Metode-metode Analisis: Cara-cara Produksi 

Di dalam bagian sebelumnya, beberapa konsep pokok materialisme historis didiskusikan dan dipertentangkan dengan pandangan-pandangan lazim antropologis. Di bagian ini saya akan pertimbangkan lebih rinci metode-metode materialisme historis dan khususnya gagasan cara produksi. Umumnya kebanyakan ilmuwan sosial Marxis sepakat bahwa masyarakat mesti dianalisis sebagai formasi sosial, yakni suatu sistem-sistem saling hubung yang tersusun dari suprastruktur dan suatu basis ekonomi penentu yang bisa saja merupakan suatu pertautan kompleks lebih dari satu cara produksi tunggal.

Dari pengertian formasi sosial ini menyusul asas-asas metodologis pokok tertentu. Pertama, bahwa di dalam menganalisis pranata apa pun seperti kekerabatan, keluarga atau negara, kita mesti memecahnya ke dalam hubungan-hubungan yang membatasinya dan menautkannya secara padu pada basis[1]. Kedua, analisis formasi sosial sebagai keseluruhan merupakan prasyarat untuk memahami keterpilahan ilmu-ilmu sosial sekarang ini ke dalam disiplin-disiplin yang berdiri sendiri dan dengan demikian anti-ilmiah.

Namun, di balik kesepakatan umum ini ada pusparagam opini ihwal penerapan kerangka kerja metodologis yang dipakai. Sebelum menyajikan garis besar sementara metode analisis atas suatu cara produksi, saya akan diskusikan beberapa persoalan konseptual penting dan mencoba merinci kekeliruan-kekeliruan yang telah dibuat. Kebanyakan penulis yang didiskusikan di sini mengaku dirinya Marxis, namun demi penjernihan saya juga akan merujuk ke karya para antropolog yang secara penting telah dipengaruhi Marx atau yang karyanya telah dikelirukan dengan pendekatan-pendekatan Marxis (Goody, Worsley, Harris, Sahlins). Persoalan yang dimaksud mencakup: 1. Masalah kategori-kategori analisis yang umum lawan yang khusus; 2. Konseptualisasi dialektis atas daya dan hubungan produksi; 3. Pertautan cara-cara produksi; 4. Konsep transisi.

Persoalan-Persoalan Konseptual

Kategori-kategori Umum Vs. Khusus. Produksi sosial sarana hidup merupakan landasan keberadaan manusia. Jadi semua epos produksi punya unsur bersama tertentu; kerja dan sarana produksinya—objek dan alat-alat kerja (Marx 1973: 85). Apabila kita analisis suatu pengaturan tertentu dari ciri-ciri ini sebagai proses teknis, artinya kita sedang bicara daya produksi. Apabila kita analisis penataan ciri-ciri yang sama dalam konteks hubungan apropriasi antar orang, berarti kita sedang bicara hubungan produksi. Di dalam tiap kasus, hubungan-hubungan diulas baik sebagai yang sosial maupun yang material, namun dalam kedua sisi ini sesungguhnya kita bertatapan dengan aspek-aspek kenyataan sosial yang berbeda.

Ketika melihat produksi sebagai proses kerja, kita lantas dapat menetapkan suatu cara produksi melalui suatu spesifikasi lebih mekanistik dari tiap-tiap ciri yang dimiliki bersama semua produksi. Di sinilah intinya: produksi bukanlah suatu proses umum, tapi “pengelolaan alam di sisi individu di dalam dan melalui bentuk masyarakat tertentu” (Marx 1973: 87). Semua sistem produksi bisa punya anasir yang serupa, namun hal ini hanya memberi kerangka tautologis dari analisis tanpa mengatakan apa pun ihwal bentuk-bentuk sosial produksi yang secara historis spesifik: “sampai kadar tertentu, proses kerja semata-mata adalah proses antara manusia dan Alam, anasir sederhana proses kerja tetap sama bagi semua bentuk sosial perkembangan. Namun masing-masing bentuk historis-spesifik proses ini memperkembangkan lebih lanjut fondasi material serta bentuk-bentuk sosialnya” (Marx 1967a: 883). Karena tujuan teori ialah mengembangkan abstraksi demi pemahaman yang konkret (yang selalu spesifik secara historis), seperangkat konsep universal tidak dapat mendefinisikan cara produksi tertentu apa pun. Analisis suatu cara produksi mestilah bergerak dari penentu-penentu umum abstrak menuju pengamatan dan pengartian di tingkat konkret untuk kemudian kembali pada artikulasi teoritis dari kategori-kategori umum dan khusus.

Pembedaan kategori-kategori umum dan khusus tentu merupakan masalah utama di dalam analisis ilmiah; suatu masalah yang tidak bisa diselesaikan sepenuhnya di dalam teori itu sendiri. Marx mengakui bahwa tugas umum dari ideologilah untuk menampilkan gambaran proses-proses sosial tertentu sebagai ungkapan hukum-hukum universal yang ajek, suatu piagam sosial alamiah. Jadi, satu porsi perhatian sarjana Marxis terhadap sistem-sistem nonkapitalis ialah berurusan dengan menentukan sejauh mana konsep-konsep yang Marx kembangkan untuk analisis atas kapitalisme bisa atau tidak diterapkan pada semua cara-cara produksi.

Jalan keluar ilmiah satu-satunya atas masalah ini ialah gerak balik dari teori ke data dalam rangka melihat seberapa baiknya yang konkret bisa ditentukan oleh abstraksi yang telah kita kembangkan. Gerak balik ini khususnya penting bagi antropolog, yang ilmunya demikian sering meredakan cibiran terhadap masyarakat kapitalis dengan jaminan konservatif akan universalnya kebudayaan yang konon kita “melihat diri sendiri” ketimbang kita sebagaimana adanya. Di sini saya menganggap cukup penting bagi para antropolog Marxis untuk memilah: (a) status analitis teori nilai, dan (b) konstruksi cara-cara produksi prakapitalis.

Teori Nilai. Sebagai suatu abstraksi dari produksi, konsep nilai-kerja bisa diterapkan pada analisis cara produksi apa pun. Namun konsep nilai sering secara teoritis ditautkan dengan konsep-konsep lain di dalam konstruksi analitis yang khas cara produksi tertentu. Di dalam suatu artikel baru-baru ini, Jonathan Friedman (1974: 446) misalnya mengajukan bahwa hubungan sosial produksi menentukan tingkat nilai-lebih (s/v) dan tingkat laba [s/(s+v)] di semua bentuk masyarakat, entah masyarakat itu punya kategori-kategori terkait dengan s (nilai-lebih), v (kapital peubah), dan c (kapital tetap) atau tidak. Walau saya sepakat bahwa penerapan kategori-kategori teoritis tidak bergantung pada hadirnya kategori ini di benak informan, perluasan Friedman atas konsep Marx yang sebetulnya dikembangkan untuk analisis kapitalisme pada semua cara produksi adalah kekeliruan metodologis mendasar.

Di dalam cara produksi kapitalis, surplus diambil alih sebagai nilai-lebih oleh kapital dari kerja di dalam proses produksi. Nilai yang dihasilkan kerja lebih besar ketimbang nilai komoditi-komoditi yang bisa dibeli para pekerja (V) dan nilai sarana produksi yang digunakan di dalam produksi (C): nilai-lebih ini (S) diambil oleh kapital. Pengambilalihan surplus sebagai nilai-lebih bergantung pada syarat-syarat historis tertentu: hadirnya kerja-upahan sebagai komoditi, pemisahan pekerja sebagai suatu kelas dari sarana-sarana produksi, dan suatu pembagian kerja kompleks yang dicerminkan oleh pemanfaatan umum permesinan yang hanya ada di dalam cara produksi kapitalis. Karena itu, menerapkan kategori-kategori C, V, dan S pada cara-cara produksi lain tidak mengatakan apa-apa pada kita tentang dinamika khasnya.

Masalah kedua dalam penggunaan konsep nilai ialah status analitis hukum nilai. Tidak seperti ekonom-ekonom klasik, Marx tidak pernah berpendapat bahwa hukum nilai berlaku (yakni bahwa barang-barang dipertukarkan dalam kaitan dengan nilai-nilai kerja mereka) di dalam semua cara produksi. Hanya ketika produksi diorganisasi demi pertukaran alih-alih digunakan, yakni di dalam produksi komoditi kecil-kecilan dan paling purna di dalam produksi kapitalis sajalah komoditi dipertukarkan dalam kaitan dengan nilai-nilai kerja mereka (melalui harga produksi mereka):

“harga-harga itu tua, begitu pula pertukaran; namun meningkatnya penentuan harga oleh ongkos produksi, sebagaimana juga meningkatnya dominasi pertukaran atas semua hubungan produksi, hanya berkembang sepenuhnya dan lanjut berkembang bahkan lebih lengkap di dalam masyarakat borjuis, masyarakat persaingan bebas” (Marx 1973: 156).

Komoditi-komoditi dipertukarkan dalam kaitan dengan nilai-nilai kerja mereka hanya ketika hukum nilai mengatur produksi mereka.

Berlanjutnya salah baca atas analisis Marx ihwal hukum nilai berasal dari andaian pengutamaan pertukaran di dalam ideologi borjuis. Andaian ini juga terpantul di dalam daya penjelas yang dilekatkan pada konsep “ranah-ranah nilai” dalam antropologi ekonomi [lihat Barth (1967), Bohannan (1959), dan Berthould (1969-70a), yang terakhir untuk kritik bagus atas Bohannan]. Persoalan teoritis utama mestinya bukan mengapa beberapa barang ditukar dengan beberapa barang dan bukan yang lain, tapi lebih mengapa kita pikir “alamiah”-lah bahwa semua dipertukarkan terhadap semua. Jenis pertukaran terakhir ini benar hanya ketika orang-orang memproduksi utamanya untuk dipertukarkan ketimbang untuk penggunaan mereka sendiri:

“ketika produksi diarahkan pada subsistensi langsung tidak setiap barang bisa ditukarkan untuk setiap barang lainnya, dan kegiatan tertentu bisa dipertukarkan hanya untuk produk tertentu. Kian terspesialkan, kian berlipat dan saling bergantunglah produk jadinya, makin besar keperluan akan suatu perantara umum pertukaran” (Marx 1973: 199).

Gagasan ranah-ranah nilai digunakan untuk menganalisis peralihan dari perekonomian tradisional ke modern, yakni ketika ranah-ranah ini runtuh dan suatu uang serbaguna diperkenalkan. Namun, sebagaimana Dupré dan Rey (1973) telah tekankan, konsep-konsep transisi yang terbatas pada tingkat distribusi hanya dapat menyediakan penjelasan tautologis penyulihan cara-cara produksi prakapitalis oleh kapitalisme dan menarik perhatian keluar dari mekanisme yang mendasari perubahan pokok di dalam hubungan produksi.

Kekhususan Cara-Cara Produksi Prakapitalis. Kesulitan-kesulitan dalam membangun rentang kisaran analitis dari konsep-konsep tertentu terulang di dalam karakterisasi Marxis ihwal perekonomian prakapitalis. Adakah ciri-ciri umum pada semua perekonomian prakapitalis—yakni “perekonomian alami”, atau perekonomian yang didominasi ketergantungan pribadi—mungkin dianalisis oleh suatu perangkat konsep-konsep teoritis umum? Atau bisakah kita bangun suatu prangkat-perangkat perekonomian prakapitalis—primitif, tanpa kelas, “dingin”, atau didominasi kekerabatan—dan dalam melakukannya kita bangun suatu objek pengetahuan yang ketat? Pertanyaan-pertanyaan ini jelas penting bagi antropolog Marxis yang berupaya menghapus batasbatas sempit disiplin mereka, dan tidak ada kebulatan suara di antara Marxis dalam tanggapan-tanggapan mereka akan hal ini.

Dalam sebagian besar masa hidupnya, Marx berurusan dengan pengembangan suatu analisis atas cara produksi kapitalis yang akan menyediakan kerangka teoritis bagi perjuangan-kelas revolusionernya proletariat. Dia bersikukuh bahwa analisis ini mestilah spesifik secara historis, tapi menyangkal bahwa perlu kiranya mengembangkan pengetahuan historis ihwal semua cara produksi dalam rangka memahami hubungan-hubungan pokok kapitalisme. Agak sebaliknya:

“masyarakat borjuis ialah organisasi produksi historis paling maju dan palling rumpil. Kategori-kategori yang mengungkap hubungan-hubungannya, pemahaman atas strukturnya, dengan demikian, juga memungkinkan wawasan-wawasan ke dalam struktur dan hubungan-hubungan produksi dari semua formasi sosial yang telah punah keluar dari unsur-unsurnya dan meruntuhkan apa yang telah dibangunnya” (Marx 1973: 105).

Di dalam pembacaan etnologis yang dilakukan beberapa waktu sebelum kematiannya, Marx (1972) coba terapkan konsep-konsep yang dikembangkan di dalam analisisnya ihwal perekonomian borjuis, namun saya tidak temukan kemungkinan menafsirkan kutipan-kutipan, sisipan-sisipan, dan tinggalan-tinggalan di dalam buku catatannya dalam cara yang bisa menghasilkan analisis apa pun ihwal cara produksi prakapitalis. Ketika Marx mengkarakterisasi cara-cara produksi prakapitalis di dalam karya-karya analitisnya, dia hampir selalu melakukan satu di antara dua hal: (a) menganalisis transisi dari feodalisme ke kapitalisme; (b) membangun hubungan-hubungan pokok sistem kapitalis dengan menetapkan secara dialektis apa yang bukan kapitalistik.

Jadi, pelajaran utama yang kita bisa dapatkan dari karya Marx tentang cara-cara produksi prakapitalis tampaknya ialah bahwa mereka itu sama hanya sejauh apabila mereka itu bukan-kapitalis. Tidak ada fondasi positif untuk membedakan mereka sebagai suatu objek pengetahuan teoritis. Karena analisis Marx atas kekhususan historis kapitalisme, kita harus bisa menentukan kategori-kategori mana yang mestinya tidak diperluas ke cara-cara produksi prakapitalis, tapi oleh karena itu kita tidak bisa memberlakukan seperangkat konsep yang bisa ditujukan untuk analisis dinamika khas semua cara produksi prakapitalis. Menyatakan bahwa suatu masyarakat itu tanpa kelas atau dicirikan rendahnya tingkat perkembangan daya-daya produksi mengungkapkan pada kita apa yang bukan mereka, bukannya apa mereka itu. Sekadar mengatakan perekonomian prakapitalis itu didominasi ketergantungan pribadi tidak menerangkan apa pun pada kita ihwal apakah hubungan khas ini sesungguhnya.

Beberapa karya yang tidak bisa dirangkum semuanya di sini telah melakukan analisis atas cara-cara produksi prakapitalis tertentu, khususnya di Afrika (Meillassoux 1967, Pollet dan Winter 1968, Rey 1973, Terray 1972, Willame 1971). Karyanya Murra (1956) tentang Inca dan analisis ulang Godelier (1973) atasnya juga amat menolong. Namun, secara umum analisis apa pun atas cara-cara produksi prakapitalis mestilah berakar di dalam keluasan kerangka metodologis dari materialisme historis. Hal ini menghantar kita pada persoalan kedua dan sentral di dalam analisis cara produksi—konseptualisasi hubungan dialektis antara daya dan hubungan produksi.

Dialektika Daya dan Hubungan Produksi. Analisis setiap pertanyaan memerlukan perincian atas cara produksi, yang dipahami sebagai kesatuan dialektis daya-daya dan hubungan-hubungan produksi. Hubungan teknis antara manusia dan alam selalu menyiratkan bentuk-bentuk hubungan-hubungan sosial terkait. Dengan demikian, daya dan hubungan produksi tidak dapat dianalisis terpisah satu dari yang lain. Begitu pula perbedaan antar mereka mesti dikonseptualisasi. Fondasi kaitan dialektis ini ialah kesatuan manusia dengan alam dan oposisi manusia terhadap alam di dalam produksi. Produksi dan reproduksi keberadaan manusia memerlukan pengambilalihan alam lewat kerja manusia. Marx mengkritik mereka yang menempatkan kegiatan manusia di luar hukum-hukum alam: “kerja bukanlah sumber semua kekayaan. Alam juga sumber nilai-guna dan hal ini jelas bentuk anasir material dari kekayaan sebagaimana kerja yang pada dirinya sendiri hanya ungkapan suatu daya alami, tenagakerja manusia” (Marx 1963: 19).

Tautan dialektis antara daya dan hubungan produksi ialah kunci bagi proses evolusi manusia yang tak merata, terbabak, dan non-teologis. Secara analitis, tidak ada pemahaman atas perubahan sosial yang bisa dipisahkan dari perubahan teknologis, karena di dalam bertindak terhadap dunia eksternal dan mengubah alam, manusia pada saat yang sama mengubah kodrat mereka sendiri (Marx 1967: 177). Karena itulah pandangan Marx cukup beda dari pandangan kebanyakan materialis kultural dan ekolog budaya yang bersiteguh bahwa arti puncak sejarah terletak di dalam proses-proses teknologis. Masalahnya di sini ialah perubahan teknologis itu lantas menjadi suatu faktor yang berdiri di luar. Lintasan-lintasan yang di dalamnya hubungan-hubungan sosial produksi mempengaruhi perkembangan daya-daya produktif secara sistematis tak teranalisis.

