Pada 24 April, 2013, bagunan industrial delapan lantai, Rana Plaza di Dahaka, Bangladesh runtuh. 1.130 pekerja tewas dalam bencana industrial terbesar dalam sejarah industri pakaian dunia. Lima bulan sebelum tragedi Rana Plaza, sebuah pabrik pakaian lain, Tazreen Fashions Limited, hangus terbakar. Kejadian ini menewaskan 112 pekerja, menurut pengakuan korban selamat para manager pabrik mengunci pintu keluar dan memaksa para pekerja untuk melanjutkan pekerjaannya.[1] Kondisi kerja yang buruk dan kecelakaan kerja adalah hal biasa di Bangladesh.

Perekonomian Bangladesh sangat bergantung pada industri pakaian jadi (The Ready Made Garment Industry). Tahun 2011 tercatat 80% ekspor Bangladesh, senilai 23 miliar dollar Amerika berasal dari sektor ini. Sekitar 4.500 pabrik pakaian jadi beroperasi di Bangladesh. Pabrik-pabrik ini menyuplai komoditas korporasi multinasional (MNCs) asal Eropa dan Amerika Serikat, diantaranya H&M, C&A, Nike, Reebok, GAP, JCPenney, Walmart, Kmart, Wrangler, Dockers, Tommy Hilfiger, Adidas, Eddie Bauer, Eagle, dan American Eagle.[2] Walmart, perusahaan retail asal Amerika Serikat, merupakan salah satu perusahaan yang memiliki jaringan suplai komoditasnya di Bangladesh. Lima dari empat belas penyuplai pakaian yang dijual gerai Walmart diproduksi di Rana Plaza dan Tazreen Fashions Limited (Greenhouse & Yardly, 2012).

Walmart dipuja sebagai pilar dan model korporasi kapitalisme abad dua satu (Gary Gereffi dan Michelle Christian, 2009). Pada 2010, tercatat 20% dari produk Walmart berasal dari Bangladesh (Chan, 2011). Walmart dan GAP adalah dua perusahaan yang menolak usulan Pemerintah Bangladesh dan Serikat Pekerja untuk menerapkan standar keamanan (Fire Safety and Structural Integrity) yang ditetapkan. Meski menolak kebijakan pemerintah Bangladesh, sampai saat ini Walmart tetap dapat menjalankan operasinya.

Penulis meminjam teori International Operation, Oatley untuk menganalisa hubungan antara Locational Advantage Bangladesh dengan model investasi Walmart di Bangladesh Untuk menunjukan tinmgkat keuntungan Walmart lebih besar dari penerimaan Bangladesh, penulis meminjam teori kesenjangan, Karl Polanyi. Tulisan ini dibagi menjadi dua bagian yang menguraikan sebab dan asal-usul kedigdayaan Walmart atas pemerintah Bangladesh. Bagian pertama penulis akan memberikan selayang pandang ihwal anatomi Walmart sebagai entitas bisnis, serta trajektori kekuatan politiknya dalam tatanan ekonomi-politik dunia. Pada bagian ke dua akan diuraikan soal landasan kekuatan Walmart di Bangladesh. Tulisan akan ditutup dengan hipotesis yang melihat kaitan antara ekonomi skala (economy of scale) Walmart dengan kedigdayaannya secara politik atas negara-bangsa.

Model Bisnis “Everyday Low Price” Walmart

Pendiri Walmart, Sam Walton memulai karirnya sebagai pedagang. Gerai pertama Sam dibuka di Newport, Arkansas pada 1945 sebagai gerai franchisee dari jaringan retail Ben Franklin. Pada masa ini gerai franchisee mendominasi kawasan pedesaan Amerika Serikat, terutama di bagian selatan. Seiring perjalanan, Sam menemukan model bisnis yang lebih menguntungkan bagi gerai retailnya. Yakni dengan membeli pasokan produk dalam jumlah besar dari masing-masing produsen produk tertentu. Model ini kemudian di sebut dengan wholesale. Sam melihat dengan model ini gerai retailnya boleh jadi mendapatkan margin keuntungan yang kecil dari tiap produk. Tetapi dengan menjualnya dalam jumlah besar, gerainya akan memperoleh lebih banyak keuntungan. Model yang kemudian hari dikenal sebagai economy-of-scale.

Sebagai seorang pedagang tulen. Sam Walton mengadu peruntungan dengan pindah ke Arkansas dan membuka beberapa gerai baru, dengan nama Walmart, di beberapa kawasan di utara Arkansas. Pada era 1950’an bisnis retail sedang menjamur di Amerika Serikat. Di Arkansas Sam melihat model wholesale retail adalah masa depan bisnis retail. Dengan bekal pengetahuan ini pada 1962 Walton memutuskan untuk membuka gerail retailnya sendiri di Rodgers, Arkansas. Berdasarkan amatan David Glass, ciri utama dari strategi bisnis Walmart adalah penekanannya pada penawaran harga yang rendah pada produk-produk yang dijual di gerai retailnya[3].

Perpaduan antara jumlah dan keragaman produk dengan harga murah menarik banyak pembeli untuk berbelanja di gerai-gerai Walmart. Tidak sedikit pembeli rela menempuh jarak bermil jauhnya untuk memanfaatkan margin harga yang ditawarkan Walmart. Tiga dekade pertama Walmart, Sam Walton menaruh perhatian besar pada riset dan pengembangan (development and research) model distribusi dan managemennya. Hasilnya, Walmart menjadi perusahaan retail terdepan dalam mengembangkan komputerisasi gudang penyimpanan dan distribusi pengiriman just-in-time, keduanya semakin memangkas biaya produksi.

Model bisnis Walmart fokus pada format pemotongan harga (discount), strategi lokasi, dan budaya korporat. Slogan “everyday low price” Walmart berasal dari strategi korporat yang dianutnya. Ortega (1998, 14) mencatat tujuan Walmart untuk “menawarkan harga paling rendah” dapat dijalankan dengan “memangkas biaya produksi serendahnya, dan terus memotongnya sehingga dapat menawarkan harga terendah”.

Biaya produksi Walmart yang rendah menurut Appelbaum dan Lichtenstein (2006, 24) diperoleh dari perpaduan antara inovasi logistic dengan upah pekerja yang dijaga tetap rendah dan kedisiplinan rantai penyuplai. Sejak masa awal Walmart selalu “menempatkan lokasi gerai di daerah dimana tenaga kerja perempuan upah murah dengan kemampuan kerja diatas yang dibutuhkan (underemployed) tersedia. Tenaga kerja murah merupakan keunggulan kompetitif atas gerai retail di kawasan urban seperti, Sears dan Macy yang upahnya telah distrukturasi lewat upaya mereka untuk menghidari serikatisasi dan lebih memilih tenaga kerja laki-laki”. Tenaga kerja murah sangat penting dalam bisnis retail yang sangat labor intensive. Rantai produksi Walmart diintensifikasi melalui jalur komunikasi yang tersentralisir (George & Wilson, 2004). Rantai suplai dimonitor oleh 1.000 orang pekerja di divisi informasi (Bianco, 2006). Untuk mendukung kebutuhan jalur informasi dengan rantai suplainya, Walmart mengembangkan basis data terkomputerisasi paling cepat dan efisien diantara perusahaan retail sejenis. Jalur informasi ini menghubungkan gudang penyimpanan dan jalur distribusi di seluruh dunia.

Soal distribusi produk, Walmart memangkas waktu dan biaya dengan strategi lokasi pusat distribusi dan teknik cross-docking. Sejak tahun 1970’an Walmart mulai mengganti gudang penyimpanan tradisional dengan pusat distribusi (Distribution Centers). Pusat distribusi memfasilitasi cross-docking untuk mengantar produknya dari pabrik ke gerai. Secara praktis cross-docking adalah proses mengalihkan pasokan produk seketika dari kereta atau truk kontainer ke truk pengiriman barang tanpa melewati gudang penyimpanan (Lichtenstein 2009).. Dengan melakukan ini maka Walmart pada 1980’an menjadi perusahaan retail dengan biaya distribusi terendah, yakni 1,35% dari harga jual, bandingkan dengan Kmart dan Sears yang masing-masing menyentuh 3,5% dan 5% (Vance & Scott 1994, p.92).

Mengenai hubungan Walmart dengan para penyuplainya, Walmart punya cara sendiri untuk memangkas biaya. Petrovic & Hamilton (2006, 10) menilai hasrat Walmart untuk memangkas biaya dalam setiap tahap produksi berpengaruh secara dramatis terhadap cara produksi produk di pabrik para penyuplainya. Walmart menentukan cara pertukaran, harga, kontrak, perlakuan, dan standar lainnya yang harus diikuti oleh pabrik yang menyuplai produknya. Para pengkritik Walmart berargumen bahwa tekanan pada pabrik penyuplai untuk memangkas biaya produksi dan meningkatkan performa rantai suplai telah memperburuk kondisi kerja dan fasilitas produksi pabrik. Lebih lagi pabrik setempat (host country manufacture) yang tidak menerapkan economies of scale kerap gagal bersaing. Berdasarkan studi kasusnya, Keller et al (2006) menemukan pola serupa terjadi di Meksiko. Para pabrik penyuplai yang berafiliasi dengan perusahaan mulinasional seperti Unilever lebih mampu bertahan dibanding perusahaan setempat.

Strategi penjualan Walmart fokus pada sasaran pasar yang sering luput dari perhatian, yakni penduduk sub-urban dan pedesaan. Strategi ini konsisten dijalankan Walmart sejak Sam Walton pertama kali membangun gerai Walmart pertama di Arkansas. Walmart mendekati pasar dengan membangun gerai di sekitar pemukiman padat penduduk. Riset yang dilakukan Zook & Graham (2006, 20) menunjukan pola kepadatan penduduk disekitar gerai Walmart di Amerika Serikat. Zook & Graham menemukan bahwa “60 persen dari seluruh populasi Amerika Serikat tinggal dalam jarak kurang dari 5 Mil dari lokasi Walmart dan 96 persen pada jarak 20 mil”. Semakin banyak jumlah penduduk semakin banyak pula jumlah gerai Walmart.

Internasionalisasi Operasi Walmart di Bangladesh

Strategi lokasi adalah salah kunci keunggulan Walmart. Tujuannya mendukung kredo “everyday low price” yang diterjemahkan menjadi biaya produksi rendah. Sejak daya beli penduduk Amerika Serikat menurun perlahan pada 1968 dan replikasi teknologi informasi Retail Link, yang digunakan Walmart oleh retail pesainnya. Walmart mulai memikirkan strategi untuk menjaga biaya produksi tetap rendah. Jalan keluar terbaik saat itu adalah dengan berekspansi ke Asia Timur: Korea Selatan, Singapura, Hong Kong, dan Taiwan. Negara-negara tersebut menguntungkan secara bisnis karena bersandar pada perekonomian berorientasi ekspor, proletarisasi yang dipimpin negara, dan represi terhadap serikat pekerja. Strategi sama mempekerjakan perempuan dengan upah rendah diterapkan Walmart pada pabrik penyuplainya di Asia Timur.

