Indonesia menjelma menjadi suatu negara berdaulat bukanlah berdasar pada kejadian-kejadian yang bersifat aksidental (kebetulan). Maksudnya, ada satu semangat yang secara konsisten digelorakan oleh pemuda-pemudi Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan. Dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo (1908), ikrar Sumpah Pemuda (1928), hingga proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia (1945), serentetan peristiwa pergerakan tersebut membawa satu semangat yaitu, semangat perlawanan untuk melawan penjajahan atau kolonialisme.

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”. Potongan pembukaan UUD 1945 tersebut direalisasikan oleh Soekarno dengan membentuk Konferensi Asia-Afrika (1955). Tujuannya adalah untuk membantu negara-negara Asia-Afrika yang baru merdeka dan mendukung negara lainnya yang masih dalam kungkungan penjajahan agar turut memerdekakan diri. Artinya, secara terang-terangan Indonesia mengajak negara-negara lain untuk melawan kolonialisme, neo-kolonialisme, dan kapitalisme. Hal ini menjadi bukti bahwa negara Indonesia memang dirancang untuk melawan segala macam bentuk penindasan, eksploitasi, ketidakadilan, dan ketergantungan. Jika kita tarik lebih dalam lagi, Indonesia adalah sebuah “negara kiri progresif” yang siap menjadi episentrum dari negara-negara lain yang ingin mandiri di bidang ekonomi, politik, dan hukum, lewat ide-ide Kiri yang berlandaskan Marxisme. Ya, negara kiri progresif, sejauh kita lihat Indonesia dari rentang sejarah antara tahun 1908-1965. Mengapa demikian?

Kenyataan saat ini berkata lain. Indonesia abad-21 berubah menjadi negara kapitalisme “pinggiran” yang dilanda badai investasi di segala bidang. Mulai dari sektor Energi, mineral, teknologi, infrastruktur, semuanya dilacurkan di pasar modal untuk memenuhi dahaga para kapitalis yang haus akan laba. Hal ini secara tidak langsung menghadirkan neokolonialisme. Pertanyaannya adalah mengapa negara (Indonesia) yang mempunyai sejarah perlawanan atas kolonialisme dan segala macam bentuk penindasan ini, bisa berubah seketika menjadi negara kapitalisme yang tentunya menghadirkan ketimpangan sosial-ekonomi bagi rakyatnya sendiri? Pada titik inilah “Patahan sejarah” terjadi retang tahun antara 1965-1966. Momen ketika Soeharto naik menjadi presiden adalah saat ketika negara Indonesia kehilangan predikat sebagai “Negara Kiri Progresif”. Indonesia di bawah Soekarno dinilai terlalu menakutkan bagi Amerika dan sekutunya. Oleh karena itu, strategi dibuat sedemikian rupa untuk menyingkirkan Soekarno dan segala macam ajaran, konsep, serta praktik-praktiknya. Orde Baru pun lahir dengan sejuta strategi, taktik, dan propaganda untuk mengubah Indonesia.

Bukanlah perkara mudah bilamana saat itu Orde Baru melakukan propaganda untuk mengalihkan pandangan rakyat Indonesia dari era Orde Lama. Apa pasal? Ihwal ini terjadi karena memang sejarah Indonesia sebelum Orde Baru sangatlah bertentangan dengan kepentingan yang dibawa oleh Orde Baru itu sendiri. Berdikari, Trisakti, UUD 1945, Pancasila, sampai ke Sosialisme Indonesia adalah gagasan-gagasan yang sudah merasuk dalam pikiran rayat Indonesia pada kala itu. Jika gagasan tersebut terlaksanakan dengan baik, maka petaka menghantui para kaum kapitalisme liberal Amerika. Orde Baru sebagai representasi dari kapitalisme bertugas untuk memberangus gagasan di atas. Dengan kata lain, Orde Baru ingin merubah garis sejarah negara Indonesia. Lewat sejarah pula Orde Baru menciptakan propaganda, dibuatlah dongeng tentang kudeta yang akan dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Maka dengan begitu, kader dan simpatisannya halal untuk dibantai. Lalu isu-isu rasisme menimpa rakyat Indonesia yang beretnis Tiong-Hoa. Hingga masuk ke dalam ranah pendidikan dan kebudayaan.