Leacock (1972) telah secara rapi mengkritik kaum reduksionis dan akhirnya juga tendensi idealis yang mendekam di dalam penolakan materialis kultural atas dialektika—antara daya dan hubungan produksi dan antara kesadaran dan keberadaan (lihat juga Friedman 1974). Masalah-masalah yang sama terulang juga di dalam pendekatan-pendekatan yang kurang positivis terhadap evolusi kultural. Karena itulah saya akan diskusikan lebih panjang lebar revisi teori evolusionis yang diperkenalkan Marshall Sahlins yang minatnya pada Marxisme struktural Perancis telah berbuat banyak hal untuk membangkitkan kembali minat pada Marx di antara para antropolog.

Di dalam menganalisis perkembangan kedatuan politis Sahlins (1972: 101) berpendapat bahwa struktur politik macam itu muncul dari suatu kontradiksi antara daya dan hubungan produksi. Kedengarannya seperti pendapat seorang Marxis, namun sebetulnya kontradiksinya Sahlins itu imanen ketimbang material: ada perbedaan antara apa yang dapat orang hasilkan dan apa yang betul-betul mereka hasilkan. Struktur-struktur politik, dengan demikian, muncul sebagai suatu sarana realisasi surplus yang tersirat namun belum teraktualkan di dalam sistem. Nyatanya, kontradiksi yang Sahlins temukan itu bersemayam di dalam daya-daya produksi, yakni di dalam sistem teknologis itu sendiri. Kecuali kita secara ahistoris mengasumsikan rasionalisasi teleologis atas efesiensi ekonomi sebagai hakikat evolusi manusia, tidak ada jalan untuk bergerak dari kontradiksi yang disangkakan ini ke kemunculan hierarki politik. Dengan kata lain, sebetulnya ada kelanjutan yang gamblang antara karya evolusionis awalnya Sahlins dengan apa yang ada di tahap Marxiannya.

Di dalam antropologi sosial Inggris, Goody dan Worsley terus-menerus menantang asumsi-asumsi fungsionalis-struktural (setidaknya oleh Radcliffe-Brown dan Fortes) ihwal otonomi kekerabatan di dalam masyarakat primitif dengan berpendapat bahwa organisasi produktif menentukan bentuk hubungan kekerabatan. Akan tetapi, sebagaimana halnya materialis kultural Amerika, hubungan produktif cenderung direduksi ke sistem teknologis. Menurut Goody (1971), misalnya, absennya bajak dan aspek-aspek ikutan dari teknologi perantaranyalah yang utamanya menentukan pentingnya organisasi militer di dalam perkembangan negara Afrika. Dengan cara serupa, Worsley (1956) berpendapat bahwa bentuk-bentuk khas kekerabatan orang Talensi ditentukan oleh lahan pertanian tertentu serta kebutuhan akan kerjasama di dalam kerja pertanian.

Di dalam kasus Goody dan Worsley, barangkali suatu dosis kuat positivisme logis (hubungan yang tak tampak di permukaan hal-ihwal antara orang-orang bagaimanapun kurang riil daripada hubungan antara orang dan hal-ihwal), ketimbang suatu posisi evolusionis yang terartikulasi dengan baiklah yang menuntun keduanya pada reduksi hubungan produksi terhadap hubungan-hubungan teknis.

Dari sudut pandang Marxis, hadir atau tidaknya bajak tidak bisa mejadi tolok ukur mandiri di dalam sistem produksi karena hubungan sosial produksi mengkondisikan pemanfaatan, perkembangan, dan penerimaan bajak itu sendiri. Begitu juga pola-pola kerjasama dan bentuk-bentuk keluarga silih-bergantung di dalam masyarakat yang di situ rumahtangga ialah unit produksi pokok. Kelemahan reduksionisme teknologis tidak begitu kentara di dalam suatu analisis sinkronis, tetapi ia amat jelasnya ketika kita coba menganalisis dinamika perubahan sosial. Baik di dalam karya Goody maupun Worsley perluasan kapitalisme dilihat sebagai proses yang nyaris otomatis dari perubahan teknologis dan keterlibatan pasar. Keniscayaan penyulihan secara paksa hubungan produksi nonkapitalis tidak bisa secara jernih terkonseptualisasi di dalam kerangka teoritis mereka. Dan juga hampir seluruh aparat penguasa negara kolonial termasuk posisi fungsional antropolog, tersamar dari pandangan analitis.

Pada sisi lain, dialektika yang terpatah-patah menghalangi sejumlah antropolog Marxis—utamanya P.Ph. Rey—yang secara umum mempertahankan kesatuan dialektis antara daya dan hubungan produksi, namun berpendapat bahwa di dalam analisis terakhir hubungan sosial produksi mesti determinan. Ujungnya daya-daya yang membuat sejarah terletak di dalam orang-orangnya sendiri, tidak di luar mereka. Namun orang-orang ada hanya di dalam perhubungan dialektis dengan alam. Artinya, hubungan sosial hanya ada secara material dalam kaitan dengan kondisi teknis produksi. Apabila seperangkat hubungan sosial tertentu dipandang secara relatif otonom, maka basis material otonomi ini harus diperinci.

Karya Rey (1971, 1973) ihwal peralihan dan pertautan cara-cara produksi telah membuka arah baru analisis yang penting, namun kegagalannya menunjukkan landasan otonomi hubungan sosial agak mendistorsi kajiannya atas cara produksi kapitalis maupun nonkapitalis. Di dalam karyanya (Rey 1973) ihwal suatu “cara produksi berlandas-silsilah” di Afrika Tengah, misalnya, dia berpendapat bahwa suatu kelas tetua sanggup mengekstraksi surplus kerja dari junior melalui kendali atas reproduksi atau pengelompokan ulang kelompok-kelompok produktif. Landasan pendapat ini ialah hal yang dikenal baik para pengkaji Afrika (Goody 1971, Terray 1972), yaitu peladangan berpindah dominan di Afrika, lahan bukanlah sumber daya langka, tanah tidak dimiliki, dan oleh karena itu kendali atas oranglah alih-alih atas lahan yang penting. Masalahnya di sini ialah: 1. bahwa terlepas dari hubungan pemilikan, tanah tetap menjadi landasan produksi pertanian; 2. bahwa “kelangkaan” itu didefinisikan secara sosial dan juga teknologis. Otonomi proses-proses sosial pengerahan kelompok-kelompok produktif itu khayali dan dengan demikian tidak menggambarkan basis material dari eksploitasi.

Otonomi yang diandaikan atas hubungan sosial produksi juga muncul di dalam analisis Rey (1973) ihwal peralihan dari cara produksi nonkapitalis ke kapitalis. Rey usul bahwa hubungan produksi penentu di bawah feodalisme—sewa lahan—tetap memainkan peran peralihan sepanjang periode akumulasi primitif kapital. Karena itulah kita bisa berharap, menurutnya, peran serupa juga dimainkan hubungan eksploitasi tertentu (misalnya kendali atas barang-barang bergengsi) dari cara produksi lain dalam proses transisi. Pendapat ini bergantung pada asumsi bahwa kapitalisme ialah sistem hubungan sosial yang secara umum otonom dari rujukan materialnya. Analisis ini tidak ada kaitannya dengan pandangan Marx ihwal kontradiksi yang melekat di dalam ekspansi material kapitalisme, tidak pula pada rujukan empiris apa pun di dalam pertautan kontemporer cara-cara produksi nonkapitalis dan kapitalis industrial maju (Bonte 1973).

Tiga posisi alternatif terkait konseptualisasi daya dan hubungan produksi telah didiskusikan. Kita bisa bersikukuh pada kesatuan dialektis sekaligus perbedaan antara daya dan hubungan produksi, atau kita bisa memutus dialektika lantas kukuh pada daya penentu entah daya ataupun hubungan produksi. Alternatif keempat secara logis mungkin: kita bisa memutus dialektika secara konseptual tapi mengangkangi kedua sisi pada saat bersamaan. Inilah nyatanya yang telah dilakukan Maurice Godelier (1972, 1974) dan Jonathan Friedman (1972) saat meyakinkan bahwa daya dan hubungan produksi mesti dikonseptualisasi sebagai dua struktur terpisah di dalam suatu sistem fungsional. Kontradiksi antara kedua struktur dipikir sebagai sejenis kondisi pembatas, sebuah ketidaknyambungan fungsional antar struktur di dalam suatu sistem.

