Gagasan Marx tentang kelas tidak mudah untuk ditangkap. Seperti buih-buih dari gelombang besar, gagasan-gagasan itu timbul tenggelam dalam beberapa karyanya tanpa ada upaya sistematisasi. Dua dari beberapa karya Marx yang membincangkan kelas adalah Manifesto Komunis dan Brumaire XVIII.

Memahami gagasan Marx tentang kelas tidak bisa lepas dari konsepsi materialis atas sejarahnya. Manusia mulai menundukkan alamnya ketika mereka memproduksi kebutuhan hidupnya. Ketika manusia mulai memproduksi kebutuhan hidupnya, kutukan pembagian kerja pun turun. Manusia mulai memilah kekuatan-kekuatan produktif yang penting dalam konteks lingkungan alam dan sosialnya. Kemajuan teknologi produksi di masa awal sejarah produksi, memunculkan kelebihan hasil kerja yang memungkinkan masyarakat menyimpan hasil kerjanya. Pada awalnya, kelebihan hasil kerja kolektif (surplus) yang masih tidak terlalu banyak ini bisa untuk memberi makan tukang-tukang yang membuat dan mengembangkan perkakas kerja. Ketika perkembangan kekuatan produksi meningkat, kelebihan hasil kerja juga meningkat. Hal ini memungkinkan untuk memberikan makan pada para tawanan perang yang di masa sebelumnya harus dibunuh. Munculnya budak tidak akan mungkin tanpa adanya kelebihan hasil kerja dalam masyarakat. Sejak itulah ketimpangan penguasaan atas kekuatan-kekuatan produksi muncul. Spesialis-spesialis mulai muncul dalam pembagian kerja. Spesialis pertama tentunya adalah tukang pembuat alat kerja dan senjata. Lalu tentara untuk melindungi kelebihan hasil kerja, perluasan lahan produktif, dan memperbanyak tenaga-tenaga kerja. Kelebihan hasil kerja masyarakat ini diambil secara langsung oleh golongan yang kemudian menjadi kelas penguasa melalui upeti dan/atau perampasan. Bandit-bandit perampas yang menguasai senjata akhirnya mampu membiayai produsen pemikiran seperti agamawan, penyair, atau filsuf guna menopang kekuasaanya lewat pemikiran. Pada masa inilah moda produksi perbudakan muncul dan menjadi moda yang dominan dalam peradaban Yunani-Romawi. Plato tidak perlu kerja di lahan pertanian atau menggembala ternak. Aristoteles hanya harus mendidik Aleksander Agung tanpa perlu melaut mencari ikan untuk makan.

Surutnya perbudakan di masa feodal tidak melenyapkan hubungan penindasan antarmanusia. Petani-petani pengolah lahan sedikit lebih tinggi derajatnya dengan budak. Budak bisa dijual-belikan, sedangkan petani tidak. Tapi mereka menjadi seperti budak ketika mereka dikuasai oleh bangsawan-bangsawan feodal atau gereja sebagai hamba. Keterikatan petani yang menjurus pada ‘semi-perbudakan’ ini pada tuan-tuan tanah mereka diikat oleh gagasan tentang kewajiban, harga diri, dan takdir yang dikembangkan agama. Selain itu, munculnya kelas pemegang senjata yang terpisah dari produsen, memungkinkan kelas penguasa untuk menguatkan ketundukan dan ketergantungan kolektif produsen.

Meski di masa feodal ‘produksi-untuk-dipakai’ masih mendominasi ekonomi masyarakat dan setiap ‘manor-manor’ relatif memenuhi kebutuhannya sendiri, ‘produksi-untuk-dijual’ juga ada untuk memenuhi kepentingan kelas penguasa terhadap barang mewah, tentara, senjata, puisi, dan pesta-pora.
Dari uraian Manifesto bab pertama bisa disimpulkan bahwa kelas muncul berkaitan dengan adanya pembagian kerja antaranggota masyarakat berkaitan dengan penguasaan kekuatan produksi: lahan, perkakas kerja, dan tenaga kerja. Tentara-tentara yang menaklukkan daerah-daerah disekitarnya dan menguasai penduduknya sebagai tawanan perang yang kemudian dipekerjakan sebagai budak, menjadi kelas penguasa kekuatan produksi. Hubungan-hubungan produksi pun diatur. Budak-budak menjadi kelas yang dikuasasi. Begitu pula dengan bangsawan-bangsawan dan pemimpin gereja feodal yang menampung petani dan budak di bawah ‘perlindungan’ prajurit-prajuritnya, menjadi kelas yang menguasai kekuatan produktif. Petani menjadi kelas yang dikuasai.

