Sekolah Marx Di ISBI Bandung

Peristiwa  /   /  By Annas

Sekolah Marx, adalah sebuah program yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Daunjati ISBI Bandung. Program tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah kemajuan positif bagi perkembangan literatur kiri yang selama ini kampus-kampus yang menggunakan literatur Marx bisa dihitung dengan jari.

Acara semacamnya memang agak langka di negeri dimana demonisasi atas komunisme masih menjadi bahan utama kekuasaan menghambat maju ilmu pengetahuan yang menentang mapannya kapitalisme. Indonesia salah satunya.

Di Bandung, sekelompok anak muda seni yang berhimpun dalam lembaga pers kampus mengangkat Marxisme menjadi sebuah diskursus ilmiah yang diselenggarakan terbuka karena, selain sebagai strategi revolusi, Marxisme adalah juga ilmu pengetahuan.

Untuk memahami lebih jauh apa itu Sekolah Marx, kami mewawancarai salah satu penggagas acara tersebut. Berikut wawancara kami dengan Mohamad Chandra selaku ketua LPM Daunjati:

Rumah Kiri: Apa dan bagaimana perspektif LPM Daunjati?

MC: Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Daunjati pada awalnya merupakan sebuah penerbitan buletin independen yang bernama Daunjati, digagas oleh mahasiswa jurusan teater angkatan 2005. Pada perkembangannya, berdasarkan kebutuhan civitas akademika ISBI Bandung, buletin Daunjati berubah statusnya menjadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Daunjati pada bulan Maret 2008 dengan pendiri yang masih aktif, Semi Ikra Anggara dan Taufik Darwis.

LPM Daunjati merupakan lembaga kemahasiswaan yang secara khusus bergerak dalam bidang jurnalistik, berdasarkan tridharma perguruan tinggi dengan memegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dan mempertimbangkan ide-ide Marxisme.

LPM Daunjati merupakan lembaga penerbitan kampus yang berada di lingkungan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Keberadannya untuk memberikan kontribusi keilmuan serta ajang pelatihan bagi mahasiswa dalam bidang jurnalistik serta menjadi media informasi civitas akademika dalam memenuhi kebutuhan informasi tentang situasi sosial kampus dan diskursus kesenian. Untuk mewujudkan kinerjanya, LPM Daunjati mengarahkan tujuan-tujuannya dengan memberikan informasi pendidikan dan perubahan civitas akademika ISBI Bandung melalui kegiatan jurnalistik, menyediakan fasilitas untuk mengembangkan kreatifitas di bidang jurnalistik.

Secara lebih luasnya LPM Daunjati mencoba menjadikan lembaganya sebagai ajang tukar-menukar pengalaman bagi civitas akademika baik mahaiswa, dosen maupun cendekiawan pada umumnya dalam menghadapi fenomena-fenomena yang terjadi. Menjadi media penyampai ide dan gagasan yang berkaitan dengan pikiran yang berkembang di masyarakat baik di dalam maupun di luar kampus dan menjadi media penyalur aspirasi minat dan bakat mahasiswa dalam rangka ikut serta memperluas wawasan dalam bidang keilmuan.

Rumah Kiri: Apa itu ‘Sekolah Marx’, apa landasan diadakannya Sekolah Marx?

Daunjati: Sebagai Lembaga Pers Mahasiswa yang bergerak di bidang jurnalistik & literasi, LPM Daunjati ingin menjadikan setiap sisi kerjanya berkaitan dengan dua hal tersebut. Berkaitan dengan Sekolah Marx, kami menyoroti bahwa pemikiran Karl Marx sebagai satu keilmuan bisa mengakomodir kebutuhan seni dan problematika yang terjadi, baik fenomena di dalam kampus ISBI itu sendiri maupun di luar kampus.

Sekolah, menurut KBBI memiliki arti sebagai sebuah bangunan atau lembaga yang jadi tempat belajar. Di dalam sekolah itu, termuatkan aktivitas kognitif: pendidikan. Proses pendidikan yang demokratis dan mengabdi (berdialektika) pada realitas sosial adalah sejatinya pendidikan. Pegangannya adalah realita sosial. Bagaimana mungkin sekolah-pendidikan (tempat belajar manusia) yang ditujukan untuk masyarakat tapi tak pernah menjadikan realita konkret sebagai pendasaran (sasaran) untuk diubah.