Godelier berpendapat bahwa evolusi cara produksi di dalam masyarakat kelas bergantung pada lakon dari dua kontradiksi saling berhadapan, kontradiksi di dalam hubungan-hubungan produksi dan kontradiksi antara daya dan hubungan produksi (Godelier 1973: 238). Syarat-syarat material untuk resolusi kontradiksi kelas di dalam hubungan produksi hanya bisa ada di luarnya, yakni di dalam daya produktif, persis karena daya produktif itu suatu realitas yang berbeda dari hubungan produksi.

Penafsiran semacam ini bisa menghantar pada teori mekanistik atas revolusi yang di situ perjuangan kelas hanya bisa diselesaikan ketika pertentangan antara daya dan hubungan produksi telah mencapai tingkat tertentu[2]. Godelier menyembunyikan analisis Marx tentang krisis berulang dan tentang persandingan tegas kontradiksi kelas dan kontradiksi material di dalam kapitalisme. Tesis pokok Kapital persisnya ialah bahwa di dalam benturan antara kapital dan kerja, konflik kelas mengungkap kontradiksi antara daya dan hubungan produksi: ada satu kontradiksi utama, bukan dua. Jenis kontradiksi ini terjadi di dalam perbudakan maupun kapitalisme (Marx 1973: 463) sehingga menjadi kerentanan khas dari dua sistem ini, tapi kontradiksi ini tidak berlaku di semua masyarakat kelas.

Menengok pada masyarakat prakapitalis, Godelier (1972a: 364-5; 1973) berargumen bahwa masalah utama masyarakat primitif ialah soal mengendalikan akses terhadap perempuan dan menyeimbangkan sirkulasinya. Arti penting masalah ini diturunkan dari peran kunci struktur kekerabatan di dalam masyarakat ini. Pada saat bersamaan kekerabatan itu infrastruktur sekaligus suprastruktur (Godelier 1972: 94-5). Ekonom bisa dengan mudah membedakan daya-daya produktif di dalam masyarakat ini; akan tetapi tidak bisa mengisolasi hubungan produksi yang tersendiri. Alih-alih, ragam fungsi struktur kekerabatan bertindak sebagai pembatas bagi perkembangan daya-daya produktif dan secara umum menjelaskan alun lamban perkembangannya. Jadi, metode analisis Godelier memusatkan perhatian pada sejauh mana hubungan kekerabatan menghalangi secara mandiri sistem teknologis tertentu (Godelier 1972a: 290).

Cara analisis ini dibawa hingga bentuk ekstrimnya di dalam olah ulang Friedman (1972, 1974) atas Political Systems of Highland Burma. Friedman secara amat meyakinkan menunjukkan bahwa konsepsi materialis ihwal evolusi struktural yang tak bisa diputar balik lebih tepat melukiskan distribusi gumsagumlao, dan sistem-sistem Shan ketimbang gagasan ayunan struktural Paretonya Leach. Namun, di dalam analisis alternatifnya, Friedman kembali ke sejenis determinisme teknologis yang mengingatkan kita pada evolusionisme kultural.

Friedman meletakkan kontradiksi utama masyarakat Kachin di dalam pertentangan antara sistem perutakaran barang-barang berharga (perempuan dan pangan) dan “produktivitas potensial” dari sistem teknologis ekspansif. Friedman lantas langsung menerapkan tafsiran Godelier atas kontradiksi kapitalis pada orang Kachin terlepas begitu bedanya tingkat-tingkat perkembangan daya-daya produktif di kedua kasus. Namun Marx (begitu juga Godelier, secara asasi) selalu berjuang untuk menunjukkan bahwa perkembangan riil daya-daya produksi itu sifatnya ikutan saja—terikat erat pada hubungan-hubungan produksi. Sebaliknya, Friedman memahami fungsi produksi sebagai yang terberi begitu saja, dan sekadar mengandaikan: (a) bahwa populasi akan tumbuh, dan (b) bahwa sistem akan meluas hingga suatu batas tertentu seiring pertumbuhan populasi. Asumsi-asumsi ini diperbolehkan Durkheim namun tidak oleh Marx. Jadi, baik persilangan konseptual Friedman maupun Godelier atas daya dan hubungan produksi punya konsekuensi-konsekuensi analitis yang patut disayangkan.

Pertautan Cara-cara Produksi dalam Suatu Formasi Sosial. Konseptualisasi tertentu atas suatu cara produksi secara analitis berguna hanya sejauh ia menjelaskan daya dan hubungan produksi pokok basis ekonomi di dalam suatu bentuk masyarakat tertentu. Selain itu, basis tidaklah mereproduksi dirinya sendiri. Basis hanya bisa diwujudkan di dalam suatu totalitas sosial. Dalam konteks itu, setiap cara produksi tidak hanya menggambarkan suatu basis tetapi juga bentuk-bentuk suprastruktur terkait.

Di dalam karya Marxis-strukturalis (misalnya Terray 1972) ada kecenderungan mengandaikan konsep formasi sosial digambarkan sekadar suatu gabungan unsur-unsur suatu cara produksi yang mencakup basis maupun suprastruktur. Di dalam alur penalaran ini, konsep formasi sosial akan punya makna analitis hanya apabila terdapat lebih dari satu cara produksi. Maka Terray (1972: 161-2), di dalam menganalisis ideologi Guro, mencoba (tapi tak berhasil) mengidentifikasi kultus-kultus tertentu dengan cara produksi tertentu dan ritual-ritual lain dengan cara produksi lainnya. Ada kerancuan di sini ihwal konsep-konsep dan realitas konkret. Semua bentuk-bentuk fenomenal punya aneka ragam penentu. Apabila saya hendak menafsir makna tamsil Kristen yang dikisahkan seorang padri Afrika, misalnya, saya akan melihat kiasan baik pada hubungan produksi kapitalis maupun yang prakapitalis.

Namun kekeliruan Terray juga terkait dengan runutan analisis yang dianjurkannya—analisis atas formasi sosial mengikuti analisis cara-cara produksi:

“pertama-tama, beragam cara produksi yang mewujud di dalam formasi-formasi ini mesti didaftar dan digunakan sebagai panduan sensus bentuk-bentuk kerjasama yang dipraktikkan. Inilah apa yang coba saya kerjakan terhadap Guro. Langkah berikutnya ialah membangun teori cara-cara produksi yang telah diketahui; masing-masing formasi sosio-ekonomi lantas akan tampak tersusun atas gabungan cara-cara produksi yang di dalamnya satu atau lainnya berperan dominan. Ibarat molekul kimiawi, suatu formasi sosioekonomi lantas akan didefinisikan oleh strukturnya, oleh watak unsur-unsur pembentuknya sebagaimana juga oleh cara mereka diorganisasi di dalam keseluruhannya” (Terray 1972: 179).

Analisis runutan molekuler ini, sayangnya saya pikir, menyimpang dari metode penyelidikan Marx.

Kadangkala diandaikan bahwa analisis Marx atas cara produksi kapitalis perlu diikuti oleh kerja-kerja pelengkap ihwal suprastruktur karena Kapital mengandung sedikit sekali rujukan tentang negara dan perjuangan kelas. Namun analisis cara produksi yang disajikan Marx di dalam Kapital mengisyaratkan analisisnya ihwal masyarakat borjuis sebagai suatu keseluruhan, suatu analisis historis yang mengungkap peran pokok negara dan konflik kelas di dalam perkembangan kapitalisme. Jadi, di dalam menganalisis masyarakat-masyarakat kontemporer, merupakan sebuah kekeliruan metodologis apabila mengisolasi analisis atas suatu cara produksi prakapitalis dari analisis formasi sosial secara keseluruhan seperti yang Terray lakukan. Membedakan penentu-penentu cara-cara produksi kapitalis dan prakapitalis ialah bagian dari proses mengidentifikasi suatu cara produksi secara analitis, bukan secara metodologis turunan dari proses identifikasi tersebut.

Teori-teori Peralihan. Kelirunya urutan analisis yang dijalankan oleh teori-teori molekulernya strukturalis atas formasi-formasi sosial menimbulkan beberapa masalah metodologis terkait analisis peralihan. Konsep cara produksi digunakan secara konseptual baik untuk mendefinisikan kesatuan dialektis (dan karena itu dinamis) tertentu dari daya dan hubungan produksi serta, pada tingkat abstraksi yang lain, untuk menandai suatu periode sejarah yang didominasi suatu cara produksi tertentu. Pada tingkat kedua inilah kita bisa membedakan periode-periode tertentu atau tahap-tahap perkembangan cara produksi.