Munculnya kota-kota mandiri yang berdiri di atas ekonomi pertukangan atau industri yang dikembangkan oleh orang-orang yang terbuang dari tatanan feodal, yaitu borjuis, serta perkembangan yang terjadi dalam teknik-teknik industri karena akumulasi uang melalui perdagangan, tatanan feodal perlahan runtuh. Pertumbuhan penduduk dan migrasi ke pusat ekonomi baru ini mempercepat keruntuhannya. Petani-petani yang kehilangan lahan-lahan pertaniannya menjadi orang yang tidak memiliki apapun selain tenaga kerjanya untuk bertahan hidup. Orang-orang miskin yang bebas ini memungkinkan munculnya pasar tenaga kerja. Mulailah tenaga kerja menjadi komoditi yang dijual-belikan. Untuk bisa berlangsungnya keadaan ini kelas borjuis yang sedang bertumbuh perlu gagasan-gagasan tentang ‘kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan’ yang menggantikan konsep ‘kewajiban, harga diri, dan takdir ilahi’. Filsafat Pencerahan dan Reformasi Protestan merupakan buah dari perjuangan borjuis melenyapkan pola hubungan ‘bangsawan-hamba’ dan memompa keluarnya tenaga-tenaga kerja bebas (proletar) yang tidak terikat pada tanah dan tuan feodal dari manor-manor dan gilda-gilda yang bangkrut. Proletar lahir sebagai anak haram kapitalisme. Individualisme, liberalisme, demokrasi, dan negara modern lahir sebagai lembaga-lembaga baru yang menopang perjuangan borjuis menghancurkan tatanan kelas feodal. Perjuangan ini memuncak dalam Revolusi Perancis yang didahului oleh Revolusi Parlemen di Inggris yang mengikis habis kekuasaan kelas bangsawan seabad sebelumnya.

Dalam Brumaire XVII, Marx menggambarkan perjuangan borjuis menumbangkan feodalisme. Revolusi Perancis 1789 memenggal Bourbon, dinasti feodal yang runtuh diterpa badai perubahan moda produksi yang dihembuskan borjuis-borjuis Perancis. Inilah revolusi sosial yang kekuatannya membongkar tatanan ekonomi lama hingga ke akar-akarnya. Kudeta Louis Bonaparte, pemimpin lumpenproletar yang tergabung dalam Perhimpunan 10 Desember, adalah sebuah revolusi politik yang hanya berkenaan dengan perebutan kekuatan antarkepentingan borjuis. Dengan memanfaatkan ‘massa mengambang’ penduduk pedesaan Perancis yang terdiri dari petani-petani kecil, Louis Bonaparte mereorganisasi kekuasaan, menata ulang pemerintahan dan birokrasi, tentara, dan skema pajak, demi kepentingan kelas borjuis pada umumnya. Ideologi Napoleon dikembangkan sebagai pembenar semua pembenahan yang dilakukan borjuis melalui Louis Bonaparte. Proletar bertekuk lutut dan menjadi kelas tertindas dalam tatanan ekonomi kapitalis.

Proletar, mau tidak mau, harus menjual tenaga kerjanya untuk bertahan hidup. Meski Marx mengakui banyaknya kelas-kelas dalam tatanan kapitalis, tapi Marx melihat adanya dua kelas yang harus berhadapan muka, borjuis/kapitalis dan proletar. Tugas terakhir borjuis yang sukses adalah membuat insinyur, dosen, filsuf, penyair, seniman untuk menjadi buruh upahan dalam tatanan ekonomi kapitalis. Seperti proletar, kelas ini harus menjual kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi kita tahu bahwa kelas ini lebih dekat dengan kepentingan borjuis. Tidak jarang kelas ini menjadi aparat ideologi negara borjuis menciptakan berbagai teori dan konsep yang membenarkan tatanan kapitalis.

