Topik diskusi yang diberikan kepada saya malam ini adalah sekitar transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Kebetulan saya juga pernah membahas hal itu dalam sebuah buku berjudul Membongkar Supersemar. Topik itu saya pakai untuk melihat bagaimana transisi pemerintahan di bawah Presiden Soekarno ke kekuasaan yang baru di bawah Presiden Soeharto. Bagi saya peralihan dua tokoh tersebut bukan hanya peralihan dua pejabat saja, tetapi juga menentukan arah dan karakter dari negara Indonesia.

Dalam pandangan saya sejarah itu merupakan interaksi berkesinambungan antara sejarawan—atau kita yang berminat pada sejarah—dengan fakta masa lampau. Sejarah adalah proses dialog antara yang hidup sekarang dengan peristiwa atau tokoh-tokoh sejarah yang ada di masa lalu. Dengan demikian, sejarah bukan hanya memahami bagaimana sesuatu itu terjadi di masa lalu—dengan kejadian-kejadian tertentu, dengan orang-orang tertentu—tetapi juga bagaimana yang terjadi di masa lalu itu “dipertemukan” atau “didialogkan” dengan apa yang kita alami sekarang, sehingga dari sana kita mendapatkan pengetahuan, pelajaran, nuansa-nuansa tertentu yang berguna bagi kita sekarang dan masa depan, selain tentu memahami apa yang terjadi di masa lalu itu sendiri.

Dalam kerangka itu saya ingin mengajak untuk melihat transisi kekuasaan dari pemerintahan bung Karno ke Soeharto dengan menggunakan sebuah alat pandang, yaitu Supersemar (Surat Perintah 11 Maret). Bagi saya dokumen itu hanya satu atau dua lembar—meskipun sampai sekarang masih misteri. Kertas tersebut mengubah banyak hal di negeri ini, bahkan sampai hari ini. Mengapa, karena dengan adanya Supersemar, situasi politik di Indonesia berubah, antara lain sejak ada surat itu kekuasaan bung Karno semakin merosot, sedangkan kekuasaan Letnan Jenderal Soeharto semakin meningkat, arah perpolitikan Indonesia yang tadinya sipil berubah menjadi militer, pemerintah yang sebelumnya kritis terhadap kekuatan-kekuatan asing menjadi sebuah pemerintahan yang pro kepada modal asing.

Supersemar tidak lain adalah surat perintah harian saja—karena itu ada tanggalnya (11 Maret). Jadi, bukan sebuah surat perintah umum. Isinya adalah memberikan kekuasaan kepada Letjen Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan dan ketenagan jalannya pemerintahan dan revolusi. Itu saja sebenarnya. Tetapi entah bagaimana berdasarkan surat itu Soeharto melakukan banyak hal yang sebenarnya di luar jangkauan surat itu sendiri, termasuk misalnya membubarkan sebuah partai politik (PKI-ed) yang setahu saya itu adalah hak presiden. Kemudian dia juga mengatur keanggotaan partai-partai, menangkap 18 orang menteri, kemudian menyingkirkan orang-orang yang pro bung Karno, dan akhirnya bahkan si penanda tangan surat itu sendiri (bung Karno) menjadi tersingkir.

Lebih dari itu perlu kita simak juga, bahwa sebelum keluar Supersemar, bulan-bulan sebelumnya, khususnya Oktober, November dan mungkin juga Januari, di negeri ini terjadi sebuah peristiwa tragis: banjir darah yang menelan kira-kira setengah juta jiwa bangsa ini yang tewas di tangan bangsa sendiri. Itu semua terjadi tanpa proses pengadilan, meskipun negara ini adalah negara hukum, negara republik modern. Semua itu terjadi tanpa proses pengadilan yang memadai. Tidak hanya itu, setelah terjadi peristiwa tersebut tidak ada satu pihak pun yang bertanggungjawab dan mengaku sebagai pelaku yang siap maju ke pengadilan dan mempertanggungjawabkan apa yang terjadi. Sampai sekarang tidak ada. Bahkan yang terjadi sekarang ini membicarakan masalah tersebut—meskipun banyak korban—untuk melakukan proses rekonsiliasi selalu dihalang-halangi, sehingga sampai hari ini tidak jelas kemana arahnya. Itu kira-kira dampaknya.