Manakala analisis cara produksi mendahului analisis formasi sosial seperti yang diterapkan teori-teori molekuler, lantas periodisasi dan peralihan cara produksi mesti dianalisis di tingkat abstraksi terlebih dulu. Kalau tidak kita jatuh ke dalam rangkaian unsur-unsur ajek strukturalis yang tidak bisa menggambarkan kekhususan historis apa pun sama sekali. Maka beberapa Marxis struktural mencari teori peralihan umum yang bisa diterapkan dalam analisis semua formasi sosial. Mereka mengajukan, misalnya, bahwa transformasi historis bisa dipahami dalam konteks suatu “penyulihan kasus dominan” (Cutler 1973: 73).

Namun, teori-teori umum macam itu bisa jadi tautologis atau salah tempat dalam upaya membuahkan konsep-konsep yang dapat menjalankan kerja analitis. Proses-proses historis tidak muncul dari kasak-kusuk suatu model; alih-alih kita gunakan model-model untuk memahami proses-proses historis. Tidak akan ada teori peralihan umum persis karena “… tiap-tiap ‘peralihan’ historis itu berbeda, secara material dan dengan demikian pula secara konseptual” (Balibar 1973: 69). Perkembangan historis itu sendiri tidak harus kita jelaskan karena ia terus berlangsung; apa yang harus kita jelaskan ialah regularitas strukturalnya. Penjelasan ini hanya bisa dipahami dengan secara konsisten mengaitkan analisis cara produksi pada analisis formasi sosial.

Rumusan-Rumusan Alternatif

Dengan begitu tidak ada metode umum untuk menganalisis semua cara produksi di dalam materialisme historis. Kita mulai dengan unsur-unsur paling umum dari produksi dan mulai merumuskan konsep-konsep yang memungkinkan kita memerikan suatu kesatuan spesifik secara historis dari daya dan hubungan produksi. Kita tentukan tujuan kita, tujuan Marx sendiri—melacak kaitan antara daya-daya dan hubungan-hubungan produksi sebagai “dialektika yang batas-batasnya perlu ditentukan dan yang tidak menangguhkan perbedaan riil” (Marx 1973: 109).

Kita tahu bahwa daya-daya dan hubungan-hubungan produksi bisa secara konseptual dibedakan, tetapi di dalam analisis mesti ada pergerakan dialektis terus-menerus antara mereka. Begitu pula konseptualisasi suatu cara produksi tidak memperkenankan pembatasan fokus pada proses produktif semata; pada akhirnya konseptualisasi cara produksi mesti mencakup keseluruhan totalitas. Karena kita menganalisis cara reproduksi sosial ketimbang suatu proses kerja sederhana, pola-pola konsumsi, distribusi, dan pertukaran di dalam basis, sebagaimana juga peran suprastruktur, mesti senantiasa dipertimbangkan di dalam tiap analisis cara produksi.

Terdapat sejumlah kesulitan konseptual dan masalah metodologis (dipaparkan di dalam seksi sebelumnya) yang menyertai petunjuk amat umum ini begitu kita coba menerapkannya analisisnya. Saya telah diskusikan persoalan ini secara cara kritis. Di sini saya akan coba hadirkan rumusan alternatif secara lebih konstruktif. Ada empat teks yang tampak bagi saya secara khusus menolong: “pendahuluan 1859”-nya Marx (Marx 1970, 1973), esainya Balibar ihwal konsep-konsep pokok materialisme historis di dalam Reading Capital (Althusser dan Balibar 1970), beserta tanggapannya (Balibar 1973) kepada Cutler, dan Marxism and Primitive Societies-nya Terray (1972).

Di dalam menyajikan kerangka konstruktif, saya akan pertimbangkan secara terpisah konseptualisasi daya-daya dan hubungan-hubungan produksi, kemudian mendiskusikan kesatuan dialektis keduanya, dan akhirnya bergerak ke analisis formasi-formasi sosial.

Daya-daya Produksi. Untuk menganalisis daya-daya produksi di dalam suatu cara produksi tertentu, kita mulai dengan menengok pada hubungan antar orang dan hubungan antara orang dengan sarana produksi mereka di dalam proses produktif. Ini berarti memerikan beragam unit produktif, tugas-tugas yang dijalankan, perkakas yang digunakan, konteks kependudukan dan ekologis, dan sebagainya. Marx mengasumsikan bahwa “di dalam semua keadaan masyarakat, waktu-kerja, yaitu ongkos untuk memproduksi sarana-sarana hidup niscaya menjadi objek kepentingan bagi manusia” (Marx 1967: 71); sehingga rangkaian dan durasi beragam kegiatan produktif juga harus diperhatikan.

Di dalam memerikan daya-daya produksi, penting untuk tidak tetap berada di tingkat produksi langsung (immediate production) karena sejumlah alasan. Pertama, karena produksi ialah proses sosial, senantiasa ada beberapa ketergantungan produsen-produsen yang bisa jadi tampil hanya di tingkat konsumsi dan distribusi. Dengan hanya berpusat pada proses produksi yang sempit, kita akan cenderung menemukan cara-cara produksi yang serbaragam sehingga menjadi luar biasa sulit untuk mengaitkan dinamika basis produktif ke seluruh masyarakat. Kurang lebih inilah apa yang terjadi di dalam upaya-upaya awal menerapkan konsep cara produksi pada masyarakat prakapitalis di Afrika (Meillassoux 1967, Terray 1972, Willame 1971): perburuan diidentifikasi dengan satu cara produksi, pengolahan lahan dengan yang lainnya. Begitu kita pindah ke analisis hubungan produksi, dengan melihat hanya pada produksi langsung akan membuat kita kesulitan membedakan antara eksploitasi dari kerjasama produktif. Masalah ini khususnya penting untuk memahami landasan ketimpangan seksual di dalam beragam bentuk masyarakat.

Alasan kedua untuk tidak membatasi analisis pada produksi langsung ialah bahwa produksi sosial manusia memerlukan reproduksi—atas kerja dan sarana-sarana produksi. Perkakas mesti diganti, benih disimpan untuk penanaman baru, tanah diperbaharui lewat pembajakan atau pemupukan, anak-anak dilahirkan dan diasuh, unit-unit baru produksi dibentuk. Apa yang tampak sebagai surplus dari sudut pandang produksi langsung mungkin nyatanya perlu bagi reproduksi sosial. Pada saat bersamaan kritik Rey (1971: 35 ff) atas Terray (1972) menunjukkan bahwa suatu fokus sempit pada produksi langsung bisa juga menuntun pada pengabaian fakta bahwa kendali atas reproduksi bisa jadi mekanisme ekstraksi surplus kerja.

Sebagaimana diskusi di atas indikasikan, spesifikasi analitis daya-daya produksi tidak bisa dipisahkan dari analisis hubungan-hubungan produksi. Saya tekankan asas metodologis ini karena telah saya temukan di dalam penelitian saya sendiri bahwa tiadanya kepemilikan tanah di Afrika seringkali dipahami sebagai turunan khas dari tolok ukur teknologis. Perubahan penguasaan tanah kemudian dikaitkan juga secara sempit pada perubahan teknologis. Pendekatan macam itu tidak secara memuaskan mempertimbangkan arti penting kendali atas lahan di dalam evolusi cara-cara produksi prakapitalis, tidak pula dengan pertautan cara-cara produksi ini dengan kapitalisme.

Di dalam mendiskusikan metode analisis daya-daya produksi, saya tidak setepat apa yang yang sebenarnya saya maksudkan. Satu alasan untuk kesamaran ini ialah terbatasnya bahasa konseptual untuk memerikan hubungan-hubungan teknis dari cara-cara produksi nonkapitalis; konsep-konsep semacam itu belum berkembang, baik di dalam kepustakaan Marxis maupun antropologis konvensional. Kita punya suatu bahasa yang mengatakan pada kita sedikit saja tentang apa yang bukan masyarakat prakapitalis (pembagian kerja minimal lewat usia dan jenis kelamin, produksi untuk kegunaan, teknologi sederhana, perekonomian skala-kecil), akan tetapi bahasa tersebut jelas tidak menolong dalam menganalisis apa sesungguhnya mereka itu. Bentuk kelompok-kelompok kerabat (kin-groups) yang memiliki fungsi produktif di dalam masyarakat nonkapitalis misalnya, cukup beragam; karenanya pentinglah memerikan dan menganalisis mereka.

Kemiskinan konsep untuk menganalisis daya-daya produksi di dalam masyarakat prakapitalis itu tentu saja terkait dengan pendepakan teknologi dari ekonomi dan fokus terkait distribusi dan alokasi di dalam antropologi ekonomi. Kritik bagus atas fokus distributif dari formalis dan substantivis dikembangkan Godelier (1973), Dupré dan Rey (1973), dan Meillassoux (1972), dan saya harap karya para antropolog Marxis tentang produksi memperbaiki segera masalah jurang konseptual ini. Sementara itu kita bisa berpegang pada saran Marx sendiri (1967: 180): dalam memerikan daya-daya produksi, yang penting bukan soal mendaftar barang-barangnya melainkan tentang bagaimana cara barang-barang itu dibuat.

