Konferensi di bawah Tirani Modal 2008 — Guru Besar Fakultas Ekonomi Indonesia, Sri Edi Swasono mengatakan pasar bebas di Indonesia saat ini tidak mendorong penyelesaian masalah kemiskinan. Sebaliknya, pasar bebas telah menggusur dan memperparah kehidupan kaum miskin.

Hal ini itu disampaikan dalam pidatonya dalam pembukaan Konferensi Warisan Otoritarianisme: Demokrasi dan Tirani Modal di Gedung Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Depok, Selasa 5 Agustus 2008.

Tergusurnya kaum miskin, menurutnya, akibat kebijakan ekonomi Indonesia yang pro ekonomi pasar bebas. Pemikiran ekonomi pasar bebas berkembang pada tahun 1723 hingga 1790. Penggagasnya adalah Adam Smith. Gagasan yang mendasari pasar bebas adalah individualisme dan persaingan.

“Kemiskinan tidak bisa diatasi oleh pasar,” katanya.

Sri Edi Swasono berbicara lugas tentang Adam Smith dan teori ekonomi neoklasiknya. Ia juga memaparkan mengapa sistem ekonomi tersebut tak cocok sekaligus bahaya bagi negara seperti Indonesia. Namun, menurutnya, Indonesia sudah terlanjur terbawa arus pasar bebas. Akibatnya, rakyat terjerat dalam kondisi kemiskinan yang akut.

“Indonesia saat ini masih percaya jika ekonomi tumbuh maka akan menyerap pengangguran,” katanya.

Ia melihat para pengambil kebijakan ekonomi Indonesia saat ini masih menganggap mekanisme pasar bebas adalah solusi untuk mensejahterakan warganya. Padahal, menurutnya, mekanisme ini justru memberikan kenyataan yang berbeda. Warga semakin kehilangan haknya untuk mendapatkan akses ekonomi, pendidikan hingga kesehatan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Sri tidak menjelaskan secara rinci mengapa dan bagaimana teori ekonomi neo klasik bisa berkembang di Indonesia. Siapa saja pelaku yang mendorong dan terlibat untuk menerapkan konsep pasar ini. Siapa yang menikmatinya? Apa langkah solusi strategisnya dan bagaimana menghadapi krisis kemiskinan saat ini?

Konferensi ini akan berlangsung hingga Kamis, 7 Agustus di Universitas Indonesia, Depok. Acara tersebut melibatkan sembilan lembaga masyarakat dan pendidikan seperti, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Praxis, Reform Institute, Jaringan Kerja Budaya (JKB), Trade Union Rights Centre (TURC), Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) dan International NGO Forum on Indonesian Development (Infid).

Foto: Aseema
About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply