikit pengetahuan sejarah republik Romawi, misalnya, untuk sadar bahwa sejarah tersembunyinya ialah sejarah pemilikan tanah. Di sisi lain, Don Quixote dahulu menerima hukuman karena membayangkan secara keliru bahwa ksatria kelana cocok dengan semua bentuk ekonomi masyarakat (Marx 1967: 82).

Dengan demikian, di dalam menempatkan daya penentu pada basis, Marx tidak mereduksi semua hubungan sosial pada hubungan produksi. Agama, politik, dan adat-istiadat ksatria pertama-tama bukanlah lembaga-lembaga ekonomi. Sebaliknya, Marx mau menunjukkan bahwa hubungan-hubungan dari suatu sistem sosial itu berkualitas beda, yang dengannya basis pada akhirnya menentukan struktur keseluruhan.

Untuk memahami watak penentu basis, perlulah mengerti arti pentingnya penetapan Marx atas konsep reproduksi. Di dalam produksi sosial, orang-orang tidak hanya memproduksi tapi juga mereproduksi syarat-syarat keberadaan mereka sendiri. Karena semua produksi itu produksi di dalam suatu bentuk masyarakat tertentu, ini berarti juga reproduksi kerja, reproduksi sarana-sarana produksi, dan reproduksi hubungan-hubungan produksi (Althusser 1971).

Di dalam dialektika yang beroperasi dari kaitan antara daya-daya dan hubungan-hubungan produksi dalam ruang dan waktu, kontradiksi antagonis bisa berkembang di dalam sistem—pikirkan, misalnya, konflik atas akses terhadap lahan yang timbul di dalam kondisi tertentu ketika sistem perladangan kemudian menjadi sistem budidaya intensif (Friedman 1972). Atau, sebagaimana di dalam kapitalisme, kontradiksi antagonistik bisa terkandung di dalam sistem produktif dari permulaannya di dalam kontradiksi kelas pokok antara kerja dan kapital.

Sistem mereproduksi dirinya sendiri, terlepas dari kontradiksi-kontradiksinya, melalui perantaraan suprastruktur—hubungan-hubungan yuridis-politis dan ideologis yang menekan, mengalihkan, atau mengelirukan gambaran konflik-konflik pokok. Hubungan-hubungan ini bisa jadi pada dirinya sendiri kontradiktif, dan yang pasti mereka tidak tersaring ke arah integrasi fungsional yang diperlukan atau jenis konsistensi apa pun. Tidak pula struktur-struktur pemerantara membatalkan kontradiksi-kontradiksi; seringkali struktur pemerantara ini condong membuat reproduksi ke dalam bentuk-bentuk yang lebih antagonistik. Maka konsep reproduksilah yang menjadikan perlunya tautan antara basis dan suprastruktur di dalam sistem sosial.

Perkembangan kontradiksi yang antagonistik antara daya dan hubungan produksi secara historis telah menghantar pada krisis dan akhirnya pada perubahan-perubahan kualitatif di dalam sistem produksi:

“momen kedatangan krisis macam itu ditutupi oleh kedalaman dan keluasan yang dicapai lewat kontradiksi-kontradiksi dan pertentangan-pertentangan antara hubungan-hubungan distribusi dan dengan demikian bentuk historis khas dari hubungan-hubungan produksi terkaitnya pada satu sisi dan pada daya-daya produktifnya, kekuatan produktif dan perkembangan agensi-agensi mereka, pada sisi lain. Sebuah konflik lalu hadir antara perkembangan material dari produksi dan bentuk-bentuk sosialnya” (Marx 1967a: 883).

Sebab historis langsung dari krisis tidak mesti ekonomi, namun arti penting fungsionalnya senantiasa ditentukan syarat-syarat basis dan jalan keluarnya selalu ekonomi, yakni lewat perubahan mendasar di dalam sistem produksi.

Artinya, pergerakan pokok sejarah manusia ialah perkembangan dialektis daya-daya dan hubungan-hubungan produksi. Marx tidak melihat pergerakan ini sebagai perkembangan rata, progresif, dan harmonis dari pembagian kerja, tetapi sebagai perubahan tidak rata, terbabak, dan kualitatif yang ditandai peralihan revolusioner dari satu babak produksi ke babak lainnya. Sistem produksi baru muncul secara historis dari yang lama, namun bukan sebagai turunan langsung dari penyelesaian kontradiksi yang lalu. Dialektika antara daya dan hubungan produksi di dalam cara produksi baru berbeda dalam konteksnya dari babak produksi sebelumnya. Jadi, untuk memahami sejarah berarti untuk sanggup mendefinisikan konteks-konteks yang khusus secara historis.

Catatan

[1] Althusser (1971) menyajikan suatu diskusi yang kontroversial dan secara teoritis maju ihwal konsep ideologi.

© Bridget O’Laughlin 1975 / Diterjemahkan oleh Dede Mulyanto / Foto: Play Buzz

About the Author

Related Posts

Cara Produksi Berbekal perspektif sebelumnya, kini kita bisa mengkonseptualisasikan beraneka cara...

Metode Marx Jamaknya kesulitan dalam penerapan metode Marx lahir dari betapa berkebalikannya metode...

Bukan suatu kebetulan jika kaum kapitalis dan pekerja saling berhadap-hadapan sebagai penjual dan...

Leave a Reply