Mulai dengan sensor terhadap buku-buku yang berhaluan kiri. Lalu adanya buku pedoman sejarah yang dibuat oleh Orde Baru, yang pada intinya adalah pengaburan tentang fakta sejarah Indonesia (khususnya peristiwa September 1965). Superiotas militer dan birokrat juga terus digaungkan karena mereka dianggap sebagai para pahlawan yang mampu menahan kebengisan PKI. PKI sebagai representasi dari gerakan kiri saat itu, sungguh dikambinghitamkan saat era Orde Baru dan akhirnya stigma buruk pun tersematkan padanya. Hal yang paling merugikan sebagai akibat dari propaganda Orde Baru adalah ketika semua orang dipaksa untuk memiliki cara berpikir sama. Sebab jika berbeda (kritis) maka orang tersebut akan “dicap” sebagai komunis, subversif, dan pengganggu keamanan sehingga orang itu dibolehkan untuk ditangkap. Secara tidak langsung, lewat usaha yang sangat keras, Orde Baru bisa mengubah identitas rakyat Indonesia dengan propaganda-propaganda yang dilancar. Bahkan hingga era Orde Baru sudah tutup usia, dampaknya pun masih terasa hingga saat ini.

Bukti paling riil dari dampak propaganda Orde Baru yang masih ada hingga dewasa ini adalah kemalasan para kawula muda untuk membaca buku-buku sejarah. Sehingga bukan hal yang mengejutkan ada penulis buku “best seller” (baca: Tere Liye) yang baru-baru ini menyatakan di media sosial Facebook-nya bahwa orang-orang Kiri tidak pernah memberikan kontribusi sedikit pun untuk kemerdekaan negara Indonesia. Maafkanlah karena sesunggunya ia adalah korban dari propaganda yang dibuat oleh Orde Baru. Berikutnya adalah pelarangan Belok Kiri Festival di Taman Ismail Marzuki. Ini adalah dampak dari Propaganda Orde Baru yang memaksa untuk setiap orang berpikir dengan cara yang sama. Sehingga jika ada orang yang memiliki cara pandang berbeda, difitnah sebagai orang yang rusuh dan mengganggu ketertiban umum.

Jadi, saat ini Indonesia memang sudah merdeka tetapi, sejauh kemerdekaan itu hanya diperingati setiap tanggal 17 Agustus saja. Karena secara ekonomi-politik jelas rakyat Indonesia terjajah “kembali”. Bagaimana tidak? Perhatikan, hampir seluruh aset negara dikuasai oleh pihak asing dan segelintir orang saja. Sudah saatnya kita membaca buku sejarah pergerakan kembali. Kita mesti resapi segala ide dan gagasan yang dicetuskan oleh pahlawan-pahlawan yang turut serta melawan kolonialisme dan memerdekakan Indonesia pada tahun 1945. Musuh kita sebenarnya adalah bukan Orde Baru (Soeharto). Kita sudah selesai dengan itu.

Adalah hal sia-sia jika saat ini kita masih terjebak dalam pembahasan yang berkepanjangan (lagi-lagi) tentang propaganda-propaganda Orde Baru. Karena Orde Baru dan Soeharto sebenarnya hanyalah manisfestasi dari suatu sistem yang bernama kapitalisme! Jadi, lawan kita saat ini (sebenarnya) adalah kapitalisme. Karena di sana terletak pusat dari semua permasalahan yang menimpa umat manusia saat ini. Pemuda-pemudi heroik pada saat reformasi dan berhasil memaksa mundur Soeharto, boleh saja bangga akan hal itu. Namun ketika sistem perekonomiannya tidak diganti, maka adalah suatu keniscayaan akan muncul Soeharto-Soeharto lain kedepannya. Kita mesti meramu kembali senjata untuk menumbangkan kapitalisme. Tentu dengan tidak serampangan, kita harus membaca lagi dan belajar sejarah dari berbagai sumber agar mendapatkan informasi yang benar validitasnya. Ingat, sejarah Indonesia adalah sejarah perlawanan. Manakala dulu Soekarno dan kawan-kawan melawan kolonialisasi, sekarang sudah saatnya kita kawan-kawan muda untuk melawan sistem perekonomian kapitalisme.

*Artikel ini adalah intisari dan tanggapan atas diskusi yang diadakan di Belok Kiri Festival, LBH Jakarta, 5 Maret 2016 bertema Menyoal Orde Baru 1965-1998 dan Orde Baru Pasca Reformasi.

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply