“Macet lagi, macet lagi, gara-gara si Komo lewat”, bagi mereka yang terbilang angkatan 90-an pasti ingat potongan lirik lagu itu. Tentu, kemacetan lalu lintas setidaknya sudah mulai tenar di Ibukota paling tidak sejak tahun 90-an. Lalu apakah hubungannya si Komo dengan kemacetan? Sebagai sebuah simbol penyebab macetkah? Jika memang demikian, ada baiknya kita mengabaikan itu dulu, karena ada persoalan inti yang lebih penting dibahas soal kemacetan. Tulisan ini akan mencoba menjelaskan mengapa macet yang sudah lama tenar ini tak kunjung tutup usia. Sangat lebih nikmat rasanya bila tulisan ini dibaca saat anda berada di kemacetan. Selamat menikmati!

Apa sih macet itu? Macet adalah keadaan ketika sesuatu berhenti atau tak dapat berfungsi dengan baik. Dalam konteks jalan raya, macet merupakan suatu konsep yang menggambarkan suatu kondisi lalu lintas padat kendaraan hingga tidak dapat melaju dengan lancar. Harus menunggu giliran dan menginjak rem terus! Sekilas secara empiris, penyebab macet memiliki beberapa sebab langsung. Misalnya lampu merah pada lampu lalu lintas, kecelakaan lalu lintas/kendaraan mogok dan proses evakuasinya, para pengendara yang menonton kecelakaan itu dan ketidakpatuhan atau ketidaktahuan beberapa peraturan lalu lintas. Namun, ternyata ada suatu persoalan struktural atas kemacetan lalu lintas yang hampir setiap hari dialami banyak orang, khususnya di DKI Jakarta ini. Apa itu? Bagaimana kisahnya? Begini kisahnya.

Setelah menyaksikan beberapa wujud empiris kemacetan, marilah kita berpikir sejenak bahwa DKI Jakarta beserta mahluk dan benda-benda di dalamnya merupakan bagian dari suatu planet yang kita sebut Bumi atau Earth kata bule Inggris dan Aarde kata bule Belanda. Planet ini memiliki bentuk fisik yang berbatas (Suryajaya. 2012). Tentu saja ini juga berlaku pada wilayah DKI Jakarta yang merupakan suatu wilayah administratif di planet Bumi dan pastinya jauh lebih kecil dan terbatas wilayahnya.

Dalam keterbatasan wilayah fisik ini, khususnya jalan tempat kendaraan bermotor, “asupan-asupan” kendaraan bermotor malah makin hari kian meningkat. Misalnya seperti yang diberitakan m.tempo.com bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta menurut data dari SAMSAT per tahun mencapai 12% yang jumlahnya berkisar antara 5500 sampai 6000 unit per hari (Tempo.com). Kok bisa ya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama perlu diketahui atau janganlah lupa, bahwa kita masih hidup di dalam masyarakat yang dominan dengan corak produksi kapitalisme. Masyarakat dengan corak produksi kapitalisme berarti adalah sebuah masyarakat yang basis produksi sarana hidup dominannya bercorak kapitalisme. Kapitalisme beroperasi dengan tujuan menciptakan nilai lebih dari hasil produksi komoditi dengan menggunakan curahan tenaga kerja pekerja upahan (baik yang berseragam pabrik ataupun yang berkerah putih) yang secara historis tercipta. Sebagian dari nilai lebih ini kemudian masuk kembali ke dalam sirkulasi kapital guna menciptakan lagi nilai lebih dalam produksi dan akhirnya berekspansi (Marx. 1887). Ya begitu terus sampai mampus.

Berdasarkan cara kerja tersebut, wajar saja jika kemacetan terjadi. Apa hubungannya? Kendaraan bermotor yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan kendaraan bermotor adalah komoditi kunci dari penciptaan nilai lebih perusahaan produsen tersebut yang karenanya harus terus diproduksi dan laku terjual. Selain itu, seiring dengan berkembangnya kapitalisme juga menciptakan kebutuhan akan kendaraan bermotor yang murah bagi efisiensi jalannya pengembangan nilai lebih dan alat transportasi para pekerja yang murah. Misalnya seperti sepeda motor yang cenderung irit bahan bakar dan dapat dibawa pulang dengan hanya cicilan beberapa ratus ribu rupiah saja, mobil-mobil pengangkut barang untuk keperluan niaga, mobil-mobil yang cenderung irit buat para warga yang bekerja.

Jadi, inti dari kemacetan lalu lintas yang terjadi di Jakarta adalah adanya produksi dan distribusi kendaraan bermotor yang tidak terkontrol di dalam suatu keterbatasan wilayah fisik yang khususnya jalan tempat kendaraan bermotor itu sendiri. Tentunya ditambah beberapa hal yang dijelaskan di atas. Selain itu, keterbatasan sarana transportasi umum yang belum terintegrasi secara luas juga mendorong sebagian orang lebih memilih kendaraan bermotor pribadi sebagai sarana transportasi sehari-harinya.

Pembangunan jalan baru yang selalu menjadi upaya penyelesaian kemacetan menurut saya bukan sebuah solusi yang paling tepat. Mau sampai kapan? Memangnya planet ini adonan kue yang bisa mengembang menjadi lebih besar? Planet ini memiliki wilayah fisik terbatas, apalagi Jakarta yang hanya bagian kecil dari planet ini. Lagipula, pembangunan jalan terus menerus akan memakan lahan serapan air yang akan menambah persoalan banjir Jakarta tercinta semakin parah.

Persoalan kemacetan lalu lintas inipun rasanya perlu diteliti lebih lanjut secara mendalam. Karena selain penyebab utama di atas, terdapat pula penyebab-penyebab tambahan yang tak kalah pentingnya. Misalnya seperti kemungkinan hilangnya pendidikan lalu lintas para pemilik SIM (Surat Izin Mengemudi) dengan jalur “nembak”. Soal ini, pernah suatu kali saya mendengar curhatan seorang pengendara motor yang ingin mengajukan pengambilan SIM sepeda motor.  Ia mengeluh bahwa ia dan beberapa temannya terpaksa harus mengambil jalur “nembak” karena sudah dua kali ia gagal mendapatkan SIM dengan jalur regular. Ia berpendapat bahwa akan lebih efektif apabila mengambil jalur “nembak”, mengingat sulitnya jalur regular dan keterbatasan waktu yang ia miliki akibat bekerja dan jarak yang cukup jauh untuk ke kantor pengambilan SIM dari tempat ia tinggal. Saya pikir pengetahuan lalu lintas dalam berkendara juga cukup berpengaruh dengan perilaku para pengendara di jalan. Hal ini bagi saya cukup menarik, namun perlu diteliti lebih lanjut. Ada apa gerangan di balik hal ini? Barangkali akan dijelaskan pada kesempatan lainnya.

Hikmah yang dapat kita petik dari pembahasan di atas yaitu kalau kita masih menganggap Si Komo sebagai penyebab macet, itu berarti kita salah kaprah. Maksud saya, karena sesungguhnya terdapat suatu struktur yang mengkondisikan terjadinya kemacetan. Struktur yang sama tak berujungnya dengan kesedihan dalam lagu Glen Fredly. Bedanya, jika kesedihan dalam lagu Glen Fredly bisa menjadi hiburan, kemacetan yang kita alami adalah kutukan buatan manusia sendiri. Struktur inilah, yang sudah dijelaskan di atas tadi, merupakan biang keladinya. Meski untuk mewujud struktur ini membutuhkan actor-aktor di dalamnya. Struktur ini yang harus kita telusuri lebih dalam dan coba kita ubah agar kita semua warga Jakarta tidak tua di jalan dalam berkegiatan sehari-hari. Mungkin juga yang berada di kota lain.

Referensi

Marx, Karl. 1887. Capital: Volume I. Progress Publishers: Moscow.

Suryajaya, Martin. 2012. Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. Resist Book: Yogyakarta.

Sumber internet:

Jakarta Macet, Polda: Kendaraan Naik 12 Persen. 2015. Diakses 6 Mei 2016.

Foto: SG

About the Author

Related Posts

Pernahkah kamu melihat demonstrasi penulis? Desainer grafis? Ataupun IT developer? Lalu, pernahkah...

Leave a Reply