Hubungan-hubungan Produksi. Di dalam proses sosial fundamental manusia—pengambilalihan alam melalui produksi—Marx melihat kesatuan dasar antara kerja dan sarana produksinya. Sarana produksi terdiri dari alam dan piranti-piranti produksi yang juga berasal dari perwujudan kerja. Posisi ini berseberangan dengan pandangan Hegel yang menganggap segala bentuk objektifikasi kerja merupakan pengasingan hakikat manusia. Meski demikian, Marx berpendapat bahwa mungkinnya pengasingan hakiki itu (berlawan dengan objektifikasi) melekat di dalam perkembangan pembagian kerja sosial. Kerja menjadi terpisah dari sarana produksi, dari produknya sendiri, dan ujungnya—di dalam produksi kapitalis—dari dirinya sendiri. Dengan melihat produksi sosial dari sudut pandang sosial ketimbang sudut teknis pembagian kerja, maka kita melihat hubungan pengambilalihan antara orang yang didasarkan pada hubungan para pekerja terhadap produk dan sarana-sarana produksi mereka.

Kebanyakan analisis Marx atas hubungan-hubungan produksi berkutat dengan masyarakat kelas. Dia tunjukkan bahwa dinamika kelas berakar di dalam pengambilalihan kerja-lebih—entah sebagai kerja sedang tercurahkan ataupun kerja yang sudah mewujud ke dalam produk—oleh kelas bukan-produsen:

“perbedaan mendasar antara beragam bentuk ekonomi masyarakat, misalnya antara suatu masyarakat berlandas kerja-budak dan masyarakat berdasar kerja-upahan, terletak hanya di dalam cara bagaimana kerja-lebih di dalam masing-masingnya diekstraksi dari produsen aktual, sang pekerja” (Marx 1967: 217).

Mengikuti karya Althusser dan Balibar (1970), sejumlah antropolog Marxis seperti Terray (1972) dan Rey (1971) memungut kutipan dari Marx ini dan menerapkannya pada analisis mereka ihwal masyarakat prakapitalis. Mereka berpendapat bahwa kecenderungan Engels membatasi kelas dalam konteks suatu hubungan pemilikan—penguasaan sarana-sarana produksi—merupakan penyimpangan dari daya penentu hakiki kelas, yakni eksploitasi produsen oleh bukan-produsen. Secara khusus Rey coba tunjukkan bahwa di dalam “cara produksi berbasis silsilah” di Afrika kerja-lebih diekstraksi oleh tetua dari laki-laki junior yang bergantung padanya.

Tekanan Rey pada kategori kerja-lebih secara analitis telah lebih bermanfaat bagi antropolog karena dia pusatkan perhatian pada penentuan dialektis dari surplus di dalam kerangka Marxis. Sementara materialis kultural dan ahli ekonomi-politik klasik berkukuh bahwa surplus dibatasi khususnya oleh tolok ukur teknologis (produktivitas dan kebutuhan-kebutuhan subsistensi minimal yang diperlukan bagi reproduksi biologis kerja), Marx, di dalam analisisnya atas kapitalisme, berpendapat bahwa buntelan barang-barang penyambung hidup para pekerja itu ditentukan secara sosial, bukan biologis. Baik komposisi maupun banyaknya kebutuhan subsistensi ini bervariasi menurut nilai-nilai guna yang pekerja butuhkan, dan dengan demikian bisa mengekspresikan hasil perjuangan pekerja demi bagian lebih besar dari produk-lebih mereka sendiri.

Penentuan dialektis atas surplus oleh daya-daya dan hubungan-hubungan produksi berlaku baik di dalam cara produksi prakapitalis maupun kapitalis. Namun ketika tidak ada akumulasi terjadi, ketika kerja (dalam perbudakan) maupun tenaga kerja (di dalam kapitalisme) belum menjadi komoditi, dan ketika pekerja tidak terpisahkan dari sarana produksi mereka, surplus menjadi hal yang sulit dijabarkan. Sebagai contoh, saya tidak begitu yakin bahwa hubungan eksploitasi paling tepat menggambarkan hubungan-hubungan antara tetua dan laki-laki junior dalam analisis Rey mengenai masyarakat berbasis-silsilah di Afrika. Kesulitan-kesulitan analitis ini berhubungan dengan apa yang Marx bahas dalam analisisnya mengenai pengerahan kerja komunal untuk pemeliharaan jalan:

“ini jelas kerja-lebih yang mesti dikerjakan individu, entah dalam bentuk kerja paksa atau dalam bentuk tak langsung berupa pajak-pajak yang melebihi dan melampaui kerja langsung yang diperlukan untuk subsistensinya. Namun hingga batas tertentu baik komune maupun tiap-tiap individu sebagai anggotanya perlu melakukan kerja yang bukan kerja-lebih, melainkan kerja perlu yang dibutuhkan untuk mereproduksi dirinya sebagai anggota komune dan dengan demikian mereproduksi komuniti sebagai syarat-syarat umum kegiatan produktifnya” (Marx 1973: 526)

Sejumlah arahan metodologis penting bisa ditarik dari kutipan ini dan karya Marx (1973) lainnya ihwal formasi prakapitalis. Pertama, dengan tiadanya surplus sosial dan akibatnya tidak ada pula hubungan sosial yang bisa benar-benar disebut eksploitatif, tidak berarti bahwa tidak ada konflik dan kontradiksi di dalam pembagian kerja yang berlaku—antar jenis kelamin, antar tua dan muda, antara kepala komunal dan anggotanya. Kenyataannya kita mesti siap menemukan konflik-konflik macam itu dan melihat mereka diperantarai hubungan yuridis-politis dan representasi ideologis. Tidak harus pula kita berharap bahwa kontradiksi macam itu tidak akan berkembang menjadi konflik-konflik kelas yang antagonistik karena konflik kelas senantiasa berasal dari suatu tempat:

“mesti dicamkan dalam benak bahwa daya-daya produksi dan hubungan-hubungan produksi baru tidak berkembang dari ruang hampa, tidak pula dari langit, tidak dari rahim Ide yang ada-sendiri; namun dari dalam dan di dalam antitesis terhadap perkembangan yang ada dari produksi dan hubungan pemilikan tradisional yang terwariskan” (Marx 1973: 278).

Simpulan metodologis lainnya yang bisa kita tarik dari karya prakapitalisnya Marx ialah bahwa di dalam mendefinisikan surplus kita tidak bisa andaikan bahwa yang individual itu unit produksi mandiri. Produksi manusia itu sosial. Surplus mestilah didefinisikan dalam kaitannya pada suatu pembagian kerja sosial tertentu, bukan kegiatan-kegiatan subjek tunggal. Ketiga, surplus mesti didefinisikan dalam kaitannya dengan reproduksi sarana produksi yang diperlukan. Dua simpulan terakhir ini tentu saja persis dengan apa yang didiskusikan terkait pengertian daya-daya produksi dan keduanya telah membawa kita balik kembali ke pengertian Balibar, Terray, dan Rey ihwal hubungan-hubungan produksi.

Rekonstruksi akhir-akhir ini atas karya Engels ihwal evolusi didasasarkan pada suatu pembacaan atas Marx maupun penelisikan ke sekeliling dunia empiris: ada cukup bukti atas bentuk-bentuk eksploitasi yang tidak bergantung pada penguasaan atas sarana produksi—perpajakan, penjarahan, mungkin penyerapan nilai-lebih di dalam pertukaran antara sistem-sistem yang didominasi cara-cara produksi berbeda (Marx 1973: 729). Perumusan ulangnya Balibar, Terray, dan Rey meninggalkan kita di dalam jalan buntu logis, bagaimanapun hubungan produksi diterangkan oleh ekstraksi surplus; keberadaan surplus secara dialektis dibatasi oleh daya-daya dan hubungan-hubungan produksi.

Jalan keluar masalah ini ialah kembali ke definisi singkat Marx ihwal hubungan-hubungan produksi dalam konteks hubungan antar orang yang didasarkan pada pencerabutan para pekerja dari sarana produksi dan/atau produknya. Produk kerja ialah nilai-nilai guna, entah objek-objek dengan bentuk-bentuk tertentu atau kerja-hidup (“jasa”) yang dikerahkan dalam produksi. Kerja-lebih bisa saja diekstraksi dari orang-orang yang tidak terasing dari sarana produksi mereka, namun apabila demikian pengambilan kerja-lebih mestilah dilakukan lewat sarana-sarana non-ekonomis seperti penggunaan paksaan politik. Hanya ketika kerja terpisahkan dari sarana produksinyalah konflik kelas termuat di dalam basis produktif.

Perbedaan mendasar antara beragam bentuk masyarakat-kelas lantas bergantung pada cara ekstraksi kerja-lebih; akan tetapi cara ekstraksi kerja-lebih ditentukan cara produksi—pertalian dialektis antara hubungan-hubungan teknis dan hubungan-hubungan pengambilalihan antar orang. Perumusan ulang posisi Balibar ini tampak bagi saya sejalan dengan perhatian terus-menerus Marx terhadap hubungan orang dengan sarana produksi sebagaimana juga terhadap kerja mereka; suatu perhatian yang terlukiskan di dalam diskusi kerja-lebih berikut ini.

“bentuk ekonomi spesifik yang di dalamnya kerja-lebih tak dibayar dipompa dari produsen langsung, menentukan pertalian penguasa dan yang dikuasai, sebagaimana ia tumbuh secara langsung dari produksi itu sendiri, dan pada gilirannya, bereaksi terhadapnya sebagai suatu unsur penentu. Namun di atas semua ini, berdirilah keseluruhan formasi ekonomi komuniti yang tumbuh dari hubungan produksinya sendiri, lalu secara bersamaan memberi bentuk politik khasnya. Selalu pertalian pemilik syarat-syarat produksi kepada produsen langsunglah—suatu hubungan yang umumnya berkaitan dengan suatu tahap tertentu dalam perkembangan metode kerja dan dengan demikian produktivitas sosialnya—yang menguak rahasia terdalam, landasan tersembunyi dari keseluruhan struktur sosial begitu pula bentuk politis hubungan kekuasaan dan ketergantungan; singkat kata, bentuk-bentuk negara spesifik terkait (Marx 1967a: 791).

Jelas buktinya dari diskusi sebelumnya bahwa apabila hubungan-hubungan sosial produksi dibatasi sebagai hubungan pengambilalihan antar orang, seharusnya mungkin menetapkan hubungan-hubungan produksi di dalam masyarakat kelas maupun masyarakat tanpa kelas. Bahkan, menetapkan apakah suatu masyarakat tertentu itu masyarakat kelas atau bukan, bergantung pada perincian dari daya-daya dan hubungan-hubungan produksi terlebih dahulu. Pendapat Deluz dan Godelier (1967) bahwa antropologi mengkaji masyarakat tanpa kelas yang di dalamnya hubungan sosial produksi menyatu dengan hubungan kekerabatan, dengan demikian, secara metodologis kurang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka tentu tepat ketika berpendapat bahwa konsep cara ekstraksi kerja-lebih dan kategori bukan-produsen secara analitis tidak bermanfaat di dalam masyarakat tanpa kelas ketika setiap orang bekerja, akan tetapi mereka tidak tepat dalam menarik kesimpulan bahwa masyarakat seperti itu tidak punya hubungan-hubungan produksi yang dapat dianalisis terpisah dari struktur-struktur kekerabatannya. Jadi, tidak ada landasan analitis untuk mengisolasi “masyarakat primitif” sebagai objek pengetahuan yang terpisah dengan metode analisis tersendiri.

Kesatuan Dialektis Daya-daya dan Hubungan Produksi. Di dalam mengikhtisarkan metode penentuan daya-daya dan hubungan produksi di dalam suatu cara produksi, telah saya usulkan bahwa mendefinisikan suatu cara produksi haruslah berarti sebuah proses analisis yang di situ kita mesti bergerak secara dialektis antara daya-daya dan hubungan-hubungan produksi. Tidak ada skema tipologis mencakup-semua yang lewat skema ini semua cara produksi yang mungkin ada bisa diperikan. Kesulitan analitis ini lebih lanjut digabung dengan dua pilihan konseptual tambahan: (a) bisa jadi perlu memerikan pertautan lebih dari satu cara produksi di dalam basis; (b) kita bisa berharap membincangkan ihwal hubungan produksi dominan dan sampingan.

Pertautan cara-cara produksi. Marx (1973: 106-7) mengusulkan bahwa di dalam bentuk masyarakat tertentu bisa jadi ada lebih dari satu cabang produksi, namun di dalam kasus ini satu dari cabang ini akan dominan. Aspek analisis cara-cara produksi ini dikembangkan di dalam karya Althusser dan Balibar (1970) yang menganalisis semua formasi sosial sebagai pertautan kompleks lebih dari satu cara produksi. Status analitis pernyataan ini tidak pernah jelas betul, namun analisis ini digunakan Terray dan lainnya (Meillassoux 1967, Terray 1972, Willame 1971) untuk memerikan cara-cara produksi rangkap di dalam formasi prakapitalis di Afrika.

Gagasan bahwa mestilah ada lebih dari cara produksi tunggal, menurut saya, didasarkan pada pengacauan konsep dan realitas konkret. Sejauh semua realitas konkret itu dialektis, maka yang selalu ada setidaknya ialah dua cara produksi—yang ada dan yang sedang menjadi. Akan tetapi, secara analitis, konsep dialektis cara produksi diarahkan persis untuk memerikan suatu dinamika sistem yang sedang berkembang. Hanya sistem-sistem yang jelas berbeda hubungan teknis dan hubungan pengambilalihannya saja yang mesti dianalisis sebagai cara-cara produksi terpisah.

Dengan demikian, basis tidak perlu mengandung lebih dari satu cara produksi tunggal, meski bisa saja demikian. Ini misalnya yang terjadi ketika petani bergantung pada produksi tanaman-ekspor dan membeli perkakas pabrikan meskipun teknik-teknik produksinya tidak mencerminkan kapitalisme pertanian. Di dalam konteks historis saat ini kapitalisme merupakan cara produksi dominan pada skala dunia.

Karena cara-cara produksi secara historis spesifik, tidak bisa ada teori umum ihwal pertautan semua cara produksi. Dengan menengok khususnya pada pertautan kapitalisme dengan cara-cara produksi prakapitalis, kita bisa lihat bahwa kaitan di dalam ranah sirkulasi kapital dan dominasi politik cenderung mendahului perkembangan hubungan kerja-upahan. Namun, ciri khas pertautan ini akan bergantung pada tahap historis perkembangan kapitalis dan watak cara produksi prakapitalisnya.

Hubungan-hubungan produksi dominan dan sampingan. Memutuskan apakah basis dari suatu formasi sosial tertentu tergambarkan paling baik sebagai suatu pertautan dua cara produksi atau bukan ialah pilihan analitis. Hal ini bergantung pada apa yang menolong pemahaman kita. Suatu alternatif terhadap rumusan cara produksi jamak bisa jadi di dalam beberapa kasus disediakan oleh konsep hubungan produksi dominan dan sampingan, sebagaimana disarankan Pollet dan Winter (1968) dalam analisis mereka ihwal perbudakan Soninke. Mereka berpendapat bahwa akan sia-sia secara analitis untuk memerikan budak-budak Soninke entah sebagai suatu kelas atau sekadar termasuk ke dalam kelompok keluarga; atau malah hubungan perbudakan adalah hubungan sampingan di dalam cara produksi yang dibatasi oleh rendahnya tingkat daya produktif dan akses pada lahan bagi semua anggota masyarakat. Saya tidak akan berkutat dengan ketepatan analisis Pollet dan Winter atas kasus khusus ini, tapi hanya mengajukan bahwa konsep hubungan dominan/sampingan bisa jadi berguna secara analitis, khususnya di dalam menganalisis peran rumah-tangga di dalam masyarakat kapitalis.

Di dalam sistem produksi kapitalis, hubungan-hubungan produksi dibatasi di dalam konteks pengambilalihan nilai-lebih dari kerja oleh kapital di dalam proses produksi. Bentuk-bentuk kerja yang tidak terkait dengan hubungan kerja-upahan dengan demikian bisa secara analitis dimasukkan ke hubungan produksi kapitalis. Akan tetapi tidak bisa bentuk-bentuk kerja tersebut seperti kerja perempuan dalam rumahtangga, yang memproduksi nilai-guna yang diperlukan diturunkan derajatnya ke ranah suprastruktur. Satu alternatif analisis ialah memerikan rumahtangga sebagai cara produksi bukan-kapitalis, yang bertaut dengan kapitalisme.

Jelas ada keuntungan analisis pada rumusan ini (James 1973). Buat antropolog, analisis padu atas perempuan sebagai suatu kelas yang darinya kerja-lebih dieksploitasi menjembatani keterputusan ekonomisme vulgarnya pendekatan Brown (1970) yang bertujuan menautkan status perempuan secara ahistoris ke arti penting sumbangsih produktif mereka.