Mengenai apa yang terjadi pada tanggal 11 Maret itu, pada hari itu ada rapat di istana negara antara Presiden Soekarno dengan menterinya dalam kabinet Dwikora yang disempurnakan. Semua hadir di situ, kecuali Panglima Angkatan Darat Lentan Jenderal Soeharto—yang tidak hadir karena sakit. Pada saat sidang itu Brigjen Sapur ingin memberi tahu kepada Amir Machmud—yang juga ikut dalam sidang—bahwa di luar ada pasukan tidak dikenal. Namun, Amir Machmud mengabaikan itu. Karena khawatir, maka Sapur memberitahukan hal itu kepada bung Karno melalui secarik kertas. Setelah membaca itu bung Karno tampak agak panik, lalu dia menyerahkan sidang itu kepada Waperdam Leimena. Selanjutnya Soekarno bersama Subandro pergi ke istana Bogor dengan menggunakan helikopter. Begitu bung Karno pergi ke Bogor, tiga orang jenderal waktu itu—M. Yusuf, Basuki Rahmat dan Amir Mahmud—menghadap Soeharto. Lalu atas perintah Soeharto mereka pergi ke Bogor untuk bertemu dengan Soekarno. Setelah terjadi negosiasi diantara mereka—bung karno dan ketiga orang jenderal tersebut—lahirlah Supersemar.

Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan: pertama, apakah surat itu dibuat oleh bung Karno dengan sukarela atau terpaksa? Ingat, bahwa surat itu tidak muncul dari inisiatif bung Karno. Ketiga orang jenderal itu datang menghadap bung Karno diperintah oleh seseoang di Jakarta yaitu Letjen Soeharto. Kedua, siapa sebenarnya yang mengetik naskah Supersemar, apakah bung Karno sendiri atau orang lain, sampai sekarang belum jelas. Ketiga, apakah surat yang ditandatangani oleh bung Karno itu asli atau salinan? Itu pun tidak jelas, karena jika tidak salah Sekretariat Negara itu memiliki dua surat asli Supersemar yang ditandatangani bung Karno. Tetapi kalau kita lihat tanda tangannya, itu berbeda. Sebelum meninggal M. Yusuf mengatakan bahwa surat yang asli itu ada pada dia. Itu surat yang asli. Jika benar, berarti surat yang asli itu ada tiga, sedangkan yang ditandatangani bung Karno sendiri hanya satu. Jadi yang asli yang mana, apakah salah satu dari tiga surat itu atau tidak ketiga-tiganya. Jika memang ada surat yang asli, lalu di mana surat itu sekarang?

Soal asli tidaknya Supersemar memang menarik untuk dibicarakan, tetapi ada hal yang lebih penting daripada membahas teori konspirasi. Bagi saya, itu penting, tetapi ada yang lebih penting untuk dibicarakan oleh kita sebagai bangsa. Apa itu? Pertama adalah pra kondisi yang melahirkan surat itu; dan kedua, dampak dari lahirnya surat itu. Dalam melihat pra kondisi itu, saya tertarik untuk melihat dua kategori kondisi atau situasi yang menjadi latar belakang lahirnya Supersemar, yaitu kondisi internasional dan nasional atau domistik. Seperti kita ketahui tahun 1960-an sebagai bagian dari kondisi dunia setelah Perang Dunia Kedua merupakan masa di mana dunia mengalami apa yang disebut Perang Dingin, yakni konflik antara Amerika dan Uni Soviet—negara kapitalis versus sosialis/komunis—tidak pernah bertarung secara langsung, sehingga merupakan ketegangan saja dan tidak menjadi konflik militer terbuka. Itu hanyalah separuh cerita, karena di tempat lain perangnya betul-betul menjadi panas dan konfliknya benar-benar menjadi konflik militer ntara. Kita ingat di Korea, Vietnam, dan dalam arti tertentu bahkan di Indonesia sendiri. Konflik yang terjadi itu tidak dingin tetapi benar-benar panas. Amerika waktu itu memiliki kekhawatiran bahwa Indonesia semakin lama semakin mendekat ke Soviet atau ke RRC. Itu terjadi karena Soekarno condong ke “kiri”, kemudian PKI semakin lama semakin memiliki pengikut yang besar. Apalagi bung Karno mencanangkan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Dia ingin menyatukan para nasionalis, agamawan dan juga kaum komunis untuk bersama-sama membangun negara ini. Bagi Amerika itu menjadi sesuatu yang harus dilawan. Karena jika Indonesia yang memiliki pendudukan begitu besar dan kekayaan alam yang banyak, serta letaknya yang strategis sampai ke kiri, maka Amerika akan kehilangan akses yang bukan main. Tidah hanya Amerika, tetapi juga sekutu-sekutu Amerika. Oleh sebab itu, Amerika harus segera menghentikan kecenderungan Indonesia ke “kiri”.