Hikmah yang bisa diambil dari Manifesto dan Brumaire XVII adalah bahwa negara merupakan alat kekuasaan kelas berkuasa. Revolusi-revolusi yang bertujuan untuk mengganti kekuasaan politik negara hanyalah sebentuk hasil persaingan antaranggota kelas berkuasa atau hanya sebentuk revolusi politik. Sebagai misal, perang-perang kemerdekaan di negara-negara Asia-Afrika tiada lain adalah perang kepentingan antara borjuis nasional dan borjuis penjajah. Hikmah lainnya adalah bahwa kelas berkuasa akan menciptakan dan terus berupaya melanggengkan ideologi yang membenarkan tindakannya dalam revolusi di mata semua kelas yang (akan) dikuasainya. Nasionalisme, satu-nusa satu-bangsa, senasib-sepenanggungan, patriotisme, dan sebagainya adalah contoh hasil perjuangan borjuis nasional mengkonsolidasi kekuatan-kekuatan produksi negerinya mengusir borjuis asing.

Dalam ideologi borjuis yaitu liberalisme dan demokrasi, kebebasan (termasuk pasar bebas tenaga kerja) merupakan tujuan akhir. Semua orang mempunyai hak untuk melakukan atau memiliki sesuatu yang diinginkan. Semua orang berhak untuk memperoleh pendidikan dan penghidupan yang layak. Tapi hanya borjuis yang bisa memperoleh pendidikan dan penghidupan yang (lebih dari) layak. Semua orang berhak menentukan jalannya negara. Namun hanya borjuis yang mampu mempengaruhi pengambil kebijakan dengan kekuasaannya atas mesin politik dan ekonomi. Boikot investasi, penekanan lewat tenggat waktu hutang, penutupan pabrik, atau penggerakan lumpenproletar (terutama preman-preman) untuk membuat huru-hara, sudah menjadi cara manjur bagi borjuis untuk mengembalikan kekuasaannya. Ketika kepentingan mereka terganggu, tidak jarang aparat bersenjata digunakan untuk memulihkannya. Kapitalis yang menarik investasinya dengan pemindahan pabrik-pabrik bukanlah penggangu ketertiban dan keamanan, tapi proletar yang berujuk rasa harus dihadapkan pada moncong senjata tentara. Kapitalis yang hutang macet bermilyar dolar bukanlah penjahat, tapi proletar yang menagih tunjangan kesehatan dan transportasi adalah orang yang tak tahu keadaan. Borjuis yang aktif dalam klub belanja atau klub makan malam adalah warga negara tehormat, tapi proletar yang aktif dalam serikat buruh harus disingkirkan.

“Sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga saat ini adalah sejarah perjuangan kelas,” itulah kalimat pembuka Manifesto. Bagi Marx, kelas merupakan pengelompokan sosial yang paling mendasar dalam masyarakat yang di dalamnya terkandung kekuatan dahsyat bagi perubahan sosial. Melihat arti penting kelas dalam analisis Marx atas sejarah, cukup mengagetkan juga bahwa Marx tidak menawarkan analisis yang sistematik terhadap konsep ini. Pertanyaan yang hadir setelah membaca beberapa karya Marx adalah ‘ada berapakah kelas dalam tatanan masyarakat borjuis?’ Dalam Kapital jilid III, Marx menyebut model tiga kelas: pekerja-upahan, kapitalis, dan pemilik lahan. Dalam Manifesto Marx mengajukan model dua-kelas: borjuis-proletar. Menurut Marx masyarakat secara keseluruhan pada akhirnya hanya akan menyisakan dua kelas utama yang saling berhadapan dalam tatanan ekonomi kapitalis. Borjuis adalah sekelompok pemilik alat-alat produksi dan pembeli tenaga kerja; proletariat adalah sekelompok orang yang tidak memiliki sama sekali alat produksi dan hidup dari menjual tenaga kerjanya. Jadi, patokan untuk menentukan sebuah kelas adalah hubungannya dengan kepemilikan atau kekuasaan dalam produksi kapitalis. Tapi, selain borjuis dan proletar, Marx juga menyebut ‘brojuis kecil’ dan petani sebagai kategori kelas sosial-ekonomi. Kedua kelas tengah-tengah ini, menurut Marx, akan mengalami tekanan dalam tatanan kapitalis dan harus memilih takdirnya, menjadi bagian dari barisan proletar atau bisa naik kelas menjadi borjuis. Contoh jelas di sekitar kita adalah pertumbuhan industri maklun dalam industri pakaian di Majalaya dan sekitarnya.