Meski demikian, saya curiga bahwa rumusan macam itu punya akibat analitis yang kurang bagus. Pertama, ia menyelubungi dinamika kelas masyarakat kapitalis: keluarnya para pekerja Dunia Ketiga dan kaum perempuan dari rumahtangga berbeda posisi jangka panjangnya di dalam angkatan kerja dan tidak mesti punya status analitis yang sama; kapital, bukan laki-laki, yang mengambil alih kerja-lebih perempuan di dalam rumahtangga; kontradiksi-kontradiksi di dalam suatu pembagian kerja seksual tertentu tidak harus punya dejarat pertentangan yang sama seperti halnya konflik-konflik kelas. Kedua, ia mengaburkan peran yang dimainkan rumahtangga dalam memediasi kontradiksi-kontradiksi antara nilai-guna dan nilai-tukar di dalam cara produksi kapitalis. Ketiga, ia sejalan dengan (meski tidak perlu berdampak pada) konstruksi teoritis—seperti halnya dikotomi publik/privat—yang menyamaratakan ungkapan-ungkapan subordinasi perempuan di dalam masyarakat kapitalis sebagai konsep penjelas di semua masyarakat.

Jadi, memikirkan rumahtangga sebagai cara produksi sekunder tampaknya bukan cara memahami hubungan antara kerja kerumahtanggaan dan kapital yang paling berguna secara analitis. Konsep hubungan produksi dominan/sampingan mungkin bisa menjadi alternatif. Memang ada kesamaan untuk konstruksi macam itu di dalam gagasan Marx ihwal bentuk-bentuk produksi sisa: “… karena masyarakat borjuis itu sendiri hanya suatu bentuk kontradiktif dari perkembangan, hubungan-hubungan yang diturunkan dari bentuk-bentuk sebelumnya sering ditemukan di dalamnya hanya di dalam bentuk yang sepenuhnya kerdil, atau malah karikatur” (Marx 1973: 105-6).

Runutan analisis. Saya diskusikan cukup panjang masalah terkait analisis atas rumahtangga di dalam masyarakat kapitalis, pertama karena hal tersebut adalah persoalan penting bagi para antropolog Marxis, dan kedua untuk membuat suatu titik pijak metodologis. Rekonstruksi di dalam teori kaitan antara cara-cara produksi di dalam basis merupakan sebuah proses pilihan analitis—memilih konstruksi-konstruksi terbaik apa yang menolong kita memahami suatu situasi historis konkret tertentu—bukan sekedar penamaan dan pengotakan empirisis atas hubungan-hubungan konkret.

Jadi apabila kita mengkaji, seperti yang saya lakukan, suatu kampung perdesaan di Chad, maka apa yang kita lihat bukanlah sektor prakapitalis, namun ungkapan material dua sistem dinamis—cara produksi kapitalis dan prakapitalis. Dengan demikian tidak ada sistem internal dan eksternal. Antropologi radikal tidak semestinya berupaya menunjukkan bagaimana struktur-struktur “luar” sistem kapitalis yang lebih luas menerobos komunitas-komunitas tradisional atau kelompok-kelompok pinggiran yang terisolasi, namun lebih pada menempatkan kelompok-kelompok dan komunitas ini di dalam struktur itu sendiri.

Selain itu, di dalam menganalisis struktur semacam itu pentinglah kiranya tidak mengisolasi analisis kita atas cara produksi prakapitalis dari dinamika perkembangan kapitalis, jangan sampai kita alamatkan pada adat-istiadat apa yang faktanya ditentukan pertautan cara produksi kapitalis dan prakapitalis. Cacat metodologis inilah, saya pikir, yang melandasi diskusi kurang memuaskan ihwal perdagangan Dioulanya Terray di dalam rekonstruksinya atas cara produksi Guro, serta pengabaian Rey ihwal dampak kapital merkantil pada evolusi masyarakat Afrika.

Formasi Sosial. Konsep cara produksi menggambarkan suatu pernyataan atas kecenderungan sistemik yang senantiasa bergerak secara dialektis dari pertalian antara daya-daya dan hubungan-hubungan produksi. Pada tingkat abstraksi yang lebih akurat secara historis, cara (atau cara-cara) produksi harus dianalisis sebagai basis suatu formasi sosial yang mencakup hubungan yuridis-politis dan ideologis juga. Unsur-unsur sistem ini mesti senantiasa dikonseptualisasi sebagai hubungan-hubungan, bukan sebagai pranata-pranata seperti kekerabatan atau negara. Apabila kita hendak memahami rasisme di dalam masyarakat Amerika kontemporer, misalnya, kita tidak buru-buru menetapkannya ke tingkat ideologi, tapi alih-alih mendefinisikan dahulu hubungan-hubungan—ekonomis, politis, dan ideologi—yang menentukannya.

Diskusi metodologis atas penganalisisan cara-cara produksi terdahulu semoga sudah memperjelas bahwa kita tidak bisa mengkonstruksi suatu formasi sosial di benak dengan menganalisis cara-cara produksi, menemukan kontradiksi-kontradiksi mereka, dan secara mekanis merakit keseluruhannya. Memang, cara produksi hanya bisa dianalisis di dalam kaitan dengan formasi sosial sebagai keseluruhan; hubungan-hubungan suprastruktural bersinggungan dengan basis dan seringkali menetapkan kontradiksi-kontradiksi pokoknya. Karena semua hubungan itu dialektis sekaligus material, hubungan-hubungan suprastruktural bisa punya kualitas dan pergerakan (otonomi)-nya sendiri dan tidak bisa direduksi pada hubungan-hubungan di dalam basis. Akan tetapi, pada akhirnya, hubungan-hubungan basis menentukan bentuk keseluruhannya (Althusser 1970: 200 ff).

Secara metodologis penentuan cara produksi di dalam formasi sosial menghadapi beberapa kesulitan analitis: kita mesti menghindari determinisme ekonomis reduksionis sekaligus pelekatan seenaknya peran-peran utama pada suprastruktur. Sebagaimana telah diusulkan bahwa “penentuan pada akhirnya” dari basis dibedakan dari “dominasi” suprastruktur di dalam konteks historis tertentu (misalnya Terray 1972: 147). Saya temukan pembedaan Marx antara runutan analisis dan runutan penyajian atau eksposisi lebih menolong. Di dalam menganalisis masalah apa pun kita mesti mulai dengan perincian cara produksi; namun, dalam menyajikan analisis kita, faktor-faktor ekonomi tidak mesti jadi satu-satunya faktor penting, jika dalam gejala yang dibahas terdapat landasan analisis buat otonomi gejala tadi dari basis.

Mengetahui berarti mengorganisasi dan menetapkan penentu-penentu pokok dan menyingkirkan yang tidak pokok. Formasi sosial merupakan konstruksi teoritis yang dirancang untuk menolong kita mengetahui. Sehingga sudah jelas cara kita menganalisis formasi sosial tidak hanya bergantung pada watak dunia riil tetapi juga pada masalah spesifik yang kita hadapi.

Dunia kontemporer bisa dipahami sebagai suatu formasi sosial tunggal yang didominasi kapitalisme di tingkat basis, meski ditentukan cara-cara produksi lain dan keserbaragaman hubungan-hubungan suprastruktural juga. Akan tetapi, kita tidak pernah bisa merinci semua kesalinghubungan ini, melakukan perincian ini juga tidak akan membuat kita tahu apa pun. Apa yang penting ialah menemukan penentu-penentu pokok dari gejala yang hendak kita pahami. Konstruksi cara produksi dan formasi sosial tidak menyediakan prosedur penemuan otomatis; mereka menetapkan arah analisis dan menolong kita mengorganisasi apa yang kita tahu.

Catatan

[1] Kritik Berthoud (1969-70) atas analisis kekerabatannya Fortes mencakup suatu diskusi metodologis yang bagus tentang hal ini bagi antropolog.

[2] Masalah di dalam konsepsi Godelier ihwal daya-daya dan hubungan-hubungan produksi sebagai dua sistem berbeda didiskusikan oleh Seve (1970); Seve kemudian dijawab oleh Godelier (1973).

© Bridget O’Laughlin 1975 / Diterjemahkan oleh Dede Mulyanto / Foto: Sinaia

About the Author

Related Posts

Cara Produksi Berbekal perspektif sebelumnya, kini kita bisa mengkonseptualisasikan beraneka cara...

Metode Marx Jamaknya kesulitan dalam penerapan metode Marx lahir dari betapa berkebalikannya metode...

Bukan suatu kebetulan jika kaum kapitalis dan pekerja saling berhadap-hadapan sebagai penjual dan...

Leave a Reply