Pada pertengahan 1980’an Walmart mengalihkan basis suplainya ke Tiongkok. Pengalihan dipengaruhi oleh menguatnya mata uang banyak negara Asia Timur dan menguatkan tekanan serikat pekerja. Tiongkok sebaliknya, saat itu di bawah Deng Xiaoping menawarkan keuntungan yang sama diberikan negara Asia Timur saat Walmart hendak beroperasi disana. Mata uang reminbi saat itu sedang terdevaluasi, hal ini membuat biaya ekspor penyuplai lebih rendah. Hingga akhir tahun 2000’an, lebih dari 80% penyuplai Walmart berlokasi di Tiongkok (Gereffi & Christian 2009, 579). Pasca aksesi Tiongkok kedalam WTO pada 2001, perlahan nilai tukar reminbi meningkat, hal ini berdampak pada biaya ekspor produk dari Tiongkok semakin tinggi. Belum lagi pemerintah Tiongkok yang semakin lunak pada tuntutan serikat pekerja dengan diterbitkannya The Labor Contract Law pada 2008. Peraturan ini memperkuat hak-hak pekerja dan dengannya meningkatkan biaya produksi dan kewajiban legal perusahaan (Chan, 2011).

Bagi Walmart yang sangat bergantung pada suplai produk dari negara penyuplai. Meningkatnya biaya ekspor dari suatu negara berarti meningkatkan pula komponen biaya dari suatu produk. Selain itu, hakikat bisnis retail Walmart mengandalkan pengerahan tenaga kerja dalam jumlah besar. Walmart harus merelokasi operasi penyuplainya ke tempat yang masih memungkinkannya menekan biaya serendah mungkin. Pada 2010 Walmart mengumumkan akan melipatgandakan pembelian tekstilnya dari Bangladesh. Ini berarti 20% dari pengiriman produk garmen akan berasal dari negara itu.

Di mata Walmart, Bangladesh menyediakan keunggulan lokasional (locational advantage). Bangladesh memiliki standar upah terendah di dunia, yakni USD 37 per bulan. Populasi Bangladesh mencapai 164 juta jiwa, dimana 14 juta diantaranya berjejalan di Dhaka, ibu kota. Bangladesh sangat mengandalkan sektor manufaktur tekstil. 3,4 juta hingga 4,5 juta pekerja mencurahkan tenaga kerjanya pada sektor ini. Kelebihan demografis ini sesuai dengan kebutuhan industri tekstil akan jumlah tenaga kerja.

Walmart memiliki 15 penyuplai terdaftar di Bangladesh, 4 diantaranya berlokasi di Rana Plaza dan Tazreen Fashions Limited (Greenhouse & Yardly, 2012). Berdasarkan Standards For Supply Manual Walmart, jaringan suplai Walmart dipilah kedalam tiga kategori, yakni domestic supplier (subsidiary), global sourcing supplier (affiliates), dan 3rd party approved supplier (subcontractor)[4]. Merujuk pada dokumen tersebut maka penyuplai Walmart di Bangladesh terdapat 15 global sourcing supplier yang secara khusus menyuplai 20% produk Walmart secara keseluruhan. Global sourcing supplier tidak termasuk kedalam struktur korporat Walmart.

Kelima belas global sourcing supplier Walmart di Bangladesh ini diikat dalam hubungan industrial berdasarkan kontrak. Menurut Thomas Oatley, ketika dalam suatu negara terdapat locational advantage, dalam hal ini tenaga kerja murah, namun tidak terdapat intangible asset dan specific asset, seperti dalam industri tekstil. Maka, pilihan paling rasional bagi suatu korporasi multi nasional adalah untuk “membeli input-nya dari penyuplai independen dan menjual produknya melalui perdagangan internasional. Atau mereka memilih masuk kedalam pengaturan subkontrak dengan perusahaan yang berada di negara penyuplai.” (Oatley, 2012, 172). Bagi Walmart keuntungan dapat diperoleh tanpa harus membangun pabrik penyuplainya sendiri di Bangladesh. Jumlah tenaga kerja murah tersedia melimpah, memungkinkan memenuhi model economies of scale Walmart.