Disamping kecenderungan itu, bung Karno juga mencanangkan politik konfrontasi melawan Malaysia. Bagi Amerika itu adalah bukti bahwa Indonesia tidak hanya memiliki ambisi ke dalam, tetapi juga ingin mempengaruhi dunia luar, khususnya Asia Tenggara atau bahkan negara-negara bekas jajahan. Amerika memiliki pikiran bagaimana kecenderungan tersebut dihentikan. Dalam konteks itulah Supersemar lahir. Amerika tidak hanya ingin menghentikan kecenderungan Indonesia yang ke “kiri”, tetapi juga bagaimana pemerintah yang “kiri” tersebut dihabisi lalu digantikan oleh pemerintah yang pro terhadap Amerika dan sekutunya. Di Indonesia sendiri sedang terjadi dinamika yang bukan main, antara lain dimulai pada pemilu tahun 1955. Meskipun dalam pemilu tersebut partai peserta pemilu banyak—ada tiga puluhan lebih—ada empat partai besar yaitu PNI, Masyumi, NU dan PKI. PKI tahun 1955 menjadi partai keempat terbesar di negeri ini. Karena itu banyak kelompok lain menjadi gelisah menghadapi kenyataan itu. Terlebih lagi bung Karno tampaknya sangat terbuka terhadap peran PKI.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 terjadi sebuah operasi militer yang dipimpin oleh sebuah gerakan bernama G30S yang pelaksananya utamanya adalah Kolonel Untung, Kolonel Abdul Latief dan Brogjen Soeparjo. Ketika peristiwa itu terjadi dengan korban enam orang jenderal dan seorang perwira pertama yang tewas, PKI dituduh sebagai aktor yang ada dibalik itu. Itulah yang menjadi alasan dilakukannya pembantaian massal yang dimulai kira-kira tanggal 27 Oktober 1965 di Jawa Tengah, November di Jawa Timur, kemudian Desember di Bali serta di beberapa tempat lain. Yang terbesar terjadi di ketiga tempat itu, sementara di Jawa Barat tidak terjadi pembantaian massal. Itu menjadi tanda tanya besar, mengapa.

Sekali lagi, situasi tersebut menjadi ruwet dan kacau, sementara bung Karno sendiri sempat heran bangsa Indonesia yang dia perjuangkan, yang dia nilai sangat luhur, yang dia persatukan bisa sampai terjadi pertumpahan darah yang begitu besar.Karena itu dia tidak memiliki antusiasme lagi untuk naik ke panggung kekuasaan. Sejak itu pemikiran dia tidak sekeras dan segarang sebelumnya. Itulah yang menjadi konteks domestik bagi lahirnya Supersemar.

Supersemar menjadi semacam titik belok—kalau tidak mau dikatakan sebagai titik balik—dari situasai Indonesia sebelum dan setelahnya. Tadi sudah saya sebutkan, antara lain dari pemerintahan sipil menjadi ke militer, yang dulu pro rakyat menjadi pro elite, yang dulu kritis terhadap modal asing menjadi pro modal asing dan sebagainya. Konfrontasi dengan Malaysia dihentikan dan lain-lain. Supersemar menjadi salah satu batu sendi yang membuat Indonesia mengarah pada sesuatu yang berbeda, yang dampaknya terasa sampai sekarang, bagaimana modal asing sangat berkuasa dan berpengaruh di negeri ini.

Catatan lain, Supersemar itu merupakan bagian dari kudeta merangkak atau creeping coup, bagian dari sebuah proses di mana bung Karno dengan kekuatan sebelumnya hendak disingkirkan secara bertahap dan Supersemar merupakan puncaknya, sehingga bung Karno menjadi anti-klimaks. Akhirnya dia dicabut gelarnya sebagai presiden seumur hidup. Selanjutnya Supersemar sebagai perintah harian ditetapkan menjadi TAP MPR dan sebagainya. Pada akhirnya bung Karno disingkirkan sebagai presiden bersama seluruh kekuatan rakyat. Kekuatan kiri dihabisi, yang dampaknya bisa kita rasakan sampai hari ini.

Catatan: Tulisan ini merupakan transrip presentasi Baskara T. Wardaya dalam diskusi bertema Peralihan Kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto yang diselenggarakan Rumah Kiri dan Ultimus, tanggal 02 Desember 2007 di toko Buku Ultimus Bandung.

About the Author

Related Posts

Seperti halnya saya, sebagian besar orang Indonesia bisa dipastikan tidak tahu siapa itu Derrida,...

Saya tidak kenal Goenawan Mohamad (GM). Saya juga belum pernah berdebat dengannya dalam bentuk...

“Tolak pembangunan pabrik, ibu-ibu Kendeng tanam kaki di semen,” demikian judul pemberitaan Rappler...

Leave a Reply