Seorang ahli pendidikan berhaluan Marxis dari Brasil, yaitu Paulo Freire, dalam karyanya Pedagogy of The Opressed menjelaskan bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Berangkat dari pandangan filsafatnya mengenai pendidikan, ia mengatakan bahwa pendidikan haruslah berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan manusia itu sendiri, pengenalan yang objektif dan subjektif, sekaligus. Kesadaran subjektif dan keadaan/realitas objektif haruslah menjadi satu fungsi dialektik untuk memahami dunia dan kontradiksinya (tertindas dan penindas), hal tersebut harus dipahami oleh manusia (peserta didik). Menurutnya, ada tiga unsur yang terlibat dalam dunia pendidikan: pengajar, peserta didik, realitas dunia.

Oleh Freire, ketiga hal yang sudah tersebut di atas diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, subjek yang sadar (cognitive): pengajar dan peserta didik. Sedangkan yang kedua adalah objek yang harus disadari (cognizable): realitas dunia. Hubungan berkesinambungan (dialektik) seperti di atas itulah yang, menurut Freire, tidak pernah kita jumpai dalam sekolah/pendidikan ”mapan” a-la borjuis sekarang ini. Dan Sekolah Marx, yang kami adakan bukan seperti sekolah-sekolah mapan pada umumnya, yang jauh dari realita; yang berjarak.

Rumah Kiri: Kapan pelaksanaan Sekolah Marx?

Daunjati: Sekolah Marx diadakan selama 4 bulan dengan 10 kali materi, terhitung dari Bulan Februari-Mei.

Kurikulumnya secara keseluruhan memang menjadikan gagasan Karl Marx sebagai pisau analisa dan pendasaran bagi setiap materinya. Di dua materi awal sengaja kami berikan materi yang murni Karl Marx seperti: membedah sebuah dokumen ideologis paling berpengaruh di Eropa dan dunia yaitu Manifesto Partai Komunis. Pertemuan tersebut berlangsung dua kali pertemuan, sebagai pemantik materi adalah Barra dari PEMBEBASAN dan Rumah DIALEKTIKA.

Berikutnya adalah materi yang juga penting: Materialisme Dialektis Pandangan Karl Marx, yang akan dipandu oleh Dede Mulyanto, pengajar di Universitas Padjadjaran. Seperti yang kita tahu bahwa filsafat Marx adalah sebuah jangkar pemikiran dimana misi Sosialismenya berawal.

Rumah Kiri: Apa hubungannya seni dengan Marx?

Daunjati: Pemikiran Karl Marx dalam dunia epistemologi mewujud dalam ilmu pengetahuan. Sebagai ilmu pengetahuan, pemikiran Karl Marx menjadi pendasaran bagi segala sesuatu mengenai pandangan multi-dimensi, dari filsafat, ekonomi-politik hingga moral, etika dan seni.

Seni, dalam ilmu Marxisme, adalah salah satu produk dari basic produksi masyarakat (perkembangan hubungan sosial). Seni adalah salah satu alat mengubah sesuatu secara mendasar, memproduksi gagasan (didaktis) dan memperhalus perasaan. Menekankan pentingnya dimensi manusia dan membuang dimensi ekonomi an-sich. Kenapa bisa begitu? Bagi marxisme, segala transformasi kognitif yang diperantarai pasar bisa menghancurkan substansinya. Sebagaimana jika seni dibuat untuk melayani pasar maka nilai estetiknya pasti sudah dikubur oleh birahi mencari keuntungan. Bukannya tidak boleh mencari makan dari seni tapi, setidaknya, isilah seni dengan kehendak perubahan sosial agar seni menghidupi kemanusiaan, lalu sebagai balasannya, kemanusiaan meninggikan estetika seni. Agar cantik nan indah.

Rumah Kiri: Apa yang mau dicapai dari sekolah Marx?

Daunjati: Tujuan daripada Sekolah Marx adalah menjadikan pemikiran Karl Marx sebagai salah satu citra kognisi dan citra afeksi masyarakat mutakhir dan menjadi penting untuk dijadikan bahan diskursus, untuk kemudian dikaji dan diterjemahkan dalam berbagai disiplin seni maupun non-seni. Serta untuk memahami realita sosial, menyerapnya dalam kesadaran, bertindak. Agar, laku, etika, moral dan estetika bergerak mengadaptasikan kenyataan objektif, lalu mengubahnya.

Foto: Ajang Mustofa

About the Author

Related Posts

Chaotic Jumps merupakan tajuk pameran tunggal oleh seniman media baru (new media art) Krisna Murti...

Meski cuaca sore ini sedang diguyur hujan, tidak mematahkan semangat kawan-kawan untuk hadir di...

Sabtu 27 Februari 2016, seperempat jam sebelum pukul empat sore, puluhan orang berkumpul di...

Leave a Reply