Walmart menentukan alokasi sumberdaya dan pembuatan keputusan bagi para penyuplainya. Dalam Standards For Supply Manual Walmart disebutkan bahwa Walmart menjadi pengimpor seluruh produk yang diproduksi oleh penyuplai.[5] Walmart memiliki hak eksklusif atas semua produk yang diproduksi. Bangladesh tidak dapat menentukan alokasi sumberdaya, produk, dan tenaga kerja yang berasal dari negaranya sendiri. Tanpa investasi langsung Walmart, Bangladesh tidak mendapatkan teknologi produksi dan keahlian managerial yang dimiliki Walmart.

Eksternalitas dari aktivitas produksi penyuplai Walmart “keluar dari jalur yang dapat menyejahterakan negara tuan rumah” (Oatley, 2012) yakni Bangladesh. Walmart didukung oleh perjanjian investasi bilateral antara Amerika Serikat dengan Bangladesh pada 1989. Dalam perjanjian tersebut Amerika Serikat ditetapkan menjadi eksportir katun, mesin, besi, dan baja bagi Bangladesh. Sebaliknya Bangladesh menjadi eksportir tekstil utama bagi Amerika Serikat. Pada 2012 ekspor AS ke Bangladesh sebesar $ 520 miliar, sebaliknya Bangladesh mengekspor $ 4,5 miliar, 92% diantaranya produk tekstil. Meski neraca perdagangan Bangladesh terhadap Amerika Serikat positif namun tidak memberikan kesejahteraan bagi para pekerja Bangladesh. Pada tahun 2012 , dengan dasar paritas daya beli, PDB Bangladesh sebesar $ 306 Miliar, atau $ 2.000 per kapita, dengan hampir sepertiga dari penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Kesenjangan antara tingkat keuntungan yang diperoleh Walmart dari aktivitas produksi para penyuplainya di Bangladesh berbanding terbalik dengan rendahnya laju pertumbuhan ekonomi Bangladesh. Dalam persamaan, Polanyi kita bisa melihat di Bangladesh rate of return lebih tinggi daripada growth. R > G.

Secara regulasi, peraturan industrial yang ditetapkan pemerintah Bangladesh tidak memilliki law enforcement yang kuat. Regulasi ini antara lain peraturan ketenaga kerjaan, upah, jam kerja, dan keamanan social. Peraturan mengenai tenaga kerja diatur dalam Employment of Labour (Standing Orders) Act, 1965 mengatur usia minimum yang dapat dipekerjakan di dalam pabrik Bangladesh yakni 16 tahun. Kenyataannya, menurut reportase investigative stasiun televise NBC, dalam Deatline, membuktikan bahwa masih banyak anak di bawah umur yang dipekerjakan di pabrik-pabrik penyuplai retail Amerika Serikat (Ortega 1998, p. xiv). Terkait upah diatur oleh Payment of Wages Act, 1936, yang mengatakan bahwa upah dan bonus kerja ditentukan melalui proses tawar kolektif.Kenyataannya upah ditentukan oleh pabrik penyuplai masing-masing. Begitu pula dengan jam kerja, meski pemerintah membatasi jam kerja penduduknya. Pabrik penyuplai dapat memaksa pekerja untuk bekerja overtime.

Pasca kebakaran Tazreen tahun 2012, Pemerintah Bangladesh dan Serikat Pekerja mengusulkan Fire Safety and Structural Integrity. Namun perwakilan Walmart dalam pertemuan dengan pemerintah Bangladesh keberatan atas usulan tersebut karena memerlukan “modifikasi yang luas dan mahal” dan bahwa usulan tersebut “secara finansial … tidak dapat dipenuhi” (dikutip dalam Greenhouse Yardly 2012). Sementara 1000 pabrik penyuplai perusahaan multinasional Eropa, Walmart dan GAP adalah dua korporasi multi nasional asal Amerika Serikat yang menolak usulan tersebut. Keduanya membentuk “Alliance for Bangladesh Worker Safety”. Perbedaannya jika yang disebut di awal auditor standar kelayakan fasilitas kerja berasal dari perusahaan induk. Maka yang disebut belakangan dapat menyerahkan auditing pada pihak ketiga yang ditunjuk perusahaan induk. Rendahnya kehendak politik dari negara Bangladesh untuk memperkuat aturan main industri tekstil di negaranya. Disebabkan tingginya keterkaitan antara pejabat politik dengan pabrik tekstil. Banyak diantaranya bahkan memiliki pabrik itu sendiri. Kait kelindan kepentingan ini berpengaruh besar terhadap lemahnya daya tawar Bangladesh atas korporasi multinasional.