Borjuis-borjuis kecil yang memiliki alat produksi (mesin jahit) dalam industri rumah tangganya, mau tidak mau harus terintegrasi ke dalam sistem industri yang lebih besar dan menjalankan produksi pesanan dalam jalur monopoli. Industri-industri kecil ini akhirnya hanya menjadi pekerja upahan dari pemilik kapital yang lebih besar. Tekanan persaiangan antarborjuis tidak lagi memungkinkan mereka menghasilkan produk yang bisa bersaing dengan produk pabrik kapitalis besar. Kemampuan kapitalis besar untuk mengekploitasi lebih banyak tenaga kerja menjadikan harga produk mereka jauh lebih murah daripada yang dihasilkan industri rumahan. Kapitalisasi pertanian dan monopoli bibit, pupuk, dan kredit di tangan borjuis telah menjadikan marhaen-marhaen di pedesaan Jawa hanya buruh upahan untuk industri pertanian besar. Petani-petani yang menguasai lahan luas dan mampu membayar tenaga kerja untuk sementara berada dalam jaringan kapitalis dan menjadi borjuis desa. Persaingan antarborjuis perdagangan eceran (mal, supermarket, grosir dll.) akan menekan harga beli di tingkat petani serendah mungkin. Selain itu petani sama sekali tidak mempunyai kedaulatan atas apa yang (ingin) mereka tanam.

Kelas yang cukup sulit ditempatkan dalam model dua-kelas adalah kaum terpelajar dan produsen jasa seperti guru, dosen, politikus partai, konsultan, sastrawan, atau seniman. Golongan ini jelas tidak secara langsung menjadi bagian dari hubungan produksi. Tapi, perkembangan mutakhir menegaskan teori Marx bahwa kelas terpelajar ini telah dikutuk menjadi pekerja-pekerja upahan yang hidup dari menjual kemampuannya. Ketika lembaga-lembaga pendidikan berubah menjadi pabrik produksi tenaga-tenaga kerja yang akan mengabdi pada kapital, maka dosen atau guru tidak berbeda dengan proletar pada umumnya. Mereka menjadi bagian dari kekuatan produksi perusahaan pendidikan yang hidup dari upah. Tetapi, berbeda dengan proletar pada umumnya, kelas ini cenderung pada kepentingan kelas borjuis dan menjadikan gaya hidup kapitalis sebagai orientasi gaya hidup mereka. Anggota kelas ini, sebagian besar, bersama-sama dengan borjuis kecil dan petani pemilik lahan bisa saja aktif dalam setiap revolusi politik yang hanya mengganti satu golongan borjuis dengan golongan borjuis lainnya, tapi akan menjadi reaksioner dalam revolusi sosial yang mengubah tatanan sosial ekonomi secara mendasar karena kepentingan mereka terkait langsung maupun tidak dengan kepentingan borjuis. Dalam peristiwa penggulingan Soeharto 1998 revolusi politik terjadi sebagai puncak pertentangan kepentingan antara borjuis konglomerasi besar di pusat kekuasaan dengan borjuis-borjuis kecil yang berada di pinggiran kekuasaan baik di Jawa maupun (dan terutama) luar Jawa. Perjuangan borjuis nasional ini didukung oleh kaum terpelajar, termasuk mahasiswa lewat gagasan desentralisasi kekuasaan, otonomi daerah, dan pemerataan pembangunan wilayah. Beberapa waktu kemudian tidak heran banyak yang kecewa dengan gerakan reformasi. Jelas kiranya bahwa kelompok-kelompok yang menggulingkan rezim Soeharto tidak akan mau menghancurkan tatanan dasar ekonomi borjuis tempat mereka menjadi bagiannya. Yang ditentang bukan tatanan borjuasi itu sendiri, tapi monopoli kapitalis konglomerasi di pusat kekuasaan. Tujuannya tiada lain adalah merangsek ke dalam gudang-gudang kekuasaan politik dan ekonomi dan membongkarnya agar daya gaib kekuasaan itu menyebar ke semua borjuis lokal di daerah. Desentralisasi dalam bentuk otonomi daerah memungkinkan daerah berhubungan langsung dengan kapital dari luar negeri. Investasi asing lebih mudah masuk. Semua ini ditopang oleh konsep, teori, dan analisis kaum terpelajar tentang demokratisasi, otonomi daerah, pembangunan wilayah tertinggal, dan investasi langsung.

