Konferensi di bawah Tirani Modal 2008 — Perempuan-perempuan itu menari. Seperti hendak melakukan penyambutan. Dengan memakai pakaian baju tradisional. Mereka adalah perempuan-perempuan Timor Leste. Gambar terus bergerak dengan menampilkan tarian secara utuh. Video yang diputar itu berjudul Eksotika Timur.

Panel Kebudayan pada Konperensi Warisan Otoritarianisme, Demokrasi dan Tirani Modal yang dimoderatori oleh Alit Ambara ini berlangsung di Gedung H403, FISIP-UI kemarin sore, Selasa 5 Agustus 2008.

Diyah Larasati, panelis pertama, menjelaskan proses dibelakang layar mengapa video itu lahir. Menurutnya, tari sebagai produk budaya telah diekploitasi oleh pemilik kekuasaan. Diyah mengatakan ada kesepakatan sebelum para perempuan ini mempersembahkan tarian. Video ini ditujukan untuk keperluan turisme. Dan koreografi pun diarahkan untuk mengikuti selera penonton. Para penari, menurutnya, sebenarnya dalam kondisi berduka. Karena anak-anak mereka telah meninggal dunia.

Rita Dharani dari Koperasi Indonesia Lestari (KINDLE) mengatakan pasar ibaratnya sudah menjadi dewa. Ia merujuk seperti yang terjadi pada nasib pengrajin gerabah di Desa Kasongan, Yogyakarta. Para pengrajin telah terusir dari tanahnya sendiri. Penyebabnya ketika pasar sudah tidak lagi menyukai gerabah produk mereka yang berwarna hitam. Pasar mendorong para pengrajin ini untuk keluar dan mencari tanah merah untuk gerabahnya.

Sebelumnya, pengrajin itu hanya memakai tanah sawah yang berwarna hitam dari desa mereka sendiri. Tanpa mesti mengeluarkan uang seperak pun. Kondisi desa semakin terpuruk ketika toko seukuran showroom mulai berdiri di daerah desa mereka. Para pengrajin tak berkutik dan pasrah mengikuti pertumbuhan pasar yang liar.

“Pengrajin mungkin bisa mendapatkan hasil ekonomi yang bagus kalau makelar dihilangkan atau diturunkan keberadaannya, jadi pengrajin bisa langsung bertemu dengan pembeli. Tapi ternyata tidak mungkin memotong jalur yang telah ada. Yang mungkin bisa dilakukan adalah pembeli berlaku sebagai fairtrader,” begitu Rita menjelaskan betapa peliknya sistem pasar yang terjadi.

Nur Zen Hae, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, yang menjadi salahsatu pembicara panel sependapat. Saat ini selera pasar sudah menjadi kiblat bagaimana seharusnya proses kreatif lahir. Karya-karya sastra hari ini sangat kental mengikuti permintaan pasar. Seperti munculnya dominasi teenlit sekuler dan teenlit Islami, novel sejarah, novel fantasi hingga novel yang mengolah erotisme dan keperempuanan.

Penerbitan buku-buku sastra alternatif bisa menjadi jalan keluar dari selera pasar. Namun masalah terbesar dari penerbit alternatif adalah terkendala pada masalah distribusi. Penerbit alternatif hanya mampu menjual bukunya di lapak-lapak acara sastra. Daya beli terhadap karya-karya hasil penerbit alternatif ini juga tergolong rendah. Itu pun belum membicarakan pada tahap kualitas dari hasil karya tersebut.

Yoshi Fajar Kresno Murti sebagai panelis terakhir dalam panel kebudayaan ini menyatakan bahwa posisi kebudayaan sungguh penting. Dalam demokrasi, kebudayaan menumbuhkan aspek-aspek komunikasi dalam masyarakat. Yoshi mengatakan bahwa kesenian dan kebudayaan dalam konteks demokrasi dan tirani modal, dia akan melepaskan dulu negara dan membawanya pada konteks kota.

Kota lebih dulu ada dibanding negara. Jalan dibangun sebagai batas teritorial. Kampung adalah kosakata yang mampu mewadahi keragaman. Kampung mengajak identitas diri untuk keluar dari ras, suku, gender, dan hingga saat ini kampung terus-menerus mengalami negosiasi. Bicara kampung adalah bicara tanah. Ketika kampung dibawa pada konteks negara, maka segalanya menjadi beku.

Keempat panelis dalam panel kebudayaan berbicara pada wilayahnya sendiri-sendiri. Namun mereka sepakat bahwa modal menjadi faktor yang begitu kuasa dan tidak bisa dihindari. Tak ada cara lain kecuali mencari kesepakatan dengan jalan negosiasi.

“Eksploitasi yang terjadi pada pemilik modal itu seringkali terlembagakan. Tapi bagi si pelaku atau individu yang dieksploitasi dia hanya mendapat katarsis sebagai resistensinya. Jangan-jangan ini hanya dijadikan sebagai pembenaran oleh banyak orang atas ekploitasi yang terjadi,” kata salahsatu peserta, Ade.

Negosiasi macam apa yang pada akhirnya harus dilakukan? Atau gerakan kebudayaan apa untuk bisa menjembatani antara pelaku dan modal? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pertanyaan berikutnya.

Diyah Larasati hanya berharap dan menjaga agar semangat kesenian tetap bertumpu untuk memanusiakan manusia. Itulah yang membuat kita menyadari tentang kemanusiaan kita sendiri.

 Foto: Arts Link
About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply