Dalam corak produksi kapitalisme, tenaga kerja manusia adalah sebuah komoditi kunci yang unik. Mengapa demikian? Pertama, terdapat suatu babak historis yang mengkondisikan tenaga kerja manusia menjadi komoditi dalam corak produksi kapitalisme—yang tidak ada di corak-corak produksi sebelumnya). Kedua, tenaga kerja adalah komoditi yang terkandung dalam tubuh manusia—merupakan kunci dari penciptaan nilai lebih dalam corak produksi kapitalisme. Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, diharapkan membaca terlebih dahulu tulisan Kresna Herka Sasongko, Apa itu Komoditi.

Untuk memahami apa itu tenaga kerja, terlelbih dahulu kita harus memahami perbedaan konsep tenaga kerja dan kerja yang digunakan Marx. Tenaga kerja adalah suatu kapasitas kerja yang mlekat pada manusia; sedangkan kerja adalah nilai guna atau pencurahan dari tenaga kerja. Dua konsep yang berbeda ini penting dipahami sebagai bekal dalam memahami tulisan ini.

Dalam corak-corak produksi sebelum kapitalisme tenaga kerja belum menjadi komoditi (Patterson. 2009: 94-103). ADa dua syarat yang harus terpenuhi dalam proses tenaga kerja menjadi komoditi. Pertama, seorang pekerja harus menguasai tenaga kerjanya sendiri agar ia dapat menjualnya ke pihak yang membutuhkan tenaga kerja dalam mekanisme pasar. Kedua, sang pekerja tidak memiliki akses terhadap sarana produksi apapun sehingga tenaga kerja adalah satu-satunya yang dapat digunakan untuk bertahan hidup. Dengan kondisi ini, sang pekerja yang hidup dalam corak produksi kapitalisme tidak memiliki pilihan lain selain menjual tenaga kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup (Marx. 1887: 117).

Contoh, pada kasus perampasan lahan para petani ketika kolonialisme dengan kekuatan pemaksa dan seperangkat aturannya masuk ke Indonesia kala itu. Para petani yang tidak memiliki akses terhadap sarana produksi yang telah diikat oleh kekuatan pemaksa dan kepemilikan pribadi mau tidak mau harus menjual tenaga kerja mereka untuk dapat bertahan hidup dalam kungkungan sistem kapitalisme.

Sebagai komoditi, nilai dari tenaga kerja ditentukan selayaknya komoditi lainnya, yakni dengan waktu rata-rata secara sosial yang dibutuhkan untuk membentuknya. Dalam kasus tenaga kerja yang ada pada diri manusia, utamanya adalah waktu rata-rata secara sosial untuk memenuhi kebutuhan subsistennya, mengingat manusia adalah mahluk biologis (Marx & Engels. 1998: 36-37).

Namun, manusia yang juga merupakan mahluk sosial yang saling berelasi dalam kehidupan, pemenuhan subsistensinya tidak terbatas hanya pada hal-hal yang dapat membuatnya bertahan hidup secara biologis saja. Pemenuhan subsistensinya berkaitan pula dengan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan kriteria normal kepuasan dalam pemenuhan kebutuhannya, yang melibatkan keluarganya misalnya. Seperti pendidikan dan rekreasi. Hal ini juga tidak bersifat statis, berubah seiring dengan perubahan dalam tubuh masyarakat (Marx. 1887: 118-120). Inilah apa yang dimaksud Marx bahwa faktor historis dan faktor moral terkandung dalam nilai tenaga kerja.

Terakhir, bagaimana ceritanya tenaga kerja manusia menjadi kunci dari penciptaan nilai lebih? Pada rumus umum kapital, yakni M-C1-C2-M+ (Money-Commodity-Commodity-Money+) perlu dijabarkan sebagai berikut:

Money (uang sebagai kapital)-Commodity 1 (tenaga kerja/kapital variabel & sarana produksi/kapital konstan yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi)-Commodity 2 (hasil produksi)-Money+ (kapital modal dan nilai lebihnya dalam bentuk uang).

Pemilik uang dengan pranata kepemilikkan pribadi dapat membeli tenaga kerja manusia dan sarana produksi yang merupakan komoditi dalam kondisi yang dijelaskan sebelumnya. Dengan ini, para pemilik uang sebagai kapital memasuki kegiatan produksi untuk menciptakan suatu komoditi lain untuk dipertukarkan dalam rangka mendapatkan nilai lebih.

Sebagai gambaran, misalnya terdapat suatu perusahaan pabrik telepon seluler. Para pemilik kapital dengan modalnya membeli tenaga kerja manajer, ilmuwan, buruh manufaktur dan sarana-sarana produksi yang dibutuhkan dalam manufaktur telepon seluler. Sarana-sarana produksi yang dibutuhkan seperti pabrik, alat-alat pabrik, besi, plastik sampai karet sempilan telepon seluler diproduksi menjadi telepon seluler melalui pencurahan tenaga kerja para pekerja tersebut dengan bagian serta keahliannya masing-masing. Tanpa kerja, sarana-sarana produksi tersebut tidak akan bertambah nilainya karena hanya menjadi seonggok barang yang bahkan dapat berkurang nilainya (misalnya berkarat dan tak dapat lagi digunakan). Setelah telepon seluler diproduksi, telepon seluler  dijual untuk menghasilkan laba bagi para pemegang kapital.

Daftar Pustaka

Marx, Karl. 1887. Capital: A Critique of Political Economy Volume I. Progress Publishers: Moscow, h. 117 & 118-120.
Marx, Karl & Engels Friedrich. 1998. The German Ideology. Prometheus Books: New York, h. 36-37.
Patterson, Thomas Carl. 2009. Karl Marx, Anthropologist. Berg: Oxford, h. 94-103.

About the Author

Related Posts

Marx memulai analisis dari jenis petukaran komoditi yang paling sederhana yaitu, pertukaran...

Sebagai teman membaca Das Capital, sangat disarankan kita pun membaca buku Understading Capital...

Kerja mendapatkan kedudukan penting dalam setiap analisis Marx. Marx pun membedakan kerja sebagai...

Leave a Reply