Baik dalam Manifesto maupun Brumaire XVII, Marx mencantumkan lumpenproletar sebagai kelas. Lumpenproletar mencakup jembel, luntang-lantung, preman, bajingan, penjahat, dan semua orang yang terdepak dari hubungan-hubungan produksi yang ada dalam masyarakat. Pengangguran miskin, pekerja serabutan yang jarang bekerja, juga bisa dimasukkan dalam kelas ini. Salah satu faktor dalam kemenangan Louis Bonaparte tiada lain adalah organisasi para lumpenproletar Perkumpulan 10 Desember. Dengan mengorganisasi para luntang-lantung, preman, pengangguran, dan jembel, Louis Bonaparte membubarkan parlemen dan mengukuhkan dirinya sebagai Kaisar. Dalam kasus ini lumpenproletar merupakan kelas yang dimanfaatkan borjuis keuangan Perancis dalam menyingkirkan sisa-sisa dinansti feodal dan golongan borjuis lainnya sekaligus menghalangi proletar Paris untuk memegang tampuk kepemimpinan revolusi. Menurut Marx, lumpenproletar itu reaksioner dalam arti ketika dibeli oleh borjuis, maka kepentingannya akan sejalan dengan borjuis dalam revolusi-revolusi politik. Lumpenproletar adalah senjata ampuh borjuis untuk memukul perjuangan proletar. Konflik kepentingan borjuis-proletar bisa disulap sebagai konlfik horizontal antaretnis atau antaragama. Dalam naungan borjuis, lumpenproletar bisa menjadi alat akumulasi kapital yang brutal lewat pemerasan, pengorganisasian pengemis, penguasaan ekonomi gelap dan jasa-jasa ilegal (penyelundupan, pelacuran, perjudian, penagih utang, pembunuh bayaran, lahan-lahan parkir, keamanan, dan lain-lain).

Dinasti-dinasti lumpenproletar terorganisasi di Indonesia yang umumnya di bawah naungan kelas birokrasi militer pada mulanya diorganisasi untuk membantu memukul mundur kekuatan politik kaum komunis pasca-G30S. Dalam perjalanannya, mereka menjadi mesin pengambilan surplus secara brutal dan pengaman informal partai borjuis nasional. Perusahaan-perusahaan yang membiayai dan dilindungi parta-partai borjuis nasional ini yang akan tetap menjaga lumpenproletar terorganisasi berada dalam kedudukannya sebagai tangan-tangan dinasti borjuis nasional. Terusirnya para petani dan buruh-buruh tani miskin dari ekonomi pertanian pedesaan menyediakan suplai abadi kelas lumpenproletar. Borjuis-borjuis nasional memanipulasi ideologi keagamaan serta etnisitas pada baju-baju lumpenproletar terorganisasi untuk mengaburkan perjuangan kepentingan ekonomi-politik mereka dalam melanggengkan penindasan terhadap proletar.

Secara sosiologis, model dua kelas Marx tidak memadai menggambarkan kenyataan sosial, namun model ini menampung juga kenyataan bahwa meski di luar skema borjuis-proletar, kelas-kelas yang ada merupakan ‘calon-calon kuat’ untuk mengisi barisan perjuangan kelas borjuis atau proletar dalam kutukan abadi kapitalisme.

Gambar: Fimfiction

About the Author

Related Posts

Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah...

Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang...

Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan...

Leave a Reply