Penutup

Pengejaran terus menerus akan Inovasi logistik, upah murah tenaga kerja, dan kedisiplinan rantai penyuplai Walmart merupakan pondasi bagi harga jual produk yang rendah. Hakikat bisnis manufaktur Walmart yang labor-intensive dan sasaran pasar menengah ke bawah menentukan strategi lokasi rantai suplai dan gerai. Bangladesh sebagai salah satu penyuplai terbesar produk pakaian Walmart, menyediakan keunggulan lokasional berupa ketersediaan jumlah tenaga kerja dengan upah murah. Kelemahan daya tawar Bangladesh disebabkan lemahnya regulasi dan tingginya tingkat korupsi di negara tersebut. Selain itu, tidak terdapat diversifikasi sektor perekonomian di Bangladesh, sektor manufaktur tekstil dengan orientasi ekspor sangat mendominasi. Trickle down effect dari aktifitas industri manufaktur tekstil sangat terbatas. Hal ini menyebabkan ketimpangan ekonomi, antara outoput industri dengan input bagi pertumbuhan. Walmart “everyday low price, everyday low wages”.***

Referensi

Chan, A. (2011). Introduction: When the World’s Largest Company Encounters the World’s Biggest Country.
Featherstone L. 2004. Selling Women Short: The Landmark Battle in Workers’ Rights at Walmart. New York: Basic Books
Greenwald R. 2005. Walmart: The High Cost of Low Prices. Documentary. http://www.walmartmovie.com
Hamilton G, Gereffi G. 2009. Global commodity chains, market makers, and the rise of demand responsive economies.
Keller W, Smarzynska Javorcik B, Tybout JR. 2006. Openness and industrial responses in a Walmart world: a case
Lichtenstein N, ed. 2006. Walmart: The Face of the Twenty-First Century Capitalism. New York: New Press
Lichtenstein N. 2007. Supply chains, workers’ chains, and the new world of retail supremacy. Labor Stud. Work. Class Hist. Am
Oatley, Thomas, International Political Economy 5th Edition, Longman Press, 2012
Ortega B. 1998. In Sam We Trust: The Untold Story of Sam Walton, How Walmart Is Devouring America.New York: Times Business
Polanyi, Karl, The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time, Boston: Beacon Press, 2001
Zook M, Graham M. 2006. Walmart nation: mapping the reach of a retail colossus.

Catatan

[1] Bangladesh Finds Gross Negligence in Factory Fire,” The New York Times, December 17, 2012. Lihat juga, U.S. Department of State, Country Reports on Human Rights Practices, Bangladesh, p. 39
[2] Lihat, Bangladesh Export Processing Zones Authority
[3] Robert Slater, The Walmart Decade (New York: Penguin Group, 2003), 110
[4] Standard For Supplier, Ethical Sourcing Walmart, Bentonville, 2012
[5] “Direct import merchandise where Walmart is the importer of record (all products)” dalam Standard For Supplier, Ethical Sourcing Walmart, Bentonville, 2012

Foto: Walmart Wall

Tulisan dan Video terkait:
Jalan Panjang Menuju Fashion Revolution Day
Walmart Supply Chain

About the Author

Related Posts

Pada bagian pertama, lewat obrolan modus saya dengan teman kencan saya, sedikitnya pembaca sudah...

Suatu hari seorang teman kencan mengajak saya bervakansi ke suatu peragaan busana yang...

Memperhatikan  situasi  romansa kasih sayang antara Cinta dan Rangga dalam film “Ada apa dengan...

Leave a Reply